

"Huft!”
Sekedar menghela napas.
“Akhirnya, selesai juga," gumamku..
Aku menghunjamkan *tojok* ke tanah yang mengeras. Ujung tombak besi itu tertancap dalam, menyisakan getaran yang merambat ke telapak tanganku yang kasar.
Alat inilah "teman setia" yang aku gunakan setiap hari untuk melambungkan tandan kelapa sawit ke atas truk.
Aku merentangkan kedua tangan lebar-lebar ke udara. Terdengar bunyi gemeretak dari tulang punggung, sebuah protes dari tubuh yang telah diperas habis-habisan di bawah terik matahari.
Namaku Arman Wiguna. Usiaku baru dua puluh lima, tapi guratan lelah di wajahku mungkin terlihat jauh lebih tua.
Aku adalah korban dari mimpi yang kandas; ekonomi yang mencekik memaksaku menanggalkan seragam SMA untuk menjadi buruh kasar.
Sudah sepuluh tahun aku mengabdi pada Tuan Hartawan, penguasa tunggal di dusun ini. Tanah, kebun sawit, hingga napas penduduk di sini seolah berada di bawah telapak kakinya.
"Woi, Budug! Ngapain kamu bengong? Mau jadi patung?!"
Suara itu menyambar telingaku layaknya petir di siang bolong. Tanpa menoleh pun, aku tahu siapa pemilik suara cempreng nan menyakitkan itu.
Darso.
Dia adalah mandor kesayangan Tuan Hartawan sekaligus momok bagi para buruh.
Darso bukan sekadar mandor; dia adalah penguasa lapangan yang bisa memecat siapa saja hanya karena suasana hatinya sedang buruk. Baginya, buruh bukanlah manusia, melainkan mesin yang tidak boleh berhenti berputar.
"Istirahat sebentar saja, Bang. Nafas saya mau putus," jawabku
Sedikit menoleh, sambil menyeka peluh yang mengucur deras hingga menyengat mata.
"Enak saja kamu, Budug!" Darso mendekat tepat di depan wajahku. Napasnya tercium memburu. "Kamu itu dibayar buat kerja, bukan buat jadi pajangan kebun!"
Volume suaranya tidak pernah turun, selalu tinggi dan penuh penghinaan.
*Budug*. Panggilan itu terasa lebih tajam daripada ujung *tojok* milikku. Darso tidak pernah sudi memanggilku dengan nama pemberian Ibu.
Dia lebih suka menggunakan ejekan fisik itu, hingga bertahun-tahun kemudian, orang-orang di dusun lupa bahwa aku punya nama yang penuh harapan: Arman Wiguna. Di sini, aku hanyalah Si Budug.
Aku hanya bisa menelan ludah, mencoba menelan bulat-bulat harga diri yang rasanya sudah lama menguap. Kelainan kulit yang menyebar di sebagian tubuhku ini memang kutukan visual, membuatku tampak berbeda, tampak "kotor" di mata mereka.
Aku sudah belajar membuang rasa malu, menggantinya dengan senyum palsu yang getir. Bagiku, bisa terus bekerja adalah cara satu-satunya agar dapur tetap mengepul, meski hati harus terus tersayat hinaan.
“Pekerjaan saya sudah selesai, Bang,” jawabku mencoba tenang.
Aku menunjuk ke arah dua truk di belakangku yang sudah sarat muatan.
“Kasih saya waktu buat ambil napas sebentar.”
Darso terdiam. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya menyipit tidak percaya melihat tumpukan sawit yang sudah rapi di atas bak truk.
Bukannya senang, wajahnya justru memerah menahan dongkol.
“Kamu ini niat kerja atau mau pamer, hah?! Nggak usah sok rajin, mau cari muka kamu depan Tuan Hartawan?” hardik Darso.
Ia melangkah maju, telunjuknya yang kasar menusuk-nusuk dadaku dengan kasar.
Aku menghela napas panjang, meredam gejolak di tangan yang rasanya sudah gatal ingin menghantam mulutnya yang tak pernah sekolah itu. Sabar, Arman. Sabar.
“Saya kerja cepat salah, saya lambat nanti Abang marah-marah,” ucapku pelan,
Tetap berusaha menyelipkan nada bercanda, meski hambar dan hati panas.
“Terus saya harus bagaimana supaya Abang senang?”
Darso mendengus, membuang muka ke arah samping.
“Kalau kamu mau bikin saya senang, sana bantu si Jamil!” Ia menunjuk ke arah kejauhan dengan dagunya. “Kerjanya sudah kaya keong racun, lambat! Kalau bukan karena dia punya utang nyawa dan duit sama Tuan, sudah saya tendang dia dari kemarin.”
Setelah meludahkan kata-kata tajam itu, Darso melenggang pergi dengan langkah yang masih menyiratkan amarah yang tak jelas ujung pangkalnya.
Aku tertegun sejenak. Bukannya aku pelit tenaga, tapi membantu Jamil terkadang seperti memberi madu pada orang yang malas.
Jamil sering kali jadi ketergantungan jika sudah dibantu. Namun, menatap sosoknya di kejauhan—tubuh yang kerempeng, tulang rusuk yang menonjol di balik baju kumalnya, dan sepasang lengan yang tampak ringkih mengangkat satu janjang sawit—aku tidak tega. Dia memang tidak punya tenaga sebesar itu.
Dengan langkah kaki yang terasa berat, diiringi tatapan tajam Darso dari kejauhan yang seolah mengawasi setiap gerak-gerikku, aku pun berjalan menghampiri Jamil yang sudah nampak nyaris pingsan karena kelelahan.
“Huh… Huh… Huh…”
Napas Jamil terdengar putus-putus, seolah paru-parunya sedang berjuang keras menghirup sisa oksigen di tengah udara yang pengap.
Keringat meluncur deras dari dahi, membasahi wajahnya yang pucat dan menyatu dengan debu tanah perkebunan.
Hatiku berdenyut nyeri. Bagaimana mungkin aku tega membiarkan teman senasib dan seperjuangan ini terus memeras tenaga yang sebenarnya sudah habis? Jamil sedang melawan batas kemampuannya demi sesuap nasi yang tak seberapa.
Aku melangkah maju, lalu menepuk bahunya yang gemetar.
“Sudah, Mil. Kamu istirahat saja dulu,” ucapku rendah. “Biar saya yang terusin sisanya.”
Tanpa menunggu persetujuannya, aku menghujamkan *tojok* besi ke sebuah janjang sawit paling besar yang ada di tanah.
Dengan sekali sentakan otot lengan yang sudah terbiasa dengan beban berat, aku melambungkan tandan berduri itu ke udara, mendaratkannya tepat di atas bak truk.
Jamil jatuh terduduk sebentar, memanfaatkan menit-menit berharga itu untuk mengatur napasnya yang sempat hilang. Begitu seleret tenaga kembali ke tubuh kurusnya, dia tak lantas berpangku tangan. Dia bangkit, menyambar *gancu*—besi pengait—lalu memanjat naik ke atas truk.
Walaupun sering kali aku harus menanggung beban kerjanya, setidaknya Jamil adalah orang yang tahu diri. Ia berdiri di atas tumpukan sawit, menggunakan gancunya untuk menarik dan menata janjang-janjang yang kulempar dari bawah. Kerja sama ini membuatnya lebih ringan, dan bagiku, ini sangat membantu menghemat tenaga karena aku tak perlu lagi melempar terlalu tinggi.
Tiga puluh menit kami berjibaku dengan debu dan duri. Di bawah pengawasan langit yang mulai meredup, akhirnya janjang terakhir berhasil dinaikkan. Semua hasil panen masuk ke dalam truk tepat pada waktunya, sebelum Darso punya alasan lagi untuk menggonggong.
“Huh… Huh… Huh…”
Suara napas Jamil masih terengah-engah, memburu di antara keheningan perkebunan yang mulai sepi.
Saking lelahnya, dia melabuhkan badannya, menyelonjorkan kaki di atas tumpukan pelepah kelapa sawit yang sudah mengering. Wajah pucat pasi, seperti kehabisan seluruh pasokan darah di tubuhnya.
Aku duduk sedikit merapat, menyodorkan sebatang rokok terakhir dari sakuku—harta karun kecil di penghujung hari yang melelahkan. Jamil hanya menggeleng lemah. Paru-parunya seolah belum siap menerima kepulan nikotin yang justru bisa membuat napasnya semakin sesak.
“Man, kamu makan apa sih sampai bisa sehebat itu?” tanya Jamil, tangannya yang gemetar menyentuh lengan atasku, meraba ototku yang mengeras karena kerja paksa bertahun-tahun. “Beri tahu aku rahasianya, bagaimana bisa punya tenaga besi seperti ini?”
Aku hanya tersenyum tipis. Kuhisap rokok itu dalam-dalam hingga ujungnya membara merah. Asap putih mengepul pekat dari mulutku, sebelum akhirnya buyar seketika disapu angin sepoi yang lewat.
“Memangnya saya makan apa, Mil? Kita ini sama saja, tidak ada bedanya,” sahutku sambil tetap melempar senyum. “Sama-sama makan nasi, bahkan porsi makanmu jauh lebih banyak.”
Aku menepuk bahu Jamil pelan, lalu sedikit memberikan pijatan. Jari-jariku bergerak di atas kulitku sendiri yang terkadang terasa gatal dan kasar karena penyakit ini, tapi perhatianku sepenuhnya untuk memulihkan sedikit tenaga sahabatku itu.
“Mil, bukan bermaksud menyuruh kamu berhenti,” ucapku pelan, nadanya berubah serius. “Tapi sebagai kawan lama, saya cuma mau kasih saran. Apa tidak sebaiknya kamu cari kerja di tempat lain saja? Kasihan badanmu ini, mau sampai kapan dipaksa begini?”
Ada nada prihatin dalam suaraku. Aku hanya takut suatu hari nanti raga kecilnya itu benar-benar tumbang.
Jamil menghela napas panjang. Matanya yang lesu terlihat memerah di bawah sinar sore yang mulai meredup. Tanpa bicara, ia akhirnya meraih rokok di sela jariku, menghisapnya dalam-dalam seolah tengah menyedot keberanian dari sana.
“Saya memang inginnya begitu,” jawab Jamil pelan.
Asap rokok keluar tebal bersamaan dengan kalimatnya.
“Nanti habis gajian, rencananya saya mau merantau ke kota. Cari pengalaman baru. Katanya, kesempatan kerja di sana lebih luas daripada cuma jadi kuli sawit di dusun terpencil ini.”
Jamil mengembalikan sisa rokok itu kepadaku. Aku pun menghisapnya sekali lagi, lalu memberikannya kembali padanya.
Sebatang rokok dihisap berdua, selembar nasib dijalani bersama. Jamil adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menatap kulitku dengan jijik. Dia sahabat terdekatku, satu-satunya tempat aku bisa mempercayakan isi kepalaku yang penuh dengan keluh kesah.
“Man,” panggil Jamil pelan.
Aku menoleh. Kepulan asap terakhir rokok kami menari di antara kami.
“Bagaimana kalau kamu ikut saya saja? Kita cari nasib baru di luar dusun sawit ini. Siapa tahu di kota ada tempat yang lebih menghargai kita,” ucap Jamil dengan mata yang penuh harap.
Aku terdiam sejenak, menatap ujung sepatu *boot*-ku yang berlapis lumpur kering.
“Lalu bagaimana dengan Emak? Dia satu-satunya alasan saya tetap bernapas di sini, Mil. Belakangan ini kesehatannya semakin menurun, sering batuk-batuk sampai dadanya sesak. Saya tidak mungkin membiarkannya sendirian.”
Kalimatku membuat Jamil bungkam. Selama dua puluh lima tahun hidupku, aku seperti pohon sawit yang akarnya sudah tertanam terlalu dalam di dusun ini.
Terperangkap. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini lebih dari dua hari. Di tempat ini, buruh seperti kami adalah barang yang mudah diganti. Sekali saja aku tak muncul, posisiku akan langsung disambar orang lain.
*Bruuummm! Ciiittt!*
“Woi! Masih asyik pacaran kalian berdua? Awas, jangan sampai *gancet*, hahahaha!”
Suara knalpot motor yang memekakkan telinga itu disusul tawa renyah yang menghina.
Darso lewat dengan motor trail-nya, mengepulkan debu tanah ke wajah kami, lalu melesat pergi tanpa merasa berdosa.
“Bangsat!” geramku.
Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kukuku memutih. Amarah yang sedari tadi kupendam nyaris meledak.
“Saya bersumpah, Mil. Tidak akan pernah melangkah kaki pergi dari dusun ini sebelum bisa meruntuhkan harga diri orang itu sampai rata dengan tanah.”
Jamil menatapku, ekspresinya berubah serius.
“Jangan simpan dendam, Man. Doa itu harus yang baik-baik.”
Ia menjeda kalimatnya, lalu mendadak menyeringai usil.
“Saya berdoa, supaya kamu punya kekuatan super. Biar si Darso itu ciut nyalinya dan tidak punya harga diri lagi di depan kita.”
Aku spontan menoleh, dahiku berkerut. “Kekuatan super? Apa maksudmu? Jadi siluman?”
“Terserah! Mau jadi apa saja, yang penting kolornya tetap kamu pakai di dalam, jangan di luar seperti di film-film itu. Hahaha!”
Jamil meledakkan tawanya, memecah ketegangan yang tadi menyelimuti.
Aku tidak tahan untuk tidak ikut tertawa. “Hahaha! Itu namanya Suparman, bodoh!”
Jamil memang ahlinya. Dia punya cara ajaib untuk mendinginkan kepalaku yang mendidih.
“Hisapan terakhir, ya? Sayang kalau dibuang,” pinta Jamil sambil menunjuk puntung rokok yang tinggal seujung kuku.
Aku mengangguk, lalu bangkit berdiri. Langit sudah mulai berubah jingga kemerahan, pertanda malam akan segera menjemput. Truk terakhir sudah lama berangkat, meninggalkan kesunyian yang mulai merayap di antara batang-batang sawit.
“Ayo pulang, sebentar lagi gelap,” ajakku sambil melangkah duluan.
“Suparman, tunggu! Yang kalah sampai warung Ratih, harus bayar kopi!” teriak Jamil tiba-tiba.
Dia langsung melesat lari melewatiku dengan tawa yang masih tertinggal di udara.
“Curang kamu, Mil!” teriakku balik.
Aku enggan mengejarnya. Aku tahu dengan aku ikut berlari, sudah pasti aku menang, tapi pada akhirnya tetap aku juga yang akan membayar kopinya.
Namun, langkahku mendadak terkunci.
*Ciiiit… Ciiitt… Ciiitt…*
Suara melengking aneh membelah keheningan sore. Bukan suara burung, bukan juga suara gesekan pelepah sawit.
“Suara apa itu?” bisikku pada diri sendiri, jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang.