Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Jakarta Gerhana Darah : Tembang Kematian Di Kota Beton

Jakarta Gerhana Darah : Tembang Kematian Di Kota Beton

Rindu Dee | Bersambung
Jumlah kata
51.2K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Jakarta Gerhana Darah : Tembang Kematian Di Kota Beton
Jakarta Gerhana Darah : Tembang Kematian Di Kota Beton

Jakarta Gerhana Darah : Tembang Kematian Di Kota Beton

Rindu Dee| Bersambung
Jumlah Kata
51.2K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
HorrorHorrorMisteriDunia GaibIndigo
Aksara (16), atau yang akrab dipanggil Ara, adalah siswa SMA biasa yang lebih suka memegang kamera daripada buku pelajaran. Namun, hidupnya berubah total saat ia tak sengaja memotret fenomena "Gerhana Darah" dari atap sekolahnya di kawasan Jakarta Selatan. Fenomena itu bukan sekadar peristiwa astronomi; itu adalah gerbang yang terbuka bagi para Siluman dan Lelembut untuk mengklaim kembali tanah Batavia.​Satu per satu, teman-teman Ara menghilang. Jakarta mulai diteror oleh sosok-sosok yang selama ini dianggap mitos:​Wewe Gombel yang bersarang di antara kabel-kabel listrik yang semrawut.​Genderuwo yang menghuni rubanah mal mewah.​Siluman Buaya Putih yang merayap di saluran drainase kota.​Namun, ancaman terbesarnya bukanlah hantu lama, melainkan "Sang Prahara"—makhluk hibrida hasil kutukan modern. Sosok berwajah buaya dengan badan manusia yang membusuk dan sayap kelelawar raksasa yang menyelimuti langit Jakarta setiap malam Jumat Kliwon.​Ara ternyata mewarisi darah "Penyelaras", satu-satunya orang yang bisa menutup gerbang tersebut. Dibantu oleh seorang kakek penjaga makam keramat dan seorang teman sekolah yang memiliki indra keenam, Ara harus menyusuri lorong-lorong gelap Jakarta—mulai dari Kota Tua yang mencekam hingga proyek mangkrak di pinggiran Bekasi—untuk menghentikan Tembang Kematian sebelum seluruh warga kota menjadi tumbal beton.
Bab 1 : Lensa Yang Menangkap Bayangan

Jakarta Selatan pukul lima sore bukan sekadar titik koordinat; itu adalah sebuah ujian kesabaran. Di bawah langit yang berwarna seperti memar—ungu keabu-abuan dengan guratan oranye yang sakit—suara klakson dari Jalan Fatmawati naik ke atas seperti uap panas yang menyesakkan.

​Aksara, yang lebih suka dipanggil Ara, berdiri di tepi atap SMA Tunas Bangsa. Angin sore yang membawa aroma debu jalanan dan sate gerobakan mempermainkan ujung seragam putihnya yang sudah tidak rapi. Di tangannya, sebuah kamera DSLR tua—warisan ayahnya yang sudah lama "pergi"—terasa berat namun mantap.

​Ara tidak sedang menunggu seseorang. Ia sedang menunggu cahaya.

​"Cuma lewat kamera ini dunia kelihatan masuk akal," gumamnya pelan.

​Baginya, Jakarta melalui mata telanjang adalah kekacauan yang gagal diatur. Namun, di balik lensa 50mm-nya, ia bisa mengisolasi kecantikan dari keburukan. Ia bisa memotret seorang tukang ojek yang sedang tertidur di atas motornya di tengah kemacetan, menjadikannya sebuah potret tentang keletihan manusia yang puitis.

​Namun, sore ini ada yang berbeda.

​Seharusnya, menurut aplikasi astronomi di ponselnya, Gerhana Darah baru akan dimulai tiga jam lagi. Namun, melalui jendela bidik kameranya, Ara melihat sesuatu yang salah pada matahari yang sedang tenggelam. Tepian sang surya tampak seperti sedang digerogoti oleh sesuatu yang hitam, cair, dan kental. Bukan bayangan bulan, melainkan sesuatu yang lebih mirip seperti tinta yang tumpah ke atas kain sutra.

​"Ara! Masih di atas lo?"

​Suara cempreng itu membuyarkan konsentrasi Ara. Ia menoleh dan mendapati Raka, sahabatnya yang bertubuh tambun dan selalu berkeringat, muncul dari pintu menuju rooftop. Raka terengah-engah, memegang botol air mineral yang hampir kosong.

​"Bentar lagi gerhana, Rak. Lo nggak mau liat?" tanya Ara tanpa mengalihkan pandangan dari lensanya.

​"Gerhana-gerhana... yang ada gue telat les bimbel bisa digantung nyokap gue," Raka menyeka keringat di dahinya. "Lagian, hawanya aneh banget sore ini. Lo nggak ngerasa? Kayak... gerah, tapi bikin merinding. Di bawah, kucing-kucing liar pada lari ke arah selokan semua, kayak ketakutan."

​Ara terdiam. Ia menurunkan kameranya. Benar kata Raka. Suara burung gereja yang biasanya berisik di pohon pule depan sekolah mendadak hilang. Hening yang tercipta bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang menekan telinga.

​"Tadi di kelas, si Maya sempet pingsan," lanjut Raka, suaranya merendah. "Dia bilang dia denger suara tangisan dari dalam tembok loker. Anak-anak bilang dia cuma dehidrasi, tapi mukanya pucat banget, Ra. Kayak liat mayat."

​Ara teringat Maya, gadis pendiam yang duduk di barisan depan. "Mungkin emang kurang minum. Jakarta lagi panas-panasnya."

​"Enggak, Ra. Ini beda," Raka mendekat ke tepian pagar beton, melihat ke arah pembangunan jalur kabel bawah tanah di depan sekolah yang mangkrak berbulan-bulan. "Tanah Jakarta ini udah tua. Kadang gue mikir, apa kita emang boleh terus-terusan nanam beton di atasnya tanpa minta izin?"

​Ara tertawa kecil, meski hatinya mencelos. "Sejak kapan lo jadi filosofis gini?"

​"Sejak gue liat sesuatu di kabel listrik tadi pagi," jawab Raka serius. "Lupakan. Yuk turun, gerbang mau dikunci Pak satpam."

​Ara mengangguk, namun sebelum ia melangkah, sudut matanya menangkap sebuah pergerakan di langit. Cahaya matahari yang tadinya oranye kini berubah menjadi merah tua yang pekat—warna darah yang sudah teroksidasi.

​Ia secara refleks mengangkat kameranya lagi. Mengatur shutter speed, menyesuaikan aperture. Ia membidik ke arah matahari yang kini mulai tertutup bayangan merah.

​Klik.

​Satu foto.

​Klik.

​Dua foto.

​Pada foto ketiga, Ara menahan napas. Di dalam viewfinder-nya, ia tidak hanya melihat gerhana. Di antara kabel-kabel listrik yang saling melilit tak beraturan di depan gedung sekolah, ia melihat sesuatu yang bergantung di sana.

​Awalnya ia mengira itu adalah tumpukan sampah plastik atau kain spanduk yang tersangkut. Namun, saat ia memutar ring fokusnya, gambar itu menjadi tajam.

​Itu adalah sesosok tubuh. Kurus kering, dengan kulit berwarna abu-abu kusam yang menggelambir. Rambutnya panjang menjuntai hingga hampir menyentuh kepala orang-orang yang sedang menunggu bus di bawahnya. Makhluk itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya lubang hitam besar di tempat yang seharusnya menjadi mulut. Dan yang paling mengerikan, tangan-tangannya yang panjang dengan kuku hitam sedang memilin kabel listrik seolah-olah itu adalah untaian rambut.

​Tangan Ara gemetar. Ia menurunkan kamera, melihat langsung dengan matanya.

​Kosong.

​Hanya ada kabel listrik yang semrawut dan lampu jalan yang mulai berkedip-kedip karena otomatisasi senja.

​"Ra? Kenapa lo? Muka lo kayak abis liat setan," Raka menyenggol bahunya.

​Ara menelan ludah. Tenggorokannya terasa berpasir. "Enggak... cuma... silau."

