Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mengabdi di Desa Asmara

Mengabdi di Desa Asmara

J Shara | Bersambung
Jumlah kata
65.1K
Popular
5.0K
Subscribe
677
Novel / Mengabdi di Desa Asmara
Mengabdi di Desa Asmara

Mengabdi di Desa Asmara

J Shara| Bersambung
Jumlah Kata
65.1K
Popular
5.0K
Subscribe
677
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+DokterHarem
"Dokter... katakan padaku jujur. Sudah berapa lama Dokter tidak "keluar"?" Dokter Satria mengira tugas terberatnya di desa terpencil adalah menghadapi listrik mati, sinyal hilang, dan air bersih yang sulit. Ternyata… ia salah besar. Desa Asmara bukan hanya jauh dari kota—desa ini juga penuh dengan wanita-wanita cantik, ramah, dan terlalu perhatian. Ada yang pura-pura sakit kepala tiap hari, ada yang minta dicek tensi lima kali sehari, bahkan ada yang datang hanya untuk “nanya obat” tapi lupa keluhannya apa. Satria yang polos dan lurus mulai kewalahan. Setiap hari ia harus berjuang bukan melawan penyakit… tapi melawan senyum, lirikan, dan godaan yang datang bertubi-tubi. Antara sumpah dokter, harga diri, dan jantung yang mulai tidak stabil, Satria terjebak dalam dilema, bertahan sebagai dokter terhormat… atau menyerah pada “efek samping” Desa Asmara?
Bab 1 Dimutasi Ke Pelosok Desa

"Dokter Satria," Pak Ramli berdeham, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan.

"Hari ini dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwa dokter akan dimutasikan ke Desa Asmara."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Satria. Ia mengerjap, memastikan telinganya tidak salah menangkap ucapan Pak Ramli.

"Di-dimutasikan?" Satria tergagap, suaranya nyaris hilang di tenggorokan. "Kenapa tiba-tiba, Pak? Boleh saya tahu alasannya? Bukannya kontrak saya di Rumah Sakit Cinta Damai masih tersisa dua tahun lagi?"

Pak Ramli menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya yang besar dan empuk. "Pihak puskesmas di Desa Asrama memberitahu, mereka membutuhkan dokter pengganti secepatnya. Karena dokter sebelumnya yang ditugaskan di sana telah mengundurkan diri." 

Pak Ramli kembali menatap Satria, "Dan dokter lain semua sedang punya tugas masing-masing. Jadi hanya Dokter Satria saja yang saat ini tersedia untuk dimutasikan."

Mata Satria melebar mendengar penjelasan itu. 

Dalam hatinya Satria tau bahwa bukan karena dokter lain punya tugas masing-masing, namun mereka menolak karena tidak ada yang mau bekerja di pelosok desa. 

Sedangkan dirinya yang hanya seorang dokter hasil lulusan beasiswa, dan hanya merupakan anak dari seorang penjahit keliling tentu akan menjadi mangsa yang empuk untuk dikorbankan. 

"Pak Ramli yakin semua dokter lain sedang punya tugas masing-masing? Bukannya karena mereka menolak untuk dimutasikan?" 

Mendengar ucapan Satria, Pak Ramli terlihat kaget, namun kembali berusaha tenang. 

 "Sudahlah, Dokter, tidak ada salahnya dokter mengabdi di pelosok. Lagi pula, dokter bisa membuktikan diri lebih lagi selama di sana, jika bertahan hingga 2 tahun, maka dokter bisa kembali lagi ke sini dan punya kesempatan dipromosikan."

Satria berdecih pelan. Dipromosikan? Dirinya tau itu hanyalah omong kosong. 

Jika mau dipromosikan kenapa tidak dari sebelumnya saja? Toh, selama ini dia sudah bekerja keras, bahkan merelakan waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja. 

Namun, tetap saja dirinya kalah karena politik di rumah sakit, yang tetap selalu mengutamakan para lulusan yang berasal dari keluarga para dokter ternama. 

Semua prestasinya selama ini terasa tak pernah dianggap. 

"Saya anggap dokter setuju ya. Karena jika dokter menolak, maka akan dianggap mengundurkan diri." Pak Ramli kembali berujar, membuyarkan lamunan Satria. 

Satria menarik napas panjang, ia tak bisa menolak. Ia masih membutuhkan pekerjaan ini. "Baik, Pak. Jadi kapan saya akan berangkat?" 

Pak Ramli menyerahkan selembar kertas untuk Satria tanda tangani, "Besok pagi ya Dok. Sekarang dokter bisa mulai menjalani rangkaian tes kesehatan dulu di pusat tim medis penugasan"

"Be-besok pagi?" Satria tanpa sengaja meninggikan suaranya. Ia merasa benar-benar diusir begitu saja. 

"Iya Dok, karena di sana sedang butuh cepat." 

Satria mengusap wajahnya kasar. Tadinya ia berpikir masih punya waktu seminggu, tapi ternyata besok ia sudah harus berangkat. 

Namun, karena tidak punya pilihan lain, Satria akhirnya menandatangani surat penugasan itu. 

Begitu keluar dari ruangan Pak Ramli, Satria segera menuju ke koridor dinas kesehatan. 

Begitu duduk di ruangan untuk menunggu namanya dipanggil, seketika Satria merasa pundaknya ditepuk. 

Ia kemudian menoleh ke samping, "Dirly?"  

Dirly adalah teman seangkatannya saat kuliah. Satria ingat betul, Dirly baru saja lulus internship beberapa bulan lalu—terlambat cukup lama karena sempat beberapa kali tidak lulus ujian kompetensi dokter umum, bahkan harus mengulang ujian berkali-kali hanya untuk mendapatkan izin praktik.

"Dirly... kenapa kamu di sini?" tanya Satria heran.

 "Oh, ini! Gue baru urus berkas penempatan, buat mulai kerja di Rumah Sakit Cinta Damai, soalnya ada dokter di sana yang katanya akan dipindahin tugas ke desa," Dirly berujar dengan nada penuh kemenangan.

 Jantung Satria serasa mencelos. Ternyata karena dia? 

Dirly memang memiliki "kekuatan" yang tidak dimiliki Satria. Kedua orang tuanya adalah dokter spesialis senior yang sangat berpengaruh, belum lagi hubungan kekerabatan mereka dengan tokoh-tokoh legislatif di daerah ini.

"Lo sendiri ngapain?" Dirly kembali bertanya penasaran. 

"Aku dokter yang akan ditugasin ke Desa Asmara," ucapku tak lagi bisa menahan rasa kecewa. 

Dirly yang menyadari hal itu, bukannya merasa bersalah justru malah tertawa kecil, "Waduh, jadi lo yang ditugasin ke desa biar gue bisa punya kesempatan masuk gantiin lo di rumah sakit Cinta Damai?"

Tangannya menepuk-nepuk pundak Satria, "Maaf ya Sob. Begitulah nasib dokter yang gak punya bekingan."

Mata Satria memanas, ia mengepalkan kedua tangannya.

 "Kalau begitu semangat ya Satria, denger-denger di sana air sama listrik aja susah. Semoga betah bertugas di sana. Karena kalau gak, lo akan kehilangan pekerjaan ini." Dirly kemudian pergi meninggalkan Satria yang masih termenung. 

Tak lama kemudian namanya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dokter yang bertugas memeriksa kesehatannya. 

Di dalam, duduk seorang wanita cantik berusia sekitar awal empat puluhan, mengenakan jas dokter putih yang bersih dan rambut hitam panjang yang dikuncir kuda. Wajahnya tegas namun dengan senyum tipis di bibirnya yang merekah merah. Matanya yang tajam menatap Satria dari balik kacamata bingkai hitam.

​"Halo, Dokter Satria, saya dr. Kirana yang akan melakukan pemeriksaan kesehatan untuk Anda." 

"Terima kasih, Dokter Kirana." ​Satria melangkah masuk, merasa sedikit canggung. Dokter Kirana tersenyum kecil, "Baru kali ini ada dokter pria yang akan ditugaskan di Desa Asmara, biasanya selalu dokter wanita."

​"Kalau begitu kita langsung mulai saja pemeriksaannya ya, dokter Satria" dr. Kirana kemudian menunjuk ke sebuah tirai pembatas. "Silakan lepaskan baju dan celana Anda, termasuk celana dalam. Semua harus diperiksa."

​Mata Satria membulat kaget, "Maaf, Dokter? Maksud Anda, saya harus telanjang?!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca