
DIMAS - CINCIN SUNDUL BAWUK
DMSMCN|Bersambung
- Jumlah kata
- 116.3K
- Popular
- 494
- Subscribe
- 129
- Jumlah kata
- 116.3K
- Popular
- 494
- Subscribe
- 129
Sinopsis
Dimas, pria 39 tahun yang santai dan pemalas, kehilangan pekerjaannya dan hanya membawa pulang gaji terakhir Rp2.500.000. Hidupnya berubah setelah membeli cincin bekas seharga Rp12.000 bernama SUNDUL BAWUK.Cincin itu memiliki dua kemampuan gila: REFRESH dan UPGRADE. Barang rusak dapat kembali sempurna, makanan basi menjadi segar, mesin rongsok kembali berfungsi, bahkan tubuh dapat dipulihkan. Dengan UPGRADE, barang lama dapat berubah menjadi versi terbaru, lebih canggih, dan jauh lebih mahal.Dimas pun mengubah barang bekas menjadi mesin uang. Dari HP, motor, mobil, properti hingga mesin industri, kekayaannya melonjak menjadi puluhan miliar.Di tengah hidup barunya hadir Nadira, perempuan yang telah disukainya sejak masih miskin. Kini Nadira menjadi accounting sekaligus asisten pribadinya, lalu perlahan ikut menguasai rumah dan keseharian Dimas.Target Dimas sederhana: hidup santai, mengejar Rp100 miliar, dan semoga punya keberanian menyatakan cinta kepada Nadira.
Ulasan
1 ulasan
Almeera Tunggadewi
24/9/26 03:51
cerita ini lucu siih, aku suka 😂😂😂 dan terus penasaran setiap selesai baca bab, pingin buka bab selanjutnya.
Bab 1 — Gaji Terakhir Rp2,5 Juta
Dimas menatap layar ponselnya cukup lama.
[BANK]
Dana masuk: Rp2.500.000
Keterangan: GAJI
Biasanya notifikasi seperti itu mampu memperbaiki suasana hatinya. Setidaknya selama tiga atau empat hari sebelum tagihan mulai datang satu per satu. Tetapi sore ini berbeda. Angka Rp2.500.000 tersebut terasa seperti ucapan selamat tinggal.
Sebab beberapa menit sebelumnya, atasannya baru saja mengatakan kalimat yang paling tidak ingin didengar seorang pria berumur tiga puluh sembilan tahun yang tabungannya hampir tidak ada.
“Mulai bulan depan kamu tidak perlu masuk lagi.”
Dimas masih ingat ekspresi atasannya ketika mengatakan itu. Datar. Seolah yang sedang dibicarakan bukan sumber penghidupan seseorang.
Alasannya klasik. Efisiensi.
Perusahaan sedang mengurangi pegawai dan pekerjaan Dimas dianggap dapat dibagikan kepada pegawai lain.
Dimas tidak berdebat. Tidak membanting meja. Tidak mengatakan bahwa perusahaan akan menyesal telah kehilangan pegawai sehebat dirinya.
Pertama, karena dia memang bukan pegawai sehebat itu.
Kedua, berdebat melelahkan.
Ketiga, Dimas sedang menghitung uang.
Rp2.500.000.
Itulah uang yang dimilikinya sekarang.
Bukan uang tambahan.
Bukan uang bersenang-senang.
Itulah benteng terakhir antara dirinya dan kelaparan.
Dimas memasukkan ponsel ke saku lalu berjalan meninggalkan kantor dengan sebuah tas ransel yang isinya tidak banyak. Dua kaus, charger, tumbler, beberapa dokumen, dan barang-barang kecil yang selama ini tertinggal di meja kerjanya.
Beberapa mantan rekan kerja melihatnya keluar.
Ada yang kasihan.
Ada yang sekadar mengangguk.
Ada pula yang berbisik.
“Kasihan juga, umur segitu kena PHK.”
Dimas mendengarnya.
Langkahnya berhenti sesaat.
Bukan karena marah.
Justru karena kata umur segitu terasa lebih menyakitkan daripada kata PHK.
Tiga puluh sembilan tahun.
Dimas baru sadar angka itu mengerikan kalau dipikirkan terlalu lama.
Sebentar lagi empat puluh.
Orang lain di usia seperti dirinya sudah punya rumah, istri, anak, kendaraan, tabungan pendidikan, investasi, bahkan mulai memikirkan dana pensiun.
Dimas?
Saldo Rp2,5 juta.
Motor tuanya kadang harus ditendang standar sampingnya supaya bisa dilipat.
“Prestasi hidupku luar biasa juga.”
Dimas menghela napas.
“Umur tiga puluh sembilan, kekayaan bersih bisa dihitung tanpa kalkulator.”
Dia berjalan menuju parkiran.
Tidak ada keluarga yang menunggunya di rumah. Dimas hidup sendiri dan jauh dari sanak saudara. Selama bertahun-tahun dia terbiasa mengurus dirinya sendiri.
Sebenarnya dia bukan orang yang benar-benar tidak mau bekerja.
Dimas mau bekerja.
Asalkan tidak terlalu berat.
Tidak terlalu lama.
Tidak terlalu pagi.
Tidak terlalu jauh.
Dan kalau bisa, gajinya besar.
Sayangnya pekerjaan seperti itu biasanya hanya tersedia dalam imajinasi.
Dimas menaiki motornya.
Mesin menyala setelah dua kali starter.
“Setidaknya kamu belum ikut memecat aku.”
Motor itu tidak menjawab.
Dimas pulang.
Kamar yang ditempatinya sederhana. Tidak terlalu jelek, tetapi jelas tidak bisa disebut mewah.
Begitu masuk, Dimas langsung melepas celana panjang, menggantinya dengan celana pendek, lalu menjatuhkan tubuh ke kasur.
Lima menit kemudian dia kembali membuka aplikasi perbankan.
Saldo: Rp2.500.000
Dimas mengambil kalkulator.
“Baiklah. Mari kita lihat berapa lama seorang pengangguran bisa bertahan.”
Tempat tinggal dan beberapa kebutuhan bulan berjalan sudah sebagian terbayar, tetapi bulan berikutnya tetap akan datang. Makan tidak mungkin dihentikan. Bensin masih diperlukan. Pulsa dan paket data justru semakin penting karena sekarang dia harus mencari pekerjaan.
Belum kopi.
Dimas mengetik angka.
Kalau makan ditekan sekitar Rp30.000 sehari, sebulan sudah Rp900.000.
Bisa lebih hemat kalau memasak.
Masalahnya memasak membutuhkan usaha.
Dimas menatap kalkulator.
“Kalau demi tidak miskin, sepertinya aku harus berdamai dengan wajan.”
Belum sabun, sampo, pasta gigi, air minum, laundry, bensin, pulsa, listrik, dan kebutuhan mendadak.
Rp2,5 juta mendadak terlihat seperti recehan.
Dimas menjatuhkan kepala ke bantal.
Selama ini dia selalu berpikir masih ada waktu.
Bulan depan menabung.
Tahun depan mencari pekerjaan lebih bagus.
Nanti belajar keterampilan baru.
Nanti mulai usaha.
Nanti mengurangi rokok.
Nanti lebih rajin.
Ternyata kata nanti sudah menemaninya sampai umur tiga puluh sembilan.
“Bodoh juga aku.”
Untuk beberapa detik wajahnya benar-benar serius.
Tetapi kemudian Dimas bangkit.
“Menyesal juga tidak menghasilkan uang.”
Dia mengambil bungkus rokok.
Tinggal beberapa batang.
Dimas menatapnya dengan prihatin.
Mulai sekarang benda seperti ini masuk kategori barang mewah.
“Sepertinya kita harus berpisah.”
Dia mengambil satu batang.
“Tapi bukan sekarang.”
Dimas tertawa kecil sendiri.
Setelah merokok, dia memutuskan keluar. Duduk terus di kamar hanya membuat pikirannya semakin kacau.
Sekalian mencari makan murah.
Dimas tidak pergi ke pusat perbelanjaan.
Dia justru berhenti di kawasan pertokoan lama yang di pinggirnya terdapat beberapa pedagang barang bekas.
Dimas memang suka melihat barang seperti itu.
Bukan karena kolektor.
Karena murah.
Ada kipas angin, radio tua, charger, kabel, perkakas, sepatu, jam dinding, ponsel rusak, remote televisi, hingga barang-barang yang bahkan Dimas tidak mengerti kegunaannya.
Dia berjalan santai sambil membawa tumbler 500 ml.
Sesekali diminumnya.
“Cari apa, Mas?” tanya seorang pedagang.
“Cari yang murah.”
Pedagang itu tertawa.
“Semua orang juga begitu.”
Dimas ikut tertawa.
Matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak kecil berisi aksesori campur aduk.
Kancing.
Gelang.
Kalung imitasi.
Beberapa koin.
Dan sebuah cincin.
Cincinnya terlihat tua. Warnanya kusam, bagian permukaannya hitam karena kotoran, tetapi ukirannya cukup menarik.
Dimas mengambilnya.
“Ini berapa?”
Pedagang melihat sekilas.
“Dua puluh ribu.”
Dimas langsung meletakkannya.
“Mahal.”
“Lho, belum ditawar sudah dibilang mahal.”
“Sepuluh.”
“Lima belas.”
“Dua belas.”
Pedagang menghela napas.
“Ya sudah.”
Dimas tersenyum puas.
Baru saja kehilangan pekerjaan, tetapi keberhasilan menghemat tiga ribu rupiah tetap terasa seperti kemenangan.
Dia membayar Rp12.000.
Saldo tersisa: Rp2.488.000.
Dimas memasukkan cincin itu ke saku.
Dia sendiri tidak tahu kenapa membelinya.
Mungkin karena ukirannya menarik.
Atau mungkin karena otaknya sedang membutuhkan hiburan setelah kehilangan pekerjaan.
Dimas membeli nasi campur sederhana, lalu kembali ke kamar menjelang malam.
Setelah mandi, Dimas baru teringat cincin tersebut.
Dia mengeluarkannya dari saku.
“Dua belas ribu.”
Cincin itu dibersihkannya menggunakan kain.
Setelah kotorannya berkurang, ukirannya ternyata jauh lebih bagus daripada perkiraannya.
Dimas mencoba memasukkannya ke jari.
Pas.
“Lumayan.”
Kemudian sesuatu menyala.
Dimas membeku.
Cahaya biru tipis muncul dari cincin.
“Eh?”
Dia mengangkat tangannya.
Cahaya itu semakin jelas.
Dimas buru-buru mencoba melepas cincin.
Tidak bisa.
“Jangan bercanda.”
Dia menarik lebih keras.
Tetap tidak bergerak.
Lalu sebuah tulisan transparan muncul di depan matanya.
[SUNDUL BAWUK]
Dimas diam.
Lima detik.
Sepuluh detik.
“Namamu apa?”
[SUNDUL BAWUK]
Dimas menutup mulut.
Entah kenapa nama itu terdengar sama sekali tidak cocok dengan cahaya misterius yang sedang dilihatnya.
“Cincin sakti namanya Sundul Bawuk?”
Tidak ada jawaban.
Tulisan berubah.
[IKATAN PEMILIK SELESAI]
Pemilik: DIMAS
Kemampuan utama tersedia:
REFRESH
UPGRADE
Dimas berkedip.
“Refresh?”
Tidak ada buku panduan.
Tidak ada kakek misterius.
Tidak ada suara leluhur.
Hanya dua pilihan tersebut.
Dimas mencoba menunjuk tumbler di meja.
“Refresh.”
Tidak terjadi apa-apa.
Dia menggaruk kepala.
Air di tumbler tinggal sekitar seperempat.
Dimas memegang tumbler menggunakan tangan bercincin.
Seketika muncul tulisan.
[OBJEK TERDETEKSI]
Tumbler 500 ml
Kondisi fisik: 87%
Isi: Air minum
Volume tersisa: 126 ml
Kondisi awal terdeteksi: 500 ml
REFRESH?
Dimas menelan ludah.
“Ya.”
Cahaya biru melintas.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada petir.
Hanya kilatan pendek.
Tetapi tangan Dimas langsung merasakan perubahan berat.
Dia membuka tumbler.
Airnya penuh.
Sampai batas 500 ml.
Dimas memandang air itu.
Dia minum cukup banyak.
Kemudian memeriksa lagi.
Berkurang.
“Refresh.”
Kilatan biru.
Penuh.
Dimas minum lagi.
“Refresh.”
Penuh.
Dimas berhenti.
Otaknya yang biasanya malas bekerja mendadak berlari seperti baru mendapat bonus tahunan.
“Sebentar.”
Dia mengambil bungkus rokok.
Tinggal beberapa batang.
Dimas menyentuhnya.
[OBJEK TERDETEKSI]
Produk konsumsi
Isi tersisa: 5 batang
REFRESH KE KONDISI PENUH?
Mata Dimas membesar.
“YA!”
Cahaya berkelebat.
Bungkus yang tadinya ringan menjadi penuh kembali.
Dimas membuka tutupnya.
Lengkap.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut.
Karena bahagia.
“Ya Allah...”
Dia duduk perlahan.
Satu bungkus yang hampir habis sekarang penuh kembali.
Dimas mengambil satu batang, kemudian berpikir.
“Kalau bisa Refresh...”
Dia menatap panel.
“Upgrade?”
Panel langsung berubah.
[OBJEK MEMENUHI SYARAT UPGRADE]
Upgrade dapat meningkatkan objek menuju produk/kelas yang lebih tinggi dalam kategori yang kompatibel.
Dimas terdiam.
Dia belum berani menekan apa pun.
Bukan karena takut.
Dia sedang memahami betapa tidak masuk akalnya benda seharga dua belas ribu yang baru dibelinya.
Air tidak perlu beli berkali-kali.
Barang konsumsi bisa dipulihkan.
Barang rusak mungkin bisa diperbaiki.
Kalau semua itu benar...
Dimas menatap saldo Rp2.488.000 miliknya.
Untuk pertama kalinya angka tersebut tidak terasa menakutkan.
Malah muncul sebuah pemikiran yang membuat senyumnya perlahan melebar.
“Kalau barang yang sudah kubeli bisa dipakai berulang kali...”
Dimas berdiri.
Dia membuka kamar mandi.
Sabunnya tinggal sedikit.
Disentuh.
[REFRESH?]
“Ya.”
Sabun kembali penuh.
Sampo.
[REFRESH?]
Penuh.
Pasta gigi yang sudah gepeng.
[REFRESH?]
Kembali seperti baru.
Dimas berdiri di depan kamar mandi sambil tertawa sendiri.
“HAHAHAHA!”
Tetangga kamar sampai mengetuk dinding.
“Mas Dimas! Kenapa?!”
“Tidak apa-apa!”
Dimas menutup mulutnya.
Dia kembali ke kamar.
Matanya sekarang menyapu seluruh barang miliknya.
Kipas tua.
Tas.
Sepatu.
Pakaian.
Ponsel.
Motor di luar.
Kalau semuanya bisa...
Dimas mengambil sebuah charger lama yang kabelnya sudah terkelupas.
[REFRESH?]
“Ya.”
Kilatan.
Lapisan kabel kembali utuh.
Tidak ada bekas sobekan sedikit pun.
Dimas kehilangan kata-kata.
Lalu muncul tulisan tambahan.
[UPGRADE TERSEDIA]
Sekarang napasnya mulai berat.
Dimas belum menekan tombol itu.
Belum.
Karena pikirannya tiba-tiba teringat sesuatu.
Tadi sore dia melewati tumpukan barang elektronik rusak.
Ada ponsel tua.
Laptop mati.
Televisi rusak.
Barang-barang yang dijual murah karena kondisinya jelek.
Dimas memandang cincin di jarinya.
Kemudian melihat saldo.
Rp2.488.000.
Sore tadi dia adalah pengangguran berusia tiga puluh sembilan tahun yang ketakutan karena hanya memiliki gaji terakhir Rp2,5 juta.
Sekarang?
Dimas tersenyum.
“Besok aku cari HP rusak.”
Dia rebahan kembali.
Senyumnya semakin lebar.
Tidak ada niat melamar pekerjaan malam itu.
Tidak ada niat memperbaiki CV.
Tidak ada niat mengikuti seminar motivasi.
Dimas malah menarik selimut.
“Besok saja.”
Kemudian dia membuka mata lagi.
“Eh, tapi kalau HP rusak bisa di-Upgrade...”
Dimas bangun.
Rasa kantuknya hilang.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seorang pemalas justru tidak sabar menunggu pagi.
Karena besok dia akan membeli barang yang selama ini dihindari semua orang.
Barang rusak.
Dan Dimas belum mengetahui bahwa ponsel tua yang akan ditemukannya besok akan membuatnya memahami arti sebenarnya dari kata—
UPGRADE.
Daftar bab
66 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








