
Sentuhan Maut Sang Tabib Bayangan
phioen|Bersambung
- Jumlah kata
- 61.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 36
- Jumlah kata
- 61.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 36

phioen|Bersambung
Di dimensi masa lalu, Kaelen Vance merupakan seorang Tabib Agung dan Master Alkimia legendaris yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyembuhkan segala penyakit sekaligus mematikan musuh hanya melalui sebilah jarum perak, namun ia harus menghadapi kematian tragis akibat pengkhianatan orang terdekatnya. Jiwanya kemudian mengalami reinkarnasi dan terbangun di dalam tubuh seorang pemuda di Kota Aethelgard, sebuah wilayah metropolitan modern yang gemerlap namun menyimpan sisi gelap berupa cengkeraman sindikat kriminal, eksperimen biologi terlarang, serta intrik korporasi yang kejam, di mana tubuh barunya ini sedang menanggung beban fitnah sebagai pelaku pembunuhan berencana. Di tengah upayanya bertahan hidup dan membersihkan namanya di distrik kumuh, takdir mempertemukannya dengan Lyra Vaneza, seorang pewaris korporasi medis besar yang datang secara rahasia dalam kondisi sekarat setelah tubuhnya disusupi oleh Parasit Pemakan Jiwa, sebuah senjata biologis mematikan yang sengaja dirancang oleh tunangannya sendiri untuk merampas kendali penuh atas perusahaan keluarga. Keterlibatan Kaelen dalam mengobati Lyra menariknya ke dalam lingkaran ancaman berlapis, mulai dari kejaran polisi korup, teror pembunuh bayaran, hingga perang dingin melawan faksi-faksi elit kota yang bersembunyi di balik hukum modern. Berbekal pengetahuan medis kuno serta teknik spiritual tingkat dewa yang perlahan bangkit kembali, Kaelen harus berpacu dengan waktu untuk menetralisir racun di tubuh Lyra, menguak konspirasi besar yang melibatkan masa lalunya, dan menghadapi musuh-musuh berbahaya tanpa mengungkap seluruh kekuatan aslinya secara gegabah. Kisah ini menyajikan perjalanan penuh ketegangan, strategi bertahan hidup, intrik bisnis yang mematikan, serta jalinan hubungan yang diuji di tengah bahaya konstan, di mana setiap langkah penyelamatan membawa mereka lebih dekat pada rahasia kelam yang mengancam seluruh tatanan Kota Aethelgard.
Aroma antiseptik murah beradu dengan bau anyir darah segar yang menguar di ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu. Di luar sana, langit Kota Aethelgard sedang murka. Sambaran petir membelah malam, menyisakan kilatan cahaya kebiruan yang menyorot jendela kaca berdebu, memperlihatkan butiran air hujan yang menghantam keras dinding beton Distrik Vane sebuah kawasan kumuh di mana hukum tidak lagi berlaku setelah matahari tenggelam.
Di atas ranjang besi berkarat dengan seprai kusam, seorang pemuda terbaring kaku. Napasnya nyaris tak terdengar. Dahinya berlumuran darah akibat hantaman benda tumpul yang ia terima beberapa jam lalu, sebelum para preman bayaran meninggalkannya begitu saja di lorong belakang klinik ilegal ini.
Namun, perlahan-lahan, kelopak mata pemuda itu bergerak.
Iris mata yang tadinya kosong dan menyiratkan keputusasaan kini berubah total. Tatapan itu begitu dalam, dingin, setajam bilah belati, dan memancarkan aura dominasi mutlak yang tidak selaras dengan usia mudanya. Di dalam tubuh yang ringkih dan babak belur itu, kini bersemayam jiwa seorang Tabib Agung dan Master Alkimia dari dimensi lain seorang legenda yang dijuluki penguasa hidup dan mati sebelum akhirnya tewas dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percayai.
Kaelen Vance nama yang kini melekat pada raga barunya menarik napas dalam-dalam. Sensasi nyeri langsung menghantam rongga dadanya, tetapi ia mengabaikannya. Ia melirik sekilas ke arah telapak tangannya sendiri yang kurus dan penuh luka lebam.
"Tubuh ini benar-benar telah di ambang kehancuran," gumam Kaelen dengan suara serak, nyaris berupa bisikan. "Bahkan untuk menampung sepersepuluh energi spiritualku saja, pembuluh darahnya terancam pecah."
Ingatan dari pemilik tubuh asli mulai berkelebat di kepalanya. Pemuda malang ini adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang hidup sebatang kara. Ia sengaja dijebak oleh atasannya di rumah sakit tempat ia magang dalam kasus malapraktik maut, difitnah sebagai pembunuh berencana, dipukuli hingga hampir tewas, dan dibuang ke distrik kumuh ini agar kematiannya terlihat seperti sisa-sisa perkelahian jalanan.
Sebuah konspirasi kotor yang dirancang rapi oleh orang-orang berdasi di pusat kota.
Brak!
Suara hantaman keras pada pintu kayu lapis klinik mengguncang ruangan. Papan nama klinik yang hampir copot berderit nyaring, disusul oleh suara tawa serak dan cemoohan kasar dari luar.
"Hei, sampah! Buka pintunya!" teriak suara seorang pria bertubuh gempal dari balik pintu. "Kami tahu kau belum mati! Cepat keluar dan serahkan sisa uang perlindunganmu, atau kami ratakan tempat jahanam ini dengan tanah!"
Kaelen tidak bergeming. Ia tahu betul siapa mereka. Preman bayaran tingkat rendahan yang diutus untuk memastikan pemuda ini benar-benar tidak bernyawa. Di dunia lama, sampah-sampah seperti itu bahkan tidak layak untuk sekadar berdiri di hadapannya.
Sebelum Kaelen sempat beranjak dari ranjang, tiba-tiba terdengar suara decitan ban mobil sport yang berhenti mendadak di depan lorong sempit, diikuti oleh keributan kecil dan erangan kesakitan.
Bugh!
Pintu kayu yang sudah rapuh itu akhirnya jebol bukan karena preman luar, melainkan karena sebuah tubuh terjatuh menabraknya dari dalam.
Kaelen menyipitkan mata. Di ambang pintu yang rusak, seorang wanita muda tergeletak lemas dengan napas tersengal-sengal. Pakaian formalnya yang elegan setelan jas wanita berwarna abu-abu gelap kini koyak di beberapa bagian dan terkena noda darah. Wajahnya pucat pasi, sementara bibirnya telah membiru.
Namun, yang paling menarik perhatian Kaelen bukanlah kecantikan wanita itu yang nyaris sempurna di tengah kekacauan, melainkan gumpalan energi hitam pekat yang berdenyut-denyut di bawah kulit lehernya.
Parasit Pemakan Jiwa.
Senjata biologis tingkat tinggi dari dimensi gelap. Racun parasit itu sedang menggerogoti sistem saraf pusat dan kesadaran wanita tersebut dengan kecepatan luar biasa.
"Tolong..." suara wanita itu begitu lemah, hampir tak berbekas. Tangannya yang berlumuran keringat dingin mencengkeram ujung jubah lab putih milik Kaelen yang tergantung di dekat ranjang, sebelum akhirnya kesadarannya sepenuhnya hilang.
Di luar klinik, suara langkah kaki berat mendekat dengan cepat. Senter berintensitas tinggi menyorot masuk melewati pintu yang terbuka lebar.
"Sial, dia kabur ke dalam klinik bobrok ini!" sebuah suara asing berteriak. Dua orang pria berbadan tegap mengenakan jas hitam dan kacamata taktis melangkah masuk. Salah di antaranya memegang pistol berperedam yang diacungkan tepat ke arah Kaelen.
"Wah, wah.
Rupanya si bangsat ini masih bernapas," cerca pria berjas hitam pertama sambil menyeringai dingin. Ia melirik sekilas ke arah wanita yang tergeletak di lantai, lalu menatap Kaelen dengan pandangan meremehkan. "Dan sepertinya kau kedatangan tamu penting, anak manis. Sayangnya, kehadiranmu di sini adalah sebuah kesalahan besar."
