Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Segel darah ketujuh;ritual menuju kejayaan (21+)

Segel darah ketujuh;ritual menuju kejayaan (21+)

ya_liea | Bersambung
Jumlah kata
34.7K
Popular
188
Subscribe
43
Novel / Segel darah ketujuh;ritual menuju kejayaan (21+)
Segel darah ketujuh;ritual menuju kejayaan (21+)

Segel darah ketujuh;ritual menuju kejayaan (21+)

ya_liea| Bersambung
Jumlah Kata
34.7K
Popular
188
Subscribe
43
Sinopsis
18+FantasiIsekaiUrban21+Tumbal
Damar Denatra adalah seorang pemuda yang mendapatkan wasiat Segel Darah Ketujuh dari mendiang ayahnya. Ia diasuh oleh Mbok Jum, orang kepercayaan sekaligus pelayan di keluarga Denatra yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. ​Tragedi besar menimpa keluarga Denatra saat Damar masih berusia empat tahun. Seluruh keluarganya tewas dalam sebuah kecelakaan maut yang hanya menyisakan Damar seorang diri. Di saat-saat kritis sebelum mengembuskan napas terakhir, ayah Damar memberikan pesan terakhir kepada Mbok Jum agar menjaga Damar hingga usianya genap 25 tahun. Saat hari itu tiba, Mbok Jum diwajibkan menyerahkan surat wasiat turun-temurun kepada Damar. ​Damar harus melanjutkan ritual turun-temurun keluarga tersebut. Jika tidak, ia akan hidup menderita hingga ke anak cucunya kelak. Dulunya, keluarga Denatra adalah orang kaya yang sangat terpandang, namun setelah sang ayah meninggal, kekayaan yang didapat dari ritual tersebut menguap begitu saja. Kekayaan itu hanya bisa kembali jika ada generasi berikutnya yang meneruskan ritual tersebut. ​Kini, Damar baru menyadari alasan mengapa hidupnya selama ini selalu menderita dan penuh kegagalan. Hal itu dikarenakan ritual nenek moyangnya terputus akibat kematian sang ayah, dan baru bisa diteruskan kembali setelah Damar sebagai penerima waris sah genap berusia 25 tahun.
Bab 1 rahasia di balik nafas ringkih

​ Rahasia di balik nafas ringkih

" entah ujian yang gimana lagi yang akan datang"pekik damar lirih ia duduk termenung di teras rumah tuanya yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk dimakan usia.

Pandangannya kosong, menembus kegelapan malam, namun pikirannya terseret jauh ke dalam labirin ingatan masa kecil yang samar tentang kemewahan yang pernah ia miliki sebelum semuanya dirampas paksa oleh takdir. Asap rokok mengepul dari sela bibirnya, membubung pelan sebelum hilang disapu angin malam yang dingin.

​Dari dalam rumah yang remang, sesosok wanita berusia enam puluh tahunan keluar dengan langkah yang tenang. Mbok Jum membawa secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul, menebar aroma pahit yang menenangkan.

​"Ngelamun terus kerjaanmu, Mar. Ini, Mbok bikinkan kopi hitam tanpa gula kesukaan mu," suara Mbok Jum memecah keheningan, terdengar serak namun hangat.

​Damar mendongak, menatap wanita tua yang sudah merawatnya sejak ia kehilangan segalanya. Wajah Damar yang tampan terlihat lelah di bawah cahaya lampu teras yang kuning redup. Garis rahangnya yang tegas mengeras, memperlihatkan gurat keputusasaan yang dalam.

​"Entahlah, Mbok... capek Damar hidup kayak gini terus," bisik Damar. Suaranya rendah, sarat akan beban hidup yang seolah tak punya ujung.

​Mbok Jum tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan banyak rahasia. Ia duduk di dekat Damar, tangannya yang keriput menepuk bahu tegap pria itu dengan lembut.

​"Sabar, Mar. Tunggu sebentar lagi. Besok kehidupanmu akan mulai berubah," ucap Mbok Jum penuh arti.

​Damar tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan kepalanya di tembok yang kasar, matanya beralih menatap langit malam. Di atas sana, bulan purnama bersinar begitu bulat dan terang, seolah sedang mengawasi mereka dengan mata peraknya yang dingin. Cahaya rembulan itu jatuh mengenai wajah Damar, menonjolkan tulang pipinya dan tatapan matanya yang gelap, membuat penampilannya terlihat lebih dramatis namun juga berbahaya.

​"Berubah apa, Mbok Jum? Berubah jadi tambah menderita?" Damar menghela napas panjang, membiarkan dadanya yang bidang naik-turun dengan berat. Ia merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang tak pasti, sebuah janji yang terdengar seperti mimpi di tengah kenyataan hidupnya yang berantakan.

​"Besok umurmu genap dua puluh lima tahun, Mar. Mbok sudah janji sama orang tuamu dulu, untuk menjaga apa yang mereka titipkan kepada Mbok."

​Suara Mbok Jum bergetar pelan, membawa beban masa lalu yang terasa begitu berat di udara malam yang lembap. Damar tidak segera menyahut. Ia hanya menatap puntung rokok di sela jarinya yang kasar sebelum membuangnya sembarang ke tanah.

​"Iya, Mbok. Titipan yang menyusahkan Mbok Jum ini," sahut Damar dengan nada yang getir. Ada rasa bersalah yang terselip di balik ketus bicaranya. Ia merasa kehadirannya selama ini hanyalah beban tambahan bagi wanita tua yang seharusnya sudah beristirahat tenang itu.

​Damar bangkit berdiri. Tubuhnya yang tinggi besar tampak seperti bayangan raksasa yang menelan cahaya lampu teras. Tanpa kata lagi, ia melangkah masuk ke dalam rumah, berjalan menuju kamarnya yang sempit dan pengap. Langkah kakinya yang berat di atas lantai kayu menciptakan derit yang seolah meratapi nasibnya sendiri.

​Sementara itu, Mbok Jum masih bergeming di teras. Matanya yang mulai kabur menatap bulan purnama itu dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu di alam sana.

​"Mulai besok, tugas Mbok Jum akan selesai, Mar," gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan angin. "Mbok sudah bisa memberi tahu mu akan rahasia ini. Mbok cuma takut meninggal sebelum kamu tahu wasiat dari bapakmu."

​Mbok Jum terbatuk kecil, mencengkeram dadanya yang sering terasa sesak. Tubuhnya yang semakin ringkih dimakan usia dan penyakit sering kali membuatnya dirundung kecemasan.

Ia takut jika Sang Kuasa memanggilnya sebelum mandat dari almarhum ayah Damar tersampaikan. Rahasia itu terasa seperti bara panas yang telah ia simpan di dalam dada selama puluhan tahun, dan besok tepat di hari kelahiran Damar yang ke-25 bara itu harus ia pindahkan ke tangan sang pemilik sah.

​Damar menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kayu tipis yang berderit protes menahan beban tubuh tegapnya. Kamar itu kecil, pengap, dan hanya diterangi lampu lima watt yang temaram. Matanya menatap langit-langit beralaskan sengk yang mulai berkarat, tempat bayangan masa lalu seolah menari-nari mengejeknya.

​"Kenapa ya selalu gagal? Aku mencoba usaha juga tidak pernah berhasil," bisiknya pada keheningan yang menyesakkan. "Kerja keras kayak apa pun hanya cukup untuk makan. Setiap kali ada tabungan, pasti ada saja masalah."

​Ia memijat keningnya yang berdenyut. Rasa frustrasi merayap di balik dadanya yang bidang, menciptakan sesak yang lebih perih dari luka fisik akibat memanggul semen. Hidup terasa begitu kejam dan tidak adil baginya. Damar bukan pria tanpa otak; ia adalah seorang sarjana, lulusan terbaik yang mendapatkan beasiswa penuh dari kantor tempat mendiang ayahnya dulu mengabdi. Namun, gelar itu seolah tak berharga di kerasnya ibu kota. Keberuntungan seperti selalu meludahi wajahnya, memaksanya menyembunyikan ijazah itu di balik seragam kuli bangunan yang kotor dan bau keringat.

​Pikirannya melayang jauh ke masa belasan tahun silam. Damar ingat betul rasanya berjalan di atas lantai marmer yang dingin, mengenakan pakaian bagus, dan dikelilingi oleh rasa hormat. Ia adalah putra dari keluarga terpandang yang namanya pernah disegani, sebelum sebuah tragedi berdarah mencabut nyawa seluruh keluarganya dan menyeretnya ke titik nadir.

​Kini, satu-satunya penghubung dirinya dengan masa kejayaan itu hanyalah Mbok Jum. Wanita tua yang sekarang merawatnya dengan sisa-sisa tenaga itu dulunya adalah pelayan setia di rumah mewah milik keluarga Damar. Dari seorang tuan muda yang dipuja, kini ia hanyalah seorang kuli yang bahkan untuk bermimpi pun terasa terlalu mahal. Damar memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau rasa panas yang mulai menggenang di sudut matanya, sementara di luar sana, takdir sedang menghitung mundur jam menuju kelahiran yang akan mengubah segalanya.

​Semburat fajar menyusup melalui celah-celah ventilasi kayu yang rapuh, jatuh tepat di atas wajah Damar yang masih terlelap dalam sisa lelahnya. Suara ketukan pintu yang teratur namun mendesak memaksanya untuk kembali pada kenyataan pahit.

​"Mar, cepat bangun! Sudah siang, nanti mandormu marah-marah!" teriakan Mbok Jum dari balik pintu terdengar serak, namun cukup untuk menyentak kesadaran Damar.

​Damar mengerang pelan, tubuhnya yang kaku perlahan bangkit. Ia mengusap wajahnya yang berantakan, merasakan kasar telapak tangannya sendiri yang mengingatkannya bahwa hari ini ia harus kembali menjadi kuli. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar kamar, suara Mbok Jum kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih rendah dan penuh penekanan.

​"Nanti sepulang dari proyek, cepat kembali ke rumah, Mar. Ada hal penting yang Mbok Jum mau sampaikan."

​Kalimat itu menggantung di udara pagi yang dingin, terasa lebih berat dari biasanya. Damar terdiam sejenak di ambang pintu, menatap punggung Mbok Jum yang menjauh dengan langkah ringkih. Ada firasat aneh yang merayap di tengkuknya sebuah rasa penasaran yang beradu dengan kecemasan. Seolah-olah matahari yang terbit hari ini bukan sekadar penanda hari baru, melainkan awal dari badai yang akan menghancurkan hidup kuli bangunannya selamanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca