Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Terjebak di Kampung Janda

Terjebak di Kampung Janda

Selendang Biru | Bersambung
Jumlah kata
116.9K
Popular
10.5K
Subscribe
1.4K
Novel / Terjebak di Kampung Janda
Terjebak di Kampung Janda

Terjebak di Kampung Janda

Selendang Biru| Bersambung
Jumlah Kata
116.9K
Popular
10.5K
Subscribe
1.4K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+HaremMafia
cerita ini penuh dengan adegan dewasa, bijaklah dalam membaca. "Tentu saja, apa kamu kira aku tidak horny melihat tubuh kamu yang perkasa, dan pastinya aku juga ingin merasakan terong kamu yang super itu mengobok obok apem ku”. Kata Wati menantang.Setelah berkata begitu Wati bangkit dari duduknya dan langsung duduk di pangkuan Joyo, kakinya menelangkup ke pinggang joyo yang masih duduk di tepi ranjang, tanganya merangkul leher joyo dan bibirnya langsung melumat bibir joyo.
Bab 1 Jaya Budiman

Jaya Budiman namanya, tapi warga lebih sering memanggilnya Joyo karena lebih mudah diucapkan dan lebih muda diingat. Ia mempunyai keterbelakangan mental. Usianya saat ini sudah 19 tahun tapi tingkah lakunya masih seperti anak kecil yang berusia 3 tahun. Dia tidak pernah sekolah, tidak pernah mengenyam pendidikan. Setiap hari yang dilakukan hanya bermain, bermain, dan bermain.

Sekilas penampilan Joyo sangat meyakinkan. Ganteng, rambut selalu tersisir rapi, kulitnya bersih, dan bertubuh atletis.

Orang yang tak pernah melihatnya akan terkesima pada pandangan pertama, asal dia diam tidak bergerak. Terutama bagi kaum wanita karena dia terlihat gagah dan tampan jika berdiri.

Sore itu setelah tidur siang dia pergi bermain di samping batu besar yang ada di bawah pohon beringin yang tidak jauh dari rumah.

Menurut cerita warga sekitar, pohon beringin itu ada penunggunya. Banyak warga bersaksi, sempat melihat anak kecil berlari-lari di sekitaran pohon beringin. Bukan anak yang sebenarnya, tapi anak kecil penunggu pohon.

Sekitar pukul lima sore, dari kejauhan terlihat Mbak Sri datang mencari Joyo.

Mbak Sri adalah pembantu paman dan bibi Joyo yang sudah meninggal 4 tahun lalu karena kecelakaan.

Paman dan bibi Joyo tidak punya anak. Sebelum meninggal, mereka menyerahkan rumah yang sekarang ditempati Joyo dan Mbak Sri agar dirawat dengan baik.

Joyo terlahir sebagai anak yatim piatu, ayahnya meninggal saat dia di dalam kandungan dan ibunya meninggal ketika melahirkan. Joyo dibesarkan oleh paman dan bibinya di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Mbak Sri adalah satu-satunya pembantu paman dan bibi Joyo yang diberi tanggung jawab merawat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari Joyo. Mbak Sri sangat menyayangi Joyo begitu juga sebaliknya. Meski Mbak Sri sudah tidak mendapat gaji dari paman Joyo, dia masih tetap merawat Joyo dengan baik.

Mbak Sri adalah seorang janda yang ditinggal selingkuh oleh suaminya. Usia pernikahan nya masih 2 tahun waktu itu ketika Parto, suaminya, selingkuh dengan janda tetangga desa. Mbak Sri akhirnya memutuskan pergi dari rumah dan menjadi pembantu di rumah paman Joyo, sebagai perawat Joyo sampai sekarang.

Saat ini Joyo tinggal berdua di rumah bersama Mbak Sri. Karena sikapnya yang kekanak-kanakan, Mbak Sri selalu memperlakukan Joyo seperti anak kecil.

"Ayo, Jo, pulang," ajak Mbak Sri, ketika dia melihat Joyo sedang berdiri sambil bersandar ke batu besar.

"Sebentar Mbak Sri, ini masih bermain sama teman-teman," ucap Joyo. "Aku pulang dulu ya teman-teman," pamit Joyo kepada batu di depannya, yang seolah-olah adalah anak kecil yang sedang bermain bersamanya.

Mbak Sri sudah terbiasa melihat sikap Joyo yang seperti itu, karena Joyo memang mempunyai keterbelakangan mental. Mbak Sri tidak berpikir macam-macam seperti apa yang dibicarakan sama orang-orang yang katanya di tempat itu banyak penunggunya.

Mbak Sri menunggu sampai Joyo berdiri dan berjalan mengikutinya.

"Kamu tadi ngomong sama siapa, Jo?" ucap Mbak Sri sambil menggandeng tangan Joyo, berjalan meninggalkan tempat itu.

"Itu di sana temen-temen lagi bermain," jawab Joyo sambil menunjuk batu besar yang ada di belakangnya.

Joyo memang sudah terlihat dewasa secara fisik, tapi pemikirannya masih seperti anak-anak.

Mereka berdua berjalan di pinggir jalan menyusuri jalanan menuju ke rumah.

Dari kejauhan sebuah sepeda motor berjalan sangat kencang dan oleng hingga menabrak Joyo.

Joyo terlempar dan kepalanya terantuk batu besar di bawah pohon beringin yang tadi dia gunakan untuk bermain, sedangkan si pengendara motor terjatuh kemudian segera berdiri dan langsung tancap gas melarikan diri.

Setelah terantuk batu, Joyo tidak sadarkan diri. Mbak Sri panik dan ketakutan. Ia berteriak sekencang-kencangnya hingga beberapa warga yang kebetulan lewat di lokasi tersebut datang melihatnya.

Beberapa warga mengecek keadaan Joyo.

"Tidak ada luka yang serius," ucap salah satu warga yang tadi memeriksa keadaan Joyo, "hanya ada pendarahan kecil di kepalanya."

"Ayo kita bawa pulang," ucap warga yang lainnya.

Mbak Sri masih ketakutan, dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Joyo.

"Ayo kita angkat sama-sama dan kamu, Toni, panggil Bu Bidan Rini." Tidak seperti di kota, di desa itu tidak ada dokter, hanya ada bidan desa yang selalu siap melayani warga jika ada yang sakit dan perlu perawatan. "Kita ketemu di rumah Joyo," ucap salah satu warga yang membantu.

Joyo diangkat bersama-sama menuju ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi.

Mbak Sri segera membukakan pintu ketika mereka sudah sampai di rumah. Warga yang menggotong Joyo langsung membawanya ke tempat tidur di kamarnya.

Tidak lama kemudian Bu Bidan datang bersama Toni naik sepeda motor Toni.

Tanpa diberikan aba-aba, warga yang ada di kamar Joyo keluar dan membiarkan Bu Bidan untuk segera mengecek kondisi Joyo.

"Tidak apa-apa, tidak ada luka yang serius, dia hanya kaget dan pingsan, hanya ada luka sedikit di bagian kepala." Bu bidan memberikan penjelasan ke Mbak Sri.

Bu Bidan membersihkan luka yang ada di kepala Joyo.

Mendengar kondisi Joyo yang tidak parah, warga segera pulang dan kembali beraktivitas karena kebetulan waktu sudah hampir gelap.

"Ini obat untuk Joyo, Mbak Sri," ucap Bu Bidan, kemudian memberikan beberapa obat kepada Mbak Sri dan menjelaskan aturan minum obatnya.

"Mbak Sri bisa menyeka tubuh Mas Joyo dengan air hangat," ucap Bu Bidan. "Sekalian bajunya diganti, bajunya udah kotor."

"Iya, Bu," balas Mbak Sri.

"Kalo begitu saya pamit," ujar Bu Bidan sambil menjabat tangan Mbak Sri sambil kakinya melangkah ke luar rumah.

Mbak Sri masuk ke dalam rumah dan menutup pintu setelah Bu Bidan sudah tidak kelihatan.

Kini hanya ada mereka berdua di dalam rumah, Mbak Sri sudah terbiasa memandikan Joyo.

Tiap hari Mbak Sri yang selalu memandikan joyo. Meskipun Joyo terlihat sudah dewasa, dia selalu memandikannya seperti memandikan anak kecil.

Biasanya tidak ada hal yang aneh.

Tapi kali ini berbeda.

Mbak Sri yang sudah lama menjanda kali ini merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika melihat tubuh Joyo yang terbaring di atas tempat tidur.

Lanjut membaca
Lanjut membaca