

Rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti sensasi fisik, melainkan sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan kesadaran.
Darah segar terus memancar dari arteri femoralis di paha kiri Bima. Kakinya putus tepat di bawah lutut, tercabik oleh jebakan gerigi besi yang sengaja dipasang oleh rekan satu timnya sendiri. Di kejauhan, cahaya biru dari gerbang portal—satu-satunya jalan keluar dari Dungeon Alas Purwo—perlahan menyusut menjadi titik kecil sebelum akhirnya lenyap total.
Hening.
Hanya suara tetesan darah yang jatuh ke atas dedaunan basah dan napas Bima yang tersengal-sengal. Oksigen terasa tipis, bercampur dengan aroma amis tanah rawa dan busuknya bangkai Goblin yang berserakan.
Bima Arya, seorang Hunter Rank E yang selama dua tahun terakhir bekerja sebagai Porter dan Umpan Hidup, kini sendirian di zona terlarang.
Rasionalitasnya yang dingin, yang selama ini membuatnya bertahan hidup meski sering dijadikan tumbal, mencoba mengambil alih kepanikan.
Pendarahan hebat. Estimasi kesadaran tersisa: kurang dari dua menit. Senjata: belati patah. Musuh: Tidak diketahui.
Sebuah geraman rendah bergetar di udara, membuat tanah di bawah punggung Bima ikut bergetar. Dari balik kegelapan pepohonan jati raksasa yang menjulang seperti pilar neraka, sepasang mata merah menyala muncul. Bukan Goblin. Makhluk itu setinggi tiga meter, berbulu hitam legam dengan taring yang meneteskan liur korosif.
Seekor Srigala Demit. Varian mutasi dari monster tipe Beast yang seharusnya hanya ada di Dungeon Rank B ke atas.
Bima tertawa pelan, sebuah tawa kering yang menyedihkan. Wijaya dan Guild Garuda Kencana bukan hanya meninggalkannya, mereka sengaja memancing makhluk ini menggunakan darahnya agar mereka bisa kabur dengan jarahan Goblin.
"Bajingan..." desis Bima, matanya menatap tajam ke arah monster itu. "Kalau aku mati jadi hantu, akan kuhantui kalian sampai ke liang lahat."
Srigala Demit itu menerjang. Cakar raksasanya terangkat, siap memisahkan kepala Bima dari badannya.
Di detik kematian itu, dunia kehilangan warnanya.
Gerakan monster itu terhenti di udara, seolah-olah tombol jeda telah ditekan pada realitas. Tetesan air hujan yang jatuh dari kanopi hutan melayang diam di depan mata Bima. Dan kemudian, suara itu terdengar. Bukan lewat telinga, tapi langsung bergema di dalam tempurung kepalanya dengan otoritas yang mutlak.
[SYSTEM NOTIFICATION]
[Syarat Terpenuhi.]
[Keinginan untuk hidup yang melampaui batas kewajaran terdeteksi.]
[Kebencian terhadap ketidakadilan terdeteksi.]
[Menginisiasi 'Sistem Warisan Nusantara'...]
[Proses: 10%... 50%... 100%]
Sebuah layar hologram berwarna biru transparan muncul tepat di depan wajah Bima, menembus kegelapan hutan.
[SELAMAT DATANG, CALON RAJA.]
[Anda telah dipilih sebagai Player Tunggal.]
[QUEST MENDESAK: UJIAN KELAYAKAN]
[Tujuan: Bertahan hidup dari serangan 'Alpha Wolf' atau bunuh lawan.]
[Batas Waktu: Tidak Ada.]
[Kegagalan: Kematian Permanen.]
[Hadiah: Pemulihan Status Penuh & Hak Akses Sistem.]
Waktu kembali berjalan.
"GRAAAWR!"
Raungan monster itu memecahkan keheningan. Cakar itu turun dengan kecepatan penuh.
Bima tidak punya waktu untuk memproses keanehan layar biru itu. Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Dengan sisa tenaga terakhir, ia menggulingkan tubuhnya ke samping kanan.
BRAKK!
Tanah tempat kepalanya berada sedetik lalu kini hancur, menciptakan kawah kecil akibat hantaman cakar Srigala Demit. Cipratan lumpur mengenai wajah Bima.
Sakit di kakinya yang putus meledak kembali saat ia bergerak, membuatnya hampir pingsan. Tapi Bima menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Rasa sakit membuatnya tetap sadar.
Berpikir, Bima! Berpikir! Kau tidak bisa lari. Kau tidak bisa beradu kekuatan.
Monster itu berbalik, matanya menatap Bima dengan rasa lapar sekaligus keheranan karena mangsanya masih bergerak. Ia membuka rahangnya lebar-lebar, bersiap untuk gigitan yang akan mengakhiri segalanya.
Bima melihatnya. Di leher monster itu, terdapat bekas luka lama yang tidak tertutup bulu. Celah di antara lempengan otot yang keras.
"Maju sini, anjing besar," tantang Bima dengan suara parau. Ia mencengkeram erat belati Goblin yang sudah patah ujungnya di tangan kanan.
Monster itu melompat.
Kali ini Bima tidak menghindar. Ia tahu ia tidak akan cukup cepat untuk menghindar kedua kalinya dengan satu kaki. Ia melakukan hal yang paling tidak masuk akal. Bima menjatuhkan punggungnya ke tanah, membiarkan monster itu menindihnya.
Berat tubuh monster itu meremukkan tulang rusuk Bima. Taringnya menancap di bahu kiri Bima, merobek daging. Darah muncrat.
[PERINGATAN! HP ANDA DI BAWAH 5%]
Bima tidak peduli. Ia menahan rasa sakit itu, mengubah jeritannya menjadi tenaga dorong. Tangan kanannya yang memegang belati patah bergerak secepat kilat, bukan ke arah leher, tapi menusuk lurus ke atas—tepat ke arah mata kiri monster itu.
CRASH!
Belati tumpul itu menembus bola mata, masuk dalam hingga ke otak.
"AAAARRGGGHHH!"
Monster itu meraung, bukan karena lapar, tapi karena kesakitan yang luar biasa. Ia meronta, mencakar dada Bima, tapi Bima tidak melepaskan genggamannya. Ia memutar belati itu di dalam rongga mata monster tersebut dengan kebrutalan yang didorong oleh keputusasaan murni.
"MATI! MATI KAU!" teriak Bima, darah monster itu membasahi wajahnya, bercampur dengan darahnya sendiri.
Gerakan monster itu melambat. Kejang. Lalu, tubuh raksasa itu ambruk sepenuhnya di atas tubuh Bima, menimpa paru-parunya yang sudah remuk.
Bima terengah-engah. Pandangannya mulai kabur. Gelap. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri melambat.
Apakah aku menang? Atau aku mati bersamaan dengannya?
Suara "Ting!" yang jernih terdengar, seperti suara lift di gedung mewah Jakarta, sangat kontras dengan situasi hutan rimba ini.
[SYSTEM NOTIFICATION]
[ANDA TELAH MEMBUNUH 'ALPHA WOLF' (LEVEL 15)]
[Pengalaman diperoleh: 1500 EXP]
[Level Up!]
[Level Up!]
[QUEST SELESAI: UJIAN KELAYAKAN]
[Status: SUKSES]
[Hadiah Diterima: 'Status Recovery' & 'Class: Novice Ruler']
[Mengaktifkan pemulihan...]
Sensasi hangat menjalar dari dada Bima. Rasa sakit di bahunya yang robek menghilang seketika, digantikan oleh rasa gatal yang aneh. Tapi yang paling mengejutkan terjadi di bagian bawah tubuhnya.
Bima membelalakkan mata saat melihat cahaya keemasan menyelimuti ujung lutut kirinya yang putus. Tulang, urat, daging, dan kulit merajut diri mereka sendiri dengan kecepatan yang mengerikan. Itu bukan penyembuhan biasa yang dilakukan oleh Healer Rank A. Ini adalah rekonstruksi total.
Dalam sepuluh detik, kaki kirinya kembali utuh. Tanpa cacat.
Bima mendorong bangkai Srigala Demit itu dari atas tubuhnya dengan mudah. Kekuatannya terasa berbeda. Lebih padat. Lebih ringan. Ia berdiri tegak di atas tanah berlumpur Alas Purwo, menatap kedua tangannya yang kini bersih dari luka, meski masih berlumuran darah kering.
Layar biru itu muncul lagi.
[STATUS]
[NAMA: BIMA ARYA]
[LEVEL: 3]
[CLASS: NOVICE RULER (PENGUASA PEMULA)]
[TITLE: ONE WHO DEFIED DEATH]
[HP: 100/100]
[MP: 50/50]
[STATS]
[STRENGTH: 12]
[AGILITY: 11]
[SENSE: 15]
[VITALITY: 12]
[INTELLIGENCE: 10]
[POIN TERSEDIA: 10]
Bima mengepalkan tangannya. Angin malam Alas Purwo yang biasanya membuat bulu kuduk berdiri, kini terasa sejuk dan menyegarkan. Ia menoleh ke arah di mana portal tadi menghilang.
Tidak ada rasa takut lagi di hatinya. Yang tersisa hanya dinginnya dendam dan kalkulasi logis untuk masa depan.
"Wijaya," gumam Bima, suaranya tenang namun mengandung ancaman yang lebih mengerikan dari auman monster manapun. "Nikmatilah waktumu di luar sana. Karena saat aku keluar dari hutan ini... kau adalah buruan pertamaku."
[QUEST HARIAN: PERSIAPAN SANG RAJA]
[Tujuan: Lakukan latihan fisik dasar.]
[Push-up: 0/100]
[Sit-up: 0/100]
[Squat: 0/100]
[Lari: 0/10 km]
[Peringatan: Jika gagal, Anda akan dikirim ke 'Zona Hukuman'.]
Bima menatap layar itu, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Sistem gila," ucapnya, lalu ia mulai melakukan posisi push-up di samping bangkai serigala itu. "Tapi aku suka."
Hutan Alas Purwo malam itu menjadi saksi. Umpan yang dibuang itu telah mati. Dan di atas mayatnya, seorang Raja telah lahir.