Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gala, Kekuatan Serigala Pemikat Wanita

Gala, Kekuatan Serigala Pemikat Wanita

Leon Hart | Bersambung
Jumlah kata
36.3K
Popular
824
Subscribe
181
Novel / Gala, Kekuatan Serigala Pemikat Wanita
Gala, Kekuatan Serigala Pemikat Wanita

Gala, Kekuatan Serigala Pemikat Wanita

Leon Hart| Bersambung
Jumlah Kata
36.3K
Popular
824
Subscribe
181
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalUrbanKekuatan Super
Gala, pemuda miskin dengan label 'marginal' atau terpinggirkan dan seolah tak pernah dianggap ada. Cucu penjual gorengan dengan penampilan pas-pasan. Pemberian kalung berliontin serigala menjelang kematian kakeknya itulah membuat Gala secara nyata harus hadapi perubahan takdir, dari seorang pemuda biasa menjadi pemilik kekuatan serigala yang memikat banyak wanita. Galapun mencari tahu asal-usul kedua orang tuanya, dan harus hadapi tantangan godaan dari banyak wanita yang terobsesi padanya. Bagaimana Gala akan hadapi semua bersama guru 'sengklek' nya dan ketika hasrat terpendamnya sendiri itu adalah 'sang Luna.'
Terkoyak

Bulan bersinar menguasai langit malam, namun cahaya terangnya anomalikan sebuah situasi yang kelam.

"Mampus lu!" pekikan tajam disertai tindakan brutal seorang pria pada anak muda yang terbaring di lantai sambil memegangi perutnya.

"Tolong ... Jangan bunuh ... Saya ... Kakek ..."

"Mau ngomong apa lu? Kakek lu kenapa? Mau nangis minta tolong kakeklu?!" Tawa ejekan terdengar menggema bersamaan. Satu tarikan kencang lalu dilakukan pada rambut sang anak muda, sehingga berhasil membuat wajahnya terangkat dengan terpaksa. "Noh liat kakek lu. Parah nggak?" ucap pria berpostur besar dengan beberapa gambar tato terlihat menyembul dari balik lengan kaos ketatnya.

Anak muda bernama Gala itu memaksakan menatap sayu pada pria renta yang tergeletak tak jauh dari posisinya berada. Sakit di sekujur tubuh karena siksaan, tak lebih sakit daripada melihat kakeknya tergeletak tak bergerak dengan luka menganga di bagian belakang kepalanya itu.

"Bajingan kau! Kamu apakan kakekku?!" Gala berbicara dengan sekuat tenaga. Lebam atau kulit yang robek tak surutkannya untuk berusaha meraih tubuh sang kakek.

"Ya itu akibatnya kalau nggak cepet bayar utang. Lu kira kita nggak bosen bolak-balik nagih, tapi nggak juga di bayar-bayar, hah? Najis banget gue lihat muka kakek reyotmu itu!"

Darah Gala semakin mendidih. Tiap hinaan pada orang yang merawatnya sejak kecil itu bagai besi tempa yang mengaduk-aduk tulangnya. "Kakek ..." panggilan lemah Gala mendekati tubuh sang kakek yang tak bergerak lagi.

"Eits. Tunggu dulu!" Sebuah injakan diarahkan sang ketua preman di atas punggung Gala, sehingga anak muda itu kembali terjerembab di atas tanah. "Jangan mulai dramanya sekarang. Kita nggak mau denger tangisanmu dulu, karena ada yang harus gue beritahu."

Krek!

Kaos tipis Gala dengan koyakan di beberapa bagian kini robek sebelah setelah tangan kekar ketua preman menariknya. "Apa ... Maumu?" tanya Gala gemetar. Matanya merah antara menahan sakit, tangis kesedihan, dan kemarahan dalam kungkungan fisik lemah tak berdayanya.

"Ingat ya. Bulan depan gue bakal cari lu lagi. Dimanapun berada!" Tarikan pada kaos lusuh Gala itu dilepas dan sengaja mendorong tubuhnya, sehingga kembali terjerambab ke tanah. Terang bulan purnama diatas bagian belakang lapak gorengan itu jadi saksi bisu penganiayaan Gala dan kakeknya.

Gala lantas sekuat tenaga mendekati tubuh kakeknya dengan menyeret kaki. Suara bambu reyot penutup selokan jadi irama getir penderitaan mereka.

"Kakek ... Kakek ..." Rasa khawatir Gala berubah jadi ketakutan. Tubuh yang kini dalam pangkuannya itu mulai terasa dingin. Sebelumnya memang fisiknya sudah terlihat lemah karena sakit, tapi Gala yakin keadaan kakeknya sekarang semakin parah setelah mendapatkan perlakuan fisik brutal dari para preman bayaran penagih utang. "Bangun, Kek. Aku akan cari pekerjaan tambahan untuk lunasi hutang-hutang Kakek. Gala janji, tapi jangan ... Jangan tinggalkan aku, Kek." Gala kemudian goyang-goyang pelan tubuh kakeknya. Berharap denyut lemah itu menjadi harapan hidup.

"Ga ... La ..." panggilan lirih nan menyesak kemudian terdengar. "Aku ... Bukan ... Kakekmu ..."

Kedua alis Gala hampir tertaut. "Kakek ngomong apa? Jangan banyak bicara, aku gendong kakek sekarang. Kita ke rumah Bu bidan ya." Setitik harapan Gala wujudkan dengan menangkup tubuh kakeknya unthk dibopong, tapi justru mendapatkan penolakan. "Kenapa, Kek? Kita berobat ke ..."

"Jangan ..." Suara batuk tapi lemah keluar dari mulut kakeknya Gala, diikuti cairan merah menetes dari dalamnya.

"Nggak, Kek. Jangan bicara yang nggak-nggak lagi. Pokoknya aku akan bawa kakek ke ..."

"Aku akan mati, Gala," sela sang kakek.

"NGGAK! KAKEK NGGAK AKAN MATI!" sorot merah menguasai tatapan Gala. Tak terima akan ucapan berserah pasrah kakeknya. "Pokoknya Kakek harus hidup!" Gemeretak gigi Gala, berusaha menularkan semangat kehidupan pada satu-satunya orang yang merawatnya tersebut.

"Gala ..." senyum kemudian menyungging di wajah sang kakek. "Malam ini juga ... Ambil kotak yang kakek simpan di tempat yang pernah kakek beritahu padamu ... Gunakan kalung itu ..."

"Kakek ... Ini bukan saatnya ..."

"Aku bukan kakekmu!" Suara batuk kembali terdengar. "Cuma kalung itu yang bisa menjawab semua. Aku mohon Gala ... Lalukan malam ini juga ..."

Gala menatap genggaman erat sang kakek dengan ekspresi bingung.

"Ka kalau aku bukan cucumu, lalu aku anak siapa?" tanya Gala terbata.

"Srenggala ... Itulah dirimu ..."

"A ... Apa? Siapa itu, kek? Kek ... Kakek ..." Gala panik ketika genggaman itu terlepas, diikuti keadaan lunglai dan dingin dari pria dalam pangkuannya ini. "Kakeekkk ..."

***

1 bulan setelahnya.

Suara dentuman musik menghentak diseluruh ruangan. Lampu-lampu berkedip, bergantian menunjukkan besar terangnya seiring ritme gubahan sang Disc Jockey. Beberapa anak muda sedang terlibat obrolan di salah satu sudut VIP booth seating.

"Selena ... Ayolah, kita minum dulu terus bersenang-senang. Ini memang kencan pertama kita, tapi rencana pertunangan juga akan nggak lama lagi. Nggak ada salahnya kan kalau perkenalannya langsung saja intim begini."

"Verrel please. Gue lagi nggak mood, nih. Masih kepikiran tugas akhir sama skripsi gue." Gadis cantik berambut coklat tua itu menggeser gelas hurricane berisi minuman tropis beralkohol yang disodorkan oleh calon tunangannya, Verrel.

"Ah, nggak asik lu Sel. Padahal sudah gue bookingin kamar VIP di lantai atas plus pelayanan private, lho. Mau yak? Kan sayang kalau nggak dipake. Masa Kevin sama pacarnya, tapi gue cuma bisa gigit jari? Ya nggak, Vin?"

Cowok yang merasa dipanggil kemudian menoleh. "Apaan?"

Verrel tak berikan jawaban, tapi berupa kode dengan tatapan tajamnya.

Kevin tersenyum smirk, lantas melepaskan rangkulan pada pundak kekasihnya sebelum berbicara dengannya. "Katanya mau ke toilet? Udah sana ajak Selena," ucapnya lalu mengangguk dengan kode tatapan berisyarat.

"Hah? Oh, ehm. Iya. Oke." Natalie kemudian menarik tangan Selena dengan paksa. "Yuk, Sel. Anterin gue!" Natalie bersuara lebih keras agar memenangkan persaingan suara dengan DJ house music, memaksa Selena agar mengikutinya.

Selena menuruti. Baginya paling tidak bisa bernapas lega sementara waktu jauh dari Verrel. Calon tunangan pilihan orang tua 1yang tidak dikehendakinya.

"Gue lihat minuman lu masih utuh. Emang bibir lu nggak kering? Kayaknya lu orangnya picky banget deh," tanya Natalie saat berada dilorong menuju ladies rest room.

"Nggak juga kok, cuma lagi nggak mau tipsy aja," bohong Selena yang memang tidak suka ikut mabuk-mabukan meski seringkali ke club malam.

"Oh ya. Nih permen. Biar mulut lu nggak pahit. Sini buka mulut lu. Kasihan banget sih. Mikirin skripsi sampe bete gini banget jadinya."

Selena luluh, dan secara spontan melakukan permintaan Natalie. "Permen apa ini, Nat? Rasanya nggak familiar di gue?" Kening Selena berkerut mencerna rasa benda cepat larut dalam kunyahannya.

"Gue juga dikasih. Kayaknya sih permen import dari Cina."

"Eh, kok kesini? Bukannya kata lu kita mau ke toilet?" Selena tersentak setelah Natalie mendorongnya ke ruangan yang ada di sampingnya, terlebih di hadapannya ada seorang roomboy sedang membawa alat-alat kebersihan.

"Eh maaf mbak-mbak, yang pesan kamar ya? Tunggu sebentar. Saya akan bereskan sebentar," ucap sang cleaning service.

"Nat. Kenapa kepala gue tiba-tiba jadi pusing ya? Badan gue jadi kayak kepanasan, nih?" Kepanikan mendera Selena. Pikirannya juga tiba-tiba menjadi tidak jernih.

Natalie melewati cleaning service yang bengong itu untuk menuntun Selena menuju kasur, direbahkan lalu diberikan arahan. "Lu berbaring aja dulu ya, Sel. Gue mau manggil Verrel dulu. Sabar ya. Tenang." Natalie kemudian beralih pada sang cleaning service, tapi tunjukkan raut tak ramah dan tatapan jijik. "Cepet selesaiin tugas lu, dan keluar dari kamar ini. Ngerti!"

"Ba baik, mbak."

Natalie kemudian melengos, berjalan cepat keluar tanpa menutup pintu.

"Ma mas ... "panggilan lemah Selena pada sang cleaning service.

"Iya, mbak?"

"Nama mas siapa?"

"Ga gala ... Gala. Mbaknya kenapa? Butuh sesuatu mbak?" tanya Gala tak tega. 1 bulan telah berlalu sejak meninggalnya sang kakek, sisi kemanusiaan Gala masih cenderung mudah tersentuh.

"Aku ... Selena." Satu tangan Selena kemudian terangkat. "Tolong saya mas ... Bawa saya keluar dari sini ... Please ..."

Gala hanya menatap tangan Selena, tak merespon permintaannya. "Tapi mbak yang tadi bilang mau manggil Verrel. Itu siapa mbak?"

"Verrel itu calon tunangan saya, tapi please mas ... Bawa saya keluar dari sini ... Sebelum dia memperkosa saya."

Gala dalam kebingungan. Calon tunangan? Tapi mau perkosa? Kedengaran aneh, tapi bila lihat kondisi gadis itu sepertinya benar-benar butuh bantuannya, tapi kan dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum bertemu calon tunangan Selena tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan mulai mengusik pikiran Gala.

Gala bergantian menatap gadis dalam kondisi fisik lemah di hadapannya dan kondisi pintu yang terbuka. Sudah pasti dalam hitungan menit calon tunangan yang dimaksudkan Selena akan masuk dari sana. Gala paham, tidak sampai waktu itu dia harus memilih. Namun, keputusannya itu adalah harus memihak pada Selena ataukah calon tunangan Selena?

Lanjut membaca
Lanjut membaca