Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ONE'S FAITH

ONE'S FAITH

Zeils | Bersambung
Jumlah kata
43.9K
Popular
100
Subscribe
14
Novel / ONE'S FAITH
ONE'S FAITH

ONE'S FAITH

Zeils| Bersambung
Jumlah Kata
43.9K
Popular
100
Subscribe
14
Sinopsis
FantasiIsekaiDewaPertualanganZero To Hero
Di Planet Solus, hukum fisika telah digantikan oleh Kekuatan Iman. Di bawah tatanan dunia yang opresif, mukjizat hanya diberikan kepada mereka yang tunduk menyembah para Dewa. Avel La Eternus, seorang yatim piatu sekaligus kandidat pastor yang dianggap tidak berbakat, menyimpan anomali yang berbahaya. Di dunia yang mewajibkan penghambaan kepada Dewa, Avel justru memegang prinsip bidah yang absolut: bahwa dirinya adalah eksistensi tertinggi di alam semesta. Tanpa menyembah Dewa mana pun, Avel memulai perjalanan untuk membuktikan bahwa takdir dan para penghuni langit hanyalah bidak di bawah kendalinya. Ini adalah kisah tentang satu manusia yang menantang kemutlakan surga dengan keyakinan pada diri sendiri yang mengubah delusi menjadi kenyataan.
Bab 1: Debu Dibalik Kemilau Recte

Langit di atas Planet Solus tidak pernah benar-benar biru. Di bawah naungan bintang raksasa Magnus 2, cakrawala Venitas selalu diselimuti warna jingga yang menyakitkan mata, seolah-olah dunia ini sedang terbakar perlahan dalam api abadi.

Di suatu tempat, cahaya Magnus 2 menembus kaca patri Gereja Dominous cabang Lourent, memproyeksikan bayangan santo-santo yang terdistorsi di lantai marmer yang dingin.

Di kota Lourent yang penuh sesak oleh kaum papa dan pemuja fanatik, Gereja Dominous berdiri tegak seperti pilar gading di tengah tumpukan bangkai. Namun, keindahan arsitektur itu tidak menjangkau sudut tersepi di perpustakaan bawah tanahnya yang lembap. Di sanalah ia berada.

Seorang anak laki-laki berpakaian lusuh, dengan kain yang begitu tipis hingga angin musim gugur yang merayap masuk lewat celah ventilasi sanggup membuat tulang-tulangnya bergetar.

Avel. Nama itu tidak berarti apa-apa. Itu hanyalah label yang diberikan oleh Uskup Lourent saat menemukannya meringkuk di keranjang sampah pada hari pelantikannya. Bagi Gereja, Avel adalah proyek amal, sebuah bukti hidup tentang "belas kasih" yang bisa dipamerkan kepada jemaat.

Namun bagi Avel, hidup adalah rentetan rutinitas yang mematikan jiwa: menyapu lantai dari darah peziarah yang merangkak hingga lutut mereka hancur, membersihkan altar dari lilin yang meleleh, dan mengabdikan sisa waktunya untuk belajar menjadi kandidat pastor dalam diam.

Tangannya yang kasar membalik halaman sebuah manuskrip kuno yang sudah mulai menguning. Matanya yang gelap, yang menyimpan kehampaan lebih dalam dari sumur tua, menatap baris demi baris tulisan tentang Dewa Recte.

"Kebenaran adalah pedang, dan Iman adalah perisainya. Recte tidak perlu menampakkan diri, karena setiap napas orang benar adalah manifestasi dari eksistensi-Nya."

Avel mendengus pelan, sebuah suara yang hampir tidak terdengar di perpustakaan yang sunyi itu. Di luar sana, orang-orang saling membunuh demi membuktikan siapa yang paling suci. Namun di dalam buku ini, semuanya terdengar begitu mulia.

Sistem Iman di Solus adalah rantai yang mengikat realitas. Setiap anggota Gereja Dominous terobsesi pada Recte, sang Dewa Kebenaran yang misterius. Berbeda dengan dewa-dewa picisan yang pamer kekuatan di alun-alun kota, seperti Dewa Perang yang menghancurkan gunung atau Dewa Kelimpahan yang menumbuhkan gandum dalam semalam, Recte adalah keheningan yang absolut. Ia tidak pernah menampakkan wajah. Ia tidak pernah bersuara. Namun, kekuatannya adalah fondasi dari tatanan Solus saat ini.

Avel membaca tentang peristiwa agung yang terjadi beberapa dekade silam, sebuah legenda yang menjadi dogma bagi setiap kandidat pastor. Saat itu, seorang penganut Dewa Pedang, entitas yang menjanjikan ketajaman mutlak yang mampu membelah ruang, berniat mengeksekusi seorang pria pendosa di sebuah desa terpencil. Penganut itu telah menarik pedangnya, sebuah serangan yang secara logis harus berakhir dengan kematian. Namun, Paus Gereja Dominous pada saat itu berdiri di sana. Tanpa baju besi, tanpa senjata.

Hanya dengan satu jari yang terangkat, Paus menghentikan bilah pedang yang mampu memotong intan tersebut.

Bukan karena fisik Paus yang kuat, melainkan karena imannya. Paus meyakini, dengan keyakinan yang begitu absolut hingga hukum fisika pun harus mengalah, bahwa tindakan penganut Dewa Pedang itu salah. Dan karena Recte adalah Dewa Kebenaran, maka apa pun yang dianggap salah oleh wakil-Nya di dunia, tidak akan pernah diizinkan untuk terjadi. Keyakinan itu menulis ulang realitas. Jika Paus berkata pedang itu tidak akan melukainya, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk memastikan pedang itu kehilangan ketajamannya.

"Logika yang absurd," bisik Avel. Ia menutup buku itu, menimbulkan kepulan debu yang menari-nari di bawah sinar Magnus 2 yang pucat.

Avel memandang ke arah jendela kecil di atas sana. Di gereja ini, gelar dan kekuatan dibagikan berdasarkan seberapa besar seseorang bisa menipu dirinya sendiri untuk percaya. Para Kardinal dan Uskup Agung memanifestasikan iman mereka dalam bentuk cahaya, api suci yang mampu membakar dosa dan menyembuhkan luka. Mereka menyebut diri mereka pembawa cahaya, sementara Avel selalu berada di balik bayang-bayang, memegang sapu lidi yang kayunya sudah mulai lapuk.

"Kenapa kau masih di sini, Anak Terbuang?" Sebuah suara berat memecah kesunyian.

Uskup Lourent berdiri di ambang pintu, jubah putihnya yang dihiasi benang emas tampak sangat kontras dengan lingkungan perpustakaan yang kusam. Pria itu menatap Avel bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan rasa kasihan yang merendahkan, jenis kasih sayang yang diberikan manusia kepada seekor anjing liar yang cacat.

"Aku sedang belajar, Bapa," jawab Avel datar, tanpa berdiri dari kursinya. Sebuah tindakan yang dianggap tidak sopan, namun sang Uskup terlalu malas untuk menghukumnya hari ini.

"Belajarlah sesukamu, tapi jangan lupa tempatmu. Kau adalah kandidat pastor karena kemurahhatian Gereja. Berdoalah pada Recte yang Agung agar suatu hari nanti kau bisa merasakan setetes saja dari cahaya-Nya. Tanpa iman, kau hanyalah onggokan daging yang menunggu untuk busuk di planet ini." Uskup itu berbalik dan pergi, meninggalkan aroma kemenyan yang tajam dan memuakkan.

Avel kembali menatap sampul buku di hadapannya. Ia meraba dadanya sendiri. Di sana, tidak ada getaran iman untuk Recte. Tidak ada kekaguman pada cahaya para Kardinal. Yang ada hanyalah sebuah kesadaran dingin yang mulai mengakar sejak ia pertama kali bisa berpikir.

Dunia berkata bahwa seseorang harus menyembah dewa untuk menjadi kuat. Dunia berkata bahwa kebenaran ditentukan oleh apa yang tertulis dalam kitab suci.

Tapi bagaimana jika kebenaran itu hanyalah sebuah kebohongan yang disepakati bersama? pikir Avel.

Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju cermin perak yang sudah kusam di sudut ruangan. Ia melihat pantulan dirinya: seorang remaja dengan rambut hitam berantakan, mata ungu yang tajam namun letih, dan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa pun.

Di dunia di mana orang-orang memperoleh kekuatan dengan memuja entitas sekelas Dewa, Avel mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia tidak butuh cahaya dari Recte. Ia tidak butuh izin dari langit untuk menjadi kuat.

"Paus menahan pedang karena dia percaya itu salah," gumam Avel, tangannya menyentuh permukaan cermin yang dingin. "Lalu, apa yang terjadi jika aku percaya bahwa aku adalah pemilik dari hukum sebab-akibat itu sendiri?"

Sebuah pemikiran sesat. Pemikiran yang jika diketahui oleh Gereja, akan membuat Avel dibakar di tiang gantungan sebagai heretik tingkat paling tinggi. Namun, di tengah kesunyian perpustakaan itu, sesuatu yang gelap dan purba seolah merespons pikirannya. Avel tidak merasa takut. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah seluruh Planet Solus, bintang Magnus 2, dan bahkan para Dewa yang duduk di singgasana mereka, hanyalah sekadar debu yang hinggap di bahunya.

Ia meyakini satu hal. Bukan tentang Recte, bukan tentang surga yang dijanjikan Paus.

Ia meyakini bahwa dirinya, Avel, adalah titik pusat dari segala keberadaan. Bahwa dunia ini ada hanya karena ia melihatnya. Dan bahwa suatu hari nanti, realitas itu sendiri harus berlutut di bawah kakinya, bukan karena ia benar, tapi karena keberadaannya.

Avel mengambil sapunya, melangkah keluar dari perpustakaan menuju halaman gereja yang luas untuk mulai menyapu. Langkah kakinya terasa lebih berat, seolah setiap pijakannya memberikan beban baru pada kerak Solus. Di bawah cahaya Magnus 2 yang menyengat, sang "Anak Terbuang" mulai merencanakan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh nabi mana pun.

Zaman Keberkahan mungkin telah tiba bagi umat manusia, namun bagi Avel sang "Anak Terbuang", ini hanyalah awal dari zaman di mana ia akan membuktikan bahwa Surga tidak perlu diraih, Surga harus ditaklukkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca