Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DEWA PERANG PENJAGA TIGA MAHKOTA

DEWA PERANG PENJAGA TIGA MAHKOTA

Paspat Pamungkas | Bersambung
Jumlah kata
73.4K
Popular
611
Subscribe
113
Novel / DEWA PERANG PENJAGA TIGA MAHKOTA
DEWA PERANG PENJAGA TIGA MAHKOTA

DEWA PERANG PENJAGA TIGA MAHKOTA

Paspat Pamungkas| Bersambung
Jumlah Kata
73.4K
Popular
611
Subscribe
113
Sinopsis
18+PerkotaanAksiDewa PerangHaremMafia
Padma Nagada, sang Raja Tanpa Mahkota yang jejaknya menghilang lima tahun lalu, kini bersembunyi dalam kehidupan sipil sebagai suami dari dua wanita. Namun, panggilan tugas memaksanya menjadi pengawal Ayudya Nadesika, CEO angkuh berjuluk 'Matahari Es'. Di tengah gempuran pembunuh bayaran dan intrik korporat, Padma harus menunjukkan kekuatannya yang maksimal untuk melindungi Ayudya, sambil menjaga rahasia rumah tangganya yang unik. Ketika bahaya semakin mendekat dan Ayudya mulai jatuh hati, sebuah peristiwa intim memaksa Padma mengungkap status poligaminya, membawa dinamika hubungan mereka ke level yang tak terduga.
Bab 1 Kembalinya Sang Dewa Perang

"Mas, jangan melamun. Nanti telurnya gosong," tegur Dewina lembut, tangannya yang halus menepuk bahu Padma dengan sayang.

Padma tersentak kecil, lalu tersenyum tipis. Ia segera mematikan kompor, memindahkan telur mata sapi yang pinggirannya mulai mencokelat ke atas piring porselen. Di dapur yang mungil namun tertata rapi itu, aroma minyak zaitun dan kopi yang baru diseduh memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang begitu tenang—sebuah ketenangan yang lima tahun lalu hanyalah mimpi buruk bagi pria seperti dirinya.

"Maaf, Win. Mas cuma sedang memikirkan jadwal hari ini," dusta Padma lancar. Ia membalikkan tubuh, melingkarkan tangannya yang kasar dan penuh bekas luka tersembunyi di pinggang ramping Dewina.

Dewina Ronasari, istri pertamanya, menatapnya dengan mata berbinar. Sebagai seorang guru, wanita itu memiliki aura kesabaran yang selalu berhasil meredam gejolak di dalam dada Padma. "Jadwal pengawal itu memang melelahkan ya? Aku kadang khawatir melihat Mas pulang larut malam terus akhir-akhir ini."

"Ini hanya pekerjaan, Sayang. Selama bisa menghidupi kalian berdua dengan layak, Mas tidak keberatan," bisik Padma sambil mengecup kening istrinya.

Di saat yang sama, langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga kayu dari lantai atas. Haningsih Sekarwangi, istri kedua Padma yang bekerja di perusahaan keuangan, muncul dengan seragam kantor yang rapi dan senyum yang tak kalah manis dari madu.

"Mbak Win, kopinya sudah siap? Mas Padma, jangan manja terus pagi-pagi begini, nanti aku cemburu lho," goda Haningsih sambil meletakkan tas kerjanya di kursi makan.

Padma tertawa kecil, melepaskan pelukannya pada Dewina lalu menarik kursi untuk Haningsih. "Mana mungkin Mas lupa pada istri kedua Mas yang paling ceriwis ini? Sini, sarapan dulu."

Ketiganya duduk melingkari meja makan kayu yang sederhana. Bagi dunia luar, rumah di pinggir kota ini mungkin tampak biasa saja. Namun di dalamnya, terdapat rahasia yang tersusun rapi. Dewina mendiami lantai bawah, sementara Haningsih di lantai atas. Mereka hidup harmonis, saling berbagi tugas dan kasih sayang, tanpa pernah tahu bahwa suami yang mereka cintai ini pernah membakar medan perang hingga menjadi abu dengan tangan kosong.

"Mas, pekerjaan baru ini... siapa sebenarnya yang Mas kawal?" tanya Haningsih tiba-tiba, matanya yang tajam menatap Padma dengan penuh rasa ingin tahu. "Katanya dia CEO besar ya? Apa dia galak?"

Padma mengaduk kopinya perlahan. Bayangan Ayudya Nadesika, sang 'Matahari Es', melintas di benaknya. Wanita angkuh yang menganggap dunia bisa dibeli dengan uang. "Namanya Ayudya. Dan ya, dia memang sedikit... tegas. Tapi itu sudah biasa di dunia korporat."

"Jangan sampai Mas kecantol ya," seloroh Dewina sambil menyuapkan potongan roti. "Ingat, di rumah sudah ada dua yang menunggu."

Padma tersenyum, namun ada sedikit getaran kegelisahan di sudut hatinya. Kalian tidak tahu bahwa di luar sana, bayang-bayang masa laluku mulai merayap mendekat, pikirnya. Tangannya yang memegang cangkir kopi mendadak menegang. Indra keenamnya yang sudah terlatih bertahun-tahun di unit elit bisa merasakan sesuatu yang tidak beres di udara pagi itu.

"Mas? Kenapa diam lagi?" Haningsih menyentuh punggung tangan Padma. "Tangan Mas keras sekali hari ini. Mas kurang tidur?"

Padma segera melemaskan otot-ototnya. Ia memberikan senyum terbaiknya, senyum yang ia gunakan sebagai topeng selama lima tahun terakhir. "Hanya sedikit pegal karena latihan fisik kemarin. Jangan khawatirkan Mas."

"Oya Mas, tadi malam ada orang asing yang bertanya tentang alamat rumah ini di depan komplek," sahut Dewina tiba-tiba, nadanya terdengar santai namun seketika membuat seluruh saraf di tubuh Padma waspada. "Katanya dia kurir, tapi dia tidak membawa paket apa pun."

Padma meletakkan cangkirnya dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara denting yang timbul. "Ciri-cirinya seperti apa, Win?"

"Tinggi, pakai jaket hitam, dan ada tato kecil di lehernya. Kenapa, Mas? Apa itu teman lama Mas?" tanya Dewina polos.

Tato di leher. The Serpent's Scale. Kelompok tentara bayaran yang seharusnya sudah ia musnahkan di perbatasan utara tiga tahun lalu. Nafas Padma menderu tipis, namun wajahnya tetap sedatar permukaan danau di musim dingin.

"Bukan siapa-siapa, Win. Mungkin cuma salah alamat saja. Lain kali, kalau ada orang asing lagi, jangan langsung dibuka pintunya ya," pesan Padma dengan nada tegas yang jarang ia tunjukkan di rumah.

Haningsih dan Dewina saling berpandangan, menyadari ada sesuatu yang berubah dalam suara suami mereka. Namun, sebelum mereka bisa bertanya lebih jauh, jam dinding berbunyi tujuh kali.

"Aduh, aku telat!" Haningsih bangkit dengan terburu-buru. "Mbak Win, aku berangkat duluan ya! Mas, jangan lupa jemput aku kalau sempat nanti sore!"

"Iya, hati-hati Han," seru Dewina sambil merapikan piring-piring kotor.

Padma berdiri, mengenakan jas hitamnya yang pas di tubuh atletisnya. Ia membantu Dewina merapikan kerah kemejanya, lalu mengecup pipinya sekali lagi. Ia juga sempat memberikan pelukan singkat pada Haningsih sebelum wanita itu meluncur keluar dengan mobil kecilnya.

Setelah kedua istrinya sibuk dengan rutinitas mereka masing-masing, Padma berdiri di ambang pintu depan. Suasana hangat tadi seolah menguap begitu saja. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus yang hanya memiliki satu nomor tersimpan di sana. Sebuah pesan singkat masuk.

Target bergerak dalam sepuluh menit. Posisi aman, tapi ancaman terdeteksi di radius satu kilometer dari kantor pusat. Segera merapat.

Padma menghela nafas panjang. Ia menatap taman kecil di depan rumahnya, tempat Dewina menanam mawar dan Haningsih menanam herba. Dunia damai ini adalah taruhannya. Ia harus tetap menjadi suami yang lembut di sini, meskipun di luar sana ia adalah mesin pembunuh yang paling ditakuti.

Ia melangkah keluar, menutup pintu rumahnya dengan bunyi klik yang mantap. Saat ia berjalan menuju motor besarnya yang terparkir di bawah pohon kersen, tatapan matanya berubah total. Kehangatan sebagai seorang suami lenyap, digantikan oleh kedinginan yang menusuk tulang.

Tiba-tiba, ia berhenti di samping pagar. Matanya melirik ke arah semak-semak di seberang jalan. Ada pantulan cahaya sekilas, sangat kecil, namun cukup untuk memberitahunya bahwa ada lensa kamera yang sedang membidiknya dari kejauhan.

Padma tidak menoleh. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang hanya diketahui oleh musuh-musuhnya di medan perang. Ia memakai helmnya, menghidupkan mesin motor yang menderu rendah seperti geraman singa yang terbangun dari tidur panjang.

Sambil menarik gas, ia bergumam pelan di balik helm, "Kalian melakukan kesalahan besar dengan mendatangi rumahku."

Padma melesat membelah jalanan pagi yang mulai macet, meninggalkan aroma bensin dan rahasia besar di belakangnya. Ia sedang menuju ke kantor Global Corp, menuju ke sisi Ayudya Nadesika, namun pikirannya sudah merancang strategi untuk menghabisi siapa pun yang berani mengusik ketenangan kedua istrinya.

Di spion motornya, ia melihat sebuah mobil hitam mulai membuntutinya dari jarak aman. Padma sengaja melambat, memancing mereka untuk terus mengikuti. Ia tahu, hari ini bukan sekadar hari pertama mengawal seorang CEO angkuh. Hari ini adalah awal dari kembalinya sang Dewa Perang ke panggung yang seharusnya sudah ia tinggalkan.

Tatapan matanya di balik kaca helm hitam itu berkilat tajam. Ada kekuatan luar biasa yang ia tekan di balik otot-otot lengannya. Saat ia mendekati gedung pencakar langit milik Ayudya, ia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca