Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kurir Paket

Kurir Paket

asther | Bersambung
Jumlah kata
164.7K
Popular
2.7K
Subscribe
418
Novel / Kurir Paket
Kurir Paket

Kurir Paket

asther| Bersambung
Jumlah Kata
164.7K
Popular
2.7K
Subscribe
418
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremPria Miskin21+
Rio, anak tunggal yang banyak menikmati getirnya dunia, perlahan bangkit dan mengenal berbagai tipe perempuan. Kedekatannya dengan Tante Sorga, membuka pintu ia mengenal lebih jauh seluk beluk dunia sosialita. Disana, ia mengenal banyak perempuan ; Zaza, Febri hingga Vio. Dari perempuan-perempuan itu, ia mendapatkan banyak uang dengan catatan, bisa memuaskan mereka di ranjang. Kurir hanya topeng. Dari satu paket ke paket yang lain. Dari satu hati ke hati yang lain.
Petualangan Awal

Namaku Rio. Aku terlahir di sebuah desa yang sangat jauh dari kemajuan. Sehari-hari, aku membantu ibu di pasar. Oh ya, aku adalah anak tunggal. Aku hanya tinggal bersama ibu di rumah bekas peninggalan bapak. Sudah 2 tahun, bapak tutup usia.

Sejak itu, aku rutin membantu ibu. Sekolah ku hanya sampai kelas 1 SMA. Tak ada biaya untuk meneruskan sekolah. Meski ibu memaksaku untuk terus bersekolah, tetapi aku lebih bersikeras untuk bisa membantu ibu berjualan. Soal pendidikan, aku bisa melanjutkan ke Paket C. Atau aku bisa membaca koran-koran bekas yang diantar salah satu pengepul ke lapak pasar setiap minggu.

Dari sanalah informasi aku terima. Dari sana juga, yang membuat aku bisa nyambung berbicara dengan siapa saja. Termasuk kepada Tante Sorga. Hampir setiap hari, Tante Sorga berbelanja di lapak ibu. Umumnya, berbelanja bumbu-bumbu seperti cabai, bawang merah dan putih, lengkuas dan lainnya.

"Yo, bisa gak nanti kalau Tante belanja kamu antar. Nanti Tante WhatsApp atau telepon kamu saja apa-apa yang mesti di beli," kata Tante Sorga suatu ketika.

Mendapat pertanyaan tersebut, aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Maklum, aku tidak punya handphone. Untuk bisa membeli makan sehari-hari saja, sudah bersyukur luar biasa. Eh...ini mau membeli handphone beserta paket internet setiap bulan. "Maaf Tante, aku gak punya hp," jawab Rio polos.

Mendengar itu, Tante Sorga hanya tersenyum. Dia berkata lirih. "Ya sudah, kapan-kapan datang ke rumah biar nanti saya kasih kamu hp," jawab Tante Sorga.

Ajakan tersebut, hanya aku tanggapi dengan senyum dan anggukan. Aku menganggap, itu hanya lah basa-basi semata. Namun, seminggu setelah tawaran tersebut. Saat Tante Sorga kembali berbelanja. Ia malah bertanya. "Kapan kamu ke rumah Yo?"

"Eh...kapan ya?" Jawab Rio kebingungan.

"Ayo sekalian ini ikut saya, nanti pulangnya saya antar," jawab Tante Sorga.

Mendengar itu, aku hanya memandang ibu. Secara tidak langsung ibu mengetahui dan berkata, pergilah. Akhirnya, aku ikut ke rumah Tante Sorga sembari membawa belanjaan. Pagi itu, Tante Sorga membeli keperluan cukup banyak. Mulai dari bawah merah, putih, cabai, lengkuas hingga ikan dan ayam.

Teringat saat aku bertanya mengapa Tante Sorga setiap belanja selalu banyak, saat itu ia menjawab bahwa dia suka masak. Dan yang dibeli di pasar, adalah stok selama satu Minggu. Aku akhirnya berada di dalam mobil bersama Tante Sorga. Aku duduk disamping Mang Sani, sopir Tante Sorga yang sudah sepuh.

Setibanya di rumahnya, Rio langsung terpaku di tempat. Matanya membesar, seolah sulit mempercayai apa yang sedang dia lihat. Bagaimana tidak, bangunan di hadapannya lebih menyerupai sebuah istana modern. Rumah megah itu berdiri kokoh dengan dua lantai, dipagari keliling yang tampak kokoh namun tetap elegan. Setiap detailnya memancarkan kesan mewah dan terawat.

Di bagian depan, sebuah pos satpam berdiri rapi. Begitu kendaraan mereka memasuki gerbang, petugas di sana segera sigap memberi isyarat dan arahan dengan gerakan yang terlatih, memastikan semuanya berjalan tertib.

