

Aku benci jika orang-orang berbicara tentang ibu.
Aku muak ketika ada yang mengatakan,
“Walaupun bagaimana, ibu tetap ibu. Kita tidak boleh melawan ibu.”
Setiap kali kalimat itu terdengar, dadaku terasa seperti diremas. Tenggorokanku panas. Mual. Seperti ingin muntah.
Aku bahkan pernah keluar dari masjid saat seorang ustadz dengan suara lembutnya berkata,
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu…”
Aku berdiri.
Aku pergi.
Dan aku tidak peduli orang-orang menatapku.
Karena bagiku, kalimat itu tidak adil.
Tidak semua ibu pantas disebut pintu surga.
Aku berusia delapan tahun saat ibu pergi.
Delapan tahun.
Usia di mana anak-anak lain masih merengek minta dibelikan es krim.
Usia di mana dunia seharusnya sederhana.
Usia di mana pelukan ibu adalah tempat paling aman.
Tapi pagi itu, rumah kami sunyi.
Bukan sunyi biasa.
Sunyi yang terasa aneh. Sunyi yang membuatku memanggil-manggil.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Dua adikku masih tidur. Yang satu baru lima tahun. Yang satu lagi tiga tahun. Mereka belum mengerti apa-apa.
Aku berjalan ke dapur. Kompor dingin. Tidak ada sarapan. Tidak ada suara piring. Tidak ada aroma kopi.
Lalu aku melihat bapak duduk di kursi ruang tamu.
Diam.
Tatapannya kosong.
“Ibu ke mana, Pak?”
Bapak tidak menjawab.
Hari itu aku belajar satu hal:
Diam bisa lebih menyakitkan daripada jawaban.
Baru sore harinya bapak berkata dengan suara yang terdengar seperti retakan kaca,
“Ibumu pergi.”
“Pergi ke mana?”
Bapak menggeleng.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat bapak menangis.
Bukan tangis biasa.
Tangis seorang laki-laki yang hancur.
Ibu tidak pamit.
Tidak meninggalkan pesan.
Tidak meninggalkan pelukan terakhir.
Yang ia tinggalkan hanyalah hutang.
Puluhan juta rupiah.
Saat itu bisnis bapak sedang hancur. Kami sudah kesulitan makan. Lalu para penagih datang satu per satu.
Aku masih kecil, tapi aku ingat wajah-wajah kasar itu.
“Mana istrimu?!”
Bapak hanya menunduk.
Dan sejak hari itu, aku berhenti menjadi anak kecil.
Aku menjadi kakak.
Aku menjadi pelindung.
Aku menjadi orang yang membenci.
Aku membenci ibu.
Aku membenci perempuan yang tidak bisa jadi ibu.
Aku membenci ceramah tentang surga di telapak kaki.
Karena telapak kaki yang mana?
Yang meninggalkan anaknya?
Yang lari saat suaminya bangkrut?
Yang menambah hutang lalu menghilang seperti ditelan langit?
Kalian harus tahu, setiap ibu pasti wanita.
Tapi tidak semua wanita bisa jadi ibu.
Dan jika aku membenci perempuan seperti itu, bukankah itu wajar?
Tahun-tahun berlalu.
Aku tumbuh dengan keras.
Bapak bekerja apa saja. Kuli bangunan. Ojek. Tukang angkut. Kadang tidak makan agar kami bisa makan.
Aku berhenti sekolah sebentar untuk membantu.
Adik-adikku sering bertanya,
“Kak… ibu kapan pulang?”
Aku tidak pernah tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku berkata,
“Ibu sudah tidak ada.”
Lebih mudah membuat mereka berpikir ibu mati, daripada menjelaskan bahwa ibu memilih pergi.
Aku membangun tembok dalam hatiku.
Dan tembok itu semakin tinggi setiap kali ada orang berkata,
“Ibu tetap ibu.”
Sampai suatu hari, aku bertemu dengan seorang lelaki tua berjanggut putih di masjid kecil dekat pasar.
Namanya: Buya Tarmizi.
Beliau tidak seperti ustadz lain.
Ia tidak langsung berbicara tentang surga di bawah telapak kaki ibu.
Ia bertanya padaku,
“Kenapa wajahmu keras sekali setiap kali kata ‘ibu’ disebut?”
Aku terdiam.
Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu.
Orang-orang biasanya langsung menghakimi.
“Kamu durhaka.”
“Kamu kurang iman.”
“Kamu tidak tahu balas budi.”
Tapi Buya Tarmizi tidak.
Ia hanya menatapku dengan mata yang seperti tahu sesuatu.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin bercerita.
“Apa Buya tahu rasanya ditinggalkan ibu?”
Suasana masjid sepi.
Angin sore masuk dari jendela kayu.
“Apa Buya tahu rasanya melihat bapak menangis karena istri kabur?”
Suaraku mulai bergetar.
“Apa Buya tahu rasanya didatangi penagih hutang yang bukan hutang bapak?”
Tanganku mengepal.
“Apa masih wajib aku patuh pada ibu seperti itu?!”
Masjid terasa sunyi sekali.
Aku menunggu nasihat klise.
Tapi yang Buya lakukan hanyalah mendekat…
Lalu memelukku.
Pelukan seorang ayah.
Dan untuk pertama kalinya sejak usia delapan tahun, aku menangis seperti anak kecil.
Tangisku pecah.
Aku bukan menangis karena rindu.
Aku menangis karena marah.
Buya Tarmizi berbisik pelan,
“Anak yang paling keras membenci… biasanya yang paling dalam lukanya.”
Kalimat itu menghantamku.
Beliau tidak membela ibu.
Beliau tidak menyalahkanku.
Beliau hanya berkata,
“Islam tidak pernah menyuruhmu mencintai keburukan. Tapi Islam menyuruhmu menjaga hatimu agar tidak rusak oleh kebencian.”
Aku terdiam.
“Kalau kau benci ibumu karena ia salah, itu manusiawi. Tapi kalau kebencian itu membuatmu jauh dari Allah… itu yang berbahaya.”
Aku ingin membantah.
Tapi aku tidak bisa.
Karena diam-diam, aku tahu…
Sejak ibu pergi, aku bukan hanya membenci ibu.
Aku juga mulai menjauh dari Tuhan.
Dan di pintu masjid sore itu, seseorang berdiri memperhatikan kami.
Seorang perempuan.
Namanya Erma.
Aku belum tahu bahwa perempuan itu kelak akan mengajarkanku satu hal yang paling sulit dalam hidup:
Memaafkan bukan berarti membenarkan.
Dan taat bukan berarti bodoh.
Langit sore itu berwarna jingga.
Aku menatapnya dengan dada sesak.
Di langit yang sama…
Ibu mungkin masih hidup.
Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya dalam hati,
“Ya Allah… kalau Engkau menyuruhku taat pada ibu… bagaimana caranya mencintai orang yang meninggalkanku?”
Air mataku jatuh lagi.
Dan kisah ini… baru saja dimulai.