

Bab 1
Petir menyambar-nyambar. Angin bertiup kencang membawa dedaunan kering yang basah terguyur hujan deras. Seorang laki-laki berjalan ke sana-kemari, panik, sambil membawa selembaran brosur. Ia mencari istrinya yang sudah seminggu hilang tanpa kabar.
“Pak, apa Anda pernah melihat istri saya?” tanya Dirga menunjukkan foto istrinya.
“Maaf tidak tahu.”
Dirga menghentikan semua orang yang melintas di dekatnya, berharap ada yang tahu atau pernah melihat istrinya. tapi dari banyaknya orangg di sana, tidak ada satupun yang kenal atau melihat istrinya.
Dirga tertunduk lesu, hari semakin larut, tapi dia belum berhasil menemukan istrinya. Padahal anak mereka sedang sakit, merindukan ibunya.
“Kamu pergi ke mana, Mel? Kenapa kamu gak pernah pulang? Sena sekarang sakit karena kangen sama kamu,” Dirga menatap kosong ke jalan raya.
Tak sengaja ujung matanya melihat seseorang yang baru saja keluar dari kafe yang tak jauh dari sana.
“A—Amel?”
Dirga melangkah tergesa-gesa untuk mendekat. Setelah yakin jika yang ia lihat benar istrinya, barulah Dirga berani memanggilnya. “Amel…”
Perempuan itu menolah, raut wajahnya seketika berubah pucat.
“Dirga… kenapa kamu di sini?” tanyanya terlihat panic.
Dirga melangkah semakin mendekat. “Harusnya aku yang tanya begitu, Mel? Ke mana saja kamu selama seminggu ini? Kenapa kamu tiba-tiba pergi tanpa kabar? Apa kamu tau, Jena sakit karena nyariin kamu,” tanya Dirga dengan pandangan lurus, tetap menggunakan nada yang rendah.
Amel mendengus pelan. “Kalau Jena sakit harusnya kamu rawat dia dong. Ngapain kamu malah ada di sini?” katanya sinis.
“Aku setiap hari nyariin kamu, Mel. Ayo kita pulang. Jena pasti senang lihat kamu,” ajak Dirga berniat menggenggam tangan istrinya.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan kekar menepisnya.
“Siapa kamu? Kenapa pegang-pegang tangan tunangan saya!” sentaknya dengan tatapan tajam.
Dirga tersentak. “Tunangan?” gumamnya menatap Amel, menuntut penjelasan.
Amel menarik sudut bibirnya, lalu menggandeng tangan pria yang berdiri di sebelahnya.
“Iya Ga, ini Radit, tunanganku,” ucapnya dengan santai.
Mata Dirga membulat. “Apa maksud kamu, Mel? Apa kamu lupa kalau kamu sudah menikah dan memiliki anak? Bagaimana bisa kamu bertunangan dengannya?” tanyanya dengan rahang mengeras.
“Kenapa gak bisa? Kamu gak bisa memenuhi keinginanku, Ga. Aku capek hidup susah terus. Dan bersama Radit aku mendapatkan semuanya. Aku diratukan olehnya,” jawab Amel tanpa rasa bersalah. “Tapi kamu tenang aja, meski aku menikah dengan Radit. Tapi aku akan tetap kirimkan uang untuk kamu dan Jena. Jadi… tolong kamu rawat Jena dengan baik ya. Setelah dia besar nanti baru aku menjemputnya,” lanjutnya dengan enteng.
Rahang Dirga semakin mengeras, ia menatap Amel yang bergandengan dengan laki-laki lain masuk ke dalam mobil.
“Gak Mel. Ini gak benar. Sejak kapan kamu jadi seperti ini.” Dirga menggeleng kuat, melangkah cepat mengejar mereka.
“Amel tunggu!” teriaknya mengetuk kaca mobil.
Kaca mobil turun perlahan. “Apa lagi? Apa ucapan tunangan saya belum jelas? Dia lebih memilih saya dibandingkan kamu,” kata Radit dengan senyum mengejek.
“Mel ayo ikut aku pulang. Jena butuh kamu.” Dirga menatap istrinya dengan tatapan memohon.
“Aku gak bisa Ga. Kamu urus saja Jena sendiri. Dia juga anak kamu!” ketus Amel dengan cuek. “Dan satu lagi, urus perceraian kita secepatnya. Supaya aku bisa menikah dengan Radit!” tambahnya dengan serius.
“Gak Mel. Aku gak setuju bercerai. Jena butuh kita berdua,” tolak Dirga cepat.
“Ayo Beb jalan. Jangan buang-buang waktu untuk orang seperti dia,” pinta Amel pada kekasihnya.
Radit tersenyum smrik, menaikkan kaca mobilnya.
“Mel… tunggu Mel!” Dirga terus mengetuk mobil. Ia bahkan berdiri di depan, menghadang mobil Radit.
“Mel… tolong jenguk Jena. Dia benar-benar kangen sama kamu,” mohon Dirga merendah, demi putrinya.
“Sayang dia…”
“Ayo tabrak dia Radit. Jangan biarkan dia menghalangi hubungan kita!” perintah Amel tegas, menatap Dirga dengan kesal.
Radit menarik ujung bibirnya kesamping, lalu menginjak gas, dan mengarahkannya ada Dirga.
Brak!
Tubuh Dirga terpental ke udara, sebelum akhirnya jatuh terguling-guling di aspal basah. Cairan merah keluar deras bercampur dengan air hujam, membawa bau anyir yang menyengat.
“Mel….a—aku….”
Dirga mengulurkan tangannya, berusaha menjangkau Amel yang baru saja turun dari mobil. Dirga pikir Amel akan menolongnya. Tapi ternyata justru senyum kepuasan yang menghias wajah cantiknya.
Di detik-detik terakhirnya, Dirga mengingat semua kenangan yang telah ia lalui bersama Amel. Demi bisa bersamanya, Dirga melepas impiannya sendiri yaitu menjadi dokter. Bahkan Dirga sampai memutus hubungan dengan kedua orang tua dan kedua sahabatnya, yang selalu menentang hubungannya dengan Amel.
Dirga menyesal. Dia benar-benar menyesali semua kebodohannya. Andai ada kehidupan kedua, Dirga ingin memperbaiki semuanya. Dia pasti menjauh dari wanita penghianat seperti Amel.
“Amel, aku menyesal sudah mencintaimu,” gumam Dirga sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
***
“DIRGANTARA!”
Sebuah suara keras membuat Dirga tersentak.
“Cepat bangun dan selesaikan hukumanmu!” perintah seorang guru bertubuh kekar.
Dirga termenung, ia menatap sekelilingnya dengan bingung—berusaha mencerna apa yang terjadi. Seingatnya tadi ia ditabrak mobil dan sekarat di atas aspal hitam, dengan Amel yang menatapnya tanpa belas kasihan.
“Dirga!”
Dirga tersentak lagi, ia menatap guru galak yang berdiri di depannya. Lalu pandangan Dirga beralih… “Ini kan….”
Dirga kebingungan tiba-tiba ada di ruang kelas. Dan Dirga ingat betul ini kelasnya saat SMA dulu. Dan yang pasti tubuhnya masih sehat dan muda, tidak tertabrak mobil seperti yang ada diingatan terakhirnya.
“Kenapa masih diam saja. Cepat lari keliling lapangan sekarang!” perintah guru galak itu.
“I—iya Pak.” Meski bingung Dirga tetap pergi dari ruang kelas, menuju lapangan upacara.
Selama melangkah menuju lapangan Dirga terus merenung, memikirkan kejadian aneh yang baru saja ia alami. Ia bingung kenapa bisa kembali saat masa sekolah lagi. Sampai akhirnya matanya tak sengaja melihat banner penerimaan siswa baru, di depan kantor guru.
“2022? Itu berarti 8 tahun sebelum aku menikahi Amel? Dan 10 tahun dari kejadian malam itu? Apa aku kembali ke masa lalu, seperti yang ada di novel-novel? Kok bisa?”
Dirga mematung, ia menatap seluruh bangunan di sekitarnya. Semuanya masih tampak sama dengan yang ada di ingatannya.
Jika ia memang kembali ke masa lalu, itu berarti Dirga hari ini dihukum gara-gara Amel. Tugas Amel tertinggal, jadi Dirga merelakan hasil kerja kerasnya demi membantu gadis yang ia cintai—tapi dulu. Sekarang sudah tidak.
“Dirga Dirga. Kamu memang bodoh. Rela dihukum demi orang lain,” runtuknya dalam hati, menertawakan dirinya sendiri.
“DIRGANTARA! Cepat lari!” pekik Pak Sam—guru yang memberikannya hukuman.
Dirga membuang nafas berat, dan mulai mulai menjalankan hukumannya. Dirga bertekad, ini akan menjadi hukuman terakhirnya. Mulai detik ini, ia tidak akan mau lagi menanggung hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh Amel. Dirga harus menjauh dan jaga jarak darinya.