Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kenek Miskin Direkrut Cewek Cantik

Kenek Miskin Direkrut Cewek Cantik

SKYBLUE | Bersambung
Jumlah kata
44.9K
Popular
839
Subscribe
134
Novel / Kenek Miskin Direkrut Cewek Cantik
Kenek Miskin Direkrut Cewek Cantik

Kenek Miskin Direkrut Cewek Cantik

SKYBLUE| Bersambung
Jumlah Kata
44.9K
Popular
839
Subscribe
134
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperPria MiskinAnak Yatim Piatu
Hidup tanpa orang tua membuat Purnomo terlunta lunta mengurus hidupnya. Ia di usir dari rumah saudara karena tidak menyumbang apapun hingga dibuli oleh lingkungan sekitar. Bahkan sampai dikhianati sang kekasih karena Purnomo hanya bekerja serabutan. Setelah tak sengaja menemukan cincin batu akik pembawa keberuntungan, hidupnya langsung berubah total. Purnomo yang saat itu sedang bekerja tiba-tiba di panggil bos perempuan cantik untuk diminta menjadi pengawal pribadinya dengan bayaran yang fantastis. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Baca di setiap babnya.
Bab 1

"Pur, ini gaji kamu bulan ini. Tapi... maaf ya, mulai besok kamu gak perlu kerja lagi." Ucap Gunawan, pemilik toko sembako, tempat Purnomo alias Pur bekerja saat ini.

Pur menatapnya kaget sekaligus sedih. "Tapi pak.. kenapa? Apa salah saya? Apa kerja saya kurang memuaskan bapak?"

Gunawan merasa bersalah dan tak enak hati. Tapi hanya itu yang bisa ia katakan. "Kamu tahu akhir-akhir ini toko kita mulai kehilangan banyak pelanggan semenjak ada toko sebelah. Kalau saya biarkan kamu tetap bekerja disini, saya gak ada cukup uang untuk bayar gaji kamu. Untuk itu, dengan berat hati saya berhentikan kamu."

Pur tiba-tiba melihat ke arah karyawan lain, "Gimana dengan mereka?"

"Mereka karyawan lama saya. Semuanya sudah menikah. Mereka kan punya tanggung jawab terhadap keluarga, kalau kamu kan belum nikah jadi belum ada tanggungan apa-apa. Makanya kamu yang saya berhentikan." Ucap Gunawan.

Mendengar itu Pur merasa tidak nyaman. Ia merasa sedikit kecewa karena menurutnya itu terasa tak adil, namun ia berusaha sabar dan pasrah menerima kenyataan.

"Baiklah, pak. Kalau begitu terimakasih untuk semuanya. Saya pamit pulang dulu." Ucap Pur undur diri.

Gunawan hanya mengangguk, memberi tepukan di bahu Pur sebagai bentuk dukungan untuk terakhir kalinya.

Pur berjalan pulang dengan hati yang kecewa. Berat rasanya menerima semua ini. Padahal dia sudah nyaman bekerja di toko itu selama setengah tahun ini. Gajinya juga lumayan untuk menyambung hidup dan bantu-bantu Om Juned. Tapi takdir berkata lain. Mulai besok, Pur harus cari kerjaan lain.

Dengan rasa lelah, Pur melangkah menuju rumah yang saat ini menjadi tempat pulangnya. Tempat ia tinggalnua sejak umurnya dua tahun.

"Woiii! hari gini masih jalan kaki aja, naik motor dong sekali-kali." Ucap seseorang yang kebetulan lewat dengan motornya yang berisik.

Orang itu juga membonceng temannya di belakang.

Purnomo enggan untuk menjawab. Jadi dia terus berjalan tanpa memperdulikan dua orang itu.

"Woiii! Budek Lo ya?"

"Bukan budek, dia kan kagak punya orang tua, jadi mana bisa punya motor. Hahaha..."

Purnomo mengepalkan tangannya ingin menghajar mulut kedua orang itu. Tapi ia ingat terakhir kali ia bertengkar dengan seseorang, Om Juned mengetahuinya dan langsung memarahinya habis-habisan. Karena Pur tidak mau membuat masalah untuk omnya, jadi ia biarkan mereka dan terus melanjutkan langkahnya menuju rumah.

Setibanya sampai rumah, Tante Siska sudah menunggunya di depan pintu.

"Hari ini kamu gajian kan?" Tanyanya.

Pur mengangguk. "Iya Tante." Lalu mengeluarkan amplop gaji dari sakunya.

Belum sempat Pur membuka isi amplop, Tante Siska sudah menyambarnya lebih dulu.

"Listrik sekarang udah mahal. Kalau kamu cuma kasih separo, mana cukup buat bayar. Jadi Tante ambil semuanya. Inget, kamu juga pake semua fasilitas di rumah ini, jadi jangan protes." Belum sempat menjauh, Siska kembali berbalik. "Oh iya, jatah kamu nasi satu centong sama tempe satu potong aja. Jangan lebih!"

Pur hanya bisa melihat ke arah amplop di tangan Tante Siska. "Tapi Tante.."

"Apa?" Tanya Tante Siska dengan nada malas. Tangannya sibuk menghitung uang yang ada dalam amplop milik Pur.

"Aku boleh minta satu lembar aja? Untuk ongkos. Aku udah di berhentiin kerja di toko." Jawab Pur sambil menelan ludah.

"Apa?" Siska menoleh dengan mata melotot. "Astagaa. Pur, Pur, kamu ini gimana sih? Masa dikit-dikit di pecat, dikit-dikit di pecat, kamu becus kerja gak sih? Semua barang, makanan, kebutuhan lagi pada naik, kamu malah di pecat. Terus gimana kamu bayarnya? Masa kamu harus makan gratis terus!"

Pur merasa seperti baru saja di hantam benda keras. Sangat menyakitkan.

"Siapa yang di pecat?" Tanya Om Juned yang juga baru pulang dari kantor. "Kamu di pecat lagi?" Tanyanya pada Pur.

"Itu karena ada masalah sama tokonya, Om" Jawab Pur berusaha menjelaskan.

"Alasaaan aja." Ucap Siska tak habis pikir, merasa Pur selama ini memang tidak becus kerja hanya bisa jadi beban dirinya dan suami.

Tiba-tiba Om Juned pergi ke kamar Pur tanpa mengatakan apapun. Tak berselang lama, Om Juned kembali keluar dengan tas berisi pakaian Pur.

Siska kaget. Terutama Pur.

Om Juned menatap Purnomo dengan marah. "Kamu sudah bikin malu saya dan keluarga saya. Selama ini saya sudah cukup menampung kamu di rumah ini dan menjadi bahan tertawaan orang-orang sekampung. Tapi apa yang bisa kamu berikan pada keluarga ini? Kamu hanya bisa jadi beban saja. Sekarang, kamu pergi dari sini!"

"Gak usah kamu balik-balik lagi kesini!" Kata Om Juned, mengusir prunomo dari rumahnya.

Tas Pur di lemparkan keluar dari pintu. Dan Ia pun di dorong menjauh dari rumah, sampai hampir membuat Pur terjatuh.

Om Juned langsung kembali masuk dan menutup pintu rapat-rapat, seolah takut Pur akan masuk kembali ke rumahnya.

Pur tak mampu berkata apa-apa.

Memang selama ini ia hanya mampu membantu Om Juned membayar tagihan listrik, air dan beberapa kebutuhan lainnya. Tapi bisa membelikan Om Juned ataupun Tante Siska sesuatu yang mahal seperti anak mereka.

Pur hanya bisa pasrah. Ia langsung berjalan pergi membawa tas pakaiannya yang sudah lusuh, meninggalkan kediaman Om Juned. Tatapan orang-orang sekitar yang saat itu melihat kejadian tersebut tampak mengejek dan menghina.

Tapi Pur tidak peduli, juga tak mau membalas. Ia sudah terbiasa dihina dan ditatap seperti itu oleh mereka. Selama 19 tahun hidupnya, ia kerap kali dibuli dan diperlakukan tidak adil oleh lingkungan sekitar.

Sekarang, Pur berjalan jauh meninggalkan kampung tersebut. Karena baginya, tidak lagi tempat untuknya di kampung tersebut.

Di sepanjang jalan, Pur terus berpikir ke mana ia harus pergi.

Orang tuanya telah tiada saat ia masih berumur dua tahun sehingga ia diasuh oleh Om Juned dan keluarganya. Om Juned merupakan suami dari Tante Siska. Dan Tante Siska adalah adik ayahnya.

Awalnya memang baik, tapi saat Pur masuk SMP, Om Juned menyuruhnya untuk langsung cari uang setelah sepulang sekolah. Karena tak mau merepotkan mereka, akhirnya Pur menurut. Ia mencari pekerjaan ke sana kemari di usia yang masih sangat muda.

Kadang-kadang jadi kuli angkut barang. Kadang-kadang jadi tukang cuci motor. Dan bahkan sampai kerja alat berat. Semua itu sudah ia lakoni. Hingga akhirnya ia lulus SMA. Namun, karena Pur hanya mampu membantu sedikit kebutuhan rumah tangga. Dan sekarang Om Juned sudah kehilangan kesabarannya.

Pur hanyalah beban dan pembawa sial. Ia tak mampu membalas budi kebaikan mereka yang telah diberikan selama ini. Rugi kalau terus dibiarkan di rumah. Begitulah kata Om Juned kepada Tante Siska.

Meskipun Pur sakit hati mendengarnya, tapi ia tak mampu membela diri dan berkata apa-apa. Bagaimanapun ia merasa apa yang dikatakan Om Juned ada benarnya.

Pur juga tak mau terus-menerus menjadi beban bagi keluarga Tante Siska.

Pur terus berjalan tanpa uang pegangan. Karena seluruh gajinya telah di ambil Tante Siska. Ia juga tak punya tabungan karena tak sempat menyisihkan uang selama ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca