Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dewa Perang dan Dewi Obat

Dewa Perang dan Dewi Obat

Ammioo | Bersambung
Jumlah kata
57.2K
Popular
290
Subscribe
53
Novel / Dewa Perang dan Dewi Obat
Dewa Perang dan Dewi Obat

Dewa Perang dan Dewi Obat

Ammioo| Bersambung
Jumlah Kata
57.2K
Popular
290
Subscribe
53
Sinopsis
18+FantasiIsekaiKerajaanTransmigrasiHarem
Cakra, seorang pembunuh bayaran dari dunia modern, tiba-tiba terperangkap di tubuh pangeran ketiga di kerajaan kuno, hidupnya berubah seketika. Untuk bertahan, ia menggunakan keahlian bela dirinya sebagai panglima perang, tapi intrik istana tak pernah memberi ruang aman. Putra mahkota yang licik menjebaknya untuk menikahi Rengganis Larasati, putri perdana menteri yang terkenal bodoh dan aneh. Kehidupan pernikahan mereka mulanya penuh perdebatan, tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya. Hingga akhirnya, Pangeran Cakra dan Rengganis perlahan menyadari satu fakta mengejutkan di antara mereka. Penasaran? Yuk baca!
1. Malaikat Penolong

Pangeran Cakra terengah-engah, langkahnya berat sementara anak panah melesat dari kejauhan, menancap di lengannya.

"Arghhh…." rintihnya kesakitan. Rasa nyeri yang tajam menyebar cepat, dan tak lama kemudian, ia menyadari bahwa anak panah itu beracun. Darahnya hangat, tapi racunnya menebar perlahan, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ia menoleh ke belakang, para pengejarnya masih mengikuti, bayangan mereka samar di antara pepohonan. Tanpa pikir panjang, Cakra berlari secepat yang ia bisa dan menemukan perlindungan di balik pohon besar yang menjulang.

Napasnya tersengal-sengal, tangan memegang lengan yang tertusuk, mencoba menahan sakit yang merambat seperti api. Sial sekali, mereka tidak memberikan kesempatan pada Cakra untuk melawan, mereka semua menyerang Cakra dengan puluhan anak panah beracun.

"Ternyata… hidup di zaman kerajaan semengerikan ini," keluhnya, suaranya serak, hampir tersedak. Ia menundukkan kepala, menatap darah yang menetes di tangannya, rasa sakit perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Apakah… sebentar lagi aku akan mati? Huh?" Ia tertawa pahit, namun tawa itu terdengar seperti tangisan yang tersendat.

Seketika, kenangan-kenangan dari dunia lamanya berputar di kepalanya, keluarganya, teman-temannya, semua yang pernah membuat hidupnya hangat. Rindu itu menusuk, tapi di dunia asing ini, ia tak punya siapa-siapa selain Batara, ajudan setianya yang selalu berada di sisinya.

Rasa lelah dan racun yang menyebar perlahan-lahan menaklukkan tubuhnya. Pandangannya mulai kabur, dan napasnya semakin sulit diatur. Dengan satu desahan terakhir, kesadarannya terlepas… dan Cakra jatuh pingsan di bawah pohon besar itu, sendirian di tengah hutan yang sunyi.

***

Cakra terbangun dengan kepala berdenyut nyeri, seolah dipukul berkali-kali tanpa ampun. Ia mengerang pelan sambil memijit pelipisnya, mencoba mengusir rasa sakit yang berputar. Saat kesadarannya perlahan kembali utuh, ia menyadari suasana di sekelilingnya telah berubah.

Langit di atas tampak gelap pekat, hanya dihiasi cahaya bulan dan taburan bintang. Malam telah larut. Entah sudah berapa lama ia terbaring tak sadarkan diri. Angin malam berembus pelan, membawa hawa dingin yang menyusup hingga ke tulang.

Cakra mencoba mengingat apa yang terakhir kali terjadi sebelum semuanya menjadi gelap. Anak panah. Ya, anak panah itu menembus lengannya. Rasa perihnya masih seolah membekas dalam ingatan.

Namun, di antara keetidaksadarannya, ia merasa sempat bermimpi. Dalam samar kesadaran, ia melihat seorang wanita duduk di sampingnya. Wanita itu membalut lukanya dengan cekatan dan penuh kehati-hatian.

Wajah wanita itu tertutup cadar, hanya menyisakan sepasang mata yang begitu indah dan menenangkan. Meski tak dapat melihat seluruh wajahnya, Cakra tahu, entah bagaimana caranya, bahwa wanita itu sangat cantik. Ada kelembutan dalam setiap gerakannya, ada keteduhan dalam tatapannya.

"Mimpi yang aneh…" gumam Cakra.

Perlahan, Cakra menoleh ke arah lengannya yang terluka, berniat memastikan kondisinya. Namun, seketika napasnya tertahan. Anak panah yang sebelumnya menancap di sana telah hilang tanpa jejak. Bukan hanya itu, lukanya kini telah terbalut rapi dengan kain bersih yang terikat kuat namun nyaman.

Ia tertegun.

Jadi… apa yang ia alami bukan mimpi?

Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari kenyataan tersebut. Seseorang benar-benar telah menolongnya. Seseorang telah mencabut anak panah itu, membersihkan lukanya, dan membalutnya dengan penuh perhatian. Ia bahkan tak sempat membuka mata untuk mengucapkan terima kasih.

"Ck! Aku kira, aku akan mati. Ternyata Tuhan mengirim malaikat penolong untukku," ucapnya sembari terkekeh pelan.

Cakra menunduk, menatap balutan di lengannya dengan perasaan campur aduk antara lega, heran, sekaligus penasaran. Siapakah wanita bercadar itu? Mengapa ia menolongnya? Dan ke mana wanita itu pergi setelah memastikan dirinya selamat?

Ia menghela napas panjang. Di tengah sunyinya malam, hanya suara dedaunan yang berdesir menemani kegundahannya. Ada rasa sesal yang mengusik hatinya. Ia tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada sang malaikat penolong yang telah menyelamatkan nyawanya.

"Semoga kita bisa bertemu di lain waktu dan mengucapkan terima kasih padamu," ucap Cakra penuh tekad. Ia akan berusaha mencari wanita itu, meskipun jejak yang ditinggalkan hanya berupa selendang merah yang membalut lengannya.

***

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Cakra akhirnya tiba di perbatasan wilayah utara Kerajaan Mandala. Kabut tipis masih menyelimuti hamparan tanah luas yang dijaga ketat oleh ratusan prajurit. Tombak-tombak berkilau diterpa cahaya pagi, dan bendera kerajaan berkibar gagah di atas menara kayu pengawas.

Wilayah itu adalah benteng terakhir sebelum tanah Mandala bersentuhan dengan ambisi kerajaan lain yang terus mengincar kekuasaan.

Langkah Cakra berat dan sedikit terseok. Meski ia berusaha berdiri tegap seperti biasa, wajahnya yang pucat dan balutan di lengannya tak dapat disembunyikan.

Batara, ajudannya yang setia, sedang memberi instruksi kepada beberapa prajurit ketika pandangannya menangkap sosok yang dikenalnya itu. Ia terdiam sejenak, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari menghampiri.

"Pangeran Cakra, apa yang terjadi dengan Anda?" tanya Batara panik, matanya menyorotkan kecemasan yang tak tersamar.

Ia segera menopang tubuh Cakra dan membantunya berjalan menuju pondok peristirahatan yang berada tak jauh dari gerbang utama perbatasan. Para prajurit yang melihat kedatangan panglima mereka dengan kondisi terluka hanya bisa saling pandang, menahan tanya yang tak terucap.

"Aku diserang di perjalanan saat hendak ke wilayah selatan," jawab Cakra pelan namun tegas. "Mereka ada puluhan orang."

Batara mengernyit tajam. "Puluhan orang? Siapa mereka?"

Cakra menggeleng lemah. "Mereka bergerak cepat dan terlatih. Tidak mengenakan lambang apa pun. Tapi serangan mereka terorganisir. Awalnya, aku berhasil menumbangkan tiga orang yang tiba-tiba menyerangku. Tapi puluhan anak panah menyerangku dari segala sisi."

Batara mengepalkan tangannya. "Mengapa tidak menunggu hamba kembali, Pangeran? Hamba hanya pergi meninjau pasukan yang berjaga. Jika hamba bersama Pangeran…"

"Aku buru-buru," potong Cakra, menarik napas dalam. "Aku takut terjebak malam di hutan. Lagipula, aku sudah biasa bepergian sendirian dan tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi entah kenapa, kali ini aku mengalami kesialan." Ada nada kesal dalam suaranya, lebih kepada dirinya sendiri daripada keadaan.

Batara menghela napas panjang, mencoba meredam kegelisahan di dadanya. Ia mengenal betul sifat Cakra yang tangguh dan terbiasa mengandalkan diri sendiri. Namun situasi kini telah berbeda.

"Pangeran harus lebih berhati-hati," ucapnya lebih pelan, namun sarat makna. "Sejak Paduka Kaisar menunjuk Anda sebagai panglima perang, Pangeran Mahkota tampak tidak senang. Banyak mata yang mengawasi. Musuh Pangeran bukan hanya dari luar kerajaan… tapi juga dari dalam."

Suasana di dalam pondok mendadak terasa lebih sunyi. Hanya suara api kecil di tungku yang berderak pelan.

Cakra menatap lantai kayu di hadapannya. Ia sudah menduga hal itu. Penunjukannya sebagai panglima perang memang mengejutkan banyak pihak. Terutama mereka yang merasa terancam dengan keberadaannya.

"Ya, aku mengerti," jawabnya akhirnya sambil mengangguk pelan.

Cakra mengangkat wajahnya, sorot matanya kembali tajam meski tubuhnya masih lemah.

"Perketat penjagaan di seluruh perbatasan," perintahnya mantap. "Dan kirim mata-mata untuk menyelidiki siapa dalang di balik penyerangan itu. Jika benar ada pengkhianat di dalam istana… aku ingin mengetahuinya sebelum mereka bergerak lagi."

Batara menunduk hormat. "Baik, Pangeran."

Di luar pondok, terompet pergantian jaga mulai ditiup. Hari baru telah dimulai di perbatasan utara. Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas, ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat, sementara Batara menyiapkan makanan dan obat untuknya.

Bersambung

Lanjut membaca
Lanjut membaca