

Yoga yang baru selesai kerja dia suntuk betul,dan rencananya dia akan jalan-jalan untuk meringankan kejenuhannya hari ini, dia sengaja pulang cepat,meskipun Yoga seorang bos tapi dia paling suka kemana-mana pakek motor sport nya,dan hari ini pun demikian.
"Mas Dani,tolong handle kerjaankku ya,
aku mau, jalan-jalan sebentar,untuk mehirup udara segar."
"Baik Pak,"
Kata Dani,Dani adalah sekertaris Yoga yang nenangani semua kegiatan Yoga dan orang paling dipercaya Yoga.
"Setelah memberi instruksi ke Dani,Yoga keluar dari kantornya menuju parkiran.
"Pak Yoga kok pulang cepat Pak."
"Kata security perusahaan Yoga."
"Iya Pak mau jalan-jalan dulu."
"Ohh, silakan Pak?""
Kata security itu dengan mempersilakan Yoga untuk naik motornya yang sudah disiapkan.
Didalam perusahaan nya dimata semua kariawannya Yoga adalah seorang pemimpin yang tegas,disiplin,meskipun dingin tapi berkharisma dan cuek.
Yoga dengan mengendarai motornya dia terus melaju tak tentu arah,dan hanya ingin menghilangkan rasa bosan dan suntuknya saja, karena hari-hari yang dilakukan hanya kerja dan kerja,dalam hidupnya dia gak pernah ada satu pun wanita yang ada didekatnya,karena baginya wanita hanyalah penghambat,yang bisa menghancur kanya.
Semua berasal dari kelakuan Papanya yang telah meninggal kan Mamanya demi perempuan lain sehingga Mamanya sampai sakit dan meninggal kanya,tapi dulu sebelum Mamanya meninggal pernah berpesan.
"Yoga,,gak semua wanita itu hatinya jahat nakk,ada wanita dinunia,ini yang sering tidak dihargai dan tidak dipedulikan sama suaminya juga banyak,jadi jangan sama kan semua wanita sifatnya sama ya nak?"
Kata-kata terakhir Mama Yoga sebelum meninggal itu yang diingat Yoga,tapi meskipun begitu dia masih tetap tidak percaya sama wanita.
Motor pun terus melaju sampai tak terasa dari tengah Kota M,sampai kearah kota B,tapi sebelum ke Kota B, Yoga mengarah kan Motornya diwaduk,yang berada didaerah dekat Kota B, disitu banyak anak muda yang nongkrong setiap sorenya,pemandangannya indah, dengan dinding batu-batu besar untuk menampung air sehingga tempat nya selalu rame setiap harinya,untuk sekedar nongkrong,ngopi dan cari makanan kecil.
Setelah motornya diparkirkan dia duduk ditepi waduk itu sambil menikmati sebatang rokok.
Disana sudah ada Nindi yang sedari tadi duduk sendiri untuk merenungi semua masalah yang terjadi padanya,
"Yaallahh seperti ini kah diriku saat ini, yang selalu berjuang demi keluarga tapi tak pernah dihargai."
"Aku rela banting tulang demi membantu ekonomi keluargaku,dikala aku banyak tanggungan semua menyalah kan ku,tanpa berfikir semua yang kulakukan demi keluarga.
Tanpa sadar air mata Nindi jatuh bercucuran,dia langsung menghela nafas dalam-dalam untuk meringankan semua yang ada dalam dadanya.
Lalu tanpa sengaja matanya tertuju arah Yoga berdiri dan disaat itu pula kenapa Yoga mau jatuh ke air yang ada didepanya, karena habis duduk dia berdiri tidak seimbang dan disaat itu Nindi melihatnya dikira mau mengakhiri hidupnya.
Tanpa berfikir panjang lagi Nindi langsung lari dan menarik lengan Yoga.
Dan berkata.
"Yaallahh Masss,,kenapa fikiran kamu sempittt?"""
"Semua masalah itu ada solusinya Mas,gak harus begini menyelesaikan nya dengan mengahiri,hidup?"
"Mas itu masih muda dan masih banyak yang mas harus lakukan."
"Lihat lah aku Mas,usiaku sudah kepala empat banyak beban yang aku tanggung,semua orang didekat ku tidak pernah menghargai ku,termasuk suamiku sendiri,semua menyalahkanku,tapi apa yang aku perbuat aku masih bangkit meskipun aku sendiri,karena aku yakin aku bisa mengatasinya dan menyelesaikan nya walaupun aku sendiri."
"Jadi Masnya harus berubah ya?jangan biarkan fikiran sempit menguasai hati dan fikiran Mas?""
Yoga yang mendengarkan sejak tadi dalam hati nya hanya tertawa geli,karena Ibu-Ibu ini telah salah paham terhadapnya.
Tapi setelah mendengarkan cerita Ibu didepannya dengan meneteskan air mata dia merasakan kasian, Yoga berfikir pasti bebanya berat sampai dia bisa meneteskan air mata di depan orang yang tidak kenal,jadi Yoga tidak akan menceritakan keaadanya yang sebenarnya tadi,dan malah dia berfikir untuk mengajak ngobrol Ibu itu supaya dia tenang.
Sedangkan Nindi setelah menarik Yoga tadi dia duduk disebelah Yoga dengan tatapan kosong,Yoga melihatnya kali ini hatinya tersentuh banget.
"Berarti kita sama ya Bu."
Kata Yoga sambil duduk disamping Nindi.
"Ya gak lahhh Mass,,mungkin permasalahan Masnya karena putus cinta kan,"
"Tapi kalau saya semua kesalahan yang terjadi dituju kan kepada saya Mas,dan sekarang saya banyak tanggungan,keluarga saya malah nyalahin saya semua?
"Padahal saya demi keluarga ikut bekerja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi."
"Terkadang saya sudah lelah dan capek Mas tapi demi anak-anak saya,saya harus bertahan dalam semua hal."
Nindi menceritakan keadaan hidupnya kepada Yoga.
"Kalau Masnya kenapa Mas,kok sampai mau mengakhiri hidup tadi."
Tanya Nindi ke Yoga.
"Saya,juga karena keluarga Bu,Bukan karena cinta,"
"Ohhh,,kirain saya tadi karena putus cinta Mas."
"Bukan Bu,,?"
"Yah sudah kalau Masnya pingin cerita,saya dengarkan biar Masnya merasa ringan dihati,tapi kalau Masnya gak mau cerita ya gak papa yang penting?? Mas harus selalu berfikir positif bukan Masnya saja yang punya masalah."
"Iya kan?"
"Iya Bu bener,makasih ya Bu,sudah mau menemani saya disaat saya gak tau arah.
Tanpa sadar tiba-tiba saja Yoga ngomong seperti itu,seperti ada rasa nyaman berbeda,
"Iya Mas sama-sama,terkadang kita itu dikala sedang terpuruk,hanya ingin didengarkan gak dihakimi."
Jawaban Nindi lagi-lagi bisa menghipnotis kenyamanan Yoga.
"Oya Bu,Ibu siapa namanya,"
Tanya Yoga.
"Oh,iya Mas sejak tadi kita ngobrol panjang lebar,tapi tidak tau nama kita masing-masing,lucu juga ya?
"Hehehe"
Kata Nindi.
"Nama saya Nindi Mas,Masnya siapa?"
Tanya Nindi ke yoga.
"Saya Yoga Bu,asal saya dari Jakarta tapi sekarang sudah menetap diKota M,, pekerjaan saya,sering dipanggil dikampus-kampus untuk kelas bisnis."
Yoga memperkenalkan diri ke Nindi.
"Oh,Masnya dosen kalau begitu?"
Jawab Nindi.
"Hehehe"
"Yah dibilang begitu?"
"Kalau Ibu tinggal dimana?"
Tanya Yoga,
"Rumah saya didaerah B,Mas, saya seorang ibu dengan dua orang anak, anak saya yang kecil kelas satu SMK dan yang besar kuliah belum selesai,masih sekripsi,dan saya sekarang kerja diKota M, sebagai pembantu Mas."
Nindi memperkenalkan dirinya ke Yoga.
"Lalu suami Ibu kemana?"
"Suami saya ada,?"
"Ohhh?"""
Jawab Yoga,seperti tidak puas dengan jawaban Nindi.
"Lalu Ibu tadi kesini sama siapa?"
"Saya gojek Mas." Jawab Nindi.
"Dari rumah?" Tanya Yoga.
"Iya tadi itu sebenarnya saya pulang pingin cuti karena capek,tapi ternyata bukanya bisa istirahat tapi malah lebih capek dan lelah fikiran saya, karena yang saya dapat penghakiman dirumah,jadinya saya pesan gojek dan kesini?"
"Lalu Ibu nanti mau kemana?"
"Gak tau Mas,mungkin balek ke tempat kerja saya?"
Jawab Nindi dengan tatapan kosong.
Disitu Yoga melihat keadaan Nindi merasa Kuwatir.
"Ya sudah Bu,ini sudah malam,bagaimana kalau kita keatas,kita cari kopi."
Kata Yoga.
"Boleh Mas"
Lalu mereka berdua naik ke atas dan cari lesehan yang jual makanan ringan dan kopi,
"Ibu,mau minum apa Bu,kopi hitam saja Mas tapi pahit."
Jawab Nindi,keYoga.
"Kopi Bu dua white coffe sama kopi hitam tanpa gula."
Kata Yoga ke Ibu penjual kopi.
"Bu Nindi sudah makan?"
Tanya Yoga ke Nindi.
"Sudah Mas,Mas Yoga kalau mau makan,makan saja."
"Eeemm" iya Bu"
Sementara itu kopi yang dibikin kan,sudah siap.
"Ini Mas,kopinya silakan?"
Kata ibu penjual kopi.
"Iya Bu terimakasih.""
"Diminum Bu" Yoga menyuruh Nindi untuk meminum kopinya.
Selanjutnya Nindi membuka masker yang dipakai sejak tadi.
Betapa terkejutnya dalam hati Yoga karena fikiran Yoga tidak sama dengan yang dilihat didepan matanya saat ini.
"Waduhh ternyata wajah Ibu Nindi gak sesuai dengan usianya,dia kelihatan masih muda dan kenapa aku suka banget lihatnya ya?""
Dalam hati Yoga.
"Kenapa Mas ada yang salah sama saya?"
Tanya Nindi ke Yoga karena Nindi merasa tidak enak saat Yoga memandanginya.
"Oh,tidak Bu,maaf Bu, memang benar usia Ibu epat puluh keatas?"
Tanya Yoga seakan gak percaya.
Karena wajah Nindi beda dari orang-orang seusianya,memang ada garis-garis halus disekitar dahi,tapi Aura yang dipancarkan wajah itu penuh dengan ketenangan dan kedamaian siapapun yang melihatnya terlebih ada tambahan tahi lalat kecil dikelopak mata yang sebelah kiri jadi terkesan unik dan beda.
"Iya Mass benar nii kalau gak percaya Nindi mengeluarkan KTP nya.
Dan disitu tertulis tanggal lahir Nindi.
"Oh,,iyaaa ya Bu,,Ibu lahir dibulan Agustus ya?"
Tanya Yoga ke Nindi.
"Iya Mass""
"Sebentar Lagi ulang tahun dong Bu"
"Saya gak ada yang namanya ulang tahun Mass bagi saya semua bulan sama gak ada yang special buat saya malah saya sering lupa?"
Dalam hati Yoga "Yaallahh sebegitunya tidak perhatian nya kah,keluargamu pada mu Bu,sampai dihari ulang tahunmu pun gak ada yang sepesial."
"Ya sudah Mas ini sudah malam,Mas Yoga kalau mau pulang silahkan nanti keburu malam betul,dari sini Ke Kota M, lumayan jauh lo Mas."
Kata Nindi nengingatkan Yoga.
"La Bu Nindi bagaimna?" Tanya Yoga ke Nindi.
"Oh saya barusan pesan kamar di atas itu Mas,ini sudah malam gak mungkin saya kembali ketempat kerja saya,dan apa lagi saya pingin cuti istirahat jadi,mending saya sewa kamar diatas situ 5 hari sudah cukup sekalian saya istirahat."jawab Nindi ke Yoga.
"Ya sudah Bu,kalau begitu saya pulang dulu?"
Setelah itu Yoga pulang,tapi belum jauh dari tempat dia ngopi bersama Nindi pikiranya tidak nyaman dan teringat Nindi terus,dia kuwatir kalau terjadi sesuatu sama Nindi,langsung dia putar balek ketempat warung kopi sebelumnya, disitu Nindi sudah gak ada,Yoga sedikit panik.
"Buu,Ibu yang disini tadi kemana?"
"Oh dia naik Mas kepenginapan situ,baru saja?"
Jawab ibu warung kopi sambil menunjukan penginapan diatas.
"Memang disana masih ada yang kosong ya Bu,?"
"Ada Mas tinggal satu didepan ibu yang ini tadi?"
"Oh boleh Bu,saya tempatinya saja."
"Boleh silah kan tapi motornya ditaruh dibawah ya mas, diparkiran sendiri?"
"Oky Bu baik."
Akhirnya Yoga pun menginap dipenginapan yang disewa oleh Nindi tapi kamar beda.
Malam pun semakin larut menuju pagi hari.