

Hujan turun deras malam itu. Air membasahi jas mahal yang melekat di tubuh Dewa Yudistira, namun pria itu tidak bergerak. Ia berdiri di tengah parkiran gedung kosong miliknya sendiri, gedung yang dulu menjadi simbol kejayaan, kini hanya menjadi saksi kehancurannya.
Lampu-lampu neon berkedip lemah. Semuanya sunyi, sepi. Sama seperti hidupnya yang sekarang.
Dewa tertawa pelan. Tawa yang hampa.
Lima tahun yang lalu, ia adalah pria paling ditakuti dan dihormati. Semua orang menundukkan kepala di hadapannya. Semua orang menginginkan bantuannya. Namun sekarang?
Sekarang tidak ada siapa-siapa. Investor meninggalkannya. Rekan bisnis mengkhianatinya. Dan wanita yang paling mencintainya ... pergi dengan mata penuh luka. Kirana.
Nama itu terasa seperti pisau di dadanya Dewa. Wanita itu dulu memohon kepadanya.
"Berhentilah minum … berhentilah berjudi … berhentilah main perempuan ... aku hanya ingin suamiku kembali …"
Namun Dewa malah mengabaikannya. Ia lebih memilih alkohol. Lebih memilih kesombongan. Lebih memilih bergonta ganti wanita dan menganggap istrinya tidak ada apa-apanya dibanding para wanita jalang di luar sana. Ia lebih memilih kehancurannya sendiri.
Suara langkah kaki lalu terdengar dari belakangnya. Pelan dan tenang. Setiap langkahnya begitu akrab di telinga Dewa. Sehingga Dewa tidak perlu menoleh hanya untuk tahu siapa itu.
"Akhirnya kau datang," kata Dewa pelan.
Seorang pria berdiri di belakangnya.
Namanya Dimas Pratama yang usianya sepantaran Dewa, 50 tahun. Laki-laki yang telah menjadi sahabatnya sejak muda.
Orang yang paling ia percayai. Melebihi istrinya sendiri.
"Aku mencarimu kemana-mana, Dewa," kata Dimas dengan suara lembut, penuh kepura-puraan yang dulu tidak pernah disadari oleh Dewa.
Dewa tersenyum tipis, matanya menatap kosong ke depan. "Apa kau datang untuk menertawakanku?"
Dimas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Senyum yang berbeda. Senyum yang dingin.
Senyum yang asing.
Perasaan aneh tiba-tiba menjalar di dada Dewa. Namun ia sudah terlalu lelah untuk peduli.
"Semua sudah pergi," gumam Dewa. "Sekarang hanya kau satu-satunya yang tersisa."
Hening. Hanya suara air hujan yang terdengar.
Kemudian ....
"Tentu saja," jawab Dimas pelan. "Tapi bukan untuk tinggal."
Dewa mengernyit mendengar perkataan Dimas. "Apa maksudmu?"
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya kilatan dingin di udara.
Tiba-tiba ....
SRET!
Sesuatu menembus tubuh Dewa. Ia membeku. Matanya membelalak. Napasnya tercekat. Ia lalu menunduk. Sebuah pisau kini tertancap di dadanya. Darahnya mengalir deras, bercampur dengan air hujan.Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pisau itu.
Hangat. Basah. Dan Nyata.
Dengan susah payah, Dewa berusaha menoleh ke belakang. Menatap wajah pria yang berdiri di sana.
"Di … mas …" panggil Dewa yang shock.
Dimas, sahabatnya yang bahkan sudah seperti saudaranya. Orang yang selama ini ia percayai lebih dari siapa pun. Kini laki-laki itu berdiri sambil memegang pisau yang menembus jantungnya.
Dimas tersenyum. Bukan senyum sebagai seorang sahabat. Tapi senyum seorang pemenang. "Aku menunggumu jatuh sejak lama," bisiknya.
Dunia Dewa runtuh sepenuhnya. "Kenapa …" suaranya serak, hampir tak terdengar.
Dimas lalu mendekat, ia berbisik di telinga Dewa. "Karena semua yang kau miliki … seharusnya menjadi milikku."
Pisau itu lalu ditarik keluar.
SRET!
Darah seketika menyembur lebih deras. Kaki Dewa melemah. Tubuhnya jatuh menghantam aspal basah.
DUK!
Langit terlihat buram di mata laki-laki dewasa itu. Tubuhnya dingin. Sakit. Dan sepi.
Dimas berdiri di atas Dewa, menatap sahabatnya itu tanpa rasa belas kasihan.
"Selamat tinggal, Dewa."
Langkah kaki laki-laki itu menjauh. Meninggalkan Dewa sendirian untuk mati.
Air hujan jatuh di wajah Dewa, bercampur dengan air mata yang bahkan tidak ia sadari.
Dalam detik-detik terakhir di dalam hidupnya … ia tidak memikirkan uang. Tidak memikirkan kekuasaan. Ia hanya memikirkan satu wajah. Kirana. Wanita yang tetap tinggal saat semua orang pergi. Wanita yang ia sakiti. Wanita yang tidak pernah pantas menerima semua itu.
"Maafkan aku Kirana … jika saja … jika saja aku bisa kembali … jika saja aku bisa memperbaiki semuanya … kembali ke masa tiga puluh tahun yang lalu."
Penglihatan Dewa semakin gelap. Detak jantungnya kian melemah. Dunia perlahan menghilang. Dan akhirnya ... semuanya terasa gelap dan sunyi. Semuanya kosong. Tangan Dewa lalu jatuh ke aspal dan menutup mata untuk yang terakhir kalinya.
DUG!
Aroma bunga melati tercium di lubang telinga Dewa. Bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut. Laki-laki itu lalu mengerjapkan mata. Ia melihat pada langit-langit kayu atap rumah. Lampu gantung yang terlihat klasik bukan apartemen penthouse. Bukan pula rumah sakit. Ia menelan ludah. Tubuhnya terasa ringan. Tidak ada rasa sakit dan tidak ada darah. Tangan kirinya lalu bergerak pelan saat ia merasakan sesuatu.
Ada tangan kecil yang menggenggam lengannya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perlahan dengan nafas gemetar, ia menoleh ke samping. Dan pada saat itu pula dunia terasa berhenti berputar.
Kirana, istri Dewa sedang terbaring di sampingnya tampak tertidur pulas dengan rambut panjangnya yang terurai di bantal dan wajah polosnya tanpa riasan. Ia masih begitu muda. Tidak ada garis lelah di sudut matanya. Tidak ada kesedihan yang dulu ia ukir sendiri di wajah itu.
Dewa terduduk tiba-tiba.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin."
Tangan Dewa gemetar saat menyentuh wajah Kirana. Kulitnya hangat, nyata dan bukan ilusi. Ia menoleh ke meja samping tempat tidur. Kalender kecil tampak terpajang di sana.
Tahun itu ... adalah 30 tahun sebelum ia mati. 30 tahun sebelum ia menjadi konglomerat sombong. 30 tahun sebelum ia mengabaikan Kirana demi ambisi. 30 tahun sebelum semuanya hancur.
Nafas Dewa tercekat. Ia berdiri dari ranjang lalu berjalan mundur beberapa langkah dan menatap ke sekeliling.
Ternyata Dewa ada di rumah kecil mereka. Rumah kontrakan pertama setelah menikah. Dinding berwarna krem yang sederhana dengan lemari kayu tua. Semuanya masih utuh dan belum ada kemewahan. Belum ada kesombongan dan belum ada penghianatan.
"Dewa ...?" Suara lembut itu terdengar di telinga Dewa. Ia membeku.
Kirana mengerjapkan pelan matanya dan terbangun karena gerakan Dewa. Wanita itu duduk dan mengucek matanya.
"Kamu kenapa? Mimpi buruk?"
Dewa menatapnya lama. Di kehidupan sebelumnya ia meninggalkan wanita itu sendirian di rumah seperti ini. Ia memilih rapat, pesta dan wanita-wanita yang mendekat karena uangnya. Ia membiarkan Kirana menangis tanpa ia tahu. Sampai pada akhirnya Dewa kehilangan segalanya.
Tenggorokan Dewa terasa sakit. "Kirana," suaranya pecah.
Wanita itu malah tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. "Kamu aneh sekali pagi ini."
Dewa mendekat perlahan seolah takut ia akan menghilang jika disentuh terlalu keras. Tangannya menyentuh pipi Kirana. Terasa hangat dan nyata. Hingga air matanya tiba-tiba jatuh tanpa bisa ia tahan.
Kirana terkejut melihat tingkah Dewa. "Kenapa kamu menangis?"
Dewa tertawa pelan diantara isakan. "Aku hanya bersyukur."
"Bersyukur untuk apa?"
Dewa menunduk dan menempelkan keningnya ke kening Kirana. Ingin ia mengatakan bersyukur karena Tuhan telah mencuri 30 tahun waktu untuknya. Bersyukur karena ia diberi kesempatan sebelum ia menjadi monster. Bersyukur karena wanita ini belum pergi.
"Aku bersyukur karena kamu masih di sini," bisik Dewa.
Kirana yang mendengar ucapan suaminya itu tersenyum bingung. "Tentu saja aku di sini, aku kan istrimu."
Kata-kata itu menusuk sekaligus menghangatkan. Di kehidupan sebelumnya ia menyia-nyiakan kata itu. Dan kini ... ia tidak akan mengulanginya. tidak akan lagi.
Dewa memeluk tubuh istrinya itu dengan erat bahkan sangat erat. Seolah dunia bisa merenggutnya kapan saja. Di balik pelukannya ,matanya berubah. Bukan lagi mata pria yang haus kekuasaan tapi mata seseorang yang sudah mati sekali dan diberi kesempatan kedua.
"30 tahun," gumam Dewa dalam hati. "Kali ini aku akan melindungimu, apapun yang terjadi."
Baru saja Dewa bergumam pada diri sendiri di dalam hati, ia dikejutkan oleh suara gebrakan pintu dari luar rumah.
"Dewa! Cepat keluar! Kapan kamu melunasi semua hutangmu?!"