Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Warisan Cincin Takdir: Pewaris Yang Terbuang

Warisan Cincin Takdir: Pewaris Yang Terbuang

Best Siallagan | Bersambung
Jumlah kata
35.1K
Popular
118
Subscribe
51
Novel / Warisan Cincin Takdir: Pewaris Yang Terbuang
Warisan Cincin Takdir: Pewaris Yang Terbuang

Warisan Cincin Takdir: Pewaris Yang Terbuang

Best Siallagan| Bersambung
Jumlah Kata
35.1K
Popular
118
Subscribe
51
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperZero To HeroUrban
Aku tidak punya apa-apa. Maya, pacarku, memilih cowok kaya raya. Pemilik kos mengusirku malam-malam. Dompetku isinya cuma 35 ribu dan foto ibu yang sudah sepuluh tahun pergi. Lalu kakekku meninggal. Satu-satunya warisan yang ia tinggalkan: cincin batu hijau usang. Aku hampir menjualnya. Harga tawaran: 50 ribu. Tapi malam itu, cincin itu bicara. Kini aku bisa melihat aura manusia—ketakutan mereka, luka mereka, rahasia mereka. Nadia Lim, CEO dingin yang takut lift. Sekar, dokter muda yang hampir hancur karena tekanan. Vera, pewaris galeri kaya raya yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau. Mereka datang padaku. Aku bisa menolong mereka. Tapi setiap kali cincin ini menyala, sesuatu dalam diriku ikut mati. Dan kini, seseorang dari masa lalu kakekku muncul. Ia bilang cincin ini bukan warisan—ini curian. Keluarganya datang menagih. Namaku Rama. Aku pewaris satu-satunya. Dan mereka akan tahu: orang terbuang tidak selalu kalah.
Bab 1

PENGUSIRAN

Lokasi: Kos-kosan Rama, Jakarta Timur

---

Pukul 22.17. Gerimis mulai turun ketika pintu kamar nomor 7 dirobohkan dari luar.

Bukan dirobohkan, sih. Lebih tepat dibuka paksa dengan kunci cadangan. Tapi bagi Rama, suara baut besi yang berderak itu sama kerasnya dengan suara dunia runtuh.

"Kamu nunggak 3 bulan. Bapak udah sabar. Sekarang—angkat kardusmu, pergi."

Pak RT berdiri di ambang pintu. Wajahnya tidak marah. Lebih tepat lelah. Di belakangnya, pemilik kos—ibu paruh baya dengan daster lusuh—hanya menunduk. Tiga bulan nunggak, sudah lima kali diingatkan, dua kali dapat perpanjangan. Hari ini batas terakhir.

Rama tidak melawan.

Dia berdiri. Ambil kardus bekas mi instan di pojok kamar. Memasukkan baju—yang mana baju, yang mana lap meja, susah dibedakan. Laptop jeblok 2015. Satu pasang sepatu dengan sol kiri mulai lepas. Foto ibu dalam bingkai kayu tipis.

Empat menit. Semua muat.

Di pintu, Pak RT meraih tangannya. Bukan untuk menjabat. Lelaki tua itu menyelipkan sesuatu ke saku jaket jeans Rama yang sudah pudar warnanya.

"Nak." Suaranya lirih. Hanya cukup untuk mereka berdua. "Bapak tahu hidupmu berat. Tapi bapak juga perlu makan."

Rama tidak membuka saku itu. Tapi ia tahu. Rasanya. Bentuknya. Lima puluh ribu, dilipat empat, masih hangat dari saku celana Pak RT.

Ia tidak bilang terima kasih. Hanya mengangguk.

Lalu ia melangkah keluar.

---

Gerimis berubah jadi hujan ketika Rama sampai di halte bus.

Bukan halte besar dengan papan iklan digital dan pendingin ruangan. Hanya bangku panjang dari kayu yang catnya mengelupas, atap seng bocor di tiga titik, dan tong sampah yang sudah penuh sejak dua hari lalu.

Rama duduk. Kering. Basah. Keduanya sekaligus.

Kardus di pangkuan. Jaket basah kuyup. HP—Android jadul dengan layar retak di pojok kanan atas—masih mati. Baterainya sudah meninggal dua jam sebelum Pak RT datang.

Di saku celana, ada 35 ribu rupiah. Dua lembar dua puluh, satu lembar lima. Cukup untuk nasi bungkus dua kali, atau mi instan lima bungkus, atau ongkos ke mana pun yang tidak akan mengubah nasib.

Rama mengambil dompetnya. Bukan dompet sungguhan—hanya tempat kartu murahan dari pasar loak. Ia keluarkan satu foto.

Ibu.

Sudah sepuluh tahun. Tepatnya 3.652 hari. Wajahnya mulai kabur di ingatan. Tinggal bentuk rambut sebahu, senyum yang sama seperti di foto ini, dan suara lembut yang hanya terdengar dalam mimpi.

Tidak ada bapak dalam ingatannya. Bapak pergi sebelum ia bisa menghafal wajah. Meninggalkan utang dan kabar angin yang tidak pernah dikonfirmasi.

Kakek? Ada. Nomor teleponnya tersimpan. Tapi sudah dua tahun ini tidak pernah aktif. Dua tahun lalu, tetangga bilang rumahnya sudah kosong. Pindah? Meninggal? Tidak ada yang tahu. Atau tidak ada yang peduli.

Rama buka grup WA keluarga.

Tiga orang.

Dia. Ibu (online terakhir: 10 tahun lalu). Kakek (online terakhir: tidak pernah).

Percakapan terakhir: dari ibu, 10 tahun lalu. Hanya stiker "Selamat Pagi" yang tidak pernah dibalas siapa pun.

Rama menyimpan ponsel.

Hujan makin deras. Angin masuk dari sisi halte yang tidak berdinding. Rama tidak menggigil. Atau mungkin ia menggigil, tapi sudah tidak bedakan lagi antara dingin dan biasa.

Ia buka HP lagi.

Tekan lama tombol power. Layar putih. Logo Android. Mati lagi.

Tekan lagi. Mati.

Tekan lagi. Kali ini—hidup.

Baterai merah, 3 persen.

Notifikasi masuk. Bukan dari Maya. Bukan dari kantor yang sudah tiga bulan tidak panggil. Bukan dari bank penagih utang.

Surel. Dari pengacara.

Subjek: PEMBERITAHUAN WARISAN—ALMARHUM KARMAN

Rama membaca kalimat pertama sekali. Dua kali.

"Dengan hormat, bersama ini kami sampaikan bahwa klien kami, almarhum Bapak Karman, telah berpulang pada 14 Maret 2026..."

14 Maret.

Tiga hari lalu.

Rama tidak menangis. Tidak kaget. Tidak ada yang meledak di dada. Hanya… kosong.

Kakek.

Satu-satunya keluarga yang tersisa.

Meninggal tiga hari lalu, dan ia baru tahu sekarang. Malam-malam, di halte bus, dengan 35 ribu di saku, HP 3 persen, dan hujan yang tidak tahu kapan reda.

Surel itu panjang. Isinya prosedur waris, dokumen yang diperlukan, jadwal pertemuan. Tapi satu kalimat yang terus Rama tatap:

"Almarhum meninggalkan satu benda untuk Anda."

Benda.

Warisan.

Dari kakek yang ia kira sudah lenyap dari muka bumi.

HP mati. Baterai habis. Layar hitam. Di kaca yang gelap itu, Rama melihat bayangannya sendiri. Laki-laki 25 tahun. Kemeja lusuh. Rambut basah. Mata yang—untuk pertama kali dalam tiga bulan—tidak hanya kosong.

Ada sesuatu di sana.

Bukan harapan. Belum.

Tapi mungkin… celah kecil. Retak di dinding yang selama ini mengurungnya.

Rama memegang saku jaketnya. Uang 50 ribu dari Pak RT masih di sana. Ia tidak akan pakai untuk makan malam ini.

Ia akan pakai untuk ke kantor pengacara besok pagi.

Hujan mulai reda. Atau hanya pindah ke tempat lain. Di ujung halte, seorang pemulung tidur meringkuk di bawah payung kardus. Di seberang jalan, restoran cepat saji masih terang. Di dalamnya, orang-orang makan, tertawa, hidup.

Rama tidak iri.

Ia hanya duduk. Menunggu.

Karena besok, ia akan tahu: warisan seperti apa yang ditinggalkan kakeknya.

Di jari manis kanannya—yang sejak tadi kosong—Rama tidak sadar, ada bekas melingkar samar.

Seperti cincin yang sudah lama tidak dipakai.

Tapi akan segera kembali.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca