

Sore yang mendung tapi tidak hujan memberikan kesan dingin menjalar keseluruh tubuh manusia. Gemerlap lampu taman indah memberikan kesan kehidupan yang terus berjalan menyusuri setiap hari, kegelapan malam perlahan turun meraba lembut setiap detik permainan mendung menghiasi isi dalam cerita di sore hari menjelang petang.
Rendy Anggara Seorang Pemuda sederhana tak memiliki kekayaan namun dia terus berjuang dalam usaha kecil-kecilan yang telah ia tekuni selama lima tahun terakhir sejak duduk di bangku SMP hingga SMA. Kini dia akan segera selesai masa sekolah dan ingin melanjutkan kuliah di salah kampus ternama di kota Malang, dia berencana mencoba jalur beasiswa di Universitas Brawijaya tahun depan setelah lulus SMA.
Impian kampus terbaik bagi kalangan muda di sekolah dia dan tujuan utama mendapatkan pendidikan lebih baik. Walaupun semua kampus pasti memberikan pendidikan baik namun keinginan terbesarnya adalah masuk ke Universitas Brawijaya, namun keinginan dia akan terhambat jika tidak mendapatkan beasiswa.
". Oi, kak aku beli telur gulungnya sepuluh ribu ." Ucap seorang gadis muda.
Rendy yang sedang melamun membayangkan semua keinginannya terkejut mendengar panggilan gadis tersebut." Ehh, iya maaf bentar ya ." Balas Rendy.
". Jangan melamun mulu kak tar kesambet wewe gombel di pohon ituloh ." Ujar gadis itu lalu tertawa kecil. Rendy yang mendengarkan itu sedikit merasa bersalah juga karena dia melamun ketika ada pembeli.
". Iya intan maaf kenapa, kamu tuh nanti pulang di bawa pocong merah ." Balas Rendy lalu melihat wajah Intan.
Wajah intan yang mendengarkan itu sedikit takut lalu lebih mendekat ke tempat jualan Rendy. ". Ishhh kakak ini jangan nakut-nakutin Napa!! Aku kesini sendirian lagi ." Ujar gadis yang bernama Intan dengan wajah takut cemberut dan kesal oleh Rendy.
". Heheh, iya-iya maaf bercanda doang kok ." Balas Rendy terus melanjutkan membuat telur gulungnya, tak butuh waktu lama akhirnya telur gulung itu sudah siap lalu dia berikan kepada Intan untuk memilih bumbu yang dia inginkan sendiri.
Rendy melanjutkan membuat telur gulung lagi karena dia belum makan dari siang, dia hanya membawa nasi sama tempe saja karena hari ini sedikit berhemat saja.
". Makasih ya kak, aku pulang dulu dada kakak ganteng." Ucap Intan lalu di berlari sambil tertawa melihat ekspresi Rendy yang terkejut oleh perkataannya.
". Wah sialann tuh bocah bisa-bisanya gombalin saya, awas aja nanti kalau kesini ku buat baper terus menerus." Ujar Rendy pelan.
". Siapa yang mau kamu bikin baper ." Seseorang berkata pelan tapi tidak terlihat siapa dan dinama orang itu mengatakan sesuatu kepada Rendy.
Rendy yang mendengarkan suara tak ada wujudnya seperti kentut bunyi hanya memberikan bau saja. Dia melihat kanan kiri memastikan bahwa suara itu benar-benar ada orangnya namun sangat nihil tak ada siapa-siapa di sana.
Membuat bulu kuduk Rendy naik semua, rasa takut dan penasaran terus terngiang-ngiang dalam benak pikirannya. Rendy menghiraukan suara itu namun dia di kejutkan oleh seseorang pria tua berkumis tebal dan jenggot putih panjang di depan jualannya.
". Astaghfirullahalazim kakek, kagetin aja tiba-tiba berdiri disitu." Ucap Rendy memegang dadanya.
". Heheh, maaf nak Rendy kalau ngagetin." Balas kakek itu.
". Kakek mau telur gulung lagi?." Ujar Rendy menanyakan kepada kakek itu.
". Tidak nak Rendy, kakek ingin memberikan sesuatu kepadamu." Balas kakek.
". Apa itu kek?." Rendy bertanya sedikit penasaran juga.
". Ini gelang tridatumu pakailah, Semoga kamu sukses nantinya." Ujar kakek itu lalu memberikan gelang tridatu yang sudah kusam tapi masih sangat bagus.
Kakek Bejo itu memakaikan gelangnya kepada Rendy dengan perlahan, setelah selesai Rendy terus memandangi gelang itu benar-benar pas di tangannya sekarang terlihat lebih bersih setelah di pakai.
". Wah bagus kek, terima kasih ya kek." Balas Rendy yang masih memandangi gelang pemberian Kakek Bejo
". Iya sama-sama nak Rendy. Kakek mau kembali pulang ke jakarta bersama anak kakek, kalau kamu sudah sukses nanti cari alamat yang kakek berikan dan pergi bermainlah kerumah kakek." Ucap kakek Bejo menepuk bahu Rendy dengan perasaan berat.
". Lho kakek sudah bertemu dengannya ." Balas Rendy menanyakan kepastian informasi tentang kakek Bejo yang ternyata memiliki anak yang sukses di kota Jakarta.
". Iya kakek bertemu dengan dia, lalu dia meminta kakek pulang ." Ujar kakek Bejo ." Tapi sebenarnya kakek gak mau pulang nak karena kakek sudah nyaman disini dan kamu selalu baik kepada kakek walaupun hidupmu serba berkecukupan namun hatimu sangat baik." Lanjut kakek itu memandang pemuda di depannya.
". Kakek jangan bersedih!! Kan kakek bisa main kesini kalau kangen kota malang ini, lagipula aku juga sendiri disini jadi aku anggap kakek seperti kakekku sendiri." Balas Rendy tersenyum menguatkan kakek Bejo.
". Kakek juga menganggap kamu sebagai cucu kakek tapi aku harus kembali kekeluarga kakek yang sudah menemukan kakek." Ucapnya pelan namun nada getaran kesedihan tertahan di ujung mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Kakek Bejo sangat sayang kepada Rendy walaupun dia orang luar namun kebaikannya membantu kehidupan sehari-hari membuat dia seperti cucunya sendiri.
Kakek Bejo Sugiantoro selalu mendoakan keselamatan dan kesehatan Rendy untuk menghadapi tantangan hidup selama bertahun-tahun tanpa orang tua. Mereka berdua kenal sangat lama dari Rendy berjualan di situ hingga tumbuh menjadi pemuda tinggi dan tampan walaupun dia tidak kaya namun hatinya benar-benar kaya akan kesederhanaan dalam kehidupannya.
Rendy juga merasakan kesedihannya, dia kini kembali sendiri lagi seperti sebelumnya tanpa keluarga tanpa saudara di sana namun tekad dia tak bisa sedikitpun menjatuhkan air matanya. Rendy memeluk kakek Bejo cukup lama menandakan sebuah perpisahan yang akan terjadi saat ini, tidak tau kapan mereka akan bertemu kembali namun isyarat untuk kembali bertemu terpancar dari mata Keduanya.
". Kamu jaga kesehatan ya nak, jangan sampai telat makan ataupun lainnya." Ucap kakek Bejo dengan nada sedikit bergetar untuk menahan diri tidak memberikan kesan buruk atau penyesalan dalam hubungan baik mereka berdua.
". Iya kek, kakek juga jangan banyak minum manis-manis, jangan makan daging kambing hal semacam membuat sakit kakek kembali kambuh lagi. Ingat itu ya kek." Balas Rendy pelan.
Kakek Bejo Sugiantoro sedikit menunduk malu karena dia sering mencuri minuman manis dan makanan membuat penyakit dia kambuh lagi lalu Rendy sering marah demi kebaikan dia juga." Iya kakek tau itu." Ucap Kakek Bejo.
Rendy hanya senyum kecil melihat ekspresi kakek Bejo yang menunduk malu, tapi demi kebaikan kakek Bejo Rendy selalu perhatian dengan cukup keras dan tegas untuk kesehatannya.
Kakek Bejo Sudah di jemput sebuah mobil mewah lalu ia masuk untuk mengikuti berangkat ke Jakarta, kakek Bejo melambaikan tangannya kepadak Rendy sesaat lalu mobil itu mulai melaju meninggalkan Rendy.
Rendy menghela napasnya panjang-panjang untuk menghilangkan rasa campur aduk setelah kepergian kakek Bejo. Dia melihat gelang itu lagi seperti sedikit aneh dalam gelang itu, menyala merah kecil samar-samar lalu redup sesaat.
Pelanggan demi pelanggan kini mulai berdatangan tak seperti biasanya, kalangan muda lalu tante-tante maupun bapak-bapak ikut membeli telur gulungnya membuat Rendy sedikit kuwalahan menghadapi perubahan yang baru saja terjadi, namun dia tak panik dengan keahliannya selama bertahun-tahun dia dengan cepat dan tepat membuat setiap gerakannya memiliki pesona tersendiri.
Tak lama kemudian beberapa anak kuliahan datang ke stand jualan Rendy, beberapa gadis itu sangat cantik dengan make-up natural tidak membuat dirinya mereka benar-benar terlihat sangat cantik.
". Wah mau habis ya mas ren?." Ucap Sinta gadis cantik itu.
". Kita telat ini kita sin ." Balas Siska.
". Iya dong tinggal dikit itu!!! Mas buatin sisanya ya mau di buat nugas di kostan." Ujar Silvi.
". Okelah tunggu sebentar ya!!." Ucap Rendy melanjutkan membuat telur gulung.
Rendy hari ini sedikit bingung kenapa bisa rame sekali telur gulungnya, biasanya sisa sedikit kadang masih banyak sekarang benar-benar habis sepenuhnya. Rendy terus membuat telur gulung itu namun dia sedikit melirik kearah gadis kuliah itu yang melihat dirinya membuat telur gulung, Sinta dan beberapa teman-temannya Melihat Rendy sekarang sedikit berbeda dengan sebelumnya membuat mereka semua berbisik-bisik tentang hal itu.
°°°°°°