

Hujan deras mengguyur kota siang itu. Hujannya aneh. Badai dengan kilat menyambar-nyambar tapi terik siang harinya masih menyengat.
Di dalam pos berukuran 2x2 meter yang atapnya bocor, Dimas terbatuk-batuk hebat.
"Uhuk! Uhuk... huekk!"
Darah segar menyembur dari mulutnya, menodai seragam satpam berwarna putih lusuh yang dia kenakan. Tubuhnya gemetar kedinginan. Di usianya yang menginjak 45 tahun, Dimas terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Wajahnya dipenuhi keriput dalam, matanya cekung tanpa cahaya, dan rambutnya memutih sepenuhnya.
Dia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan yang kasar. Napasnya terdengar berat, seperti ada pasir di dalam paru-parunya. Dokter di puskesmas bilang umurnya tak akan lama lagi. Komplikasi paru-paru dan jantung akibat rokok murah serta begadang seumur hidup telah menggerogoti tubuhnya.
Dimas tertatih-tatih bangkit dari kursi plastiknya, lalu menatap keluar jendela pos yang berembun.
Di hadapannya, terbentang pemandangan yang menyakitkan hati: Kompleks Perumahan Elit "Grand Citra Asri". Deretan rumah mewah bergaya Eropa klasik berdiri angkuh di balik pagar besi tempa yang kokoh.
"Hujan yang aneh," Dimas mengatakan itu dengan terbata. Rasanya untuk mengeluarkan satu kata saja, pita suaranya sudah seperti dicabik-cabik. "Apakah ini hari terakhirku hidup, Tuhan?" Dimas seolah membaca pertanda.
Mata Dimas kemudian terpaku pada sebuah rumah paling besar di ujung jalan. Rumah Nomor 8 di Blok A.
"Dulu... di sanalah kandang kambing Bapak berdiri," gumam Dimas lirih, suaranya parau dan bergetar tertelan deru hujan. "Dan halaman … rumah itu dulu adalah empang lele tempat aku biasa memancing."
Tanah tempat perumahan elite ini berdiri, dulunya adalah miliknya. Milik bapaknya. Milik kakek buyutnya.
Dua puluh lima tahun yang lalu, tanah seluas tiga hektare di pinggiran kota ini hanyalah rawa-rawa dan kebun singkong yang dianggap tidak berharga. Orang-orang menyebutnya "tempat jin buang anak".
Karena kebodohan masa mudanya, ketidaktahuannya akan masa depan, dan hasutan licik pamannya sendiri, Dimas memaksa bapaknya menjual seluruh tanah ini hanya seharga 75 juta rupiah di tahun 2000.
Tujuh puluh lima juta!
Saat itu, jumlah tersebut terasa sangat banyak bagi pemuda kampung lulusan SMA sepertinya. Ia merasa menjadi raja. Ia membeli motor Yamaha RX King terbaru, mentraktir teman-teman sekampung mabuk-mabukan, dan berjudi sabung ayam.
Uang itu habis tak bersisa hanya dalam waktu enam bulan.
Sementara itu, lima tahun kemudian, proyek Jalan Tol Lingkar Luar diresmikan. Harga tanah di kampungnya melonjak gila-gilaan. Pengembang raksasa masuk, mengubah rawa-rawa "tempat jin buang anak" itu menjadi kota mandiri yang berkilau.
Tanah yang dia jual seharga 75 juta, kini nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Ironi macam apa ini?
Sang pemilik tanah kini justru menjadi anjing penjaga di atas tanah leluhurnya sendiri, digaji di bawah UMR, dan sering dimaki-maki oleh orang kaya baru yang menempati tanah bekas kebun singkong ibunya.
"Bodoh... kamu benar-benar bodoh, Dimas," rutuknya pada diri sendiri.
Sudah setahunan belakangan ini Dimas tak memiliki tempat tinggal. Dia memohon kepada rekan satpamnya untuk mengizinkannya tinggal di pos yang sempit ini. Dia tak masalah untuk ambil semua sif. Setahunan belakangan ini, Dimas menghabiskan uangnya untuk membayar utang-utang pinjolnya di tahun lalu.
Air mata panas meleleh di pipinya, bercampur dengan keringat dingin. Bercampur penyesalan yang bertumpuk-tumpuk.
Dia ingat wajah Bapak yang kecewa saat menandatangani surat jual beli itu. Bapak meninggal setahun kemudian karena serangan jantung, membawa penyesalan ke liang lahat. Ibu sudah meninggal lebih dulu dua tahun sebelumnya akibat stroke.
Istri? Rina, kembang desa yang dia nikahi dengan sisa uang penjualan tanah, langsung minta cerai begitu tahu uang Dimas habis dan motor RX King-nya ditarik leasing.
"Uhuk! Uhuk!"
Batuk itu datang lagi, kali ini lebih menyakitkan. Pandangan Dimas mulai kabur. Rasa dingin yang menusuk tulang perlahan berubah menjadi kebas. Kakinya tak lagi bisa menopang tubuh.
Di tengah hujan, terdengar langkah sepatu bot yang angkuh. Menyusul kemudian gedoran tanpa belas asih. Dimas hampir jantungan menghadapinya.
"Saudara Dimas! Bayar utangnya! Jangan mangkir!" Terdengar suara garang mengancam.
Dimas ketakutan.
"Kami tahu Anda di dalam!"
BRAKKK! Sepatu bot itu menghantam engsel pintu sampai copot. Dimas tersudut. Tanpa basa-basi, dua preman berpakaian ormas itu menariknya.
"Anda janji melunasi hari ini!"
"Ma-maaf, bang, sa-saya tidak pu-punya uangnya." Dimas susah payah menjelaskan.
"Bacooot!" Dimas dilempar oleh mereka berdua.
BRUK!
Dimas jatuh tersungkur di jalanan kompleks.
Dua orang itu murka. Keduanya menghampiri Dimas lalu mulai menghajarnya. "Bos kami sudah tidak sabar! Ini kami terjemahkan omongan beliau dengan tinju!"
Dimas tak berdaya. Tubuhnya renta. Kena bertubi-tubi hunjaman tinju.
Tak ada satu pun dari penduduk kompleks ini yang peduli dengannya. Dalam kerlingan mata yang putus asa, Dimas melihat ada salah satu penghuni rumah yang mengintip dari jendela. Keluarga kecil yang sedang main hujan pun tahu apa yang tengah terjadi. Tapi mereka semua tak peduli!
Dimas pasrah. Wajahnya berdarah-darah. Napasnya tersengal-sengal.
Dua orang itu puas menghajar Dimas, lalu meninggalkannya di jalan terguyur hujan.
"Hujan yang aneh," kata salah satu preman.
Dimas terkulai tak berdaya. Nyawanya menggantung di udara. Gemuruh guntur menemaninya.
Firasat Dimas benar. Malaikat maut sudah berdiri di gerbang kompleks. Tidak ada siapa-siapa di sini. Dia akan mati sendirian, sama menyedihkannya seperti hidupnya selama dua puluh lima tahun terakhir.
Dalam sisa kesadarannya yang mulai memudar, Dimas memejamkan mata. Dia tidak berdoa memohon surga. Dia merasa dirinya terlalu kotor dan berdosa untuk itu.
Hanya satu permohonan tulus yang terucap dari batinnya yang paling dalam.
"Tuhan... jika Engkau memang Maha Pengasih... berikan aku satu kesempatan lagi. Hanya satu kali lagi... Aku bersumpah tidak akan menjadi anak durhaka. Aku akan menjaga tanah Bapak. Aku akan membahagiakan Ibu... Aku akan menghancurkan mereka yang telah menipu keluargaku..."
Lalu suara kilat menyambar. Keras.
Gelap.
Suara hujan perlahan menjauh. Rasa sakit di dadanya menghilang. Dunia Dimas pun padam sepenuhnya.
*****
"DIMAS! BANGUN, LE! SUDAH SIANG KOK MASIH MOLOR!"
Sebuah teriakan melengking yang familiar menyentak kesadaran Dimas.
"Hah!"
Dimas terbangun dengan sentakan keras, seolah baru saja ditarik paksa dari dasar lautan. Dia terduduk di atas kasur, napasnya memburu kencang. Jantungnya berdegup tak karuan.
"Hah... hah... hah..."
Dimas meraba dadanya. Kering. Tidak ada darah. Rasa sakit yang menusuk paru-parunya tadi, hilang sama sekali. Tubuhnya terasa ringan, bugar, dan penuh tenaga.
Dia mengedarkan pandangan dengan bingung.
Di mana ini?
Ini bukan pos satpam yang bocor.
Dinding di sekelilingnya terbuat dari papan kayu meranti yang dicat kapur putih. Cat sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kayu di atas jendela.
Di dinding, tertempel poster besar grup band Slank era album 'Generasi Biroe' dan kalender bergambar artis Desy Ratnasari yang sedang tersenyum manis memegang produk sabun.
Di sudut ruangan, teronggok sebuah gitar akustik murah yang senarnya putus satu, dan di atas meja kecil di samping tempat tidur, ada tumpukan kaset pita Dewa 19 dan sebuah radio compo jadul berwarna hitam.
"Ini..." Tangan Dimas gemetar. "Ini kamarku... kamar lamaku?"
Dia segera melompat turun dari ranjang. Kakinya menapak di lantai tanah yang dipadatkan, bukan keramik dingin pos satpam. Dia berlari menuju cermin kusam yang tergantung di balik pintu lemari pakaian.
Bayangan di cermin itu membuatnya ternganga.
Bukan wajah tua renta, keriput, dan sakit-sakitan yang dia lihat. Melainkan seorang pemuda berusia 20 tahun. Rambutnya gondrong sebahu ala rocker tahun 90-an, kulitnya sawo matang yang kencang, dan matanya bersinar tajam penuh semangat hidup. Tidak ada uban, tidak ada kantung mata hitam.
Dimas mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya yang masih kasar karena sering mengegas motor balap dan memanjat pohon, bukan kasar karena memegang pentungan satpam.
PLAK!
Dia menampar pipinya sendiri dengan keras.
Sakit! Panas!
"Ini bukan mimpi..." bisiknya gemetar. "Aku... aku kembali?"
Matanya kembali tertuju pada kalender di dinding. Angka 15 di bulan Juni dilingkari dengan spidol merah.
JUNI 2000
Lutut Dimas lemas seketika. Dia jatuh terduduk di lantai tanah kamarnya. Tangisnya pecah, namun kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kelegaan yang luar biasa. Tuhan mendengar doanya. Tuhan benar-benar melemparnya kembali ke masa lalu!