Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Playboy Sistem

Playboy Sistem

Sayap Uranus | Tamat
Jumlah kata
134.7K
Popular
1.2K
Subscribe
320
Novel / Playboy Sistem
Playboy Sistem

Playboy Sistem

Sayap Uranus| Tamat
Jumlah Kata
134.7K
Popular
1.2K
Subscribe
320
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalBalas DendamPecundang Pria Miskin
Apa yang terjadi ketika pria paling tidak diperhitungkan di dunia mendapat kesempatan kedua yang tidak ia minta? Arjuna Sasrabahu tidak mati ketika ia melompat ke sungai malam itu. Ia justru mendapat sistem yang merekonstruksi tubuhnya, mengisi rekeningnya, dan memberinya misi-misi yang memaksanya mendekati perempuan-perempuan cantik yang sebelumnya tidak akan pernah menoleh ke arahnya. Tapi pertanyaan sebenarnya bukan soal apa yang ia dapatkan. Pertanyaannya adalah, ketika mantan istri yang menceraikannya dengan hinaan paling menusuk mulai menyesal, ketika perempuan pertama yang menyelamatkannya mulai jatuh, ketika target baru dengan persona 97 muncul di depan matanya, sanggupkah ia memilih? Atau justru sistem yang akan memilihkan untuknya?
Bab 1 Titik Akhir

Surat cerai itu diletakkan di atas meja dengan cara yang terasa seperti penghinaan tersendiri, bukan dibanting, bukan dilempar, hanya diletakkan dengan ujung jari seperti seseorang yang tidak mau tangannya terlalu lama menyentuh sesuatu yang kotor.

Asmarani berdiri di seberang meja dengan tangan terlipat di dada, mengenakan blazer krem yang tidak pernah ia beli dengan uang Arjuna.

Rambutnya tersanggul rapi dengan cara yang membuat ia terlihat seperti seseorang yang baru saja keluar dari rapat penting, bukan seseorang yang sedang menceraikan suaminya di dapur kontrakan yang atapnya bocor di sudut kanan.

Ia menatap Arjuna dengan mata yang tidak menyimpan amarah. Tidak menyimpan kesedihan. Hanya dingin yang terasa seperti jarak, seperti seseorang yang sudah lama memandang sesuatu dari ketinggian yang berbeda dan baru sekarang repot-repot turun untuk menyelesaikannya.

Asmarani berkata, suaranya terukur dan tenang dengan cara yang terasa lebih menyakitkan dari teriakan manapun, "Tandatangani. Aku tidak punya banyak waktu."

Arjuna menatap surat itu. Lalu menatap Asmarani. Setelah itu kembali ke surat itu.

Tangannya tidak bergerak.

Asmarani berkata lagi, nadanya turun setengah nada dengan cara orang yang sedang berbicara kepada seseorang yang tidak cukup cepat memahami sesuatu yang seharusnya sudah jelas, "Arjuna. Aku tidak meminta pendapatmu. Aku memberitahumu."

Arjuna berkata akhirnya, suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan, "Kenapa?"

Asmarani menatapnya dengan ekspresi yang menyipit tipis, seperti seseorang yang tidak menyangka pertanyaan itu masih perlu diajukan, "Kamu benar-benar tanya kenapa?"

Arjuna tidak menjawab.

Asmarani berkata, suaranya masih terukur, masih tenang, masih dengan jarak yang sama, "Baik. Aku jelaskan sekali, karena aku tidak akan mengulanginya."

Ia meluruskan punggung, dan dagunya terangkat tipis dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sedang memberikan pernyataan resmi, "Lima tahun aku di sini. Lima tahun aku bangun pagi di kontrakan yang dindingnya lembab. Lima tahun aku makan dengan piring yang sudah retak di pinggirannya. Lima tahun aku tersenyum di depan teman-temanku dan berpura-pura tidak malu."

Ia berhenti sebentar, matanya menatap Arjuna dengan cara yang tidak menyimpan kebencian karena kebencian masih membutuhkan kepedulian sebagai bahan bakarnya, ".... Aku lelah berpura-pura, Arjuna."

Arjuna berkata, "Rani—"

Asmarani memotong dengan mengangkat satu tangan, gerakan kecil yang terasa seperti menutup pintu, "Jangan panggil aku dengan nama itu. Tidak lagi."

Ia menurunkan tangannya, "Kamu tahu apa yang paling melelahkan? Bukan kemiskinannya. Bukan kontrakannya. Bukan piring retak itu."

Lalu matanya menyapu Arjuna dari atas ke bawah dengan cara yang tidak repot-repot menyembunyikan hasilnya. "Yang paling melelahkan adalah berdiri di sampingmu di depan orang-orang, dan melihat cara mereka menatapku dengan kasihan."

Arjuna berkata, suaranya pecah di pinggirnya, "Aku sudah berusaha—"

Asmarani berkata, dingin, "Berusaha."

Ia mengulangi kata itu dengan nada yang terasa seperti seseorang yang sedang memeriksa benda yang tidak sesuai deskripsi.

"Laki-laki yang berusaha tidak membuat istrinya malu. Laki-laki yang berusaha tidak membuat istrinya harus berbohong soal pekerjaannya setiap kali ada reuni." Ia berhenti sebentar, ".... Kamu tidak berusaha, Arjuna. Kamu hanya ada."

Kata-kata itu jatuh ke lantai kontrakan yang sama yang sudah Arjuna tapaki selama dua tahun terakhir, dan untuk beberapa detik ruangan itu hening dengan cara yang terasa seperti sesudah sesuatu yang besar hancur, bukan meledak, hanya hancur pelan dengan suara yang nyaris tidak ada.