Rio masih belum bisa mengalihkan pandangannya—seakan baru pertama kali dia menyadari bahwa dunia seperti ini benar-benar ada. "Ayo turun Yo," ajak Tante Sorga.

Rio yang terbiasa hidup sederhana sontak merasa kecil di tempat itu. Rasa minder perlahan menjalar, membuat langkahnya ragu. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti dan tidak melangkah lebih jauh ke dalam rumah megah tersebut. Namun, perubahan sikap itu tidak luput dari perhatian Tante Sorga. Dengan kepekaan yang halus, ia segera menangkap kegelisahan yang terpancar dari wajah Rio.

Tanpa banyak bicara, Tante Sorga langsung menggandeng lengan Rio. Sentuhan itu hangat, tegas, namun menenangkan—seolah memberi isyarat bahwa ia tidak perlu merasa asing di tempat itu.

'Waduhh...ini rezeki nomplok atau bagaimana,' batin Rio.

Saat memasuki rumah, Rio tak kalah terkesima. Dirinya melihat kursi sofa yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ditambah, televisi ukuran besar. Rio pun tampak makin canggung. Rio baru tersadar saat Bik Rosa menegurnya. "Tuan, kok bengong," sapa Bik Rosa.

"Yo kamu tunggu sebentar, ya," kata Tante Sorga berteriak.

"Bik tolong buatkan kopi untuk tamu saya ya," pinta Tante Sorga untuk Bik Rosa.

Bik Rosa, adalah asisten utama di rumah ini. Meski berstatus asisten rumah tangga, dia tak kalah cantik. Bodynya masih semok. Saat berjalan, mata Rio tak berkedip melihat naik turun pantat Bik Rosa.

Hal itu, diam-diam diperhatikan Tante Sorga. Dengan senyum khas, Tante Sorga berujar dalam hati. 'Sepertinya Rio memang doyan dengan perempuan,' ujarnya lirih.

Pandangan Rio terperangah saat mengetahui Tante Sorga sudah berganti pakaian. Dengan daster bunga-bunga kuning, Tante Sorga perlahan mendekati Rio.

"Yo...Yo," sapa Tante Sorga.

"Ehhh...Tante," bikin kaget saja.

"Ayo kita ngobrol di belakang," ajak Tante Sorga.

Rupanya Tante Sorga mengajak Rio ke teras belakang. Langkah mereka melewati koridor panjang yang dipenuhi aroma kayu jati yang lembap, seolah rumah itu menyimpan banyak cerita yang tak pernah benar-benar diceritakan pada siapa pun.

Begitu pintu kaca terbuka, udara luar langsung menyambut dengan hangat. Di sana terbentang kolam renang yang cukup luas, airnya jernih memantulkan cahaya matahari sore seperti kaca biru yang tenang namun dalam. Riak kecil sesekali muncul ketika angin menyentuh permukaannya, menciptakan pola yang perlahan menghilang lagi, seakan kolam itu bernapas pelan.

Di sekelilingnya, taman kecil tertata rapi. Bunga-bunga bermekaran dalam warna-warna yang tidak berlebihan, tetapi justru terasa elegan—merah muda yang lembut, putih bersih, dan ungu yang samar seperti senja. Setiap pot dan setiap jalur batu tampak dirawat dengan telaten, menunjukkan tangan pemilik rumah yang tidak sekadar menjaga, tetapi juga mencintai setiap detailnya.

Tante Sorga melangkah lebih dulu, dasternya bergerak pelan tertiup angin. Menunjukkan paha putihnya tanpa noda. "Di sini biasanya aku tenang," ucapnya singkat, suaranya nyaris tenggelam oleh gemericik air dari pancuran kecil di sudut kolam.

Rio menatap sekeliling, mencoba menangkap suasana yang terasa terlalu rapi untuk disebut sekadar halaman belakang. Ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa berbeda—bukan hanya indah, tetapi juga seperti menyimpan batas tak terlihat antara ketenangan dan kesunyian.

Dia menarik napas pelan. Di tempat itu, waktu seakan berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi pikiran untuk mendengar hal-hal yang biasanya diabaikan.

"Ini Tuan kopinya," sapa Bik Rosa.

"Panggil saja Rio bik," jawabnya sambil tersenyum.

Mendapat senyuman dari Rio, Bik Rosa ikut menimpali. Dia merasa, pria yang dibawa oleh Nyonya adalah anak yang baik dan penurut.

"Yo, kamu anak tunggal ya?" tanya Tante Sorga.

Rio akhirnya bercerita bagaimana sulitnya dia menjadi anak tunggal sekaligus menjadi pengganti sang ayah. Rio juga menceritakan pahit getirnya hingga dia harus memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan pendidikannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca