

Sepeninggalan ayah aku tidak punya siapapun lagi, hanya surat wasiat dari Ayahku yang dititipkan kepada pengacara keluarga, dimana hanya itu satu-satunya harta yang mungkin tersisa, rumah di desa, perkebunan teh dan pabrik pengolahan teh yang cukup besar untuk aku kelola sendiri.
Kepindahanku ke desa menyadarkanku akan kehidupan fatamorgana yang selama ini aku jalani di kota.
Dimana tidak ada satupun teman yang selama ini ikut menikmati harta ayahku, berpesta pora, wanita-wanita yang minta dibelanjain, tidak ada satupun dari mereka yang berempati setelah kabar meninggalnya ayahku dan kebangkrutan usaha di kota. Tidak-tidak ada satupun....!!
Perjalanan dimulai, mungkin ini saatnya aku berubah! aku harus jadi pribadi baru, "Andrean putra perdana" nama yang disematkan orang tuaku yang mungkin akan tersenyum disana jika aku menjadi pribadi yang tangguh dan tidak cengeng.
Setelah motor ku panasi, beberapa barang dalam koper aku ikat di jok belakang. untuk terakhir kali aku menatap rumah yang sudah kami tinggali sejak aku lulus smp sampai kuliahku selesai, mengenang canda tawa ibu dan adikku, kesabaran ayah mendidik kami yang nakal, perhatian ibu saat aku sakit, sampai kenangan pilu saat aku kehilangan ibu sekaligus adikku yang mengalami kecelakaan di jalan karna taxi yang mereka tumpangi tertabrak sebuah bus umum.
Itu awal mula aku menyalahkan ayahku karena terlambat menjemput adiku sehingga ibu yang memaksakan diri untuk menjemputnya menggunakan taxi, sementara aku sendiri sedang ada kuliah.
Hidupku seakan tidak memiliki sebuah cinta lagi, perempuan-perempuanku disini hanya memanfaatkan keadaan keluarga kami yang bisa dibilang sangat lebih dari berkecukupan, sampai ketika tragedi yang merenggut kedua orang tersayangku membuat ayahku terpuruk dan hal itu menyebabkan kacau nya bisnis yang beliau jalani.
Sapaan seorang tetangga membuyarkan lamunanku, mbak agnes mungkin satu-satunya yang peduli, "Andre, jangan lupa kabar-kabar ya kalau udah disana, kalau sukses jangan lupa juga ajak-ajak aku, biar aku ikut kerja sama kamu" kata mbak Agnes yang membuat aku sedikit merasa lebih tegar.
"Iya mbak, tenang aja pasti kok tetap ngasih kabar, kalau kangen mbak kan bisa lihat IG aku." kataku menimpali.
Mbak Agnes mengambil sesuatu dari saku celana pendeknya, sebuah gelang yang langsung dia pakaikan di tanganku.
Tanpa aku duga mbak Agnes mencium pipi ku berulang-ulang, lalu gadis manis yang aku anggap sebagai kakak itu memelukku, pelukan yang berbeda dari sekedar dekapan seorang kakak kepada adik lelakinya.
Meskipun selisih umur kami cuma 3 tahun tapi mbak Agnes ini sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri, jarak rumah kami juga cuma selisih satu rumah, dia juga mungkin satu -satunya teman yang tulus. Tak terasa air mataku mengalir, kami berdua menangis, dan akhirnya mbak Agnes melepaskan pelukannya lalu berlari masuk ke arah rumahnya sendiri. entah apa yang dia pikirkan, aku juga tidak tau apakah mbak agnes menganggapku adiknya atau sebagai seseorang yang spesial karna setahuku dia sama sekali tidak pernah punya pacar meskipun terbilang sangat cantik dan akademisnya bagus.
Persiapanku selesai, saatnya motor melaju ke desa asal kelahiranku. Karna perjalanan ini menempuh waktu lebih dari 8 jam maka aku menandai titik-titik pemberhentian di ponsel ku yang sudah beberapa hari kemarin sempat aku cari melalui maps dimana sentra rest area berada.
Empat jam perjalanan sudah dilewati, titik pemberhentian pertama ku di sebuah wilayah pegunungan yang cukup indah pemandangannya, terdapat banyak gazebo yang di buat pemilik cafe sebagai tempat menikmati kopi dan beristirahat sejenak.
