

Benturan itu menciptakan gema mematikan di kegelapan malam Jalan Penghubung Palasan. Udara, yang sebelumnya dipenuhi aroma segar hutan jati, kini tercemar oleh bau gosong karet, asap pekat dari oli yang bocor, dan aroma metalik yang begitu menusuk. Sumigemi terhuyung ke tepi jalan, syok menekan jiwanya yang tua. Kakinya, tanpa sadar, membawa mendekat ke sumber kekacauan itu. Sebuah sedan mewah telah gepeng seperti kaleng soda di bawah beban truk tronton besar.
Dia berlari, lututnya bergetar. Lampu jauh truk masih menyala, menusuk retinanya, tetapi matanya hanya fokus pada satu titik: pintu sisi pengemudi sedan. Juwoyo. Anaknya. Ia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara, agar sosok keji yang mengejarnya tidak mencium kehadirannya. Rasa sakit ini nyata sekali, membakar tenggorokannya.
Dia meraih lengan Juwoyo melalui jendela mobil yang pecah berkeping-keping. Kaca itu retak di sela jemarinya. Juwoyo diam, tidak bergerak. Lastrinah, menantu perempuannya, bahkan lebih buruk keadaannya.
"Juwoyo! Juwoyo, jawab Ibu!" katanya pelan, suaranya parau, hanya bisikan ketakutan. "Tolong, Nak. Bangun! Ini rekayasa, kan? Mereka tidak boleh menang, Juwoyo!"
Napas Juwoyo tidak ada. Sumigemi memaksakan diri menarik kepala putranya agar bersandar di lengannya yang dingin. Darah Lastrinah menetes di jaketnya, tapi dia mengabaikannya. Perempuan renta tak mau kehilangan anak tercinta.
"Sayangku," Sumigemi menangis, menciumi kening Juwoyo, "Sudah Ibu katakan, jangan gunakan energi Bintang Sepuluh sembarangan untuk melawan Baskoro! Sudah Ibu ingatkan! Sekarang lihat apa yang terjadi!"
Bukan waktunya berduka. Instruksi. Misi. Itulah satu-satunya hal yang tersisa yang diberikan kepadanya Juwoyo—tepat sebelum ia meninggalkan rumah dua jam yang lalu, mata penuh kesadaran akan bahaya. Juwoyo tahu Baskoro akan bertindak.
“Jimatnya, Ibu harus ambil jimatnya!” Ia melepaskan genggaman Juwoyo. Rasa bersalah menghantamnya karena membiarkan tubuh tak bernyawa itu terjatuh, tetapi suara itu kini semakin dekat. Mesin mobil lain terdengar menderu, tidak terlalu cepat, namun sangat yakin akan tujuannya.
Tangannya mulai merogoh dada Juwoyo yang tertutup jaket tebal. Pakaian itu terasa lengket, sulit disentuh.
"Di mana, Nak? Di mana kamu simpan? Jimat ini harus segera aman. Cucu Ibu... Gana harus selamat," Sumigemi berkata pada jenazah Juwoyo.
Ia meraba dada, tulang rusuk, leher. Tidak ada. Biasanya, Juwoyo menyimpannya dalam kantong kulit khusus di balik pakaian dalam.
"Ya ampun, Nak, jangan buat Ibu sulit. Cepat berikan!" serunya frustrasi.
Dia memutar tubuh Juwoyo sekuat tenaga. Dalam cahaya bulan samar, matanya menangkap sesuatu—kilatan emas putih di leher Juwoyo yang hancur. Kalung itu. Jimat Puluhsada.
Juwoyo telah memasukkan liontinnya ke bawah lapisan kulit. Sebuah pengamanan akhir yang maksimal. Sumigemi gemetar. Dia sadar, hanya dirinya bisa melakukannya. Sekarang juga dia seorang yang harus melakukannya.
Sumigemi menarik kalung itu, memutus rantai halus yang menyayat kulitnya. Sesaat, begitu Jimat Puluhsada keluar dari tubuh putranya, jimat itu bersinar. Kilatan singkat yang langsung diredam Sumigemi dalam genggamannya. Itu adalah satu-satunya energi murni di tengah malapetaka ini.
Di kejauhan, terdengar pintu mobil lain dibanting.
"Di sana! Lihat itu, ada yang mendekat!" teriak suara bariton kasar.
Sumigemi tidak menyia-nyiakan satu detik pun. Dia menarik diri dari bangkai mobil yang berlumuran darah itu. Air matanya sudah kering, digantikan oleh dorongan hati dan tekad murni.
"Lastrinah, Ibu pergi. Maafkan Ibu. Mereka datang. Kami harus berjuang demi Gana," ia berbisik cepat, melemparkan tatapan perpisahan singkat pada menantunya, Lastrinah, yang juga telah menjadi korban. Rasa pahit membakar lidahnya. Ia harus meninggalkan jasad suami-istri itu.
Menggenggam erat Jimat Puluhsada, Sumigemi melompat menembus semak-semak hutan jati. Udara di dalam hutan dingin, menusuk kulit. Duri dan ranting mencabik kulitnya, tetapi ia tidak merasakannya. Matanya hanya terpaku pada puncak Bukit Palasan yang samar-samar terlihat—lokasi rumah batu rahasia yang ia dan Juwoyo persiapkan.
"Ke mana wanita tua itu pergi?" tanya suara pria di balik semak.
"Dia cuma berlari di kegelapan! Ayo, kejar dia, kita tahu dia tidak punya banyak stamina!" sahut pria lain dengan tawa pendek.
Sumigemi memacu kakinya. Mereka mungkin muda, tapi Sumigemi adalah wanita tua yang membawa rahasia yang jauh lebih cepat dari mereka. Ia merasakan kehangatan kalung itu memancarkan denyutan, seolah memberi energi padanya, mendorong setiap langkahnya.
Mereka adalah pemburu. Mereka datang karena Juwoyo kalah.
"Mereka tidak akan mendapatkanmu," bisik Sumigemi pada jimat yang ia sembunyikan di lipatan sarung, "mereka tidak akan bisa. Aku sudah menjaga warisan ini selama tiga generasi. Aku akan menyatukanmu di tempat suci ini, lalu menguncimu dalam kesabaran."
Dia mencapai lokasi yang dimaksud—sebuah formasi batu alam kuno. Salah satu batunya, berukuran besar, berwarna hitam kelam, tersembunyi di balik akar beringin yang menjulang tinggi. Dia berlutut, napasnya tersengal-sengal, otot pahanya terbakar, namun tekadnya tak tergores.
"Semesta, dengarkan saya," dia mulai, mengangkat Jimat Puluhsada yang berkelip kecil dalam tangannya yang berlumuran lumpur dan darah. "Saya tahu, perisai telah runtuh. Sang Pahlawan sudah jatuh. Tapi Jimat Puluhsada tidak boleh kembali pada pengkhianat. Kekuatan Bintang Sepuluh hanya milik darah Argana!"
Ritual itu pendek, disuarakan dengan tergesa-gesa. Itu bukan mantra, tapi pengunci. Dia menyentuh Batu Arta hitam dengan Jimat Puluhsada.
Batu hitam itu bereaksi. Alih-alih cahaya dramatis, ia hanya menyerap energi, seperti pasir kering yang haus. Gelombang panas terasa menjalar dari jimat, disedot sepenuhnya oleh batu itu. Ketika Sumigemi mencoba menarik kalung itu kembali, dia tidak bisa.
"Kuatkan dindingmu, kau Ksatria Batu," dia memerintahkan dengan nada tegas yang belum pernah dia gunakan seumur hidupnya. "Jangan biarkan mereka melihat. Jadilah penantian. Aku menyerahkan tanggung jawab ini padamu, sampai Pewaris sejati telah dewasa dan siap menerimanya kembali!"
Saat kalung emas putih itu mulai larut ke dalam serat batuan hitam—bukan meleleh, tetapi meresap seperti air—suara derap kaki makin keras di bawah bukit.
"Sudah cukup!" teriak seorang pria yang kini mencapai ketinggian tengah bukit, sekitar lima puluh meter darinya.
Sumigemi memaksa proses peresapan itu tuntas. Sentuhan terakhirnya, dorongan tekad murni, menenggelamkan Puluhsada ke dalam intipati batuan. Batu hitam itu seketika bersinar pudar selama dua detik, dan kemudian, kehangatan menghilang. Rasanya seolah keajaiban lenyap sepenuhnya, digantikan oleh keheningan batu yang tak terembus.
"Ya, Jimat itu ada di tangan wanita tua itu, saya melihat kilatannya, Tuan," Sumigemi mendengar salah satu pemburu berbicara lewat HT.
Ia kembali merasakan kepergian kedua orang yang ia cintai—Juwoyo dan Lastrinah—serta kehilangan fisiknya dari Jimat Puluhsada.
Ia menghela napas, membersihkan sisa darah yang mengering dari tangannya.
"Jangan khawatir, Gana. Dua puluh tahun... berapa lama pun, Nenek akan menjaganya, melindungi Batu ini. Tidak ada seorang pun dari Bayang Jagad yang bisa menyentuhnya!" sumpahnya dalam hati.
***