

Kesadaran ke kepala Liam seperti hantaman gada. Rasa pening yang hebat membuat dunianya berputar.
Hal terakhir yang ia ingat adalah teriakan Aruna dan cahaya merah yang seolah membakar jiwanya. Namun, saat dia coba menghirup udara, bukan bau tanah basah Gunung Lawu yang dia rasakan, melainkan aroma tajam dari pembakaran kayu sisa peperangan dan wangi kemenyan yang pekat.
Liam membuka matanya perlahan. Langit di atasnya masih sama, mendung dan kelabu, namun pepohonan di sekelilingnya kini jauh lebih raksasa, dengan sulur-sulur yang tampak lebih liar.
"Aruna?" suaranya parau, nyaris hilang.
Bukan jawaban lembut Aruna yang dia dapatkan, melainkan suara gesekan logam yang tajam. Kebisingan itu seakan menggugah Liam untuk membuka mata.
Sring!
Liam tersentak dan mencoba bangkit, namun rasa nyeri di punggungnya memaksanya kembali terduduk. Saat itulah dia menyadari bahwa dia tidak lagi sendirian. Sekelompok pria dengan dada bidang yang hanya terbalut kain jarik dan zirah kulit sederhana telah mengepungnya. Wajah mereka kasar, coretan arang menghiasi pipi, dan yang paling mengerikan, puluhan mata tombak serta keris panjang kini mengarah tepat ke lehernya.
"Sopo kowe? Ngomong!" (Siapa kamu? Bicara!) bentak salah seorang pria yang tampak seperti pemimpin mereka. Rambutnya digelung tinggi dengan ikat kepala motif kuno.
Liam tertegun. Dia mengerti bahasanya, bahasa Jawa kuno yang kasar, namun otak CEO-nya masih berusaha memproses apa yang dia lihat. Pakaian mereka bukan pakaian pendaki. Senjata mereka bukan properti film. Kilatan di mata tombak itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.
"Nama saya ... Liam," jawabnya terbata-bata, tangannya terangkat ke udara sebagai tanda menyerah.
"Saya tidak tahu bagaimana saya bisa sampai di sini. Saya hanya sedang mendaki."
Para prajurit itu saling pandang dengan raut bingung sekaligus waspada. Mereka menatap jaket waterproof berwarna biru cerah milik Liam dan jam tangan tangguh yang melingkar di pergelangan tangannya seperti menatap benda sihir.
"Liam? Jeneng sing aneh," sang pemimpin melangkah maju, ujung kerisnya kini menempel tepat di bawah dagu Liam.
"Deloken sandhangane. Iki dudu wong kene. Opo kowe telik sandi soko kerajaan wetan?" (Lihat pakaiannya. Ini bukan orang sini. Apa kamu mata-mata dari kerajaan timur?)
"Bukan! Aku bukan mata-mata!" seru Liam panik.
"Aku dari Jakarta! Tolong, di mana ini? Di mana Aruna?"
Tepat saat sang prajurit hendak menarik Liam untuk berdiri secara paksa, sinar matahari menerobos celah awan dan mengenai liontin merah yang masih menggantung di leher Liam. Batu itu mendadak berpendar merah redup.
Seketika, seluruh prajurit itu tersentak mundur. Beberapa dari mereka jatuh bertumpu pada lutut, wajah mereka yang tadinya penuh amarah kini berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan yang dalam.
"Batu itu ..." bisik sang pemimpin, suaranya bergetar hebat. Keris di tangannya hampir terlepas.
"Suryakencana ... Batara Karang?"
Dia menatap wajah Liam dengan lebih teliti, menyisir setiap helai rambut dan struktur wajah tegas sang CEO. Perlahan dia menyarungkan kerisnya dan bersujud di hadapan Liam.
"Gusti Pangeran Bhadra?" tanya pria itu dengan nada yang sangat rendah, seolah tidak percaya pada apa yang ia lihat.
"Njenengan ... Njenengan sampun kondur?" (Anda ... Anda sudah kembali?)
Liam terpaku. Dia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang kini tampak lebih kasar, lalu menatap liontin merah itu. Di dunia yang dia tinggalkan, dia adalah pewaris harta. Di dunia ini, sepertinya dia adalah pewaris sesuatu yang jauh lebih berbahaya, sebuah takhta yang berlumur darah.
***
Keadaan berubah dalam sekejap mata. Hutan yang tadinya penuh ancaman kini berubah menjadi panggung penghormatan yang ganjil. Para prajurit yang tadinya siap menghujamkan tombak, kini bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam ke tanah.
Liam mencoba berdiri, namun kakinya goyah. Saat itulah dia merasakan perih yang luar biasa di sisi perut dan bahunya. Dia melirik ke bawah, dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Jaket waterproof mahalnya telah robek besar, dan di baliknya, sebuah luka sayatan panjang melintang di perutnya, darah segar merembes keluar, membasahi kain sintetis itu.
"Bagaimana mungkin?" bisik Liam tak percaya. Apa yang dia lihat sekarang sangat berbeda, dia terbawa ke sini tanpa diminta, dan tak tau di mana dia sekarang.
Hanya beberapa menit lalu di Gunung Lawu, tubuhnya baik-baik saja. Namun sekarang, dia membawa luka lama yang terasa baru saja didapat dari sebuah pertempuran hebat. Seolah-olah saat dia melintasi waktu, tubuhnya dipaksa "menyesuaikan diri" dengan keadaan terakhir Pangeran Bhadra sebelum dia menghilang.
"Gusti! Njenengan terluka!" Sang pemimpin prajurit, yang kemudian diketahui bernama Wira, dengan sigap menangkap tubuh Liam sebelum dia jatuh ke tanah.
"Siapkan tandu! Cepat!" teriak Wira kepada anak buahnya. Kekhawatiran tergambar jelas dari raut wajahnya, rasa terkejut itu juga tak luput dari ekspresinya menatap Liam yang masih bingung dengan kondisinya sekarang.
"Pangeran Bhadra telah kembali! Sang Surya Kencana telah pulang membawa luka pengabdian!"
Tanpa sempat memprotes atau menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang CEO dari abad ke-21, tubuh Liam diangkat ke atas tandu kayu yang dilapisi kain beludru kumal. Di sepanjang jalan keluar hutan menuju gerbang kadipaten, berita itu menyebar seperti api yang ditiup angin kencang.
"Pangeran Bhadra kembali! Pangeran Bhadra hidup!"
Suara sorak-sorai penduduk desa mulai terdengar. Orang-orang berlarian keluar dari rumah panggung mereka, bersujud di pinggir jalan setapak saat tandu Liam lewat. Liam menatap mereka dengan tatapan kosong. Dia melihat wajah-wajah penuh harap, orang-orang tua yang menangis haru, dan anak-anak yang menatapnya dengan kekaguman.
Liam mencoba memanggil Aruna dalam hati, namun rasa sakit dari luka di perutnya semakin menyiksa. Darah yang mengalir dari tubuh mengenai liontin merah di lehernya, dan setiap kali darah itu menyentuh batu tersebut, liontin itu berdenyut panas, seolah-olah sedang menyedot daya hidupnya untuk menjaga kesadarannya tetap ada.
"Kita hampir sampai di keraton, Gusti. Tabib istana sudah menunggu," bisik Wira di samping tandunya, matanya berkaca-kaca melihat kondisi Liam yang terluka parah.
"Sepuluh tahun kami menunggu kabar ini. Kami pikir pengkhianat itu benar-benar telah menghabisi Njenengan di Puncak Lawu."
Sepuluh tahun? batin Liam di tengah kesadarannya yang mulai memudar. Di dunianya, dia hanya menghilang dalam hitungan detik. Di sini, dia adalah legenda yang hilang selama satu dekade.
Saat tandu memasuki gerbang besar keraton yang terbuat dari batu andesit yang megah, Liam melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian kebesaran berlari turun dari tangga istana. Wanita itu menjerit memanggil nama "Bhadra" sebelum akhirnya Liam kehilangan kesadaran sepenuhnya, terlelap dalam kegelapan yang penuh dengan aroma melati dan darah masa lalu.