
- Jumlah kata
- 825
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Khayara Milza Jagatara memilih seni ketika ayahnya, seorang dokter bedah ternama, menuntutnya menjadi penerus rumah sakit keluarga. Sejak kepergian sang Bunda, rumah tak lagi terasa hangat, dan Milza tumbuh dengan luka yang tak terlihat. Di tengah tekanan keluarga dan dinginnya sikap sang ayah, Milza tak sengaja bertemu Yasmin Janice Mahesa, mahasiswi kedokteran yang hangat dan penuh cahaya. Pertemuan sederhana itu perlahan menjahit celah-celah di hati Milza—namun juga membuka konflik baru. Perbedaan dunia, melawan norma, serta bayang-bayang ambisi keluarga yang menolak mereka bersama. Di antara kanvas dan ruang operasi, keduanya belajar bahwa cinta bukan hanya tentang bertahan—tetapi tentang berani memilih, meski harus melawan luka yang paling dalam.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pagi Yang Terlalu Hening
Jam menunjukkan pukul 06.15 pagi ketika suara langkah sepatu kulit terdengar menuruni tangga.
Wisnu Jagatara tidak pernah terlambat. Jasnya rapi, rambutnya tersisir presisi, ekspresinya setajam pisau bedah yang biasa ia genggam di ruang operasi.
Di meja makan panjang, Dion sudah duduk lebih dulu. Khaizan Dion Jagatara adalah kebanggaan keluarga. Dokter termuda di rumah sakit Jagatara. Tenang, disiplin, dan hampir selalu menurut.
“Pagi, Pa,” ucap Dion.
Wisnu mengangguk singkat. “Jadwal operasi hari ini?”
“Dua bypass, satu tumor lambung. Saya pegang yang tumor.”
“Bagus.”
Percakapan mereka seperti laporan kerja, bukan antara ayah dan anak.
Beberapa menit kemudian, langkah ringan terdengar dari tangga. Khayara Milza Jagatara turun dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja putih longgar dan rok hitam sederhana. Tas kanvas besar menggantung di bahunya. Ia duduk tanpa suara. Wisnu menatap tas itu. Lama.
“Apa itu?”
“Perlengkapan studio.”
Dion berhenti mengunyah.
Wisnu meletakkan cangkirnya perlahan.
“Saya sudah mendaftarkan kamu ke fakultas kedokteran.”
Milza tidak langsung menjawab.
“Aku sudah resmi masuk seni, Pa.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
Wisnu menatapnya seolah ia baru saja mengumumkan akan pindah planet.
“Saya tidak mengizinkan.”
Milza mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, Dion merasa udara di ruangan itu menipis.
“Papa tidak pernah menanyakan apa yang aku mau,” kata Milza pelan.
“Saya tidak perlu bertanya untuk tahu mana yang benar.”
“Seni bukan kesalahan.”
“Seni bukan masa depan.”
Milza tersenyum tipis, getir.
“Mama hidup dari seni.”
Nama itu jatuh seperti gelas pecah.
Wajah Wisnu mengeras.
“Jangan gunakan mamamu sebagai pembenaran.”
“Kenapa? Karena setiap kali aku melukis, Papa merasa kehilangan lagi?”
Dion berdiri. “Aya, cukup.”
Namun kalimat itu sudah terlanjur menembus.
Wisnu berdiri dari kursinya.
“Selama kamu tinggal di rumah ini, kamu ikut aturan saya.”
Milza ikut berdiri. Bahunya tegak meski jari-jarinya sedikit gemetar.
“Kalau begitu… mungkin rumah ini memang bukan tempatku.”
Ia berjalan pergi. Tidak ada yang memanggil namanya. Tidak ada yang menahannya.
Yang terdengar hanya jam dinding dan napas yang tertahan.
---
Berbeda dengan rumahnya, kampus terasa hidup.
Fakultas seni selalu dipenuhi suara tawa, diskusi, musik dari speaker kecil, dan bau cat minyak yang khas. Milza berjalan di antara mahasiswa lain dengan ekspresi yang sulit ditebak. Banyak yang memperhatikannya—karena kecantikannya yang tidak mencolok tapi elegan, dan karena auranya yang… Dingin.
“Eh, itu anak dokter Jagatara, kan?”
“Iya, katanya malah masuk seni.”
“Berani banget.”
Milza tidak peduli. Ia sudah terlalu sering menjadi bahan bisik-bisik untuk merasa terganggu. Namun di bawah pohon besar dekat taman fakultas, tiga orang melambaikan tangan padanya.
“MILZAAA!” teriak Nixie terlalu keras.
Milza menutup mata sebentar sebelum mendekat.
Nixie langsung menarik tangannya. “Kenapa muka lo kayak orang baru kalah debat negara?”
Ruby menyipitkan mata. “Pasti ribut lagi sama papanya.”
Yael menepuk tempat duduk di sampingnya. “Duduk dulu.”
Milza duduk, menghela napas pelan.
“Papa mau aku pindah jurusan.”
Nixie ternganga. “LAGI?”
“Dia konsisten,” jawab Milza datar.
Ruby dramatis memegang dada. “Gue nggak ngerti kenapa orang tua selalu merasa jurusan anak itu milik mereka.”
“Karena mereka bayar,” sahut Yael santai.
Milza menatap Yael.
“Ya maksud gue—secara logika, itu alasan mereka,” lanjut Yael cepat.
Nixie menggeleng. “Kalau papi gue kayak gitu, gue kabur.”
“Lo kabur cuma kalau wifi mati,” balas Ruby.
“Gue butuh koneksi untuk hidup!”
Untuk pertama kalinya hari itu, Milza tertawa kecil.
Dan tawa itu terasa seperti retakan kecil pada dinding yang ia bangun.
Milza dan sahabatnya masuk ke studio lukis. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, memantul di lantai kayu. Ia berdiri di depan kanvas kosong. Tangannya meraih cat biru tua.
Setiap goresan terasa seperti percakapan yang tak pernah selesai. Ia melukis siluet perempuan berdiri di antara dua dunia—satu terang, satu gelap.
“Bunda…” bisiknya.
Ia ingat bagaimana dulu ibunya tertawa saat Milza pertama kali mencoret dinding rumah dengan krayon.
“Kalau mau corat-coret, pakai kanvas,” kata ibunya sambil tertawa.
Sekarang, kanvas menjadi satu-satunya tempat ia merasa dipahami. Air mata jatuh tanpa ia sadari.
---
Saat Milza pulang, rumah kembali sunyi. Dion menunggunya di ruang tamu.
“Papa masih marah.”
“Papa selalu marah.”
Dion mendesah. “Kamu nggak bisa sedikit mengalah?”
Milza menatap kakaknya.
“Kakak mengalah, dan lihat kakak sekarang.”
Dion terdiam.
Ia memang dokter hebat. Ia juga anak yang patuh.
Tapi kadang, saat melihat Milza berdiri tegak melawan, ada bagian kecil dalam dirinya yang iri.
“Bagaiman kalau suatu hari Papa benar-benar berhenti membiayai kamu?” tanya Dion pelan.
“Aku kerja.”
“Kerja apa?”
“Apa saja.”
Dion tersenyum tipis. “Kamu keras kepala.”
“Keturunan Papa.”
Suara langkah berat terdengar dari lantai dua.
Wisnu turun, berdiri beberapa meter dari mereka.
“Besok pagi ikut saya ke rumah sakit.”
Milza menoleh.
“Saya ingin kamu melihat dunia nyata.”
“Aku sudah hidup di dunia nyata, Pa.”
Tatapan mereka kembali beradu. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata lembut. Hanya dua orang yang sama-sama keras kepala, sama-sama terluka, dan sama-sama tidak tahu bagaimana caranya berbicara tanpa menyakiti. Milza akhirnya naik ke kamar. Pintu tertutup pelan, Ia bersandar di baliknya. Dan untuk pertama kalinya hari itu—ia menangis tanpa suara.
Di luar kamar, Dion berdiri lama.
Di bawah, Wisnu menatap lukisan istrinya.
Dan rumah itu, sekali lagi, tenggelam dalam sunyi yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








