Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Para Penyembah Setan

Para Penyembah Setan

Puspita Ariyanti | Bersambung
Jumlah kata
31.3K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Para Penyembah Setan
Para Penyembah Setan

Para Penyembah Setan

Puspita Ariyanti| Bersambung
Jumlah Kata
31.3K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+HorrorHorrorMisteriDunia GaibPesugihan
Karena melanggar aturan yang dianggap remeh, Noah harus berurusan dengan para penyembah setan yang sesat dan rakus. Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkam ikuti petualangan Noah
Part 1 Melanggar peraturan

"Noah, jangan tidur larut malam, Nak. Peraturan di keluarga kita, tidak boleh tidur di atas jam sebelas malam. Ayah sudah mewanti-wanti," Sherly berkata saat melihat sang anak yang asik di depan komputer.

"Efek dari begadang itu banyak, kamu jadi telat sholat subuh karena bangunnya telat. Bahkan bisa jadi malah nggak sholat subuh," lanjut Sherly mengingatkan sang putra.

"Iya, Bu. Sebentar lagi, nanggung ini. Tugas dari kampus tinggal sedikiiiit lagi," jawab Noah tanpa mengalihkan pandangan dari komputernya.

"Ibu sudah mengingatkanmu, jika kamu melanggar peraturan di keluarga kita maka kamu akan menerima akibat dan konsekuensinya," ucap Sherly agak sedikit tegas pada putra semata wayangnya tersebut.

Sebenarnya Noah adalah anak yang hidupnya teratur, selalu mentaati peraturan keluarganya.

Dia anak yang mudah bergaul, banyak teman mahasiswi yang menyukai dan mencari perhatiannya karena sikap ramahnya tersebut.

Noah juga tampan dengan tinggi seratus tujuh puluh lima centi meter, tentu saja semakin membuat para gadis tergila-gila padanya.

Meski sekarang usianya sudah dua puluh tahun, curahan perhatian kedua orang tuanya tidaklah berkurang.

Sherly ibunya Noah berjalan meninggalkan kamar sang putra, dia yang sudah penat mengurus kafe memilih untuk beristirahat.

Suaminya sedang ada tugas, mereka hanya berdua di rumah. Mereka tinggal di sebuah kota bernama Sepaku, terletak di Kalimantan Timur.

Noah sendiri yang masih asik di depan komputer, tidak terlalu memperhatikan detik jam di bagian bawah komputer yang semakin berjalan cepat.

Ketika telah tugasnya telah selesai, pemuda itu mengangkat kedua tangannya ke atas dan dia pun menguap lebar.

"Hoaaam! Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ujarnya sembari berdiri dari kursi.

Pemuda itu terkejut ketika melihat jam dinding yang telah menunjuk ke angka dua dini hari.

"Aduh! Gawat! Ternyata sudah selarut ini, kalau Ibu tahu bisa celaka aku," ujar Noah pelan.

"Mana haus lagi, kalau aku keluar kamar ambil minum bakalan ketahuan begadang. Telinga Ibu tajam banget, kayak kucing," gumam pemuda itu panik juga bingung.

"O, iya. Kayaknya aku masih punya air mineral di dalam tas kuliah," ujarnya mengambil tas kemudian memeriksa isi tasnya.

Noah yang sudah menuntaskan dahaganya itu, segera mematikan komputer lalu berbaring di atas kasur.

Tanpa tahu jika mulai besok nasibnya akan berubah akibat melanggar peraturan keluarga.

Pagi hari jam ponselnya berdering nyaring di jam subuh, seharusnya dia bangun dan sholat Subuh.

Tetapi karena tadi malam begadang, pemuda itu memilih mematikan alarm ponsenya.

Mengabaikan suara adzan yang terdengar dari pelan, dari masjid yang letaknya cukup jauh dari rumah.

Pemuda itu tertidur kembali, terbangun ketika mendengar teriakkan dan gedoran di pintu kamar oleh sang ibu.

"Noaaah! Bangun! Sekarang sudah jam berapa? Jam segini biasanya kamu sudah bangun, sudah sarapan dan berangkat kuliah!" teriak Sherly cemas akan hal lain, padahal dia biasanya bersikap lembut kali ini dia tidak sabaran.

Sherly yakin, jika Noah pasti melanggar aturan keluarga.

Mereka menetapkan aturan keluarga untuk Noah, agar anak itu tidak meninggalkan sholat Subuhnya.

Noah langsung terbangun dari kasur, dia melihat jam dinding yang telah menujukkan angka delapan.

"Aduh! Gawat ini, Subuhnya ketinggalan. Kuliahku sebentar lagi juga telat," ucap pemuda itu dengan kepala pusing luar biasa karena bangun dalam keadaan terkejut.

"Noaaah! Buka pintunya!" seru Sherly menggedor pintu.

"Iyaaa, Bu. Aku sudah bangun," jawab Noah dengan jantung berdegub kencang, berjalan agak sempoyongan menuju pintu kamar.

Membuka pintu kamar, telah terlihat wajah merah padam dari sang ibu.

Terlihat sekali jika wanita itu sangat marah melihat kondisi anaknya yang baru bangun tidur, terlihat wajah menyesalnya.

"Ibu, maafkan aku," ucap Noah sembari menundukkan kepala, tidak berani menatap mata sang ibu yang berkilat.

"Cepat mandi sana, Subuhmu ketinggalan. Lantas waktu yang telah terlewat apa kamu bisa menggantinya? Kamu mau mengqodho jam segini? Sekarang waktunya Duha, bukan subuh lagi!" ujar Sherly menatap anaknya tajam.

Andai bisa keluar pedang dari mata wanita itu, maka sudah menusuk jantung Noah.

"I-iya, Bu. Aku minta maaf," ujar Noah penuh penyesalan.

"Kamu ... ah, sudahlah sana siap-siap. Hati-hati di jalan kalau mau berangkat kuliah, Ibu mau berangkat ke kafe ada pesanan katering," ujar wanita tersebut melunak melihat penyesalan yang sangat dalam dari sikap putranya.

Entah mengapa, perasaannya tidak nyaman hari ini ketika tahu Noah melanggar peraturan keluarga.

Akan tetapi, dia tidak tega jika harus melihat Noah dimarahi suaminya.

Kali ini dia tidak akan mengadukan pada suaminya, perasaan seorang ibu untuk melindungi anaknya sangat kuat.

"Baik, Bu. Hati-hati di jalan," ujar Noah pelan, baru kali ini dia melihat kemarahan luar biasa dari wanita yang telah melahirkannya, setelah beberapa lama tidak melihat wajah galak wanita lembut itu.

"Jangan lupa sarapan di kantin, uang saku sudah Ibu siapkan di tempat biasa," ujar Sherly memberitahu, sebelum dia menghilang dari balik pintu.

"Baik, Bu. Terima kasih, Noah sayang Ibu," jawab Noah membuat perasaan Sherly kembali melembut.

Setelah kepergian sang Ibu, Noah kembali melihat jam dindinng. Dia bergegas menuju kamar mandi dan bersiap untuk berangkat kuliah.

Dengan terburu-buru mengeluarkan motor dari dalam garasi, lalu melajukan motornya dengan kecepatan penuh.

Pemuda yang panik takut terlambat kuliah yang biasanya berhati-hati, terkejut ketika melihat seorang pria tua berjalan hendak menyebrang secara tiba-tiba.

Dia mencengkram remnya kuat-kuat hingga terdengar decit ban beradu dengan aspal, namun karena gaya gravitasi motor tidak bisa langsung berhenti.

Roda depan motor menabrak tubuh pria tua yang hendak menyebrang, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.

Brak!

Suara teriakkaan panik dari orang-orang di pinggir jalan, bersamaan dengan tubuh pria tua yang terpental hingga beberapa meter dan terseret hingga motor berhenti di pinggir jalan.

Sementara itu Noah pun ikut terpental dari motornya, pikirannya seperti kosong.

Memorinya langsung mengingat kilas balik dia melanggar peraturan keluarganya.

"Apakah aku masih hidup?" gumam Noah yang untuk sesaat tubuhnya yang tergeletak di jalan dengan tatapan putus asa.

Orang-orang di sekitarnya ribut menyelamatkan pria tua yang berdarah banyak, dia tidak merasakan nyeri sama sekali di tubuhnya.

Beberapa orang menghampiri Noah, mereka memeriksa keadaan pemuda itu.

"Anak ini hanya luka lecet aja, tapi sepertinya dia shock. Belum bisa bicara," ujar salah seorang pria yang memeriksa keadaan Noah dan menanyai pemuda tersebut.

Tidak lama kemudian terdengar suara sirine dari mobil ambulans dan polisi, beberapa orang di sekitar lokasi dimintai keterangan tentang kecelakaan tersebut.

Noah hanya mampu mendengar sekelilingnya, dia masih belum bisa beraksi apapun.

Semua sendi-sendi di tubuhnya terasa lemah, tubuhnya lemas dan lunglai.

Bahkan saat ada beberapa orang yang membawa tubuhnya, dia hanya bisa pasrah.

Tubuhnya dan tubuh pria tua yang kena hantam motornya, terbaring sejajar di dalam ambulans.

Lanjut membaca
Lanjut membaca