Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Loyalitas di Ujung Jalan

Loyalitas di Ujung Jalan

Wie Syahara | Bersambung
Jumlah kata
93.4K
Popular
100
Subscribe
28
Novel / Loyalitas di Ujung Jalan
Loyalitas di Ujung Jalan

Loyalitas di Ujung Jalan

Wie Syahara| Bersambung
Jumlah Kata
93.4K
Popular
100
Subscribe
28
Sinopsis
PerkotaanAksiGangsterPecundang Bela Diri
Sejak ayahnya meninggal karena terlilit utang kelompok kriminal, Arka tumbuh dengan satu keyakinan: dunia tidak memberi tempat bagi orang lemah. Demi melindungi ibunya dan bertahan hidup, ia masuk ke sebuah geng jalanan yang menguasai wilayah kotanya. Awalnya ia hanya anak suruhan, namun keberanian, kecerdikan, dan ketenangannya dalam situasi berbahaya membuatnya perlahan naik posisi. Dalam waktu beberapa tahun, Arka berubah dari remaja miskin menjadi salah satu anggota paling disegani di organisasinya. Ketika kekuasaan geng semakin besar, konflik dengan kelompok rival mulai memanas. Pertarungan wilayah, penyelundupan, dan pengkhianatan kecil menjadi bagian dari hidup sehari-harinya. Namun di balik kerasnya dunia yang ia jalani, Arka menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga: seorang gadis sederhana yang memperlakukannya seperti pria biasa, bukan kriminal. Hubungan itu perlahan membuka sisi hatinya yang selama ini tertutup, membuatnya mulai mempertanyakan jalan hidup yang telah ia pilih. Situasi berubah drastis ketika Arka mengetahui bahwa kematian ayahnya di masa lalu bukanlah kecelakaan utang biasa, melainkan bagian dari permainan kekuasaan organisasi besar yang kini justru ia layani. Penemuan itu menjerumuskannya ke dalam konflik batin yang semakin dalam—antara mempertahankan loyalitas kepada geng yang membesarkannya atau membongkar kebenaran yang bisa menghancurkan semuanya. Di saat yang sama, sahabat yang paling ia percaya mulai menunjukkan tanda-tanda pengkhianatan, memicu perang internal yang memecah organisasi menjadi dua kubu. Perang antar geng dan perebutan kekuasaan menjadikan Arka sosok penting yang harus memilih posisi. Ia bisa mengambil kesempatan menjadi pemimpin besar dan menguasai dunia kriminal kota, atau meninggalkan semuanya demi hidup baru bersama orang yang ia cintai. Namun keluar dari dunia itu bukan perkara mudah; setiap langkah yang ia ambil menuntut pengorbanan—kepercayaan, persahabatan, bahkan nyawa orang-orang terdekatnya. Dalam perjalanan panjang penuh darah, pengkhianatan, dan pilihan sulit, Arka akhirnya harus menghadapi pertarungan terakhir yang menentukan takdirnya: tetap menjadi legenda dunia gangster yang ditakuti, atau menghancurkan rantai masa lalunya dan membayar harga mahal demi sebuah kebebasan. Kisah ini mengikuti transformasi seorang pria dari anak jalanan yang putus asa, menjadi penguasa dunia kelam, hingga seseorang yang berjuang menemukan arti sebenarnya dari loyalitas, cinta, dan kesempatan kedua dalam hidup.
Bab 1 Malam Ketika Semuanya Dimulai

Aku masih ingat bau hujan malam itu.

Bukan hujan yang deras, hanya gerimis tipis yang membuat jalanan tampak basah dan lampu-lampu kota memantul di aspal seperti serpihan kaca. Orang-orang bergegas pulang, menundukkan kepala, seolah tidak ingin terlalu lama berada di luar. Kota ini memang tidak pernah benar-benar aman, terutama setelah matahari tenggelam.

Saat itu aku baru berusia tujuh belas tahun, berdiri di depan sebuah warung kecil dengan tangan gemetar karena lapar yang sudah kutahan sejak pagi. Di saku celanaku hanya ada beberapa koin receh—bahkan tidak cukup untuk membeli nasi bungkus paling murah.

Ibuku sedang sakit di rumah kontrakan sempit kami, dan sejak ayah meninggal tiga bulan lalu, semua terasa seperti runtuh sekaligus. Ayah meninggalkan utang yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya. Lelaki-lelaki berwajah dingin datang hampir setiap minggu, mengetuk pintu dengan suara keras, menagih uang yang jelas tidak mungkin kami bayar.

Aku bekerja serabutan—apa saja yang bisa menghasilkan uang. Kadang mengangkat barang di pasar, kadang membantu bengkel, kadang hanya menjadi kuli panggul di pelabuhan. Tapi semua itu tetap tidak cukup. Utang itu terlalu besar, dan orang-orang yang menagih bukan tipe yang bisa menunggu dengan sabar.

“Kalau akhir bulan belum ada pembayaran, rumah ini bisa kami ambil.”

Kalimat itu masih terngiang di kepalaku. Bukan ancaman keras, tidak ada teriakan, tidak ada bentakan. Justru karena diucapkan dengan nada datar itulah kata-kata itu terasa lebih menakutkan.

Aku mengusap wajah yang basah oleh gerimis dan menarik napas panjang. Bau minyak goreng dari warung membuat perutku semakin perih. Seharusnya aku pulang, tapi aku tidak ingin ibuku melihat wajahku yang kosong seperti ini. Ia sudah cukup khawatir setiap hari.

“Ka.”

Suara itu membuatku menoleh. Rian berdiri beberapa langkah di belakangku, mengenakan jaket hitam lusuh yang terlalu besar untuk tubuhnya. Kami berteman sejak kecil—tinggal di gang yang sama, sekolah yang sama, bahkan sering berkelahi melawan anak gang sebelah bersama-sama dulu.

Sekarang ia terlihat berbeda. Lebih tenang. Lebih dingin.

“Kau belum makan?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan.

Tanpa banyak bicara, ia mendekati penjual warung dan memesan dua nasi bungkus. Aku ingin menolak, tapi suara perutku yang berisik membuatku mengurungkan niat. Kami duduk di bangku kayu kecil di depan warung, makan dalam diam selama beberapa menit.

“Mereka datang lagi ke rumahmu?” tanya Rian tiba-tiba.

Aku berhenti mengunyah. “Kemarin.”

“Masih soal utang ayahmu?”

Aku mengangguk.

Rian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jalanan basah di depan kami, seolah sedang memikirkan sesuatu. Lampu motor yang lewat sesekali memantul di matanya.

“Aku bisa mengenalkanmu pada seseorang,” katanya akhirnya.

Aku menatapnya. “Seseorang?”

“Orang yang bisa memberimu pekerjaan. Uangnya lumayan cepat.”

Entah kenapa, aku sudah tahu pekerjaan seperti apa yang ia maksud bahkan sebelum ia menjelaskan lebih jauh. Beberapa bulan terakhir, Rian sering menghilang berhari-hari lalu muncul kembali dengan uang yang cukup banyak. Ia tidak pernah bercerita secara detail, tapi semua orang di gang kami tahu ia sekarang bekerja untuk kelompok jalanan yang menguasai wilayah selatan kota.

Kelompok yang sama yang sering disebut orang dengan nada pelan, seolah takut didengar.

“Aku tidak tahu, Ri,” kataku pelan.

“Kau butuh uang, kan?”

Aku terdiam. Tentu saja aku butuh. Setiap hari aku memikirkan hal itu. Setiap malam aku menghitung sisa uang di dompet, mencoba mencari cara agar ibu ku tetap bisa membeli obat.

“Tugas awalnya tidak berat,” lanjut Rian. “Cuma mengantar barang, menjaga tempat, hal-hal kecil. Tidak langsung yang berbahaya.”

“Apa benar begitu?”

Rian menoleh dan menatap ku lurus. “Aku tidak akan menyeretmu ke sesuatu yang langsung membunuhmu, Ka.”

Jawaban itu tidak benar-benar menenangkan, tapi entah kenapa aku percaya padanya. Kami sudah berteman terlalu lama untuk saling membohongi soal hal-hal seperti ini.

Hujan mulai sedikit lebih deras. Penjual warung menurunkan sebagian terpal agar air tidak masuk. Suara tetesan hujan di plastik tipis itu terdengar seperti bunyi jam yang berdetak pelan, seolah sedang menghitung waktu yang tersisa bagiku untuk membuat keputusan.

“Aku pikirkan dulu,” kataku.

Rian mengangguk. “Besok malam aku ke sini lagi. Kalau kau mau ikut, bilang saja.”

Ia berdiri, membayar makanan kami, lalu berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Aku menatap punggungnya sampai menghilang di tikungan, lalu kembali menatap jalanan kosong.

Aku tahu hidupku tidak akan bisa terus seperti ini.

Cepat atau lambat, aku harus memilih.

Rumah kontrakan kami hanya terdiri dari satu ruang tidur kecil, dapur sempit, dan kamar mandi di belakang. Cat dinding sudah mulai mengelupas, dan atap seng sering bocor ketika hujan deras. Namun bagi ibuku, tempat itu tetap disebut “rumah”, karena di sanalah kami masih bisa bertahan bersama.

Ketika aku masuk, lampu ruang tengah sudah menyala redup. Ibuku duduk di kursi kayu, mengenakan selimut tipis meski udara tidak terlalu dingin.

“Kau sudah makan?” tanyanya.

“Sudah, Bu.”

Ia tersenyum kecil, tapi aku bisa melihat matanya yang lelah. Penyakitnya membuat tubuhnya semakin kurus setiap minggu, dan harga obat yang harus dibeli setiap bulan terasa seperti beban yang tidak pernah berhenti menekan.

“Jangan terlalu capek kerja,” katanya pelan. “Ibu tidak apa-apa.”

Aku mengangguk, meski tahu kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Ia selalu berkata seperti itu agar aku tidak khawatir, padahal justru aku yang semakin takut setiap hari.

Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Kata-kata Rian terus berputar di kepalaku: pekerjaan yang bisa memberi uang cepat. Kedengarannya sederhana, tapi aku tahu sekali masuk ke dunia itu, keluar tidak akan semudah melangkah pergi.

Namun pilihan apa lagi yang kupunya?

Pagi berikutnya aku kembali bekerja di pasar, membantu mengangkat karung beras dan sayuran dari truk ke kios-kios. Upahnya kecil, dan menjelang siang punggungku sudah terasa seperti dipukul berkali-kali. Saat menerima bayaran sore harinya, aku menghitungnya pelan—jumlahnya bahkan tidak cukup untuk membeli obat ibuku selama seminggu.

Saat itulah aku sadar, aku sebenarnya sudah membuat keputusan sejak semalam.

Aku hanya belum berani mengakuinya.

Malam berikutnya aku kembali ke warung yang sama. Rian sudah menunggu, duduk santai sambil memainkan korek api di tangannya.

“Kau datang,” katanya.

Aku duduk di depannya. “Aku ikut.”

Ia tidak terlihat terkejut, seolah memang sudah tahu jawabanku. Ia hanya mengangguk pelan lalu berdiri.

“Ayo. Kita ketemu orangnya malam ini.”

Kami berjalan menyusuri beberapa gang sempit yang semakin gelap semakin jauh dari jalan utama. Aku tidak banyak bicara, mencoba mengingat setiap belokan yang kami lewati, meski akhirnya sadar aku sudah benar-benar tidak tahu posisi kami sekarang.

Kami berhenti di depan sebuah bangunan tua dua lantai dengan pintu besi besar. Rian mengetuk pintu tiga kali, berhenti sebentar, lalu mengetuk sekali lagi. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dari dalam, memperlihatkan seorang pria bertubuh besar yang menatap kami tanpa senyum.

“Dia yang kubilang,” kata Rian.

Pria itu menatapku dari kepala sampai kaki, lalu memberi jalan untuk masuk.

Di dalam, ruangan itu ternyata lebih luas dari yang terlihat dari luar. Beberapa orang duduk di kursi, sebagian bermain kartu, sebagian lagi hanya berbicara pelan. Tidak ada yang tampak seperti gangster di film-film—tidak ada jas mahal atau senjata mencolok—justru itulah yang membuat suasananya terasa lebih nyata dan lebih menegangkan.

Seorang pria sekitar empat puluh tahun duduk di kursi dekat meja besar di tengah ruangan. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana, tapi cara semua orang sesekali melirik ke arahnya membuatku tahu dialah orang yang memimpin di tempat ini.

“Ini Arka,” kata Rian ketika kami mendekat. “Teman yang kuceritakan.”

Pria itu mengangkat pandangan. Matanya tajam, tapi ekspresinya tenang.

“Kau butuh pekerjaan?” tanyanya langsung.

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku sempat ragu, tapi akhirnya menjawab jujur. “Ibu saya sakit. Saya butuh uang cepat.”

Ia menatapku beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca apakah aku berbohong. Lalu ia bersandar sedikit di kursinya.

“Nama saya Bima,” katanya. “Di sini, kami tidak memaksa siapa pun. Tapi kalau kau masuk, kau harus tahu satu hal—loyalitas lebih mahal dari apa pun. Sekali kau melanggar, tidak ada kesempatan kedua.”

Aku mengangguk pelan.

“Tugas awalmu sederhana,” lanjutnya. “Mengantar barang, menjaga tempat, dan melakukan apa yang diperintahkan atasanmu. Kalau kau bekerja dengan baik, uangnya cukup untuk menyelesaikan masalahmu.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Tapi kalau kau hanya ingin mencoba-coba, lebih baik pulang sekarang.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Wajah ibuku terlintas di kepalaku. Tagihan obat. Ancaman orang-orang penagih utang. Semua itu terasa seperti dorongan yang mendorong ku maju satu langkah.

“Saya tidak akan mundur,” kataku.

Bima menatapku beberapa detik, lalu tersenyum tipis—senyum yang sulit ku tafsirkan apakah itu tanda puas atau hanya formalitas.

“Baik. Mulai malam ini kau ikut Rian dulu. Dia yang akan mengajarimu aturan di sini.”

Aku mengangguk.

Saat itu aku belum tahu bahwa langkah kecil yang kuambil malam itu akan mengubah seluruh hidupku—membawaku ke dunia yang penuh darah, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan yang suatu hari akan memaksaku memilih antara loyalitas… atau kebebasan.

Malam itu, tanpa benar-benar kusadari, aku telah membuka pintu menuju kehidupan yang tidak akan pernah bisa ku tutup kembali.

Lanjut membaca
Lanjut membaca