Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM DEWA KARISMA

SISTEM DEWA KARISMA

Jam'an J | Bersambung
Jumlah kata
57.0K
Popular
882
Subscribe
286
Novel / SISTEM DEWA KARISMA
SISTEM DEWA KARISMA

SISTEM DEWA KARISMA

Jam'an J| Bersambung
Jumlah Kata
57.0K
Popular
882
Subscribe
286
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSistemBalas Dendam
Area 21+++“Kita putus aja, Arkan. Kamu itu terlalu miskin.”Dihina di depan umum oleh wanita yang dia cintai, Arkan Wijaya kehilangan segalanya, harga diri, cinta, dan masa depan.Namun di malam yang kacau itu, sesuatu yang mustahil terjadi.Sebuah Sistem Dewa Karisma muncul di hadapannya.Sistem itu memberinya kekuatan… untuk menaklukkan dunia, dan hati wanita mana pun yang dia inginkan.Dari seorang mahasiswa miskin…Arkan perlahan berubah menjadi pria paling berpengaruh di Kota Mahesvara.Tapi saat mantan yang dulu merendahkannya kembali berlutut di hadapannya…Arkan hanya tersenyum dingin.Siapa yang sebenarnya berkuasa?Arkan… atau sistem yang ada di dalam dirinya?
1. Pecundang yang di buang

“Kita putus, Arkan."

Kalimat itu meluncur dari bibir Nadira dengan sangat lancar. Tidak ada getaran emosi, tidak ada keraguan. Dia berdiri di depan gerbang utama Universitas Mahesvara, tempat di mana hanya anak-anak orang kaya dan penerima beasiswa prestasi yang bisa menginjakkan kaki. Nadira termasuk yang pertama, berkat biaya yang disokong oleh Arkan selama tiga tahun terakhir.

Arkan Wijaya berdiri mematung. Tangannya yang kasar karena terlalu sering mengetik dan mengangkat kardus minimarket meremas helm kusam miliknya. Kaca helm itu sudah baret parah, membuat pandangannya terhadap Nadira sedikit terdistorsi. Namun, tatapan jijik dari mata wanita itu terlihat sangat jelas.

"Kenapa, Nad? Aku kurang apa?" tanya Arkan. Suaranya serak, tenggorokannya terasa seperti tercekik beton.

Nadira tertawa sinis. Dia melipat tangan di depan dada, menonjolkan tas bermerek yang Arkan beli dengan cara tidak makan siang selama dua bulan. "Kamu tanya kenapa? Lihat dirimu sendiri, Kan. Jaket pudar, sepatu jebol, dan kamu datang ke kampusku pakai motor bebek yang suaranya seperti mesin parut kelapa. Aku malu."

"Aku kerja keras buat kamu, Nad! Siang aku kuliah, sore aku joki data analyst sampai subuh, malamnya aku masih shift di minimarket. Semua uangnya buat bayar semesteran kamu! Biar kamu bisa tampil cantik di depan teman-temanmu!" Arkan mulai kehilangan kendali. Suaranya naik satu oktavi, menarik perhatian beberapa mahasiswa yang lewat.

"Itu pilihanmu, bukan tugasku untuk berterima kasih," balas Nadira dingin. "Uang joki data itu cuma recehan. Teman-temanku dijemput mobil mewah, makan di restoran bintang lima yang sekali masuk saja harganya lebih mahal dari gajimu sebulan. Aku butuh masa depan yang berkilau, bukan masa depan yang bau keringat dan oli motor."

Belum sempat Arkan membalas, raungan mesin V8 yang menggelegar membelah suasana gerbang kampus. Sebuah Porsche 911 hitam mengkilap berhenti tepat di samping mereka, menciptakan debu yang hinggap di celana jeans Arkan yang sudah tipis.

Pintu mobil terbuka ke atas. Rafael Mahendra turun dengan gaya yang sangat santai. Kemeja sutra putih yang dia kenakan terlihat sangat mahal, kontras dengan jam tangan Rolex Submariner yang melingkar di pergelangan tangannya. Rafael adalah definisi dari penguasa kota ini. Ayahnya memiliki jaringan properti dan logistik terbesar di wilayah tersebut.

"Sayang, kenapa masih meladeni sampah ini?" ucap Rafael sambil merangkul pinggang Nadira dengan posesif.

Nadira langsung berubah. Wajahnya yang tadi dingin kini melembut dan bersandar manja di bahu Rafael. Dia sama sekali tidak melirik Arkan lagi. Baginya, pemuda di depannya hanyalah noda yang ingin segera dia hapus dari riwayat hidupnya.

Rafael menatap Arkan dari ujung kaki hingga kepala. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai yang sangat merendahkan. "Oh, jadi ini si miskin yang sering kamu ceritakan? Penampilannya lebih buruk dari yang kubayangkan. Dia terlihat seperti pengemis yang salah masuk area kampus."

Arkan mengepalkan tinjunya. Kukunya menusuk telapak tangan hingga rasa perih mulai menjalar. Namun, dia tahu posisinya. Rafael bisa menghancurkannya hanya dengan satu panggilan telepon.

Rafael merogoh dompet kulit buaya miliknya. Dia mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan baru yang masih kaku. Tanpa peringatan, dia melemparkan uang itu ke arah wajah Arkan. Lembaran merah itu mengenai dada Arkan sebelum jatuh berserakan di aspal yang berdebu.

"Ini buat servis motor rongsokanmu," ejek Rafael. "Aku ragu benda itu bisa sampai ke kosanmu tanpa meledak di jalan. Anggap saja ini uang sedekah karena kamu sudah menjaga Nadira dengan baik sebelum aku mengambil alih. Setidaknya kamu sudah memberi dia makan, meskipun cuma mi instan."

Tawa mahasiswa di sekitar mereka pecah. Beberapa orang mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian memalukan itu. Arkan tetap diam, menatap uang di bawah kakinya dengan mata yang memerah karena amarah yang tertahan.

"Ayo pergi, Raf. Udara di sini mulai bau kemiskinan," ucap Nadira sambil menarik lengan Rafael.

Porsche itu melesat pergi dengan suara ban yang berdecit keras, meninggalkan kepulan asap knalpot yang menerpa wajah Arkan. Arkan berdiri sendirian di sana. Dia tidak mengambil uang itu. Dia membiarkan uang tersebut terinjak-injak oleh langkah kaki mahasiswa lain yang lewat sambil mencibirnya.

Malam harinya, hujan turun sangat deras. Langit seolah ikut menekan mental Arkan yang sudah hancur. Dia mengendarai motor bebeknya menembus badai. Pikirannya kosong. Setiap inci tubuhnya terasa lelah. Ucapan Nadira tentang "masa depan yang gelap" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa.

Jalanan sangat licin. Lampu jalan banyak yang mati, membuat jarak pandang hanya terbatas pada beberapa meter di depan. Arkan tidak sadar bahwa dia sudah memasuki persimpangan besar.

Tiba-tiba, dari arah samping, sebuah truk kontainer logistik melaju dengan kecepatan tinggi. Lampu sorot truk itu membutakan mata Arkan seketika. Suara klakson panjang yang memekakkan telinga adalah hal terakhir yang dia dengar sebelum dentuman keras menghancurkan segalanya.

BRAAAK!

Tubuh Arkan terpental sejauh lima belas meter ke aspal. Motor bebek tuanya hancur menjadi tumpukan besi tua yang tidak lagi berbentuk. Arkan terkapar di tengah genangan air hujan yang dengan cepat berubah warna menjadi merah karena darahnya sendiri.

Dia merasakan panas yang luar biasa di dadanya. Tulang rusuknya remuk, menusuk paru-parunya hingga setiap tarikan napas terasa seperti sayatan pisau. Cairan hangat mengalir dari pelipisnya, masuk ke lubang telinga. Arkan mencoba menggerakkan jarinya, tapi seluruh tubuhnya mati rasa.

"Jadi... begini akhirnya?" batin Arkan. Pandangannya mulai meredup. Cahaya lampu kota yang jauh terlihat seperti bintang-bintang yang perlahan padam.

Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin dan jernih bergema langsung di dalam pusat kesadarannya.

[DETEKSI TARGET: ARKAN WIJAYA]

[KONDISI: KRITIS - 2% KEHIDUPAN TERSISA]

[AMBISI BALAS DENDAM: 100% - MELEBIHI AMBANG BATAS]

[SISTEM DEWA KARISMA MEMILIH INANG...]

Cahaya biru elektrik muncul dari dada Arkan, menembus jaketnya yang sobek. Cahaya itu membentuk jaring-jaring digital yang mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.

[PROSES SINKRONISASI DIMULAI]

[MENGINTEGRASIKAN DATABASE TAKDIR...]

[MEMPERBAIKI STRUKTUR SELULER...]

Arkan merasa otaknya ditarik keluar. Ribuan gigabyte data tentang probabilitas, algoritma sosial, dan struktur realitas dipaksa masuk ke dalam memorinya. Rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat kecelakaan tadi. Dia ingin berteriak, tapi suaranya hilang.

[SINKRONISASI BERHASIL]

[SELAMAT DATANG, USER ARKAN WIJAYA]

[STATUS: AKTIF]

Secara ajaib, rasa sakit itu hilang total. Arkan bisa merasakan tulang-tulangnya menyambung kembali dengan bunyi klik yang presisi. Luka-luka di kulitnya menutup tanpa meninggalkan bekas. Darah yang tadinya mengalir berhenti, dan jantungnya berdetak dengan ritme yang lebih kuat dan stabil.

Arkan membuka mata. Dia bangkit berdiri di tengah hujan yang masih deras. Pakaiannya masih hancur dan berlumuran darah, tapi tubuh di baliknya adalah tubuh yang baru. Lebih kuat, lebih tangguh.

Layar transparan melayang di hadapannya.

[SKILL PASIF AKTIF: MATA ANALISIS]

[OBJEK TERDETEKSI: ROLLS-ROYCE PHANTOM (50 METER)]

[TARGET POTENSIAL: ELVINA PRATAMA]

Arkan menoleh ke depan. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti darurat di bahu jalan. Kap mesinnya mengeluarkan asap tipis yang langsung hilang tertimpa hujan. Seorang wanita dengan gaun merah elegan berdiri di bawah payung hitam yang dipegang oleh sopirnya.

Arkan memfokuskan pandangannya. Seketika, barisan data muncul di samping wanita itu.

[NAMA: ELVINA PRATAMA]

[STATUS: CEO PRATAMA GROUP / PEWARIS TUNGGAL]

[MASALAH: SISTEM ECU MOBIL TERKUNCI OLEH VIRUS DIGITAL DARI SAINGAN BISNIS]

[WAKTU TERSISA UNTUK RAPAT KRUSIAL: 8 MENIT]

Arkan berjalan mendekat. Langkah kakinya terasa ringan, seolah gravitasi tidak lagi membebaninya. Dia tidak merasa dingin sedikit pun meskipun basah kuyup. Saat dia sampai di samping mobil, sopir Elvina langsung menghalaunya.

"Minggir, Nak! Jangan mendekat!" bentak sopir itu.

Elvina Pratama menoleh. Matanya yang tajam dan berwibawa menatap Arkan. Dia melihat seorang pemuda dengan pakaian compang-camping dan berdarah, tapi anehnya, pemuda itu berdiri sangat tegak dengan tatapan mata yang sangat tenang. Ada aura otoritas yang tidak biasa memancar dari sosok tersebut.

"Mobil Anda tidak akan menyala meskipun Anda memanggil seluruh montir di kota ini dalam satu jam," ucap Arkan. Suaranya rendah dan penuh percaya diri.

Elvina menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"

"Ini bukan kerusakan mekanis. Ini serangan digital. Sistem keamanan mobil Anda dikunci secara paksa," lanjut Arkan sambil berjalan menuju kap mesin.

Sopir itu hendak menarik Arkan, tapi Elvina mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti. Dia adalah seorang pengusaha cerdas; dia bisa merasakan ketika seseorang bicara dengan fakta, bukan sekadar bualan.

"Kamu bisa memperbaikinya?" tanya Elvina.

Arkan tidak menjawab secara lisan. Dia meletakkan telapak tangannya di atas kap mesin yang dingin. Di matanya, dia melihat barisan kode berwarna merah yang mengunci sistem mobil tersebut.

[SISTEM: GUNAKAN 5.000 POIN UNTUK OVERRIDE]

[PROSES SELESAI DALAM 3... 2... 1...]

KLIK.

Suara kunci pintu otomatis terdengar. Mesin V12 Rolls-Royce itu mendadak menderu halus. Lampu depan yang tadinya padam kini menyala terang, membelah kegelapan malam.

Sopir Elvina ternganga. Dia bahkan belum sempat membuka penutup mesin, tapi pemuda ini hanya menyentuhnya dan semuanya kembali normal.

Arkan menarik tangannya dan menatap Elvina. "Waktu Anda tinggal tujuh menit. Jika Anda berangkat sekarang dengan kecepatan rata-rata delapan puluh kilometer per jam, Anda akan sampai tepat waktu."

Elvina terpaku selama beberapa detik. Dia melihat jam tangan Cartier di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Arkan. Pemuda ini bukan orang biasa. Ketengangannya, cara bicaranya, dan kemampuannya tidak masuk akal.

"Siapa namamu?" tanya Elvina dengan nada yang jauh lebih lembut namun tetap berwibawa.

"Arkan Wijaya," jawab Arkan singkat. Dia mulai berjalan menjauh, kembali ke kegelapan.

"Tunggu! Berapa bayaranmu?" Elvina berteriak di tengah suara hujan.

Arkan berhenti sejenak, menoleh sedikit tanpa sepenuhnya berbalik. "Simpan uangmu. Anggap saja ini investasi awal. Aku akan menagihnya saat aku sudah membangun kerajaanku sendiri."

Arkan menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Elvina yang masih berdiri terpaku di samping mobil mewahnya.

[DING! MISI SELESAI]

[HADIAH: 100.000 POIN + SKILL: MATA ANALISIS BISNIS]

[KARISMA MENINGKAT: +10]

Arkan berhenti di bawah lampu jalan yang remang. Dia menatap bayangannya di genangan air. Dia melihat wajah yang sama, tapi mata itu sekarang bersinar dengan ambisi yang mematikan.

"Nadira, Rafael..." bisik Arkan. "Kalian bilang aku sampah? Maka aku akan memastikan kalian memohon untuk bisa menyentuh sampah ini nanti."

Arkan mengepalkan tangannya. Dia bisa merasakan aliran data di sekelilingnya. Kota ini bukan lagi tempat yang kejam baginya. Kota ini sekarang adalah papan catur miliknya.

Permainan baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca