

Jakarta Selatan, jam setengah satu malam. Andi mematikan mesin mobil di depan apartemen mewah itu. Dia menghela napas panjang sambil menatap gedung yang menjulang gelap dengan beberapa jendela masih menyala—para penghuni yang belum tidur atau lupa mematikan lampu.
Seolah dia sudah hafal pemandangan ini. TKP di tengah malam. Orang-orang biasa tidur, sementara dia dan beberapa lainnya justru hidup di dunia yang berbeda. Dunia tempat mayat berbicara lebih keras dari orang hidup. Dunia yang kadang tak bisa dipahami oleh mereka yang masih bernapas.
"Malam Pak Anda sudah dinanti, Pak," sapa seseorang mengenakan seragam kepolisian di pintu lobi sambil mengayunkan tangan ke dahi seraya hormat.
Andi hanya mengangguk perlahan. Wajahnya kusut, kemeja lusuh, tapi matanya—matanya langsung mengamati segala hal begitu melangkah masuk. Lift, nomor lantai yang ditekan, petugas keamanan yang gugup di pojok. Semua direkam Andi dalam ingatannya.
Lantai 15. Unit 1507.
Pintu terbuka dan bau itu langsung menyambutnya. Bukan bau busuk mayat yang sudah membusuk—ini masih terlalu segar untuk itu. Tapi ada aroma anyir bercampur parfum mahal yang menyatu jadi sesuatu yang tidak mengenakkan di hidung.
"TKP ada di ruang tengah, Pak," kata seorang anggota Inafis.
"Apa ada barang yang hilang?"
"Tidak ada pak, semuanya rapi tidak ada satupun barang tercecer, sepertinya motifnya bukan perampokan atau pencurian Pak."
Andi melangkah masuk. Apartemen ini rapi. Terlalu rapi untuk orang yang baru saja kehilangan nyawa. Sofa hitam, meja kaca, lukisan abstrak di dinding. Dan di tengah semua itu, sesosok pria duduk di kursi.
Posisinya seperti orang yang sedang merenung. Tangan terikat ke belakang kursi dengan kabel ties. Kepala tertunduk ke depan. Mulut ditutup plester hitam—lebar, rapat, seperti menyegel teriakan terakhir yang tak sempat keluar.
Andi mendekat perlahan melihat dengan detail. Leher korban lebam. Bekas jeratan dengan alat tipis—mungkin kawat, mungkin senar. Bukan jeratan kuat yang mematahkan tulang, tapi tekanan lama yang membuat napas habis perlahan.
"Dicekik dari belakang," gumamnya.
Matanya beralih ke depan korban. Tepat di hadapan kursi itu, sebuah cermin besar berdiri. Tingginya hampir dua meter, lebarnya cukup untuk memantulkan seluruh ruangan. Dan di cermin itu, Andi bisa melihat dirinya sendiri—berdiri di belakang korban, persis seperti posisi pelaku saat melakukan eksekusi.
"Hmm cermin.. " Andi bergumam.
Dia diam sejenak. Lalu memalingkan wajah.
"Korban siapa?"
"Robby Sanjaya, 42 tahun. Pengusaha kecil, distributor alat kesehatan. Nggak punya catatan kriminal, nggak punya musuh. Tetangga bilang orangnya pendiam."
Andi mengangguk. "Lalu Pintu?"
"Nggak ada tanda paksa masuk. CCTV lobi dan lift lagi mati sejak seminggu. Satpam bilang katanya sering rusak."
"Kebetulan yang sangat rapi."
Anggota Inafis itu mengangkat bahu. "Atau memang ini sudah direncanakan."
Andi berjalan mengelilingi ruangan. Meja kerja, laptop, dokumen-dokumen. Di dinding, ada foto korban bersama seorang wanita. Andi mendekat. Perhatiannya tertuju pada wajah di foto itu, ia merasa tidak asing dengan wajah wanita itu. Wajah wanita itu... seseorang yang amat dia kenal.
Ia memicingkan mata. Rambut panjang, senyum tipis, lesung di pipi kanan.
Jantung Andi berhenti dalam satu detakan. "Apa." gumamnya
Dia merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Membuka galeri—folder terkunci dengan foto-foto lama yang tak pernah bisa ia hapus. Satu per satu digulir. Lalu berhenti.
Yah tidak salah lagi wajah yang sama.
Laras.
Tangannya sedikit gemetar. Apa korban ini... pernah bersama Laras? Dia tidak tahu. Laras jarang bercerita soal masa lalunya. Dan Andi tidak pernah bertanya.
"Pak?" suara anggota Inafis mengejutkannya.
Andi menoleh. "Ya, Mulai gali semua data korban. Medsos, hubungan, teman dekat, mantan pacar. Semua."
"Siap."
Malam semakin larut. Andi masih berdiri di ruangan itu, menatap korban yang kini tahu identitasnya: dia hanya mengira - ngira korban adalah mantan kekasih wanita yang dulu akan dinikahinya. Sebelum kecelakaan itu merenggut semuanya.
Ia menghela napas panjang. "Kenapa kebetulan sekali?" gumamnya pelan.
Saat hendak berbalik, tiba - tiba matanya menangkap sesuatu di cermin.
Bayangan.
Di belakangnya, dalam pantulan kaca, ada sesosok bayangan berdiri. Tepat di ambang pintu. Terlihat tubuh tinggi, bahu agak lebar, wajah setengah tersembunyi dalam gelap. Hanya matanya yang tampak—menatap lurus ke arah Andi.
Andi berbalik cepat mencoba melihat bayangan itu kembali.
Namun, pintu itu kosong.
Tidak ada siapa pun di sana.
Napasnya memburu. Terburu-buru Ia berjalan ke pintu, menengok ke kiri dan kanan. Lorong apartemen sepi. Lampu redup. Dan, pintu-pintu lain juga tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang.
Anggota Inafis keluar dari kamar mandi, melihat Andi. "Ada apa, Pak?"
Andi diam. Matanya kembali ke pintu. Lalu ke cermin di ruang tengah. Bayangan itu sudah tidak ada.
Tapi satu hal yang tidak bisa ia lupakan dari kejadian itu.
Sosok itu tersenyum tipis.
"...Nggak papa," katanya. "Mungkin hanya aku lelah, kurang tidur dan mulai sering lihat yang aneh-aneh."
Ia mencoba tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana tapi suaranya malah terdengar hampa.
Di luar, hujan mulai turun. Gemericik air di jendela apartemen itu seperti bisikan. Atau mungkin peringatan kepada Andi.
Andi melangkah keluar unit 1507 tanpa menoleh lagi. Tapi sepanjang perjalanan turun lift, ia merasa ada yang mengikutinya. Bukan langkah kaki—tapi tatapan. Sebuah tatapan yang tajam dari cermin lift yang memantulkan wajahnya sendiri.
Sesampai di lobi, ia menyalakan rokok. Dan menghisapnya dalam, menghembuskan asapnya. Tangannya masih sedikit gemetar mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Tidak tidak mungkin kurang tidur," gumamnya. "Bukan." Tapi ia sendiri tidak yakin.
Lalu Andi melangkah keluar lift dan menuju parkiran. Kemudian dia masuk ke mobilnya lalu melaju pulang karena ia sudah terlalu lelah malam itu.
Sampai di rumah, Andi langsung merebahkan dirinya di kasur sambil mengingat kejadian di TKP tadi.
"Apa yang kulihat tadi? " Andi bergumam sendiri. "Mungkinkah hantu.. Ah tidak mungkin. Tidak ada yang namanya hantu. Itu hanya tahayul." Andi bergumam sendiri dalam keheningan malam.
Gerimis masih bergemericik di luar, suara tetesannya menambah dinginnya suasana malam itu. Pelan-pelan mata Andi mulai terpejam. Namun, saat ia akan memejamkan mata, sekilas ia melihat bayangan itu di langit langit kamarnya.
"Bayangan itu.. " katanya lirih
Secepat kilat ia membuka mata lebar dan bangkit dari kasurnya. Namun, ketika kesadarannya pulih yang ia lihat hanya plafon kamarnya. Bayangan itu sudah hilang.
"Aku salah lihat mungkin itu hanya halusinasiku saja,"
"Sungguh melelahkan mungkin benar aku kurang tidur." Andi pun memejamkan matanya kembali dan beberapa detik kemudian ia sudah larut dalam sisa tidur malamnya hari itu.
BERSAMBUNG....