

Suara tangisan anak kecil menggema di dalam rumah besar itu. Arsen Wijaya perlahan membuka matanya. Dinding kamar yang luas dan langit-langit tinggi tidak membuatnya merasa lebih baik. Malahan, suasana terasa semakin sunyi.
Tangisan anak kecil itu kembali terdengar. Ia menghela napas panjang, lalu duduk di tepi tempat tidur. Rambutnya masih berantakan, wajahnya terlihat lelah, dan mata tajamnya sedikit sembap karena kurang tidur.
"Papa…!” Anak kecil itu memanggil.
Arsen mendengar langkah kaki kecil berlari di lorong. Pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Seorang anak perempuan kecil dengan rambut berantakan berdiri di ambang pintu, matanya basah.
"Papa… Kakak berantem lagi…” Arsen mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan kesabaran.
"Siapa yang mulai?” tanyanya serak.
"Dua-duanya…” jawab gadis kecil itu lirih.
Arsen mengangguk pelan, lalu berdiri. Ia mengelus kepala putri bungsunya sebelum berjalan keluar kamar.
Di ruang keluarga, dua anak laki-lakinya sedang bertengkar. Yang sulung berdiri sambil melipat tangan, sementara yang tengah duduk di sofa dengan mata merah, menahan tangis.
"Apa lagi sekarang?” tanya Arsen dengan suara datar.
"Dia yang mulai, Pa,” kata si tengah cepat.
"Dia yang rusakin mainanku duluan,” sahut si sulung tak mau kalah.
Arsen memijat pelipisnya. Setiap pagi selalu seperti ini. Rumah besar yang dulu dipenuhi suara tawa kini lebih sering dipenuhi pertengkaran kecil, tangisan, dan kelelahan.
Dan semua itu… harus ia tanggung sendiri. Dulu, ada seseorang yang mengurus semuanya. Seseorang yang membuat rumah ini terasa hidup. Seseorang yang kini bahkan namanya saja jarang ia izinkan terlintas di pikirannya.
Arsen menatap ketiga anaknya bergantian. Wajah mereka… terlalu mirip dengannya. Dan itu membuat hatinya terasa semakin berat.
"Sudah,” katanya akhirnya, suaranya melembut sedikit. “Kita sarapan."
Meja makan besar itu terasa terlalu luas untuk empat orang. Anak bungsunya duduk di samping Arsen, menggenggam lengannya sesekali. Anak tengahnya makan pelan sambil sesekali mencuri pandang ke kakaknya. Sedangkan si sulung masih terlihat kesal, tapi diam.
Arsen memperhatikan mereka tanpa bicara. Inilah hidupnya sekarang. Bukan lagi pesta bisnis. Bukan lagi perjalanan luar negeri. Bukan lagi malam-malam panjang di ruang rapat. Melainkan bekal sekolah, seragam yang harus disetrika, dan tangisan anak di tengah malam.
Aneh… dulu ia tidak pernah membayangkan dirinya seperti ini.
"Papa,” suara kecil memanggil. Arsen menoleh.
"Papa hari ini pulang cepat nggak?” Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, selalu terasa menusuk.
Arsen terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Papa usahakan.” Anak bungsunya tersenyum kecil. Dan senyum itu… cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Arsen terasa hangat, meski hanya sebentar.
Satu jam kemudian, mobil hitam itu melaju meninggalkan halaman rumah. Arsen duduk di kursi belakang, menatap gedung-gedung kota yang perlahan mendekat. Wajahnya kembali dingin, datar, seperti topeng yang sudah terlalu lama ia pakai.
Di kantor, semua orang langsung menunduk hormat. “Selamat pagi, Pak Arsen.” “Pagi,” jawabnya singkat.
Di mata karyawan, Arsen Wijaya adalah CEO yang sempurna. Tegas, cerdas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani berbicara terlalu santai dengannya. Tidak ada yang tahu bagaimana hidupnya di rumah.
Arsen juga tidak pernah berniat memberi tahu. Ia berjalan memasuki lift, bersiap menghadapi hari yang panjang—rapat, laporan, angka, dan tekanan.
Hidup yang ia pilih untuk menutup semua yang pernah ia rasakan.
Namun Arsen tidak tahu… bahwa hari itu, di salah satu lantai gedung perusahaannya, seseorang baru saja memulai hari pertama bekerja.
Seseorang yang perlahan… akan mengubah hidupnya.
Di lantai dua puluh tiga, Nayla berdiri di antara karyawan baru lainnya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam selutut. Rambutnya diikat rapi, tanpa riasan berlebihan. Namun wajahnya tetap terlihat bersih dan hangat, dengan mata yang tenang.
Namanya Nayla. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Ia menarik napas perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya. Bekerja di perusahaan sebesar ini bukan hal kecil.
Bahkan sejak semalam ia hampir tidak bisa tidur karena memikirkan berbagai kemungkinan.
"Kata-nya CEO di sini dingin banget ya,” bisik seorang karyawan perempuan di sebelahnya.
"Iya… aku dengar dia nggak suka kesalahan sekecil apa pun,” sahut yang lain.
Nayla hanya diam mendengarkan. Ia tidak terlalu tertarik pada gosip. Baginya, yang penting adalah bekerja dengan baik dan membantu keluarganya di rumah.
Pintu ruang briefing terbuka. Seorang supervisor masuk dan mulai menjelaskan beberapa aturan dasar perusahaan. Semua orang langsung fokus, termasuk Nayla.
Namun di tengah penjelasan itu, tiba-tiba suasana di luar ruangan berubah. Beberapa orang yang berjalan di koridor mendadak menunduk hormat. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat.
Supervisor itu terdiam sesaat, lalu ikut menoleh ke arah pintu kaca.
Nayla, yang berdiri agak dekat, tanpa sadar ikut melirik keluar.
Seorang pria berjalan melewati koridor dengan langkah pasti. Jas hitamnya rapi, ekspresinya dingin, dan sorot matanya tajam—seperti seseorang yang sudah terlalu lama terbiasa memimpin dan tidak terbiasa dibantah.
Semua orang menunduk ketika ia lewat. Pria itu bahkan tidak menoleh ke kanan atau kiri.
"Pak Arsen…” bisik seseorang pelan.
Nayla sedikit tertegun. Itukah CEO perusahaan ini?
Ia mengira seseorang yang sudah berkeluarga dan memiliki anak akan terlihat lebih hangat… tapi pria itu justru tampak sangat jauh. Terlalu dingin. Terlalu sulit didekati.
Arsen berjalan melewati ruang briefing tanpa menyadari tatapan orang-orang di dalamnya. Pikirannya sudah dipenuhi jadwal rapat, laporan keuangan, dan proyek yang harus segera diselesaikan.
Namun beberapa detik sebelum ia benar-benar melewati ruangan itu, langkahnya sempat melambat.
Entah kenapa.
Seperti ada sesuatu yang membuatnya menoleh sekilas.
Tatapan Arsen tanpa sengaja bertemu dengan sepasang mata di balik kaca.
Mata yang tenang.
Tidak takut.
Tidak gugup.
Tidak juga berusaha menarik perhatian.
Hanya menatap… biasa saja.
Dan entah kenapa, itu terasa aneh.
Arsen mengalihkan pandangannya lebih dulu, lalu melanjutkan langkah tanpa mengatakan apa pun.
Nayla sendiri tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali fokus pada briefing, tidak menyadari bahwa beberapa detik yang singkat itu… akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Dan juga hidup seorang pria yang selama ini percaya bahwa hatinya sudah mati.
Jam kerja dimulai tidak lama setelah briefing selesai. Nayla ditempatkan di divisi administrasi proyek, sebuah ruangan yang cukup sibuk dengan tumpukan berkas dan suara keyboard yang hampir tidak pernah berhenti.
Ia duduk di meja barunya, merapikan alat tulis dan map, mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang masih terasa asing.
Beberapa rekan kerja menyapanya ramah, meski tidak terlalu banyak berbicara. Ritme kerja di perusahaan itu cepat. Semua orang tampak terbiasa bergerak tanpa banyak basa-basi.
Nayla memperhatikan semuanya dengan tenang, lalu mulai membaca berkas yang diberikan kepadanya. Ia ingin memastikan tidak melakukan kesalahan di hari pertama.
Di lantai paling atas gedung itu, suasananya jauh berbeda.
Ruang kerja Arsen luas dan sunyi. Dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota yang sibuk, tapi suara dari luar hampir tidak terdengar sama sekali.
Arsen berdiri di dekat jendela, satu tangan di saku celana, tatapannya kosong mengarah ke kejauhan. Di atas mejanya, berkas-berkas penting sudah menunggu, tapi pikirannya belum sepenuhnya kembali pada pekerjaan.
Bayangan pagi tadi sempat terlintas. Tangisan anak bungsunya. Pertanyaan sederhana yang sulit ia jawab. Rumah yang terlalu sepi.
Arsen menutup matanya sejenak, lalu menarik napas panjang.
Perasaan seperti itu sudah lama ia biasakan untuk ditekan. Baginya, emosi hanya membuat seseorang lemah. Dan ia tidak punya kemewahan untuk menjadi lemah.
Pintu ruangannya diketuk pelan. “Masuk."
Sekretarisnya melangkah masuk membawa beberapa dokumen. “Pak, rapat dengan investor dimajukan setengah jam."
Arsen mengangguk singkat. “Siapkan semua berkasnya."
"Pintu kembali tertutup, dan ruangan itu kembali sunyi.
Arsen duduk di kursinya, membuka berkas pertama. Wajahnya kembali datar, dingin, dan sulit ditebak—wajah yang dikenal semua orang di perusahaan ini.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, ada seseorang yang sudah lama berhenti berharap pada apa pun selain tanggung jawab.
Ia tidak memikirkan cinta.
Tidak juga hubungan.
Hal-hal seperti itu terasa jauh… seolah milik kehidupan orang lain, bukan miliknya.
Baginya, hidup hanya tentang bekerja, mengurus anak-anaknya, dan memastikan semuanya tetap berjalan.
Hanya itu.
Sementara itu, di lantai dua puluh tiga, Nayla sedang berusaha memahami sistem kerja yang cukup rumit. Ia sesekali bertanya pada rekan di sebelahnya, mencatat hal-hal penting, lalu kembali fokus.
Hari pertamanya berjalan cukup lancar, meski melelahkan.
Saat jam makan siang tiba, beberapa karyawan mengajaknya ikut ke kantin. Nayla sempat ragu, tapi akhirnya ikut. Ia tahu, mengenal lingkungan kerja juga penting.
Di tengah obrolan ringan itu, topik yang sama kembali muncul.
"CEO kita itu jarang banget tersenyum,” kata seseorang.
"Kata-nya dulu beda… tapi sejak beberapa tahun terakhir berubah,” sahut yang lain.
Nayla hanya mendengarkan, tidak ikut berkomentar. Ia tidak suka menilai seseorang hanya dari cerita orang lain.
Namun entah kenapa, bayangan pria berjas hitam yang lewat di koridor tadi sempat terlintas lagi di pikirannya.
Tatapan yang dingin… tapi terlihat sangat lelah, jika diperhatikan lebih lama.
Nayla menggeleng pelan, lalu kembali fokus pada makanannya. Itu bukan urusannya.
Ia tidak tahu… bahwa lambat laun, jalan hidup mereka akan semakin sering bersinggungan.
Dan seorang pria yang selama ini merasa hatinya telah mati… perlahan akan mulai merasakan sesuatu yang sudah lama ia lupakan.
TO BE CONTINUED