Arjuna berkata, lebih pelan lagi, "Kita bisa mulai lagi. Aku bisa—"

Asmarani berkata, suaranya untuk pertama kalinya menyimpan sesuatu yang bukan sekadar dingin, lebih ke ketidaksabaran orang yang sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak datang-datang, "Dengarkan aku baik-baik."

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, tidak untuk memperpendek jarak emosional, hanya untuk memastikan kalimat berikutnya terdengar dengan sempurna. "Aku tidak jatuh cinta dengan versi masa depanmu yang belum tentu ada. Aku tidak bisa terus hidup dengan janji yang sama yang kamu ucapkan dua tahun lalu, setahun lalu, enam bulan lalu."

Lalu matanya menatap Arjuna langsung, tidak berkedip, ".... Aku malu, Arjuna. Malu punya suami sepertimu."

Arjuna tidak bergerak.

Asmarani melanjutkan, lebih pelan, lebih tepat sasaran, "Hitam. Gendut. Miskin. Tidak punya masa depan yang bisa aku tunjukkan ke siapapun."

Sudut bibirnya bergerak turun dengan cara yang terasa seperti kesimpulan yang sudah lama ia simpan dan baru sekarang ia ucapkan, "Aku kasihan pada diriku sendiri yang mau-maunya bertahan lima tahun dengan seseorang sepertimu."

Sesuatu di dalam dada Arjuna bergerak. Bukan hancur karena menghancurkan membutuhkan sesuatu yang masih utuh untuk dihancurkan.

Lebih ke perasaan ketika kamu akhirnya mendengar dengan keras sesuatu yang selama ini hanya berbisik di bagian terdalam kepalamu dan kamu harap tidak pernah menjadi kenyataan.

Asmarani mengambil tasnya dari kursi, gerakan yang efisien dan terlatih, gerakan seseorang yang sudah lama berencana dan baru sekarang mengeksekusi, "Tandatangani suratnya sebelum besok. Pengacaraku akan menghubungimu."

Ia melangkah ke pintu.

Arjuna berkata, satu kata terakhir yang keluar bukan karena ia berharap apapun tapi karena tidak ada yang lain tersisa, "Rani."

Asmarani berhenti di depan pintu, tidak menoleh, "Sudah aku bilang. Jangan panggil aku dengan nama itu."

Kemudian ia membuka pintu dan keluar, dan suara pintu yang menutup itu tidak keras, tidak dibanting, hanya menutup dengan klik kecil yang terasa seperti penutup dari sesuatu yang sudah lama sekarat.

---

Arjuna duduk di kursi plastik yang sama yang sudah ia duduki selama dua tahun terakhir.

Surat cerai itu masih di atas meja.

Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sini ketika suara dari luar mulai masuk, suara Bu Sari yang tertawa dengan tamu di depan rumahnya, suara motor yang lewat, suara kehidupan yang berjalan seperti tidak ada apapun yang baru saja terjadi di dalam kontrakan ini.

Bu Sari berkata ke seseorang di luar, suaranya tidak repot-repot dipelankan, "Iya, kasihan juga sih. Istrinya udah pergi. Emang udah sial dari sono-nya."

Pak Dono menjawab, "Muka gelap, badan bulet, duit nggak punya. Mau minta apa lagi?"

Tawa kecil mereka mengambang masuk melalui celah jendela yang tidak pernah menutup sempurna.

Arjuna menatap surat cerai itu.

Kemudian dari arah gang, suara langkah yang ia kenal terlalu baik muncul, diikuti suara laki-laki yang bukan suaranya.

Arjuna berdiri, berjalan ke jendela, dan melihat Asmarani berjalan dengan Rendi di sampingnya, tangan Rendi di pinggang Asmarani dengan cara yang terasa seperti sesuatu yang sudah lama ada tapi baru sekarang tidak perlu disembunyikan lagi.

Rendi berkata ke Asmarani dengan suara yang cukup pelan tapi tidak cukup pelan, "Kasian juga ya."

Dua kata. Diucapkan dengan nada orang yang tidak benar-benar merasa kasihan.

Asmarani tidak menjawab. Namun ia tidak menepis tangan Rendi di pinggangnya.

Arjuna melepaskan tirai jendela.

Ia berdiri di tengah kontrakan itu dengan surat cerai di meja, suara tetangga yang masih terdengar dari luar, dan dua kata yang baru saja ia dengar berputar di kepalanya dengan cara yang tidak mau berhenti.

Kasian juga ya.

Ia mengambil kunci, keluar, mengunci pintu dengan cara yang terasa seperti gerakan terakhir seseorang yang tidak berencana kembali, dan berjalan ke arah sungai.

Malam itu langitnya bersih. Tidak ada mendung, tidak ada hujan, hanya bintang yang terlihat terlalu terang untuk malam yang seperti ini.

Arjuna berdiri di pinggir jembatan, menatap air di bawahnya yang hitam dan tenang.

Di sana tidak ada yang menilainya. Tidak ada yang menatapnya dari atas ke bawah. Tidak ada surat cerai. Tidak ada Asmarani dengan blazer kremnya. Tidak ada Rendi dengan dua katanya yang terasa lebih menyakitkan dari semua kalimat panjang Asmarani digabungkan.

Hanya air yang mengalir pelan ke arah yang tidak perlu ia tahu tujuannya.

Arjuna memejamkan mata.

Kemudian melompat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca