

Langit di atas Desa Talun Asri baru saja mulai memoles dirinya dengan warna-warna jingga dan ungu, pertanda senja akan segera tiba.
Namun, di pinggiran desa, tepat di mulut jalan setapak yang menghilang ke dalam kegelapan pepohonan lebat, tiga remaja berdiri dengan jantung berdebar-debar. Mereka adalah Erdugul, Andi, dan Rina—sahabat sejak kecil yang kini digerogoti oleh rasa penasaran yang lebih besar dari rasa takut akan legenda desa.
"Kalian yakin?" bisik Rina, tangannya meremas ransel kain buatan ibunya. Matanya yang berwarna cokelat gelap melirik ke papan kayu usang yang tertancap miring di debatnya. Tertulis dengan cat merah yang sudah memudar:
"AWAS! HUTAN LARANGAN. DILARANG MASUK!"
Rina memakai kemeja flanel merah marun lengan panjang yang digulung hingga siku dan celana jeans tua yang sudah sobek di lutut, lebih karena sering dipakai bertualang daripada sekadar gaya. Rambutnya yang hitam sebahu diikat ekor kuda dengan tidak rapi, beberapa helai menempel di pipinya yang mulai berkeringat dingin.
Andi, yang selalu jadi pengobar semangat, menepuk punggung Rina dengan sikap berani.
"Ah, legenda desa itu cuma omong kosong biar anak-anak nggak nyasar, Rin! Kata kakekku dulu, hutan ini cuma banyak binatang buas biasa. Kita nggak akan masuk jauh. Cuma buat lihat-lihat, buktiin kalo kita berani!"
Andi, bertubuh lebih kekar dari Erdugul, mengenakan kaos oblong hitam dengan sablon band rock yang sudah pudar dan celana cargo hijau militer dengan kantong-kantong penuh barang tak jelas. Ekspresinya penuh keyakinan, meski sorot matanya sesekali melirik ke dalam hutan yang semakin gelap.
Erdugul, berdiri di tengah-tengah mereka, diam saja. Ia memandang hutan itu dengan perasaan campur aduk. Sebagai anak yang paling sering membantu orang tuanya ke kebun di tepi hutan, ia lebih sering mendengar desau angin dan panggilan burung dari balik dinding daun itu.
Namun, hari ini, desau itu terasa seperti bisikan. Ia memakai kaus lusuh berwarna hijau lumut, celana training abu-abu yang sudah tipis, dan sepatu kets tua yang solnya mulai mengelupas.
Wajahnya yang biasa-biasa saja dengan mata tajam yang mewarisi keturunan nenek moyangnya, mencerminkan ketenangan yang palsu. Di dalam tas ranselnya yang cokelat, tersimpan senter tua, botol air, dan beberapa bungkus mie instan—bekal "penjelajahan" mereka.
"Kita sudah janji," kata Erdugul akhirnya, suaranya lebih tegas dari yang ia kira.
"Ini buat ngebuktiin ke Daus dan kawan-kawan itu, bahwa kita nggak cuma bisa ngomong doang. Mereka bilang kita pengecut cuma karena kita nggak pernah nyelonong ke sini."
"Tapi katanya... ada yang hilang dulu, tahun 80-an," bantah Rina lagi, suaranya makin lirih.
"Kata siapa? Mbah Joko yang suka mabuk itu?" Andi menyeringai.
"Ayolah! Matahari mau tenggelam nih. Kalau mau masuk, sekarang. Kalau nggak, kita balik aja, terus besok dicemooh seharian."
Tantangan itu seperti cambuk. Rina menarik napas panjang dan mengangguk cepat, wajahnya memerah. Erdugul menghela napas, lalu memimpin langkah pertama memasuki jalan setapak.
Suasana ceria dan nekat perlahan berganti menjadi keheningan yang terasa berat begitu tubuh mereka sepenuhnya dibayangi kanopi pepohonan tua. Suara desir daun di bawah kaki mereka terdengar nyaring.
Sinar matahari senja hanya mampu menyusup sebagai sorotan-sorotan emas tipis yang menembus celah dedaunan, menari-nari dalam debu udara yang tampak lebih padat.
"Wah, dingin ya," gumam Andi, mencoba memecah kesunyian. Suaranya terdengar aneh, seperti ditelan oleh hutan.
"Jangan berisik," sahut Erdugul reflek, matanya terus memindai sekeliling. Ia mencium aroma tanah basah, humus, dan bunga liar yang berbeda, lebih tajam dan kuno.
Mereka terus berjalan, semakin dalam. Setelah sekitar setengah jam, bahkan jalan setapak itu pun menghilang, ditelan oleh semak belukar dan akar-akar yang membelit.
"Kayaknya kita harus putusin, nih," kata Rina, mulai ragu. "Udah gelap banget di sini. Senter aja belum kita nyalain."
Andi kali ini tidak membantah. Ia mengeluarkan senter dari kantong celananya dan menyalakannya. Sinar putih menerobos kegelapan, menangkap bentuk batang pohon yang berlekuk-lekuk seperti wajah-wajah yang terdistorsi.
Tiba-tiba, dari arah yang tidak jelas, terdengar suara gemerisik panjang. Bukan suara hewan kecil, tapi seperti sesuatu yang besar dan berat menyusuri daun-daun kering.
Mereka membeku. Nafas tertahan.
"Ada... ada apa itu?" bisik Rina, tubuhnya mendekat ke Erdugul.
"Diam," Erdugul membisikkan balik, telinganya menyaring setiap suara. Suara itu berhenti. Hening yang menusuk telinga menyergap mereka. Lalu, tanpa peringatan, kabut tipis berwarna keabu-abuan mulai merayap dari balik pepohonan.
Kabut itu tidak seperti kabut biasa; ia bergerak dengan sengaja, melingkari batang pohon, menyentuh tanah, dan dengan cepat menebal, mengurangi visibilitas mereka hingga hanya beberapa meter.
"Ini aneh banget," kata Andi, suaranya gemetar untuk pertama kalinya. Senter di tangannya mulai berkedip-kedip, lalu mati sama sekali.
"Aduh, baterainya! Nggak mungkin habis secepat ini!"
Kepanikan mulai menjalar. Dalam kabut yang semakin pekat itu, Erdugul melihat sesuatu yang berpendar samar-samar di kejauhan, ke arah kiri mereka. Cahaya itu berwarna hijau pucat kebiruan, berdenyut lemah seperti jantung.
"Liat itu!" pegang Erdugul lengan Andi.
"Liat apa? Aku nggak liat apa-apa!" jawab Rina, suaranya nyaris menangis. "Aku mau pulang, Erdu! Sekarang!"
Tapi Erdugul sudah tertarik. Rasa penasarannya, yang sempat tenggelam oleh ketakutan, muncul kembali dengan kekuatan yang menggila. Seolah ada panggilan yang hanya bisa ia dengar.
"Tunggu di sini," katanya, melepaskan genggaman Andi.
"Jangan sendirian, bodoh!" teriak Andi, tetapi Erdugul sudah melangkah, menyusuri sumber cahaya itu, menyibak kabut yang terasa dingin dan lembap di kulitnya.
Setelah sekitar dua puluh langkah, ia menemukan sumbernya. Sebuah bongkahan batu besar, setinggi pinggangnya, tertutup lumut tebal berwarna hijau neon yang berpendar.
Batu itu tidak seperti batu biasa; bentuknya terlalu simetris, seperti pilar yang patah, dengan pola-polu spiral yang samar terlihat di permukaannya. Cahaya hijau-biru itu memancar dari pusat spiral tersebut. Di sekeliling batu, kabut justru menipis, seolah takut mendekat.
Erdugul mendekat, pelan-pelan. Jantungnya berdebar kencang di telinganya sendiri. Dari kejauhan, ia masih bisa mendengar teriakan Rina dan Andi yang memanggil namanya, tapi suara mereka terdengar teredam dan jauh, seperti dari dalam air.
Tanpa ia sadari, tangannya sudah terulur. Rasa ingin tahu itu begitu kuat, mengalahkan semua naluri bertahan hidup. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin dan lembap. Lumut neon itu seolah hidup, bergerak di bawah sentuhannya.
Dan kemudian, segalanya terjadi dengan cepat.
Pola spiral di batu itu tiba-tiba bersinar terang benderang, hijau-birunya berubah menjadi putih murni yang menyakitkan mata. Erdugul berteriak, berusaha menarik tangannya, tetapi seolah terkunci, tersedot.
Suara gemuruh rendah, bukan dari udara tapi dari seluruh tubuhnya, mengisi kepalanya. Ia merasakan tarikan yang dahsyat dari pusat batu itu, seolah seluruh inti keberadaannya ditarik seperti karet.
Dari balik cahaya putih yang membutakan, ia melihat sekilas sosok Andi dan Rina berlari ke arahnya, wajah mereka terdistorsi oleh ketakutan yang sangat, mulut mereka terbuka berteriak sesuatu yang tak terdengar.
Lalu, sensasi yang tak terperikan menyergapnya. Bukan jatuh, tapi terlempar. Seolah ruang di sekitarnya robek dan ia didorong dengan paksa melalui lubang yang terlalu sempit.
Setiap sel tubuhnya berteriak kesakitan, setiap tulang terasa direnggangkan. Ia melihat kilatan warna-warni, bentuk-bentuk geometris yang mustahil, dan terdengar suara frekuensi tinggi yang menusuk otak.
Satu pikiran terakhir melintas, penuh kebingungan dan kengerian yang murni, sebelum kegelapan total menyelimuti kesadarannya: Ini bukan sekedar hutan larangan.