Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Suami Tak Dianggap Ternyata Perwira Terkuat

Suami Tak Dianggap Ternyata Perwira Terkuat

Langit Berawan | Bersambung
Jumlah kata
58.9K
Popular
689
Subscribe
98
Novel / Suami Tak Dianggap Ternyata Perwira Terkuat
Suami Tak Dianggap Ternyata Perwira Terkuat

Suami Tak Dianggap Ternyata Perwira Terkuat

Langit Berawan| Bersambung
Jumlah Kata
58.9K
Popular
689
Subscribe
98
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMiliarderMenantuIdentitas Tersembunyi
Elang sejak kecil dijuluki sebagai anak haram yang selalu dihina dan direndahkan. Sampai akhirnya ia bertemu ibu kandungnya yang kaya raya. Alih-alih mewarisi kekayaan keluarganya, Elang lebih memilih menjadi tentara. Bahkan ia rela meninggalkan Iris, istrinya yang cantik, semata-mata demi meraih ambisi yang sudah lama ia cita-citakan. Namun, karena kemalangan saat menjalankan sebuah misi militer, mengharuskan Elang beristirahat dan pulang ke tempat tinggalnya. Ketika itulah semua orang mulai menghinanya, bahkan menganggapnya sebagai tentara berpangkat rendah yang miskin. Rupanya, dibalik kepulangannya itu, ada sebuah misi rahasia yang sedang ia jalankan. Termasuk ia merahasiakan pada semua orang kalau dirinya bukanlah tentara biasa, tetapi seorang pimpinan yang sangat kuat.
Bab 1. Suami yang Tak Dirindukan

Seorang lelaki bertubuh tegap sedang berdiri di ambang pintu pesawat yang baru saja menerbangkannya selama 5 jam ke tempat tujuan.

“Akhirnya aku kembali,” gumamnya setelah mengembuskan napas yang sempat tertahan.

Di belakangnya, seorang lelaki berpakaian serba hitam perlahan mendekat, “Pak, kenakanlah jaket ini, di luar sangat dingin,” ucapnya coba mengingatkan.

“Tidak perlu, justru sudah lama aku kangen udara dingin kota kelahiranku ini,” ujar lelaki bermata cokelat itu sambil menatap ke sekeliling lanud militer yang masih basah karena baru saja diguyur hujan.

“Tapi Bapak harus ingat, kondisi Bapak masih belum pulih sepenuhnya,” balas sang ajudan.

“Terima kasih sudah mengingatkan,” ujar lelaki berambut pendek itu dengan sopan.

Lelaki berahang tegas dan memiliki tatapan mata yang tajam itu tidak lain adalah Elang Suryanata, ia baru saja kembali dari dinas rahasia di sebuah kawasan rawan konflik.

“Hampir saja aku lupa...,” ucap El membalikan badan sambil mengetuk tepi kepalanya dengan jari telunjuk. “Bagaimana hasil penyelidikanmu yang tempo hari aku perintahkan, apa ada informasi yang sudah kamu dapatkan?” tanyanya sambil berhadapan dengan orang kepercayaannya itu.

“Iya, Pak... ada...” jawab lelaki berpostur sama tinggi dengan El itu sambil menganggukkan kepala. “Rupanya Megah Corp telah menambah beberapa anak perusahaan dalam dua tahun terakhir ini. Hanya saja orang-orang penting di dalam kantor barunya itu bukanlah benar-benar dikelola oleh petinggi Megah Corp.”

“Siapa mereka?” selidik El mengerutkan keningnya.

“Maaf Pak, agak sulit mengetahui identitas para CEO baru itu. Beri saya waktu untuk melanjutkan penyelidikan,” jawab lelaki itu sambil menundukan pandangannya di hadapan El.

“Baiklah, lanjutkan penyelidikanmu. Kabari aku segera jika ada informasi penting yang kamu dapatkan,” pinta El sambil menyentuh bahu orang kepercayaannya.

“Siap, Pak!” balas lelaki itu membungkuk hormat.

Sejurus kemudian, Elang keluar dari pesawat. Ia melangkah dengan gagah di atas landasan yang basah digenangi air. Langkah kakinya menuju sebuah bangunan berukuran sederhana tidak jauh dari tempat itu. Di sanalah seseorang sudah menunggunya dengan tidak sabar…

“Waduh..., ada bidadari tersesat itu…!” ujar seorang lelaki muda pada rekan yang berjalan di sebelahnya sambil tersenyum lebar.

“Iya, bening banget… siapalah perwira beruntung yang sedang ditunggunya?” balas rekannya.

“Kalau aku jadi suaminya, lebih baik aku berhenti dinas saja. Setiap hari akan aku habiskan waktu bersamanya... hahaha...!”

Bisik-bisik para lelaki terus terdengar setiap kali melewati wanita cantik yang sejak tadi tampak duduk dengan gelisah seorang diri di ruang tunggu.

Wanita mengenakan blazer tosca dan warna celana panjang yang senada itu raut wajahnya tampak mengerut karena kesal, tapi wajahnya tetaplah terlihat cantik sehingga sejak tadi ia menjadi pusat perhatian para lelaki berseragam yang berjalan hilir mudik di tempat itu.

“Maaf Iris... aku telat...!” tiba-tiba seorang wanita bertubuh tambun yang mengenakan kacamata berlensa bening datang mendekatinya dengan tergesa. Lalu ia duduk di sampingnya.

“Tidak apa Astrid..., lagian yang aku tunggu saja belum muncul batang hidungnya,” balas wanita berhidung mancung itu dengan nada kesal yang sejak tadi jelas sekali dia tahan.

“Bagaimana rapatku hari ini, sudah kamu pending, kan?” tanya Iris sambil menepikan rambutnya yang lurus di balik belakang telinganya.

“Maaf Ris, Pak Vikky tetap ingin bertemu juga hari ini. Katanya, dia siap menunggu sejam lagi,” jawab wanita berkacamata itu yang tidak lain adalah sepupu dari keluarga sebelah ibunya, sekaligus asisten si wanita cantik itu.

Kedua wanita itu kemudian menunggu tanpa bicara apa-apa, selain masing-masing menujukan sikap bosan dan gelisah.

“Sudah lewat setengah jam. Kenapa tentara itu belum juga datang, Ris?” Astrid memecah keheningan setelah cukup lama menunggu.

“Mungkin sebentar lagi,” jawab Iris meskipun mulai putus asa.

“Kalau setengah jam lagi belum datang juga bagaimana?” tegas Astrid yang harus selalu memastikan segala aktivitas atasannya agar selalu tepat waktu. Iris memilih tak menjawab, raut wajahnya tampak semakin gusar memandang terus ke arah pintu kedatangan.

“Pertemuan dengan Pak Vikky kali ini sangat penting lho, Ris... kalau kita sampai tidak dapat investasi dari perusahaannya lagi, entah apa yang akan kita jelaskan pada dewan direksi,” kata si asisten coba meyakinkan atasannya.

“Kita tunggu sebentar lagi. Kalau bukan karena ayahku tadi telepon dan menyuruhku menjemputnya, aku tidak mungkin mau sejak tadi seperti orang dungu menunggunya selama ini, meskipun dia suamiku sekalipun,” ungkap Iris kemudian ia menghela napas untuk sekadar menenangkan hati.

Tiga tahun lalu, perjodohan dua keluarga, Elang Suryanata dan Felicia Hermawan hanya bertahan satu tahun, karena setelahnya, Felicia hamil di luar nikah dengan Gilbert, putra bungsu keluarga Hartanto. Keduanya pun memutuskan menikah.

Bukan merasa sedih, sebaliknya El merasa bahagia, karena setelah setahun bersama Felic, tidak ada sedikitpun cinta yang tumbuh di hatinya pada gadis yang dipilihkan Karina itu.

Rupanya, Karina tak kehabisan akal, ia meminta pada Hermawan untuk langsung menikahkan putranya dengan anak sulung keluarga mereka yaitu Iris Hermawan.

Sebagai putri tertua keluarga Hermawan, Iris merasa harus menuruti keinginan dari ayahnya dan menerima pernikahannya dengan Elang, meskipun tidak didasari rasa cinta. Semua itu dia lakukan semata-mata demi ayahnya seorang.

“Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Om Hermawan dulu, kenapa dia menyuruhmu menikahi orang yang selalu disebut sebagai anak haram keluarga Suryanata!” tiba-tiba Astrid bergumam kesal.

“Lihat betapa enaknya hidup Felicia sekarang. Dia sekarang jadi nyonya di keluarga Hartanto. Dia tidak perlu susah payah bekerja, tinggal tidur. Kalau ingin sesuatu tinggal minta saja. Enaknya adikmu itu, Ris!” tambah Astrid membanding-bandingkan.

“Biarkan saja Trid, jangan bahas itu lagi,” kata Iris sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.

Walaupun Astrid mengatakan fakta yang sebenarnya, tapi Iris merasa malas mendengarnya.

Elang akhirnya menjejakkan kaki di pintu keluar bandara, ia langsung menghampiri Iris yang sedang duduk bersama asistennya, tanpa menyadari kehadirannya…

“Maaf telat!”

“Kamu...?”

Iris tampak terkejut ketika lelaki berseragam nan gagah itu tiba-tiba sudah muncul di hadapannya.

“Ayo pergi!” ajak El langsung balik badan sambil menyeret koper tanpa mempedulikan Iris yang sedang terkejut karena baru saja melihat sosok El yang sudah jauh berbeda dan hampir tak dia kenali itu.

Sedangkan El, walaupun sudah tiga tahun tidak bertemu, Iris langsung dapat mengenali wajah istrinya yang tirus dan bermata sendu itu.

“Ayo langsung masuk mobil saja, kita sudah telat!” ucap Astrid dengan tergesa setelah membukakan pintu belakang untuk Iris. “Kamu di depan saja duduknya, ada yang harus aku bicarakan dengan Iris,” tambah Astrid mencegah El duduk di sampingn istrinya. El pun menurut saja, ia duduk di kursi samping kemudi.

Saat perjalanan, suasana terasa agak canggung. El dan Iris seperti tidak memiliki kepentingan untuk saling bertukar cerita. Jelas mereka masih merasa kurang nyaman satu sama lain...

Lanjut membaca
Lanjut membaca