

Arvin Arkan berdiri di sudut ruang pameran barang antik milik keluarga Valerius dengan seragam pelayannya yang sudah agak pudar. Di tangannya, sebuah nampan berisi gelas-gelas minuman terasa semakin berat seiring berjalannya waktu. Tugasnya sederhana, memastikan para tamu VIP yang hadir dalam acara lelang ini tidak pernah merasa haus. Namun, di tempat seperti ini, seorang pelayan seperti Arvin tidak lebih dari sekadar perabotan yang bisa bicara.
Di tengah ruangan, dikelilingi oleh para pria bersetelan jas harga puluhan juta, berdiri Claire Valerius. Wanita itu adalah definisi dari kesempurnaan yang dingin. Rambut hitamnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang yang dihiasi kalung berlian yang harganya mungkin bisa membeli seluruh kompleks perumahan tempat Arvin tinggal. Claire sedang menjelaskan sebuah vas keramik kuno dari dinasti Ming kepada seorang kolektor tua yang tampak sangat antusias.
Tampak dari luar, Arvin hanya berdiri diam dengan kepala sedikit menunduk, menunjukkan kepatuhan yang sempurna. Namun, di dalam kepalanya, suara batin Arvin jauh lebih berisik daripada kerumunan tamu di depannya, "kenapa mereka bisa betah berdiri berjam-jam hanya untuk menatap sepotong tanah liat yang sudah retak-retak itu? Kalau aku yang punya, pasti sudah kujadikan tempat menyimpan kerupuk di dapur."
Arvin menggelengkan kepalanya, tidak pernah mengerti jalan pikiran para orang kaya ini, "sabar Arvin, ingat cicilan motor yang menunggak. Hanya satu jam lagi dan kamu bisa pulang makan mi instan dengan tenang. Tapi kalau boleh jujur, punggung Claire Valerius dari belakang sini benar-benar pemandangan yang jauh lebih indah daripada semua barang antik membosankan di ruangan ini."
Saat Arvin masih asik dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba, seorang pria muda dengan wajah angkuh sengaja menyenggol bahu Arvin saat berjalan lewat. Pria itu adalah putra dari salah satu pemegang saham perusahaan, yang dikenal suka merundung staf rendahan. Senggolan itu cukup keras hingga membuat nampan di tangan Arvin miring. Satu gelas minuman jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer, sementara isinya membasahi sepatu kulit mahal milik si pria angkuh tersebut.
"Heh, kau punya mata tidak? Lihat apa yang kau lakukan pada sepatuku! Ini kulit asli dari Italia, harganya lebih mahal dari gajimu setahun penuh!" teriak pria itu, menarik perhatian semua orang di ruangan, termasuk Claire.
Arvin segera berlutut untuk membersihkan pecahan kaca dengan tangan kosong, mencoba tetap tenang meski hatinya mengumpat tajam, "haduh, kena lagi. Dasar anak manja tidak punya kerjaan. Sepatu mahal saja diributkan, kalau benar-benar kaya hanya perlu beli lagi kan bisa. Kenapa harus berteriak seperti orang kehilangan warisan? Sekarang semua orang menatapku seolah aku ini kotoran, dasar sialan."
"Maaf, Tuan. Saya akan segera membersihkannya," ucap Arvin dengan nada datar menahan kesal.
Claire berjalan mendekat, menatap pemandangan itu dengan mata birunya yang dingin. Dia tidak membela Arvin, namun dia juga tidak ikut memaki. Dia hanya menatap Arvin seolah pria itu adalah sebuah kesalahan kecil dalam acara sempurnanya.
"Bersihkan ini dan ganti seragammu, kau mengganggu pemandangan tamu-tamuku," ucap Claire dingin sebelum berbalik pergi.
Arvin memunguti pecahan kaca itu satu per satu. Namun, salah satu pecahan yang sangat tajam dan berwarna bening kebiruan, yang entah datang dari mana karena gelas berisi minuman tadi berwarna bening biasa, menusuk ujung jarinya. Darah merah segar menetes dan menyentuh permukaan pecahan kaca misterius tersebut. Secara tiba-tiba, pecahan kaca itu mengeluarkan cahaya keemasan yang sangat redup, lalu meledak menjadi debu halus yang langsung terbang masuk ke dalam kedua mata Arvin.
Arvin tersentak, menutup matanya dengan tangan. Rasa panas yang luar biasa membakar saraf-saraf penglihatannya. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menembus bola matanya secara bersamaan. Dia jatuh terduduk, mengerang pelan sambil mencoba menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Sakit sekali! Apa aku akan buta? Sial, jangan bilang pecahan kaca tadi benar-benar masuk ke mataku? Tolong, seseorang panggil dokter, tidak... maksudku ambulans, tidak... dokter saja karena lebih murah!" batin Arvin berteriak histeris di tengah kegelapan yang menyerang penglihatannya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti sangat lama, rasa panas itu perlahan mendingin. Arvin memberanikan diri membuka matanya. Awalnya semuanya terlihat kabur, namun perlahan-lahan dunia di depannya menjadi sangat jernih. Bahkan terlalu jernih untuknya.
Arvin memandang tangannya sendiri, setelahnya ia tertegun. Dia bisa melihat setiap pori-pori kulitnya, aliran darah di balik pembuluh venanya, bahkan struktur tulang jemarinya. Dia menoleh ke arah vas keramik yang tadi dijelaskan Claire. Di mata Arvin, vas itu tidak lagi hanya sekadar tanah liat. Di atas vas itu muncul tulisan bercahaya yang hanya bisa dilihat olehnya.
[Vas Keramik Dinasti Ming]
[Status: Palsu]
[Komposisi: Tanah Liat Modern Tahun 2020]
[Nilai: Rp 500.000]
Arvin mengusap matanya berulang kali, berpikir bahwa dia mungkin sedang mengalami halusinasi akibat benturan. Namun, tulisan itu tetap di sana. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kalung berlian di leher Claire yang sedang berjalan menjauh.
[Kalung Berlian Blue Heart]
[Status: Asli]
[Nilai: Rp 12 Miliar]
[Catatan: Ada retakan kecil di kaitan pengunci, akan putus dalam 3 menit]
"Tunggu, apa ini? Mata Surgawi? Aku bisa melihat harga dan keaslian barang? Belum lagi... kalung Claire akan putus? Ini gila! Benar-benar tidak masuk akal! Tapi kalau benar vas itu palsu, bukankah sama saja banyak orang di sini telah ditipu mentah-mentah oleh keluarga Valerius... sial, ini sebenarnya kesempatan atau justru awal dari masalah besar?" tanya Arvin dalam hati, jantungnya berdegup kencang karena antusiasme yang mulai mengalahkan rasa takutnya.
Arvin berdiri perlahan, membiarkan luka di jarinya sembuh dengan sendirinya entah bagaimana caranya. Dia melihat sekeliling ruangan dan menyadari bahwa hampir tiga puluh persen barang antik yang dipajang di sana adalah barang palsu dengan kualitas tinggi yang tidak bisa dideteksi mata manusia biasa.
Arvin menatap punggung Claire yang kini berdiri di dekat panggung kecil. Dia tahu, jika dia hanya diam, dia akan tetap menjadi pelayan rendahan selamanya. Namun jika dia berbicara, dia bisa menghancurkan reputasi keluarga Valerius atau justru... menyelamatkannya?
"Satu menit lagi, apakah kalungnya benar-benar akan jatuh? Sial, apa yang harus aku lakukan? Menangkap kalungnya atau membiarkannya saja? Kalau aku menangkapnya, aku mungkin dituduh mencuri. Tapi kalau aku diam saja, kalung 12 miliar itu bisa hancur atau hilang di kerumunan ini... baiklah, mari kita bertaruh sedikit saja."
Arvin berjalan mendekat ke arah Claire dengan langkah yang tenang, melewati para tamu yang masih sibuk berbincang. Dia memposisikan dirinya tepat di belakang Claire, menjaga jarak yang sangat tipis namun tidak mencolok.
"Dua puluh detik lagi. Sepuluh... lima... empat..." Arvin menghitung dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah kaitan kalung tersebut yang mulai merenggang akibat gerakan kepala Claire.
Klik.
Kaitan itu benar-benar patah, kalung berlian Blue Heart yang sangat berat itu meluncur jatuh dari leher jenjang Claire. Sebelum permata mahal itu menyentuh lantai marmer yang keras, sebuah tangan dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi menangkapnya tepat di udara, hanya beberapa sentimeter dari lantai.
Claire tersentak, merasakan sesuatu yang hilang dari lehernya. Dia berbalik dengan cepat dan melihat Arvin sedang berlutut di belakangnya, memegang kalung berliannya di telapak tangan yang terbuka.
"Maaf, Nona Claire. Kalung Anda jatuh karena penguncinya rusak," ucap Arvin dengan suara yang tenang, menatap langsung ke mata Claire.
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Claire menatap kalungnya, lalu menatap Arvin. Untuk pertama kalinya, Claire melihat pria ini bukan sebagai pelayan, melainkan sebagai seseorang yang memiliki ketenangan yang sangat asing.
"Kau... bagaimana kau bisa tahu kalung ini akan jatuh?" tanya Claire dengan nada yang masih dingin, namun tersirat rasa terkejut yang besar.
Arvin berdiri, menyerahkan kalung itu kepada Claire dengan sikap yang sangat sopan. Namun, di dalam hatinya dia sedang tersenyum lebar, "kenapa aku tahu? Tentu saja aku tidak akan memberitahukannya padamu. Aku tidak sebodoh itu sampai membongkar rahasia kekuatan yang baru kudapat di mataku."
Arvin hanya memberikan senyum tipis sebagai jawaban, menciptakan misteri sosok Arvin yang baru saja dimulai di lantai pameran acara lelang.