​Ia melihat kembali ke layar digital di belakang kameranya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke pangkal leher. Di layar kecil itu, sosok itu ada. Jelas sekali. Sosok itu sedang menoleh ke arah kamera, seolah-olah ia sadar bahwa melalui lensa tua itu, rahasianya terbongkar.

​"Ayo turun, Rak. Sekarang," ajak Ara dengan nada yang tidak bisa dibantah.

​Mereka menuruni tangga darurat dengan terburu-buru. Setiap derap langkah kaki mereka di anak tangga besi bergema dengan cara yang janggal, seolah-olah ada langkah kaki ketiga yang mengikuti di belakang dengan ritme yang sedikit lebih lambat.

​Saat sampai di lobi, suasana sekolah sudah sepi. Pak Jaka, satpam sekolah, terlihat sedang mengunci pintu perpustakaan di ujung lorong.

​"Pulang, Dek Ara? Hati-hati, mendungnya nggak beres ini," sapa Pak Jaka. Suaranya terdengar parau, dan Ara menyadari mata Pak Jaka terus-menerus melirik ke arah sudut langit-langit lobi.

​"Iya, Pak. Mari," jawab Ara singkat.

​Saat mereka berjalan menuju gerbang, Ara tidak sengaja berpapasan dengan cermin besar yang ada di depan ruang guru. Ia berhenti sejenak. Di dalam pantulan cermin, ia melihat dirinya dan Raka. Namun, di belakang bayangan mereka, di lorong kelas yang gelap, ia melihat deretan sosok kecil dengan perut buncit dan mata merah yang sedang berjongkok di atas loker siswa.

​Ara memejamkan mata erat-erat, lalu membukanya lagi. Hilang.

​"Ada apa sih, Ra? Dari tadi lo aneh banget," Raka mulai merasa tidak nyaman.

​"Besok gue kasih tau. Sekarang kita pulang. Jangan lewat jalan pintas yang lewat sungai ya, Rak. Lewat jalan raya aja, yang terang," pesan Ara.

​Raka hanya mengernyitkan dahi, namun ia bisa merasakan ketakutan yang tulus dalam suara sahabatnya itu. Mereka berpisah di depan halte. Raka naik bus arah Lebak Bulus, sementara Ara memutuskan untuk berjalan kaki menuju kontrakannya yang tak jauh dari sana.

​Jakarta malam itu terasa berbeda. Lampu-lampu jalanan tampak lebih redup, dan bayangan-bayangan yang dipantulkan oleh pohon-pohon peneduh di pinggir jalan tampak lebih panjang dan lebih "hidup".

​Ara menggenggam tas kameranya erat-erat. Ia merasa bahwa dengan memotret Gerhana Darah tadi, ia baru saja merobek sebuah selaput tipis yang selama ini memisahkan dunianya dengan sesuatu yang seharusnya tetap berada di kegelapan.

​Sesampainya di kamar kontrakannya yang sempit, Ara langsung mengunci pintu. Ia tidak menyalakan lampu. Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu, dan menyalakan kembali layar kameranya.

​Ia menggulir foto-foto yang ia ambil tadi.

​Satu foto gerhana.

Satu foto makhluk di kabel listrik.

Dan foto terakhir... foto yang diambilnya secara tidak sengaja saat ia tersandung di tangga tadi.

​Foto itu buram, motion blur. Namun, di tengah-tengah kekacauan cahaya itu, ada satu wajah yang tertangkap dengan sangat jelas. Bukan wajah manusia, bukan wajah hantu biasa. Itu adalah wajah dengan moncong panjang seperti buaya, namun dengan tatapan mata yang penuh dengan kecerdasan jahat dan kuno. Makhluk itu berada tepat di belakang pundak Raka dalam foto tersebut.

​Tiba-tiba, ponsel Ara bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor tak dikenal.

​“Penyelaras... darahmu mulai bernyanyi. Gerbangnya sudah terbuka. Selamat datang di Batavia yang sebenarnya.”

​Di luar, petir menyambar tanpa suara guntur. Cahaya kilat itu menyinari jendela kamar Ara, dan untuk sepersekian detik, bayangan sayap raksasa melintas di tembok kamarnya.

​Jakarta baru saja berubah. Dan Ara adalah satu-satunya orang yang memegang "kuncinya".

Lanjut membaca
Lanjut membaca