

Rendra tidak ingat kapan terakhir kali kampusnya terdengar sepi seperti itu.
Angin sore menyapu pelataran parkir, membawa bau aspal panas, darah, dan asap yang belum sepenuhnya hilang. Di kejauhan, gedung fakultas yang biasanya penuh suara mahasiswa sekarang berdiri seperti bangkai raksasa.
Kaca pecah, spanduk kegiatan kampus setengah terbakar, pintu dibiarkan menganga. Dari arah sana, sesekali terdengar erangan rendah yang bukan lagi suara manusia biasa.
Rendra berlutut di antara dua mobil, napasnya megap‑megap. Ransel tipisnya sudah entah di mana, kemeja abu‑abunya koyak di bagian pundak, dan setengah wajahnya memar kebiruan. Darah hangat menetes dari sudut bibir, jatuh ke lantai semen yang basah oleh sesuatu yang ia tak berani lihat terlalu dekat.
“Kita nggak butuh sampah kayak lo.”
Ucapan itu masih menggema keras di kepalanya, mengalahkan jeritan dan suara ledakan yang tadi mendominasi.
Beberapa menit sebelumnya—atau jam?—ia masih bersama rombongan mahasiswa yang selamat, berlari turun dari gedung, menembus koridor yang penuh tubuh dan kaca.
Mereka dikepalai oleh Reza, ketua himpunan mahasiswa terkenal. tinggi, suara lantang, dan entah dari mana bisa punya pistol di hari pertama kiamat terjadi. Di samping Reza, selalu ada satu orang yang mengekor, Sinta.
Sinta yang menjadi tetangganya sejak SD. Sinta yang sama sering duduk satu bangku di angkot, sering pinjam catatan, dan mengajaknya ngobrol sebelum semua kegilaan ini terjadi.
Dan...
Sinta yang sama, yang saat ini matanya tidak berani menatap Rendra lebih dari satu detik.
“Gue nggak ada apa-apa sama dia, Za." Suara Sinta tadi terdengar bergetar, tapi cukup lantang untuk didengar semua orang. "Dia yang godain gue waktu jaga bareng di lantai tiga.”
Rendra ingat berdiri kaku di depan mereka, napas berat karena baru saja menahan pintu agar satu makhluk yang menggaruk‑garuk dari luar tidak berhasil menerobos masuk. Dia bahkan belum sempat mengatur napas ketika sepasang mata semua orang menancap ke arahnya.
“Apa?” Rendra hanya mampu mengeluarkan satu kata itu, serak.
Anggota kelompok yang lain—ada Fikri, ada Yudi, ada dua mahasiswi yang Rendra baru ingat nama jurusannya saja—langsung mundur setengah langkah dari Rendra, seolah pengakuan Sinta membuatnya tiba‑tiba berbahaya.
“Ren, gue juga liat sendiri,” kata salah satu cowok, menunjuk dengan dagu. “Lu yang nempel ke Kak Sinta.”
Rendra ingin tertawa karena tuduhan itu terlalu absurd.
Nempel? Dia bahkan tidak berani berdiri terlalu dekat dengan Sinta tadi.
Waktu itu mereka hanya duduk di koridor, saling membelakangi tembok. Interaksi paling intim mungkin menyerahkan sebotol air miliknya karena bagian Sinta habis.
“Gue cuma—” Rendra mencoba menjelaskan, suara parau. “Gue cuma ngasih air minum..”
“Gue udah bilang kalau gue punya Kak Reza. Tapi Rendra... Aku takut...” Sinta menunduk, suaranya lembut penuh keluhan. Ia segera berbalik ke arah Reza.
Mata Reza berbinar puas melihat Sinta berbicara seperti itu. Ia segera memeluk Sinta dengan satu tangan, sementara tatapannya ke Rendra penuh penghinaan.
Tapi Rendra menggertakkan gigi. Dia tidak pernah bilang begitu.
Jelas Sinta yang meminta air padanya, lalu menunduk, pipinya memerah entah karena lelah atau malu. Lalu memeluknya sebagai ucapan terimakasih.
Dia tidak mengambil satu pun inisiatif mendekatinya!!
'Wanita murahan ini!' Geram Rendra dihatinya.
Reza melepas pelukan sejenak. Dia maju selangkah. Di tangan kanannya, pistol itu terasa sangat nyata.
“Gue udah bilang dari awal,” suara Reza datar, tapi matanya menyala marah. “Gue nggak suka ada yang nyentuh milik gue. Kalau ada yang berani... gue buang.”
“Bang, gue nggak—” Rendra mencoba bergerak mendekat, tapi seseorang mendorongnya keras dari belakang. Punggungnya membentur kap mobil. Nafasnya terputus.
“Dekil begini juga merasa ganteng, anjir.” Yudi mendecak. “Cewek capek, ketakutan, malah lu manfaatin.”
“Dasar burik.” Fikri menimpali, entah dari mana sempat tertawa kecil. “Dari dulu juga kelihatan… creepy gitu.”
"Harusnya lu bersyukur Kak Reza mau masukin ke kelompok. Malah ngelunjak." Ujar yang lain sambil melayangkan pukulan ke perut Rendra.
Rendra menggigit bibir, menahan erangan. Tubuhnya menekuk, hampir muntah, tapi belum sempat menarik napas, tinju lain menghantam pipinya. Dunia berputar. Suara jeritan jauh di belakang mereka, di dalam gedung, seolah mengejek.
“Gue nggak…,” Rendra mengerang, suara tenggelam di antara hentakan sepatu dan caci maki.
“Lu pikir gue nggak tahu lu ngelirik cewek gue dari dulu?” Reza menunduk, menarik kerah baju Rendra hingga mereka hampir sejajar.
Di mata Reza ada sesuatu yang lebih dari sekadar cemburu—ada superioritas. “Ini dunia baru, Ren. Gue nggak ada waktu buat cowok cabul yang bikin cewek gue nggak aman.”
“Gue… nggak pernah... godain... dia...” kalimat itu keluar patah‑patah, hampir seperti bisikan memalukan untuk dirinya sendiri, bukan pembelaan.
Tidak ada yang mendengar. Atau tidak ada yang mau.
Sinta mengangkat kepala sebentar. Tatapan mereka bertemu. Ada rasa bersalah yang memercik di mata Sinta, cepat sekali, seperti kilat yang langsung disembunyikan di balik awan tebal. Lalu ia memalingkan wajah, memegang lengan Reza.
“Udah, Za. Kita harus pergi. Kebisingan buat mereka kumpul,” ujarnya pelan.
“Oke, Sayang.” Reza tersenyum pada Sinta.
Ia melepas kerah Rendra, lalu menendang sekali lagi ke arah rusuk. Rendra terjatuh, dadanya terasa seperti retak.
"Tinggalin aja dia." Perintah Reza.
Suara langkah mereka menjauh, cepat, teratur. Derit pintu pagar besi membuka, lalu suara mereka hilang ditelan hiruk sirene, jeritan, dan erangan jauh di belakang.
Rendra tetap terbaring di antara bayangan mobil, memandang langit yang mulai memerah senja.
Di sela‑sela kap mobil, ia melihat sepotong spanduk “Orientasi Mahasiswa Baru” masih menggantung, tersobek di tengah.
Ia sempat berpikir, konyol sekali. Baru juga tahun pertama, dan dunia sudah keburu berakhir.
Pelan‑pelan, rasa sakit fisik mulai kalah oleh sesuatu yang lain. Hampa yang berat. Dingin.
Air menggenang di sudut mata Rendra. "Sialan!" Bisiknya.
Di mana dia burik, di mana dia dekil. Rendra mengerjap, menatap bayangannya sendiri sekilas di kaca mobil. Memar, kotor, tapi… ia tidak merasa dirinya segitu menjijikkannya.
Apa mereka semua buta.
Iri, pasti mereka iri padanya!
"Arghh, Jem*ut." Rendra perlahan duduk dan menyandarkan dirinya ke sebuah mobil.
Dia menunduk dengan sedih. Harus diakui, dia memang sempat menyukai tetangganya yang manis dan baik, Sinta. Tapi itu sebelum dia tau kalau Sinta sangat busuk!
Berani menggoda dan membuatnya dibuang dari kelompok.
"Akan gue bales..." Gumam Rendra pelan, "Pasti gue bales!"
Suaranya bergetar, dan untuk pertama kalinya ia sadar. Di dunia ini, hanya yang kuat akan bertahan.