Aku membayangkan seperti apa keadaan desa ku nanti, banyak berubahkah? setelah sekian lama kami meninggalkan desa demi kehidupan lebih baik dikota.
Tentang kebun teh dan pabriknya itu sebenarnya warisan dari almarhum kakekku yaitu ayahnya ibuku, karena ayahku sendiri bersikukuh memilih menjalankan bisnisnya sendiri maka pengelolaan aset di desa dijalankan oleh beberapa orang lama kepercayaan kakek sehingga masih bisa bertahan sampai sekarang, dan ayahku hanya menerima laporan keuangan perusahaan teh dan sebulan sekali mengunjunginya itupun tidak pasti.
Beberapa orang dari pengurus perusahaan teh dikampung sebenarnya menawariku untuk menjemputku saat akan pulang ke desa, namun aku menolaknya karna pada dasarnya aku lebih suka bepergian sendiri menggunakan motor.
Setelah satu jam beristirahat aku kembali melanjutkan perjalanan namun tiap satu jam sekali beristirahat kembali di area yang sudah aku tentukan sebelumnya, sepertinya perjalanan yang harusnya cuma 8 jam kini bisa lebih dari 10 jam, tapi masa bodohlah, karna ini mungkin perjalanan terakhirku yang tidak akan lagi kembali ke kota.
Tibalah aku dijalur perkampungan menuju rumah lamaku, aku berhenti sejenak untuk mengirimkan pesan ke mang Udin selaku orang yang memegang kunci rumah sekaligus orang kepercayaan kakekku yang membantu mengurus perkebunan sebagai pengawas karyawan disana.
Pesanku dibalas sebuah telepon, setelah aku angkat terdengar suara perempuan.
"Mas Andrean sudah sampai mana mas, ini sudah disiapkan kamar dan makanan juga." kata Mbak Mutik istri dari mang udin
"Hampir sampai mbak, paling lima menit." kataku membalas pertanyaanya.
"Inget aku nggak mas? hayo siapa coba?"
Suara perempuan muda terdengar centil menyapaku dari telepon.
"Tita kan? ingetlah.... Nanti aku kasih oleh-oleh kok, ntar ya aku lanjut jalan dulu." Kataku kepada tita anak satu-satunya dari pasangan tersebut.
Pukul 7.30 malam aku sudah tepat berada dihalaman rumah masa kecilku, berdiri tiga orang menyambutku, kami bersalaman lalu masuk kedalam rumah.
"Mas kamarnya udah disiapkan, ini kunci rumah semua resmi saya serahkan kembali utuh." kata mbak mutik dengan nada bercanda.
Perhatianku disitu malah tertuju ke Tita yang udah besar, cantik dan badannya bongsor, tidak terlihat seperti anak kelas 2 sma.
"Tita udah gede ya mbak Mut." kataku kepada ibunya Tita.
"Iya mas, udah kayak ibuk-ibuk badannya gede." mang Udin menimpali.
"Oh iya ini buat kamu ta." kataku sambil memberikan jam tangan cewek yang sebenarnya itu hadiah buat pacarku di kota yang tidak jadi aku berikan.
"Iiiih... Bagus banget....!! Suka dehhh.....!!" dengan nada centilnya Tita langsung memakai jam tersebut.
"Udah-udah mas Andrenya kan capek, biar istirahat dulu, kita pulang." kata mbak Mutik.
"Mas motornya sudah mamang masukkan ke belakang jangan lupa dikunci, itu makanan dimeja makan sudah disiapkan, kalau ada yang kurang nanti bisa telpon mas." kata mang Udin.
"Iya mang makasih ya." balasku.
Setelah semuanya pulang aku langsung menuju kamar lamaku dan merebahkan diri di kasur yang tertata rapi dan bersih.
Tampaknya mbak Mutik memang menjaga rumah ini dengan sangat baik dan amanah, meskipun aku jadi kurang yakin apakah besok kedepannya bisa melanjutkan bisnis ini dan tetap memberi kehidupan layak bagi para pekerja yang selama ini menggantungkan hidupnya dari perusahaan yang diwariskan kepadaku saat ini, semoga saja.
"Cinta itu ada dan akan selalu ada jika kamu membawa Cinta bersamamu dan menebarkannya kepada setiap makhluk."
Setidaknya ucapan ibu ini yang akan aku bawa sebagai prinsip hidupku kedapannya.