
- Jumlah kata
- 152.4K
- Popular
- 792
- Subscribe
- 234
Sinopsis
Setelah diabaikan dan dijauhi, Saka mendapatkan kekuatan kultivator yang membuatnya harus melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Ulasan
2 ulasan
Losakata
17/8/26 06:13
perpaduan kultivator dan sistem ini pasti seru ini konfliknya beragam nih, tapi jangan terlalu rumit Ka.
Adjay Limbeng
12/8/26 16:40
Wah.. Kultivasi.. Novel yang sangat bagus untuk pecinta kultivasi yang sering nonton dracin. wkwkw.. Semangat ya thor
Bab 1: Serat Gaib Lintang Kemukus
Matahari baru saja terbenam di balik Pegunungan Dieng, meninggalkan semburat merah darah di langit Jawa. Di pelataran belakang Padepokan Gajah Putih, Saka (19 tahun) masih terduduk lemas di atas tanah. Napasnya memburu, sementara dadanya terasa sesak akibat hantaman tenaga dalam dari salah satu murid senior saat latihan tanding tadi sore.
"Dasar pemuda ampas. Tiga tahun berguru, jangankan memiliki Ajian, mengumpulkan Hawa Murni di dalam Dantian saja kau tidak becus!" Kata-kata makian itu masih terngiang jelas di telinga Saka.
Di dunia Nusantara ini, kesaktian adalah segalanya. Mereka yang menguasai ilmu kanuragan dan serat-serat kesaktian kuno akan dihormati sebagai Satria atau Senopati. Sedangkan Saka? Dia hanyalah anak yatim piatu yang dipungut guru besar, bekerja memotong kayu dan membersihkan kandang kuda karena tidak memiliki "Tulang Kanuragan".
"Sialan! Kenapa garis takdirku semenyedihkan ini?" umpat Saka sambil memukul pohon jati di sampingnya hingga kulit tangannya lecet.
Tiba-tiba, saat darah dari lukanya menetes ke tanah, sebuah suara berdenting halus laksana tabuhan gending mistis bergema langsung di dalam batok kepalanya.
[Kleting! Sistem Serat Asmara Lintang Kemukus telah mendeteksi inang yang cocok!]
[Nama: Saka]
[Ranah Kanuragan: Rakyat Jelata (Tanpa Tenaga Dalam)]
[Gelar: Pria Ampas Padepokan]
[Sistem Berhasil Diaktifkan!]
Saka terlompat kaget, menoleh ke kanan dan ke kiri. "Siapa itu?! Setan penunggu pohon jati? Keluar kau!"
[Harap tenang, Tuan Rumah. Ini bukan lelembut. Saya adalah Sistem Serat Asmara. Di dunia ini, orang lain bertapa di gua angker atau memakan jimat untuk sakti. Anda berbeda. Anda hanya perlu mengumpulkan Poin Asmara melalui interaksi intim, godaan, atau membuat wanita dwi-tunggal (Yin) berdebar.]
[TUGAS PERTAMA: Kumpulkan 10 Poin Asmara dalam waktu 1 jam!]
[Cara: Buat seorang wanita di padepokan ini tersipu atau merona akibat tindakan atau ucapan godaanmu.]
[Hadiah: Pembukaan Meridian Instan & Ranah Kanuragan Tingkat 'Satria Pratama'.]
Peringatan: Jika gagal dalam batas waktu, pusaka kejantanan Tuan Rumah akan menyusut 3 jari!
"Menyusut tiga jari?!" Saka langsung memegangi bagian bawah perutnya dengan wajah pucat pasi. "Heh! Gila! Hukuman macam apa ini? Itu sama saja dengan mengebiri hakku sebagai laki-laki!"
Saka panik setengah mati. Waktu satu jam bukanlah waktu yang lama. Dia harus mencari wanita, sekarang juga!
Namun, mencari wanita di padepokan yang bersedia digoda oleh murid ampas seperti dirinya adalah hal yang mustahil. Jika salah melangkah, dia bisa digebuki massa atau dilaporkan ke Guru Besar karena tindakan asusila.
Saat Saka kebingungan di dekat dapur padepokan, terdengar suara gesekan kain jarik. Seorang wanita berjalan keluar dari arah dapur membawa nampan berisi ramuan obat.
Dia adalah Nyai Lina (23 tahun), janda muda kembang padepokan sekaligus instruktur jamu herbal untuk para murid. Lina memiliki paras yang manis dengan tahi lalat di dekat bibirnya, dan yang paling menonjol adalah tubuhnya yang matang—pinggulnya lebar dan dadanya membusung padat di balik balutan kemban kain lurik yang ketat.
Saka menelan ludah. Demi masa depan pusakaku, terpaksa aku harus berbuat nekat!
Saka sengaja mempercepat langkahnya dari tikungan dapur, berpura-pura sedang terburu-buru membawa seikat kayu bakar sisa.
Bruk!
Saka sengaja menabrakkan bahunya ke pundak Lina. Nampan obat yang dibawa Lina bergoyang, namun dengan sigap Saka langsung menangkap nampan tersebut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya secara "refleks" merangkul pinggang ramping Lina agar wanita itu tidak terjatuh.
"Ah!" Lina terpekik kaget. Tubuhnya yang empuk dan harum aroma melati itu langsung menempel rapat di dada Saka.
Saka dapat merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh Lina yang luar biasa. Harum kulitnya membuat darah muda Saka berdesir hebat.
"Saka?! Apa-apaan kau ini! Berani sekali kau kurang ajar pada Kakak Seperguruanmu!" bentak Lina dengan wajah yang langsung merona merah karena terkejut dan malu. Dia segera mendorong dada Saka agar menjauh.
[Kleting! Kontak fisik intim yang disengaja terdeteksi. Target merasakan getaran naluri wanita. Anda mendapatkan 5 Poin Asmara!]
Saka melihat notifikasi gaib itu dan hatinya bersorak. Berhasil! Tinggal 5 poin lagi!
Melihat Lina yang siap memaki lagi dengan berkacak pinggang, Saka langsung mengubah taktiknya. Dia mundur satu langkah, menjatuhkan lututnya ke tanah secara dramatis, lalu menatap lurus ke dalam mata Lina dengan tatapan yang sangat dalam dan sayu—seolah penuh penyesalan sekaligus kekaguman yang mendalam.
"Maafkan hamba yang tidak tahu diri ini, Nyai Lina..." suara Saka mendadak dibuat berat, serak, dan penuh karisma tersembunyi. "Hamba sungguh ceroboh. Namun, ketahuilah, mata hamba mendadak buram saat berjalan tadi. Bukan karena hamba sakit, melainkan karena silau melihat kecantikan Nyai yang laksana Dewi Ratih turun ke bumi. Bahkan rembulan malam ini pun pasti malu untuk menampakkan diri jika bersanding dengan keanggunanmu."
Lina yang sudah siap meledak marah, seketika terdiam seribu bahasa. Kata-kata rayuan yang begitu puitis dan berani, keluar dari mulut seorang Saka yang biasanya pendiam dan penakut?
Terlebih lagi, tatapan mata Saka saat ini terasa sangat tajam, seolah bisa menembus langsung ke relung hatinya. Selama menjanda di padepokan, para pria biasanya menatap Lina dengan pandangan mesum yang menjijikkan secara sembunyi-sembunyi. Belum pernah ada pemuda yang menatapnya setulus dan seberani ini di depan wajahnya.
Jantung Lina mendadak berdegup kencang seperti tabuhan kendang perang. Pipinya yang sawo matang langsat itu seketika berubah menjadi merah padam laksana udang rebus. "K-Kau... bicara lancang apa, bocah gemblung?!" gagap Lina, buru-buru memalingkan wajahnya yang terasa sangat panas.
[Kleting! Target mengalami guncangan asmara dan rasa malu yang hebat! Anda mendapatkan 10 Poin Asmara!]
[Tugas Pertama Selesai dengan Sempurna! Hadiah langsung dicairkan!]
BOOM!
Tepat setelah suara itu hilang, Saka merasakan gelombang hawa murni yang sangat dahsyat dan panas meledak dari dalam pusarnya (Dantian). Hawa itu mengalir deras bak air air terjun, menerobos dan menghancurkan semua sumbatan di seluruh jalur meridian tubuhnya yang selama ini kaku.
Rasa sakit yang bercampur kenikmatan luar biasa membuat Saka mengerang pelan. Tubuhnya mengeluarkan sedikit uap putih, dan kulitnya yang tadinya kusam perlahan menjadi lebih bersih dan bercahaya.
Ranah Rakyat Jelata... Tembus!
Ranah Cantrik Semenjana... Tembus!
Ranah Satria Pratama (Tingkat 1)!
Hanya dalam sekejap mata, Saka telah resmi memiliki Tenaga Dalam yang setara dengan murid inti padepokan yang telah berlatih selama sepuluh tahun! Aura tubuhnya kini memancarkan karisma jantan yang sangat kuat.
Lina yang berada di dekatnya bisa merasakan sapuan angin hangat yang keluar dari tubuh Saka. Dia terbelalak tidak percaya. "Saka... kau... kau memiliki hawa murni? Dan... aura apa ini?" Lina memegangi dadanya yang masih berdebar kencang, menatap Saka dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa penasaran yang mendalam.
Saka bangkit berdiri dengan perlahan. Tubuhnya terasa seringan kapas, dan kekuatannya berlipat ganda. Dia tersenyum nakal, sebuah senyuman yang membuat jantung Lina berdegup sekali lagi.
"Terima kasih atas 'bantuan' jamunya, Nyai Lina. Sepertinya tubuhku mendadak sehat kembali setelah dekat denganmu. Aku pamit dulu," bisik Saka sensual sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegap.
Lina masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Saka yang menjauh dengan perasaan campur aduk yang belum pernah dia rasakan sejak suaminya tiada. "Bocah itu... ada apa dengannya malam ini?"
Sementara itu, di dalam kamarnya, Saka mengepalkan tangan dengan tawa penuh kemenangan. "Sistem ini... benar-benar berkah dari langit! Dunia kanuragan Nusantara, bersiaplah menghadapi kesaktian asmaraku!"
Apakah kamu ingin melanjutkan ke Bab 2, di mana Saka mulai mengincar target berikutnya, yaitu sang putri guru besar padepokan yang terkenal sedingin es?
Daftar bab
126 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
126 bab








