

"Apes bener nasib Gue, udah kayak pepatah, sudah jatuh ketimpa tangga. Udah tiga tahun, nganggur, ngelamar jadi supir, nggak ada yang manggil - manggil. Si Anggi mutusin hubungan, gara - gara Gue udah nggak punya uang, buset, apes - apes."
Tak lama tepat jam delapan pagi suara ketukan pintu terdengar. Trisno sudah hafal, pasti ini ketukan, dari Babe Udin. Pemilik kontrakan.
Trisno...Trisno... buka pintunya, Lu jangan pura - pura budeg ya, kontrakan kapan mau bayar.
"Duh, apa kan Gue bilang, serba salah, nggak Gue buka pintunya, dia ngoceh mulu, dibuka pasti mulutnya nyerocos kayak petasan."
Dengan langkah yang berat, Trisno memberanikan diri membuka pintu.
Ceklek...
"Ya, Be, maaf uangnya belum ada, sabar, nanti saya rapel deh, bayarnya."
"Heh, Trisno! Lu pikir ini rumah nenek moyang Lu, seenak jidad aja Lu make nggak bayar, ini udah enam bulan nunggak, jangan Lu minta Gue sabar mulu, sial Lu. Gue juga butuh buat bayar ini itu, rumah Gue ini buat bisnis, bukan dinas sosial, kalau Lu nggak bisa bayar, sekarang juga Lu angkat kaki deh, dari sini, empet Gue lihat Lu."
"Be, jangan dulu, saya coba cari pinjaman dulu."
"Halah, capek Gue, denger alasan Lu, dari enam bulan yang lalu, udahannya zonk, udah deh, sekarang juga, Gue minta lu pergi dari sini, masih banyak yang mau ngontrak, paham lu!"
"Tega banget sih, Be, tar saya tinggal di mana?"
"Ya bukan urusan Gue lah, mang Gue bapak Lu. Buruan kemasin barang Lu, Gue kasih waktu dua jam buat Lu beresin semua barang Lu."
"Ya udah, kalau kayak gitu, semoga aja, anak Babe nggak ngalamin susah kayak saya."
"Nyumpahin Gue, Lu, dah buruan, udah susah, banyak tingkah Lu. Sumpah orang miskin kayak Lu, kagak mempan ke Gue, dasar pengangguran."
Begitu mendengar kata - kata Babe Udin, hati Trisno benar - benar sakit hati, tangannya mengepal, namun dia nggak ada daya, memang saat ini dia lagi benar - benar terpuruk total.
"Waktu Gue cuman dua jam, ya udah mau nggak mau, ini sofa dan televisi, kulkas kayaknya Gue jual aja, ke Gito deh, dia kan nerima jual barang - barang bekas, setidaknya buat nambah nyambung hidup dulu deh."
Sejam kemudian, Gito dateng, dengan mobil box bututnya. Trisno sudah menunggu di teras kontrakannya.
"Wehhh...Trisno, lemes amat sih Lu, kenapa?"
"Ini hari Gue harus angkat kaki dari sini, enam bulan Gue nunggak, ini tolong deh, bayarin sofa, televisi, sama kulkas Gue."
"Yakin nih, Lu mau jual?"
"Ya. Tolongin Gue..., berapa tuh kira - kira?"
"Ya paling gede juga sejuta dua ratus, Gue nggak bisa mahal - mahal, kan Gue buat jual lagi."
"Ya elah, nggak bisa lempengin apa dua juta gitu?"
"Buset...ini barang Lu bekas udah, ya udah palingan satu juta lima ratus, Lu mau angkut, nggak ya nggak apa - apa. Gimana?"
"Ya udah, dari pada kagak ada, Gue tar cari kontrakan yang murah - murah aja."
"Ya ini mau ditransfer apa gimana?"
"Cash aja, rekening Gue udah nggak ada, udah mati."
"Kasihan bener nasib Lu, Trisno."
"Udah jangan ngomong begitu, Gue tahu, Gue ini orang susah, apes terus."
"Ya udeh, Lu yang semangat."
"Ya moga aja ini hp nggak kejual, makasih ya, Gito."
"Sama - sama, Gue jalan dulu, mau ngambil barang di tempat lain dulu."
"Ya, Lu hati - hati."
"Siap..."
Setelah barang semua sudah terjual, Trisno mulai mengangkut semua pakaian lusuhnya. Setelah itu, dia menaruh kunci kontrakannya di atas lubang udara. Trisno mengetik cepat :
"Be , saya udah beresin semua barang, kunci saya taro di atas lubang udara, makasih udah sempet tinggal di kontrakan Babe. Saya pamit keluar dari kontrakan ya, Be."
Setelah pesan terkirim, pesan itu hanya dibaca tidak ada balasan dari Babe Udin. Trisno hanya mengelus dada, segininya kalau jadi orang susah, nggak dianggap, diremehin. Trisno melangkah pelan meninggalkan kontrakan lamanya itu yang berada di wilayah Jakarta Timur. Di sela perjalanan, kepalanya berpikir, kemana lagi dia harus mencari tempat tinggal, yang murah, dan apa yang harus dia lakukan setelahnya, untuk tetap bisa menyambung hidupnya.
"Huftt...Duit Gue cuman satu juta lima ratus, tabungan digital cuman sisa dua ratus ribu, Gue harus cari kontrakan semurah mungkin, tetapi Gue harus cari kerjaan apa aja deh, yang penting bisa buat makan."
Tak lama dia menaiki angkot yang menuju terminal, suasana di dalam angkot, tidak kondusif, beberapa penumpang tampak tidak senang melihat Trisno naik angkot itu dengan pakaian yang lusuh, dan bau pakaian yang kurang matahari, membuat para penumpang menutup hidung.
Satu jam perjalanan, sampailah di sebuah terminal, Trisno turun, dan para penumpang yang berada dalam angkot tadi, mengucapkan kata - kata sindiran yang membuat Trisno semakin minder.
"Mas...lain kali kalau naik angkot, mandi dulu keq, baju juga dicuci yang bener, aroma baunya nyengat tahu nggak ke hidung saya, mau muntah saya." Kata salah satu penumpang wanita tua itu
Trisno mengangguk dan memberikan tangan permintaan maaf. "Maaf Bu, saya ini mandi, hanya saja, memang beberapa minggu ini kan hujan, nggak ada matahari."
"Mandi apaan, muka kamu aja buluk, sampe belekan gitu, jangan rugiin penumpang lainnya, kalau nggak mandi, jalan kaki aja, sana."
Trisno tak menjawab apapun lagi, walau hatinya sakit begitu dipermalukan di depan banyak orang, ia segera meninggalkan angkot itu, tak lama dia melihat warteg yang ada di dalam terminal , perutnya sudah keroncongan, karena dia benar - benar menghemat, agar sisa uangnya yang hanya sedikit itu, nggak cepat habis.
Sesampainya di warteg, dia sangat tergiur dengan ayam, ikan, namun dia tahu, kondisinya saat ini, sedang memprihatinkan, dia harus menghemat, karena harus mencari kontrakan baru.
"Mas...mau makan di sini, atau bungkus?" Tanya lembut Ibu pemilik warteg
"Ya, makan sini aja, pake nasi, orek aja Bu, sama kuah sayur sop, sambel."
"Wah kalau sambelnya harus beli, Mas, karena cabe lagi mahal."
"Oh ya udah, Bu, nggak usah. Nasi orek, sama kuah sop aja."
"Minumnya apa, Mas?"
"Air putih aja."
Tak lama makanan siap. Trisno makan dengan lahap, walau dia tahu, yang dia makan tidak terlalu mengandung banyak vitamin. Pandangannya terus ke arah terminal, saat sedang menikmati makanannya, dia merasa punggungnya di colek seseorang, Trisno menoleh.
"Astaga, Lukman, Gue kira siapa."
"Lu ngapain Trisno, ada di terminal? Segala bawa tas gede banget?"
"Nanti Gue ceritain, panjang pokoknya."
"Ya udah, mending Lu ikut Gue."
"Lho Mas Lukman, nggak jadi makan?" Tanya pemilik warteg yang sudah mengenal Lukman
"Tar aja Bu, saya ke sini lagi, mau ngobrol dulu sama temen saya."
Setelah selesai makan, Trisno mengikuti ajakan Lukman, dan mengobrol di area taman yang masih berada di dalam terminal.