Pria itu mengokang senjatanya. "Nyonya muda itu harus mati malam ini tanpa jejak, dan kau... yah, anggap saja nasib sialmu bertambah karena menjadi saksi mata."
Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru air hujan dan suara petir yang menggelegar. Bagi orang biasa, situasi ini adalah akhir dari segalanya. Terjebak di ruangan sempit, terluka parah, berhadapan dengan pembunuh bersenjata, dan di sisi lain ada seorang wanita yang nyawanya tinggal hitungan menit.
Namun, bibir Kaelen justru perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang dingin.
"Mati?" Kaelen mengulangi kata itu dengan nada rendah. Ia bangkit perlahan dari ranjangnya. Gerakannya begitu tenang, sama sekali tidak mencerminkan ketakutan seorang pemuda yang baru saja di ambang kematian.
Pria berjas hitam itu mengernyitkan dahi, merasa terganggu dengan ketenangan mangsanya. "Bocah sialan, kau sudah gila, ya?"
"Di duniamu yang sempit ini, kematian mungkin adalah hal yang menakutkan," Kaelen melangkah maju satu langkah. Sorot matanya berubah tajam bagaikan pedang yang baru saja keluar dari sarungnya. "Tapi bagiku... kematian hanyalah sebuah pintu putar."
"Tembak saja kakinya!" geram preman kedua yang berdiri di belakang.
Tanpa aba-aba, peluncuran peluru dilesatkan dalam sepersekian detik. Suara s spesies peluru merobek udara, meluncur lurus menuju lutut Kaelen.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat waktu seolah berhenti.
Kaelen tidak menghindar jauh. Ia hanya memiringkan kepalanya ke samping. Desing angin peluru itu menyerempet helai rambutnya. Bersamaan dengan itu, tangan Kaelen bergerak secepat kilat. Tiga bilah jarum akupunktur perak tipis yang sebelumnya terselip di saku jubah labnya telah berpindah ke sela-sela jemarinya, berkilau memantulkan cahaya petir.
Swish!
Sebelum kedua pembunuh bayaran itu sempat menyadari apa yang terjadi, tiga jarum perak itu melesat membelah udara dengan kecepatan suara.
Bugh! Plak!
Dua jarum menancap tepat di titik akupunktur Hegu dan Zusanli pada tubuh pria pertama, sementara satu jarum lainnya menembus pergelangan tangan pria yang memegang senjata.
"Argh!"
Pria pertama menjerit tertahan. Seketika itu juga, seluruh otot di tubuhnya mendadak kaku bagaikan patung batu. Senjata di tangan mereka terlepas dan jatuh berdenting ke lantai keramik yang retak. Mereka berdua berdiri terpaku dengan mata melotot lebar, mulut terbuka tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun, sementara aliran darah mereka seolah dibekukan secara paksa dari dalam.
Kaelen berjalan melewati kedua pembunuh bayaran yang lumpuh total itu tanpa melirik mereka sedikit pun. Ia berlutut di samping wanita yang tergeletak pingsan.
Ia menyentuh nadi di pergelangan tangan wanita itu. Aliran energi parasit di tubuh sang wanita sudah mendesak naik ke arah jantung. Waktu yang tersisa tidak sampai sepuluh menit.
Kaelen menoleh ke arah pintu yang terbuka, di mana suara sirine mobil dan derap kaki lainnya mulai terdengar mendekat dari ujung jalan distrik kumuh. Musuh yang lebih besar sedang datang. Dan di tangannya, ia memegang kunci rahasia dari konspirasi yang jauh lebih kelam dari apa yang dibayangkan oleh siapapun di Kota Aethelgard.
Kaelen mengangkat wajahnya, menatap ke dalam kegelapan malam di luar jendela dengan senyuman penuh misteri.
Permainan baru saja dimulai.
48 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







