
Kehidupan Kedua Anak Pak Kades
Christ Mar|Bersambung
- Jumlah kata
- 83.9K
- Popular
- 160
- Subscribe
- 37
- Jumlah kata
- 83.9K
- Popular
- 160
- Subscribe
- 37
Sinopsis
Siapa sangka kehidupan Ethan berubah seratus depan puluh derajat usai mengalami kecelakaan tragis. Seharusnya dia menghadiri peresmian jalan tol tapi begitu bangun, namanya tercantum di kartu keluarga pak Kades. Apa yang sebenarnya terjadi pada Ethan dan bagaimana dia bisa survive sendirian melawan realita yang ada..
Ulasan
2 ulasan
Christ Mar
1/9/26 15:49
Terhitung mulai malam ini, nggak ada lagi hari tanpa update alias bolong. Kalau bolong sehari aja langsung spam komen ya. Best Regards Pak Kades
Dion Anugrah
31/7/26 19:22
mana sambungan nya lagi asik membaca nopelnya bersambungdantidak d ad p ad t mencari ny as kem ad na
Dulunya Bos
"Ardi, cek schedule untuk besok," ujar Ethan Kusuma Wardhana tanpa mengalihkan pandangan dari berkas proyek yang sedang ia tanda tangani. Tangannya bergerak cepat membubuhkan tanda tangan di beberapa dokumen, sementara secangkir kopi di sudut meja sudah mulai dingin karena sejak tadi tak sempat disentuh.
Ardi yang berdiri di samping meja segera membuka tablet di tangannya. Jemarinya menelusuri agenda yang telah tersusun rapi.
"Baik, Pak... untuk besok kita harus ke cabang NTT, Pak. Ada peresmian tol dengan kepala daerah," lapornya sopan.
Ethan mengangkat kepala, lalu melepas kacamatanya sebentar. "Besok banget nih?" tanyanya sambil mengusap pelipis.
"Iya, Pak. Kepala daerah sendiri yang mengundang Anda," jawab Ardi mantap.
Ethan menghembuskan napas panjang. Jadwalnya memang padat beberapa minggu terakhir. Hampir setiap hari ia berpindah kota untuk meninjau proyek, menghadiri rapat, hingga bertemu investor.
"Waduh, nggak enak kalau nggak datang. Yaudah, kamu atur ya," katanya akhirnya.
"Baik, Pak," sahut Ardi sembari mencatat perubahan agenda.
Siapa yang tidak mengenal Ethan Kusuma Wardhana? Di usianya yang belum genap tiga puluh lima tahun, namanya sudah menjadi langganan pemberitaan media bisnis. Ia dikenal sebagai pebisnis muda yang berhasil membangun kerajaan perusahaan properti dan konstruksi berbahan kayu jati, dengan puluhan cabang yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Berbagai proyek strategis pemerintah juga pernah ia tangani, membuat reputasinya terus melambung dari tahun ke tahun.
Mobil hitam yang mereka tumpangi melaju meninggalkan kawasan perkantoran. Ardi yang duduk di balik kemudi sesekali melirik kaca spion sebelum kembali membuka percakapan.
"Bapak ini hebat," ucapnya tulus.
Ethan menoleh sambil tersenyum tipis. "Lho, kok bisa kamu bilang gitu?"
"Siapa sangka anak tunggal konglomerat Pak Wardhana Santoso ini mampu berdiri sendiri tanpa campur tangan dari opportunity keluarga. Absolutely, Pak. Semua media membicarakan Bapak," jelas Ardi penuh kagum.
Ethan terkekeh pelan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Ah, kamu bisa aja."
"Saya kagum sekali dengan Bapak," lanjut Ardi.
Ethan menatap asisten sekaligus sopir pribadinya itu beberapa saat sebelum tersenyum lebih lebar.
"Saya juga nggak kalah kagum sama kamu."
Ardi terlihat bingung. "Maaf, maksud Bapak apa?"
"Kamu juga hebat. Kamu seharian jadi asisten sekaligus sopir saya. Lain kali kamu jadi pilot saya deh biar saya lebih kagum lagi sama kamu," canda Ethan hingga membuat suasana di dalam mobil mencair.
Ardi ikut tertawa kecil.
"Duh, Bapak bisa saja."
Ethan kembali membuka tabletnya, memeriksa beberapa jadwal yang masih tersisa hari itu.
"Oh iya, pertemuan dengan Dirut APEL kemarin di-reschedule aja. Saya mau fokus ke peresmian tol besok. Pokoknya kamu atur ya."
"Baik, Pak," jawab Ardi sambil mengangguk.
Tak ada yang menyangka, kalimat "Pokoknya kamu atur ya." menjadi kalimat terakhir yang keluar dari mulut Ethan Kusuma Wardhana.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan normal menuju kediaman Ethan. Langit mulai berwarna jingga, sementara antrean kendaraan memenuhi setiap ruas jalan utama kota. Dari kejauhan, lampu lalu lintas berubah merah. Ardi menginjak pedal rem perlahan hingga mobil berhenti dengan rapi di barisan paling depan.
Di saat yang sama, dari arah berlawanan, sebuah truk tronton bermuatan penuh kehilangan kendali. Remnya blong saat menuruni jalan. Sopirnya membunyikan klakson berkali-kali sambil mati-matian memutar setir untuk menghindari kendaraan di depannya.
"Breeemmm...! Tiiinn...! Tiiinn...!"
Suara gesekan ban memenuhi jalan. Kendaraan-kendaraan di depan berusaha menepi, tetapi semuanya terjadi terlalu cepat.
"Awas, Pak!" teriak Ardi spontan.
Ethan refleks mengangkat kepala.
Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, truk tronton itu menghantam deretan mobil yang sedang berhenti. Benturan demi benturan terdengar memekakkan telinga hingga akhirnya kendaraan mewah milik Ethan ikut terseret di bawah roda raksasa truk tersebut.
Brraaaakkk...!!
Suara logam yang diremukkan memenuhi udara. Kaca-kaca mobil pecah berhamburan. Body mobil ringsek seketika, tergilas tanpa ampun hingga nyaris tak berbentuk lagi.
Orang-orang di sekitar berteriak panik. Beberapa berlari mendekat, sementara yang lain segera menghubungi ambulans dan polisi.
Namun semua orang yang melihat hanya bisa terdiam.
Mobil mewah itu telah berubah menjadi tumpukan besi. Hampir tak ada ruang yang tersisa bagi siapa pun untuk bertahan hidup di dalamnya. Tidak terlihat lagi tanda-tanda kehidupan, baik dari Ethan maupun Ardi.
Tak seorang pun tahu bahwa kecelakaan tragis itu bukanlah akhir dari perjalanan Ethan Kusuma Wardhana. Justru, di sanalah kehidupan keduanya baru saja dimulai.
"Di mana Ethan... Ethan! Anakku!"
Suara tangisan memecah lorong Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika. Seorang wanita paruh baya berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya. Rambutnya berantakan, nafasnya tersengal, sementara air mata terus mengalir sejak turun dari mobil.
Pak Wardhana Santoso mengikuti dari belakang. Langkahnya lebih lambat karena usia, dibantu tongkat kayu yang selalu menemaninya. Meski wajahnya berusaha tetap tegar, sorot matanya menyimpan kepanikan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Pah... Ethan mana?" teriak Bu Wardhani sambil mengguncang lengan suaminya.
Pak Wardhana hanya mengangkat tangan, memberi isyarat agar seluruh anggota keluarga tetap tenang. Dalam hati ia terus berdoa agar kabar yang diterimanya hanyalah kesalahan informasi.
Seorang dokter bersama beberapa perawat akhirnya menghampiri.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Pak Wardhana dengan suara berat.
Dokter itu menundukkan kepala sesaat.
"Bapak, kami..."
"Saya berani bayar berapapun asal anak saya baik-baik saja!" potong Pak Wardhana. Nada bicaranya mulai meninggi. "Katakan! Kalau perlu saya pindahkan dia ke luar negeri."
Dokter menghela napas pelan. Wajahnya dipenuhi rasa tidak enak.
"Mohon maaf, Pak... tetapi jasad putra Bapak mengalami kerusakan yang sangat parah. Kami kesulitan mengenalinya secara fisik. Karena itu kami melakukan pemeriksaan DNA..."
"Cukup!" bentak Pak Wardhana.
Lorong rumah sakit mendadak sunyi.
Bu Wardhani menjerit histeris hingga tubuhnya limbung. Beberapa anggota keluarga buru-buru menopangnya agar tidak jatuh. Tangisan memenuhi ruangan itu. Mereka masih berharap Ethan hanya mengalami luka berat. Namun harapan itu runtuh dalam sekejap setelah mendengar hasil identifikasi.
Di tengah suasana duka, terdengar langkah kaki mendekat.
"Pak Wardhana..."
Semua kepala menoleh.
Seorang pria dengan wajah penuh luka lebam berdiri beberapa meter dari mereka. Kepalanya dibalut perban, lengan kirinya digips, dan langkahnya masih sempoyongan.
"KAMU!"
Suara Pak Wardhana menggema di sepanjang lorong.
Ardi langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. Kepalanya tertunduk dalam.
Ya, Ardi adalah satu-satunya korban yang berhasil selamat dari kecelakaan maut tersebut.
"Maafkan saya, Pak... saya..."
"Kenapa kamu bisa selamat!" bentak Pak Wardhana sambil mencengkeram kerah bajunya.
Tubuh Ardi gemetar hebat.
"S-saya... melompat lewat pintu saat Tuan Ethan menyuruh saya keluar. Beliau bilang jangan pikirkan beliau, selamatkan diri saya dulu..."
"BOHONG!"
Pak Wardhana mendorong tubuh Ardi hingga terjatuh.
"Seharusnya kamu yang mati! Bukan Ethan!"
Ardi hanya tertunduk. Air matanya menetes tanpa mampu ia tahan. Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk berkali-kali, padahal sejak kecelakaan terjadi ia sendiri terus menyalahkan dirinya.
"Pak... saya benar-benar minta maaf..."
"Tangkap dia!" teriak Pak Wardhana kepada para pengawal pribadinya. "Jangan biarkan dia muncul lagi di hadapan saya. Pergi!"
Dua pengawal segera menarik tubuh Ardi dari lantai. Ia tidak melawan sedikit pun. Kepalanya tetap tertunduk, sementara di dalam hatinya hanya ada satu penyesalan.
Andai saat itu ia yang tetap berada di dalam mobil, mungkin Tuan Ethan masih memiliki kesempatan untuk hidup.
*
"Tolee baguuusss, ganteng tenaaan. Tole Ethan! Bangun!"
Seorang ibu paruh baya masuk sambil membawa ember.
Ethan mengernyit. Kepalanya masih berdenyut.
Apa yang dia lihat sekarang jauh sekali dari ekspetasinya. Terakhir yang dia ingat tubuhnya diinjak roda truk tronton. Lho sekarang kok disini? Harusnya dia mati lho? Kok disini? Surga kah?
Ia buru-buru duduk. Kasur yang didudukinya keras. Bau pesing bercampur kayu lapuk memenuhi ruangan sempit itu.
"Ngapain bengong? Sana ke sawah. Bapakmu udah berangkat dari subuh." ujar wanita itu.
Ethan menatap perempuan itu lekat. Sejak kapan Ethan memanggil papanya dengan sebutan bapak. Dan siapa wanita itu? Yang pasti bukan mamanya. Jauh sekali dari wajah mama Wardhani yang soft dan awat muda. La ini kok tiba-tiba manggil dia Ethan?
"Dia... manggil aku Ethan?" ujarnya heran.
Daftar bab
71 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








