

"Sial, angkanya tidak mau turun!" seru Alden sambil menggebrak meja kerja kayunya.
"Tenang, Al. Cuma data statistik, bukan akhir dunia," sahut Rian dari kubikel sebelah, masih santai mengunyah keripik kentang.
"Ini bukan cuma data, Rian. Ini anomali yang seharusnya tidak ada dalam algoritma kita. Ada kebocoran di lapisan—"
Kalimat Alden terputus. Bukan karena dia kehilangan kata-kata, tapi karena bunyi yang memenuhi ruangan itu.
*Ziiiinnnggg!*
Suara itu melengking tinggi, tajam, dan berasal dari puluhan arah sekaligus. Di seluruh lantai kantor analis data itu, setiap ponsel yang tergeletak di meja, yang tersimpan di saku, hingga yang sedang digunakan untuk menelepon, bergetar hebat dengan nada dering yang identik.
"Apa-apaan ini?" teriak Siska, manajer pemasaran, yang ponselnya terjatuh ke lantai. "Sistem peringatan gempa?"
Alden segera menyambar ponselnya. Layar perangkat itu tidak menampilkan antarmuka biasanya. Hanya ada latar belakang hitam pekat dengan satu baris teks putih yang berkedip pelan.
Satu orang akan mati jam 22:00.
"Kalian dapat ini juga?" tanya Rian dengan nada yang mulai tidak santai. Wajahnya pucat pasi.
"Aku dapat," suara Siska bergetar. "Kalian semua dapat?"
"Semuanya," gumam Alden. Dia berdiri, memutar tubuhnya untuk melihat seisi ruangan. Semua orang melakukan hal yang sama. Mereka menatap layar ponsel masing-masing dengan ekspresi bingung yang perlahan berubah menjadi ketakutan.
"Ini pasti kerjaan hacker iseng," cetus salah satu programmer dari sudut ruangan. "Mungkin semacam kampanye pemasaran film horor terbaru. Viral marketing, kan?"
"Pemasaran macam apa yang membajak protokol siaran darurat?" balas Alden sinis. Jarinya bergerak cepat, mencoba membuka menu pengaturan atau sekadar mematikan ponselnya. Perangkat itu beku. Tombol daya tidak merespons. "Ini masuk lewat root sistem. Mereka membobol enkripsi seluler satu kota."
"Al, lihat media sosial!" teriak Rian.
Alden tidak perlu melihatnya. Di luar jendela kantor mereka yang berada di lantai dua belas, dia bisa melihat kemacetan mulai terbentuk. Orang-orang keluar dari mobil mereka, memegang ponsel ke arah langit seolah mencari sinyal atau jawaban.
"Satu jam lagi," bisik Siska sambil menunjuk jam dinding. "Maksudku, kalau ini benar, siapa yang akan mati?"
"Tidak ada yang akan mati, Siska," Alden mencoba menenangkan, meski otaknya sendiri sedang memproses ribuan kemungkinan teknis. "Ini cuma gertakan. Seseorang ingin memicu kepanikan massal. Secara logis, tidak ada cara bagi sebuah sistem digital untuk meramalkan kematian seseorang secara akurat kecuali mereka sudah merencanakannya secara fisik."
"Maksudmu pembunuhan?" Rian bertanya dengan suara lirih.
"Maksudku, ini omong kosong," tegas Alden. "Aku akan mencoba melacak jalur pengirimannya. Rian, bantu aku di terminal utama."
"Tapi, Al, kalau ini benar-benar terjadi..."
"Data tidak pernah berbohong, Rian. Dan data yang tidak punya sumber pengirim seperti ini hanyalah sampah digital. Ayo, bergerak!"
Selama empat puluh menit berikutnya, Alden tenggelam dalam barisan kode. Dia mencoba membedah paket data yang masuk ke ponselnya. Namun, semakin dia mencari, semakin dia merasa ngeri. Tidak ada alamat IP. Tidak ada jejak server. Pesan itu seolah-olah muncul begitu saja dari udara, terinkarnasi langsung di dalam memori setiap perangkat di kota itu.
"Bagaimana progresnya?" tanya Siska yang sekarang berdiri di belakang Alden, terus-menerus melirik jam tangannya.
"Nol," jawab Alden jujur. Dia menyeka keringat di dahinya. "Ini bukan transmisi radio biasa. Ini lebih seperti... setiap ponsel di kota ini diprogram ulang secara instan."
"Sudah jam sembilan lewat empat puluh lima," kata Rian. Dia menunjuk ke arah televisi di ruang tengah kantor yang menyiarkan berita darurat. Pembawa berita terlihat gagap, mencoba menjelaskan bahwa otoritas keamanan sedang menyelidiki pesan tersebut.
"Polisi bilang tetap di dalam rumah," ujar Siska. "Tapi bagaimana kalau yang akan mati itu orang yang di dalam rumah?"
"Logika, Siska. Pakai logikamu," Alden berdiri, meraih jaketnya. "Aku tidak tahan cuma duduk di sini sambil menunggu hoaks ini berakhir. Aku mau ke bawah. Aku ingin melihat apa yang terjadi di jalanan saat jam sepuluh nanti."
"Kau gila?" Rian menahan lengan Alden. "Bagaimana kalau targetnya adalah kau?"
Alden tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan. "Statistik menunjukkan probabilitas aku menjadi target adalah satu berbanding tiga juta penduduk kota ini. Aku lebih mungkin tersambar petir di dalam ruangan ini daripada mati karena pesan singkat."
"Al, jangan pergi," mohon Siska.
"Aku akan kembali dalam sepuluh menit. Aku cuma ingin membuktikan kalau jam sepuluh nanti, tidak akan ada yang terjadi."
Alden berjalan menuju lift. Suasana di dalam lift sunyi, hanya ada suara dengung mesin yang terasa lebih berat dari biasanya. Saat pintu terbuka di lobi, dia melihat satpam gedung sedang duduk di depan monitor CCTV dengan wajah tegang.
"Pak, aman?" tanya Alden saat melewati meja resepsionis.
Satpam itu hanya mengangguk tanpa menoleh. Matanya terpaku pada deretan layar yang menunjukkan suasana sepi di sekitar gedung.
Alden melangkah keluar ke udara malam. Kota yang biasanya berisik itu kini terasa seperti kota hantu. Mobil-mobil terparkir sembarangan di tengah jalan. Orang-orang berdiri di trotoar dalam kelompok kecil, saling berbisik, wajah mereka diterangi oleh cahaya biru dari layar ponsel yang masih belum bisa dimatikan.
Dia berjalan menuju trotoar di depan kompleks Apartemen Emerald, beberapa blok dari kantornya. Dia melihat jam tangannya.
21:58.
"Dua menit lagi," pikirnya. Dua menit untuk membuktikan bahwa dunia ini masih berjalan berdasarkan hukum fisika, bukan algoritma misterius.
"Kau juga menunggu?" seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat tiang lampu bertanya pada Alden. Pria itu memakai setelan jas mahal, tapi dasinya sudah longgar dan matanya tampak sembab.
"Saya hanya ingin melihat kebohongan ini terungkap," jawab Alden tenang.
"Bagaimana kalau itu bukan kebohongan?" tanya pria itu lagi. Suaranya terdengar sangat lelah. "Bagaimana kalau ini adalah pengadilan yang selama ini kita takuti?"
Alden mengerutkan kening. "Pengadilan apa?"
Pria itu tidak menjawab. Dia justru menengadah, menatap barisan jendela apartemen yang menjulang tinggi di atas mereka.
21:59.
Suasana menjadi sangat sunyi. Alden bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Di sekelilingnya, orang-orang mulai menghitung mundur dalam bisikan yang hampir tak terdengar.
"Sepuluh," bisik seseorang di kejauhan.
"Sembilan," pria di samping Alden ikut bergumam.
Alden tetap diam. Dia menyilangkan tangan di dada, matanya menyapu jalanan. Lihatlah, sebentar lagi jam akan berdentang dan kita semua akan pulang dengan rasa malu karena sempat merasa takut.
"Lima."
"Empat."
"Tiga."
"Dua."
"Satu."
Tepat saat jarum jam menyentuh angka dua belas, ponsel di saku Alden bergetar satu kali. Sebuah getaran pendek, seperti sebuah titik di akhir kalimat.
Hening.
Tidak ada ledakan. Tidak ada kilatan cahaya. Dunia tetap berputar.
"Tuh, kan?" Alden berbalik ke arah pria di sampingnya dengan senyum penuh kemenangan. "Saya sudah bilang, ini cuma—"
Kalimatnya kembali terputus untuk kedua kalinya malam itu. Kali ini bukan oleh suara ponsel, melainkan oleh suara siulan angin yang aneh dari arah atas.
Wuuush!
Alden mendongak. Di atas sana, di kegelapan lantai belasan Apartemen Emerald, sebuah bayangan hitam meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Objek itu jatuh melewati cahaya lampu jalan, dan untuk sepersekian detik, Alden bisa melihat dengan jelas: itu adalah seorang manusia.
BRAAAKKK!
Suara hantaman itu begitu keras hingga terasa bergetar di telapak kaki Alden. Tubuh itu mendarat tepat di atas kap sebuah mobil sedan perak yang terparkir hanya lima meter di depan Alden. Kaca depan mobil hancur berkeping-keping. Alarm mobil meraung-raung membelah kesunyian malam.
Darah mulai merembes dari balik kap mesin yang ringsek.
Jeritan histeris mulai meledak dari orang-orang di sekitar. Alden membeku. Paru-parunya seolah lupa cara menarik napas. Matanya terpaku pada tangan korban yang terkulai di sisi mobil. Di pergelangan tangan pria itu, sebuah jam tangan mewah masih berdetak pelan.
Ponsel Alden di dalam saku bergetar lagi. Dengan tangan gemetar hebat, dia mengeluarkannya.
Ada pesan baru di bawah kalimat sebelumnya.
Keadilan telah dimulai. Sampai jumpa besok pukul 22:00.
Alden mendongak ke arah balkon apartemen yang terbuka di lantai atas, lalu kembali menatap mayat di depannya. Logika dingin yang selama ini dia banggakan hancur seketika. Ini bukan peretasan. Ini adalah eksekusi.
Dan yang paling mengerikan adalah, dia merasa pernah melihat wajah pria yang tewas itu sebelumnya, di dalam salah satu file data yang pernah dia hapus secara paksa sepuluh tahun yang lalu.