Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Persona Agency : Jasa Balas Dendam

Persona Agency : Jasa Balas Dendam

San Hanna | Bersambung
Jumlah kata
62.5K
Popular
341
Subscribe
84
Novel / Persona Agency : Jasa Balas Dendam
Persona Agency : Jasa Balas Dendam

Persona Agency : Jasa Balas Dendam

San Hanna| Bersambung
Jumlah Kata
62.5K
Popular
341
Subscribe
84
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratBalas DendamPertualangan
Arkan Adiwangsa, satu-satunya penerus kerajaan bisnis Adiwangsa Group, memegang tanggung jawab untuk menjaga dan terus membesarkan bisnis keluarga. Selain melanjutkan bisnis yang sudah ada, Arkan juga memiliki bisnisnya sendiri. Sebuah agensi yang merekayasa kebahagiaan untuk balas dendam. Namun, sebuah keputusan membuatnya harus berurusan dengan Nara Kirana, seorang arsitek cantik yang jenius. Nara adalah variabel tidak terduga dalam hidup Arkan yang membuatnya bertemu kenyataan paling pahit di hidupnya. Nara yang semula hanyalah alat bagi Arkan, berubah menjadi pendamping untuk menyingkap tabir masa lalu. Perjalanan Arkan benar-benar baru dimulai saat pembangunan The Phoenix Garden. Satu per satu rahasia terbuka, menyeret kekuasaan paling tinggi ke permukaan. Mampukah Arkan menyingkap semua tabir dalam hidupnya? Mampukah Arkan bertahan hidup dan mempertahankan kekuasaan Adiwangsa?
Bab 1

“Bagaimana perkembangan ‘calon proyek’ baru kita, Maya? Apakah sudah ada pergerakan?”

“Ayolah, Arkan! Apa kamu tidak bisa mengenyampingkan perempuan itu? Agensi kita sedang menangani kasus lain yang juga butuh perhatianmu, pimpinannya,” protes Maya.

Kalau saja orang lain yang mengatakan hal itu, sudah kuusir keluar. Maya bukan hanya sekadar Manajer Operasional perusahaan, tapi ia juga sahabat baikku. Ia juga ikut merintis Persona Agency sejak kali pertama aku dirikan. Maya adalah orang yang langsung setuju dan mendukung ide itu. Bisa dibilang, Maya adalah rekanan dalam menjalankan bisnis ini.

“Aku yakin kamu tidak lupa mengapa aku sangat memantau gadis itu. Dia adalah kunci dari pertarunganku dengan Ega Mahardika. Dia aset yang harus kita jaga sepenuh hati,” kataku.

Maya menyeringai di depan wajahku. “Aset yang harus dijaga katamu? Manis sekali. Apa kamu tidak tahu kalau aset berhargamu itu sedang patah hati?”

Layar di laptopku masih menunjukkan grafik perkembangan saham perusahaan Adiwangsa Grup, dan aku menutupnya sembarangan. Ucapan Maya jauh lebih menarik daripada garis warna-warna yang bergelombang tadi.

“Ceritakan semuanya,” perintahku.

Alih-alih langsung menuruti perintah, Maya memilih membuat kopi dari mesin kopi yang ada di salah satu sisi ruang kerjaku. Ia memang senang membuatku menunggu. Itu karena aku sudah membuatnya jengkel. Tapi tidak apa. Yang terpenting, informasi yang akan disampaikan Maya nanti bukanlah informasi dangkal. Semua yang keluar dari mulutnya penting. Aku bisa menunggu.

Dua cangkir espresso dibawa Maya. Salah satunya disodorkan padaku. Maya menghidu aroma kopi, lalu menyesapnya pelan. “Pahit, seperti biasa, seperti yang dirasakan Nara Kirana sekarang,” katanya.

Aku tahu, Maya belum selesai bicara. Ia sengaja menjeda kalimatnya biar terkesan dramatis. Aku tidak berkeinginan untuk menyela. Kutunggu ia melanjutkan sambil menikmati minuman.

“Mungkin saat ini dia sedang menangis entah di mana, meratapi nasib. Hasil kerja kerasnya bertahun-tahun, yang seharusnya bisa melambungkan namanya, dicuri tanpa perasaan. Bukan itu saja, Nara juga ditendang dari tempatnya bekerja. Kamu tahu itu, Arkan? Aset yang katanya mau kamu jaga, sekarang sedang menderita.”

Nada suara Maya jelas menyindir. Klise memang. Mungkin Maya berpikir aku hanya omong kosong tentang menjaga Nara. Tapi, membuatnya jatuh, terpuruk, dan menderita, memang menjadi bagian dari skenario yang kubuat untuknya. Gadis itu memang harus melaluinya untuk sampai padaku. Nara Kirana harus datang sendiri padaku.

“Kamu sudah pastikan kartu nama itu akan ditemuka olehnya?” Pertanyaanku membuat Maya mendengkus.

“Tentu. Itu adalah pekerjaan sepele, Arkan. Jangan meremehkanku.”

“Orang yang bisa meremehkanmu sepertinya belum lahir. Aku tahu itu.”

Maya tersenyum puas mendengar kata-kataku barusan. Ia meletakkan cangkir kopinya, menukar dengan tablet yang tergeletak di mejaku. Jemarinya menari lincah untuk beberapa saat. Tidak berselang lama, Maya menyodorkan benda itu padaku.

Layar di tablet menampilkan sebuah halte bus dalam guyuran hujan. Di sana tampak Nara Kirana yang tengah berteduh di bawah atap halte yang bocor. Aku terus memperhatikan gadis itu yang sedang menatap gedung di depannya.

“Ini real time atau rekaman?” tanyaku pada Maya.

“Tentu saja real time, Arkan. Kenapa? Kamu mau menjemputnya sekarang?” goda Maya, “kurasa dia masih ada di halte yang tidak jauh dari kantornya. Maksudku, mantan kantornya.”

“Kamu bisa tunjukkan gedung yang ada di depan halte?” Senyum tipis muncul di bibir Maya. Sepertinya ia bisa menebak apa yang ingin kuketahui.

“Di sisi gedung itu ada papan iklan digital. Mahardika Grup sedang memamerkan design baru yang disebut The Vertical Garden. Mereka juga menyebut design itu masterpiece Ega Mahardika. Itu pasti yang tadi dilihat Nara. Aku bisa membayangkan jadi gadis itu. Sudah terluka, disiram air garam pula.”

Aku kembali mengamati layar tablet. Gadis itu sedang memperhatikan kartu namaku. Tidak perlu dilihat lagi. Nara pasti akan datang. Aku mengembalikan tablet itu pada Maya dan memintanya bersiap.

Dua jam kemudian, Maya bergegas keluar. Sambil lalu dia mengatakan kalau Nara sudah ada di lift, sedang menuju lantai teratas gedung. Maya kembali tidak lama kemudian. Di belakangnya, Nara dengan pakaian yang masih tampak lembab, melihat ke sekeliling. Maya pamit, meninggalkan gadis itu bersamaku.

"Kamu terlambat tujuh menit, Nara Kirana," ucapku, pengganti sapaan.

"Siapa kamu? Apa kamu yang menaruh kartu nama itu di tas saya?" tanya Nara dengan lantang.

Keberanian gadis itu patut diacungi jempol. Ia berhasil membuatku mengalihkan pandangan dari laptop untuk melihatnya. Ia berdiri tiga meter dari tempat dudukku, tapi aku bisa melihat dengan jelas Nara yang menahan gemetar tangannya.

"Saya Arkan. CEO dari Persona Agency," kataku, "dan kartu itu ada di sana karena saya yang menaruhnya. Saya benci melihat potensi yang terbuang sia-sia karena pria medioker seperti Ega Mahardika."

Nara terpaku. "Kamu tahu soal Ega?"

Aku berdiri, berjalan memutari meja marmer, mengikis jarakku dengan Nara, menyisakan jarak satu meter. "Saya tahu dia mencuri desainmu. Saya juga tahu dia selingkuh dengan anak pemilik saham utama perusahaannya, dan saya tahu, dalam sepuluh menit lagi, kamu akan keluar dari sini, mencoba menuntutnya secara hukum, kalah, lalu berakhir depresi di kos-kosan sempitmu."

Mata Nara membesar. Ia memelototiku. "Lalu kamu mau apa? Membantu saya?" tantangnya. "Saya tidak punya uang untuk membayar pengacara, apalagi membayar jasa... apa ini? Jasa pura-pura bahagia untuk balas dendam?"

Aku tersenyum tipis. Kata-kata itulah yang ingin kudengar dari mulutnya.

"Kami tidak menjual kebahagiaan, Nara. Kami merekayasanya. Kami menciptakan realita baru yang diinginkan dunia." Aku berjalan semakin mendekat, jarak kami hanya satu lengan. "Kamu ingin Ega menyesal? Kamu ingin desainmu kembali? Atau kamu ingin melihat dia berlutut memohon maaf di depan kamera publik?"

"Ketiganya."

"Bagus. Saya suka keserakahan yang jujur." Aku beralih, mengambil sebuah dokumen dari meja. "Syaratnya sederhana. Selama enam bulan ke depan, identitasmu sebagai Nara Kirana yang malang akan dihapus. Kamu akan menjadi 'Gwen'. Tunangan saya. Wanita paling berpengaruh, paling elegan, dan paling dicemburui di kota ini."

Nara tertawa hambar. "Jadi tunanganmu? Pura-pura? Kenapa harus saya?"

Aku menatapnya dengan intens, matanya, wajahnya. "Karena kamu punya kemarahan yang cantik di matamu, Nara. Dan karena saat ini, saya juga butuh seorang 'tunangan' untuk menghancurkan rencana merger keluarga Mahardika yang menjijikkan itu."

Aku mengulurkan tangan pada gadis itu. "Enam bulan akting sempurna. Setelah itu, Ega hancur, dan kamu mendapatkan karirmu kembali dengan bonus reputasi baru. Bagaimana?"

Nara diam dan melihat tanganku. Ia tampak ragu, atau sedang menimbang tawaranku tadi. Setelah satu tarikan napas panjang, ia menjabat tanganku. Tangannya terasa dingin, tapi genggamannya kuat.

"Oke. Saya setuju," katanya mantap.

Aku menariknya sedikit lebih dekat, berbisik tepat di telinganya. "Pilihan yang cerdas. Tapi satu aturan main yang harus kamu ingat, Nara."

"Apa?"

"Di sini, kita hanya menjual kebahagiaan untuk orang lain. Jangan pernah melakukan kesalahan amatir dengan mencoba merasakannya sendiri. Terutama pada saya."

Aku melepaskan tangan gadis itu, kembali menjadi sosok dingin yang tidak mudah disentuh, lalu menekan sebuah tombol di meja kerjaku.

"Maya, masuklah. Bawa 'proyek' baru kita ke ruang ganti. Buang bajunya yang basah itu, dan bakar barang-barangnya. Mulai malam ini, Nara Kirana sudah mati."

Lagi-lagi Nara terdiam, Maya masuk. Ia tersentak ketika Maya menarik lengannya, lalu menoleh padaku sebelum berlalu. Bersiaplah, Nara. Permainan gila kita baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca