

“Raka, kita udahan aja.”
Ucapan itu keluar santai dari mulut Lila, seolah yang dia putuskan bukan hubungan, tapi sekadar ganti tempat nongkrong. Tatapannya dingin, bahkan ada senyum meremehkan di sudut bibirnya.
Dalam hati Lila mendengus.
Hidup pas-pasan begini masih berani jadi pacarku?
Dulu, Raka memang kelihatan menarik. Wajahnya bersih, pembawaannya tenang, dan di kampus Bandar Lampung dia dikenal pintar. Itu cukup buat bikin Lila tertarik. Lagipula, bisa pacaran dengan cowok yang dikenal banyak orang juga menaikkan gengsinya.
Tapi setelah sebulan jalan bareng, semua kelihatan jelas.
Raka nggak punya apa-apa.
Makan masih mikir, ngopi pun pilih yang murah. Soal tas, sepatu, atau barang bermerek yang sering muncul di story teman-temannya? Jangan harap.
“Kenapa tiba-tiba begini?” Raka menatapnya, jelas kaget. “Kemarin kita masih baik-baik saja.”
Dia benar-benar nggak ngerti.
Apa yang salah?
“Karena kamu nggak bisa ngimbangin aku,” jawab Lila datar. “Sederhana.”
Nada suaranya tenang, tapi menusuk.
Di mata Lila, Raka cuma mahasiswa biasa dengan hidup yang gitu-gitu aja. Cowok seperti itu nggak mungkin bisa membawanya ke kehidupan yang dia mau.
Dia yakin nasibnya lebih besar dari ini.
Dari dulu dia percaya, suatu hari nanti dia bakal hidup enak, punya pasangan mapan, dan nggak perlu mikir soal uang.
Kalau terus sama Raka?
Yang ada cuma buang waktu.
“Jadi cuma soal uang?” Raka tersenyum pahit. “Karena aku belum bisa beliin kamu ini-itu?”
Dia melangkah mendekat, refleks ingin menggenggam tangan Lila, tapi gadis itu langsung menghindar.
“Aku bisa kerja sambilan. Nanti juga...”
“Rak,” potong Lila, menatapnya dingin. “Aku capek nunggu.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti palu yang menghantam dada.
Raka berdiri kaku di pinggir jalan, panas Lampung terasa makin menyengat. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyimpan rasa kecewa yang dalam.
Jadi memang sejauh ini nilainya cuma segitu.
“Kalau menurut kamu aku nggak layak…”
Raka tertawa pelan, getir.
“Ya sudah.”
Cuma gara-gara tas yang harganya beberapa juta, dia milih ninggalin aku.
Raka tertawa kecil dalam hati, tapi rasanya pahit.
Di mata Lila, ternyata nilainya bahkan kalah dari sebuah tas.
Padahal, dari dulu dia hidup serba irit. Uang jajan ditekan, nongkrong dikurangin, semuanya dihitung. Bukan karena pelit memang hidupnya begitu.
Keluarganya biasa saja. Orang tuanya sudah kerja keras dari pagi sampai malam. Uang kuliah? Sebagian besar hasil keringatnya sendiri, dari kerja paruh waktu sana-sini.
Dan sekarang, setelah sebulan bersama, Lila bisa setega ini?
Raka baru sadar.
Hati perempuan memang sulit ditebak. Bisa berubah secepat membalik halaman buku.
Ujung-ujungnya, dia cuma salah kasih perasaan.
“Coba lihat teman-teman kosmu itu,” suara Lila meninggi, emosi akhirnya meledak.
“Pacarnya dibeliin ini-itu. Kamu? Modal tampang doang! Nggak pernah beliin aku apa pun karena kamu miskin!”
Wajah cantiknya berubah tegang. Nada suaranya tajam, nyaris histeris. Semua kesan manis yang dulu ada, lenyap begitu saja.
Semakin dia bicara, semakin jelas rasa kesalnya.
Raka ikut naik pitam.
“Lila, omongan kamu keterlaluan,” katanya, suaranya ikut meninggi.
“Aku bukan anak orang kaya, bukan anak pejabat. Dari awal kamu juga tahu itu. Mana mungkin aku beli barang-barang mahal?”
Dia menatap Lila tajam.
“Dan jangan lupa satu hal,” lanjutnya. “Kamu yang duluan ngejar aku.”
Kalimat itu membuat Lila terdiam sesaat.
Iya.
Dialah yang dulu sering cari-cari alasan buat ngobrol, ngajak makan, bahkan nembak duluan.
Sekarang, atas dasar apa dia bicara seolah Raka yang berhutang budi?
Di detik itu, semuanya terasa jelas.
Lila bukan datang karena perasaan.
Dia cuma cari sandaran cowok yang bisa dipamerkan, siapa pun yang kelihatan menarik dan mungkin punya masa depan.
Dan karena Raka kebetulan dikenal di kampus, dia jadi pilihan.
Memikirkan itu, Raka justru ingin tertawa.
Ironis.
“Hebat,” gumamnya pelan.
“Benar-benar hebat.”
Dia menatap Lila untuk terakhir kalinya.
Bukan dengan marah, bukan dengan sedih tapi dengan rasa kecewa yang sudah dingin.
Benar-benar keterlaluan.
“Ya sudah!” Lila menunjuk Raka dengan wajah merah menahan emosi.
“Kamu itu cuma modal tampang. Miskin, sok keren, tapi nggak punya apa-apa. Hidup kamu bakal gini-gini aja seumur hidup. Mulai sekarang, anggap kita nggak pernah kenal!”
Matanya menyala penuh amarah.
Dalam hati, Lila mencaci.
Dasar cowok nggak berguna.
Dia yakin seratus persen Raka tipe pria yang bakal kesepian, nggak punya pacar, apalagi istri.
Raka justru tersenyum tipis. Tenang. Dingin.
“Dengerin baik-baik, Lila,” katanya pelan tapi tajam. “Kamu itu cewek matre. Dan percaya deh, suatu hari nanti kamu bakal nyesel.”
Kalimat itu membuat Lila tertawa sinis.
“Oh ya?” katanya sambil merapikan rambut.
“Aku tunggu. Aku pengin lihat, apa sih yang bikin aku harus nyesel karena ninggalin kamu.”
Dengan langkah anggun, dia berbalik pergi. Sepatu hak tingginya berbunyi tok… tok… tok… di atas paving panas.
Di matanya, Raka cuma cowok sok pintar yang nggak punya masa depan.
Raka berdiri mematung, menatap punggung itu menjauh.
Dada terasa sesak.
Bukan cuma sedih lebih ke perasaan ditampar kenyataan.
Dulu dia sempat mikir, setelah gajian kerja sambilan, dia bakal beliin Lila hadiah. Sesuatu yang sederhana tapi tulus.
Sekarang?
Pikiran itu terasa konyol.
Tamparan itu keras.
Tapi justru membangunkannya.
“Lila,” gumam Raka pelan, rahangnya mengeras. “Penghinaan hari ini… suatu hari bakal aku balikin. Bukan dua kali. Sepuluh kali. Seratus kali.”
Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Tapi rasa panas di dadanya belum juga reda.
Drrrtttt! Drrrttttt!
Saat itulah ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Raka mendecak, tapi tetap mengangkatnya.
“Halo?”
“Halo, apakah ini Saudara Raka?” suara pria di seberang terdengar terburu-buru.
“Istri Anda akan melahirkan. Mohon segera ke rumah sakit untuk tanda tangan berkas.”
Raka terdiam sejenak.
Lalu alisnya berkerut.
“Apa?” katanya datar.
“Istri? Melahirkan? Mas, kamu salah sambung atau gimana?”
Dia baru saja putus.
Pacar saja sudah nggak punya.
“Mas, jangan bercanda”
“Bercanda apaan,” potong Raka, emosinya akhirnya meledak. “Saya aja nggak punya istri. Jangan asal nelepon orang!”
Tut.
Telepon ditutup.
Raka mengusap wajahnya kasar.
Sialan.
Hari ini benar-benar kacau. Baru diputusin, sekarang ditelpon orang nggak jelas bilang dia mau jadi ayah?
“Gila…” gumamnya kesal. “Apa muka ku kelihatan gampang dibohongi, ya?”
Drrrttt! Drrrtttt!
Raka baru saja menurunkan ponselnya ketika getaran kembali terasa di telapak tangannya.
Nomor asing lagi.
Dia menghela napas panjang.
Hari apes macam apa ini…
Dengan setengah malas, dia mengangkat telepon.
“Halo.”
“Raka…”
Suara di seberang terdengar lemah, hampir berbisik. “Ini aku. Aminah.”
Raka langsung terdiam.
Dia kenal suara itu.
Aminah mahasiswi yang selalu duduk sendirian di pojok kelas. Cantik, pendiam, jarang bicara dengan siapa pun. Tipe yang selalu jadi bahan bisik-bisik, tapi tak pernah benar-benar dekat dengan siapa pun.
“Aku di Rumah Sakit Bumi Waras,” lanjut suara itu, tersengal.
“Tolong… cepat ke sini. Aku butuh tanda tangan.”
“Kamu kenapa?” Raka refleks bertanya.
“Kamu ayah bayinya,” ucap Aminah pelan. “Masih ingat… malam itu? Sepuluh bulan lalu.”
Kepala Raka terasa seperti dihantam palu.
“Apa?”
Suaranya tercekat. “Tunggu..kamu bilang apa barusan?”
Ayah?
Bayinya?
Dia berdiri kaku di pinggir jalan. Suara kendaraan dan klakson mendadak terasa jauh.
Sepuluh bulan lalu…
Ingatan itu samar. Terlalu samar.
Dia ingat satu malam hujan deras, ingat menolong seseorang, ingat suasana kacau tapi setelah itu? Potongan-potongan yang tak utuh.
“Raka…” suara Aminah makin lemah.
“Aku nggak punya siapa-siapa lagi buat dihubungi.”
Telepon terputus.
Raka menatap layar ponselnya yang gelap.
Otaknya kacau.
Ini apaan lagi?
Baru saja diputusin dengan cara menyakitkan, sekarang muncul cerita anak dari langit?
Apa dia sedang dijebak?
Atau… dunia memang sedang main-main dengannya?
“Masa iya…” gumamnya lirih. “Aku jadi pelengkap penderitaan orang lain?”
Kalau ini bohong, keterlaluan.
Tapi kalau ini nyata…
Raka mengepalkan tangan.
Tak peduli benar atau salah, satu hal pasti dia harus melihatnya sendiri.
Tanpa berpikir panjang lagi, dia bergegas menuju ke rumah sakit bumi waras.