Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Siswa Culun Penguasa Sekolah

Siswa Culun Penguasa Sekolah

kegelapan malam | Bersambung
Jumlah kata
41.7K
Popular
688
Subscribe
176
Novel / Siswa Culun Penguasa Sekolah
Siswa Culun Penguasa Sekolah

Siswa Culun Penguasa Sekolah

kegelapan malam| Bersambung
Jumlah Kata
41.7K
Popular
688
Subscribe
176
Sinopsis
PerkotaanSekolahKekuatan SuperCinta SekolahBalas Dendam
Arlan, siswa penerima beasiswa yang selalu ditindas, nyaris kehilangan nyawa setelah difitnah oleh Dion sang penguasa sekolah. Hanya karena Arlan pernah menyelamatkan Citra dari pelecehan yang akan dilakukan oleh Dion. Namun, kecelakaan yang hampir menimpanya justru memberi Arlan kesempatan kedua lewat kemampuan ajaib untuk mendengar suara hati dan pikiran orang lain. Kini Arlan bukan saja mampu mengembalikan beasiswa miliknya, tapi juga membalikan keadaan sebagai penguasa sekolah! Dulu ia diinjak, sekarang mereka semua akan berlutut karena Arlan tahu topeng gelap yang mereka sembunyikan.
Bab 1

"Maaf Arlan, tapi beasiswamu terpaksa harus kami hentikan saat ini," ucap Pak Satria dengan nada suara yang datar, seakan ucapannya itu tidak membuat jantung Arlan terasa berhenti sesaat. Kata-kata itu menghantam Arlan lebih keras daripada pukulan mana pun yang pernah ia terima.

"Ta..tapi kenapa, Pak?" Arlan berusaha menahan air matanya. Suaranya bergetar, mencerminkan ketakutan yang teramat sangat.

Selama ini dia sudah berusaha untuk tetap mempertahankan nilai-nilainya untuk tetap bersekolah. Ia telah mengorbankan waktu istirahat, hobi, dan masa mudanya hanya untuk tumpukan buku demi mempertahankan beasiswa tersebut.

Pikiran Arlan langsung tertuju kepada Ibunya yang bekerja serabutan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua, terutama setelah kematian ayahnya beberapa tahun yang lalu. Ia membayangkan wajah lelah ibunya yang pulang larut malam dengan tangan kasar, semua itu dilakukan hanya agar Arlan bisa memiliki masa depan yang lebih baik.

Jika sekarang beasiswanya dicabut, dari mana ia bisa bayar uang sekolah?

"Kejadian Dion melaporkan bahwa kamu mencuri uangnya, akhirnya membuat kepala yayasan memutuskan untuk menghentikan beasiswa kamu." Pak Satria mengatakannya tanpa beban, seolah-olah sedang membacakan menu makan siang.

Arlan mencengkeram telapak tangannya dengan kuku-kuku jarinya setelah mendengar jawaban Pak Satria. Rasa sakit di telapak tangannya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya.

Padahal kejadian itu murni hanya sebuah fitnah dari Dion dan geng-nya. Dion memang dikenal sebagai penguasa kasta tertinggi di SMA Garuda, lantaran dia adalah anak dari ketua yayasan sekolah ini. Di tempat ini, uang dan kekuasaan adalah hukum yang mutlak, dan Arlan hanyalah rakyat jelata yang tak punya suara.

"Saya tidak melakukannya, Pak! Dion dan teman-temannya sengaja menuduh saya," Arlan mulai meninggikan suaranya, rasa kecewa dan kesal benar-benar memenuhi hatinya saat ini. 

Pak Satria menghela napas kecil, tampak jengah dengan pembelaan Arlan. "Saya tidak bisa berbuat apa pun Arlan, keputusan sudah dari pihak yayasan. Memangnya saya yang hanya kepala sekolah kecil ini bisa apa? Kamu mau saya dipecat juga?" 

Bahu Arlan seketika kembali turun, matanya gelisah menatap ujung sepatunya yang sudah berlubang di bagian samping. Namun, dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan lagi saat ini. Ucapan Pak Satria benar, orang kecil seperti mereka mana bisa melawan orang kaya seperti ketua yayasan dan Dion.

"Sudah, lebih baik kamu kembali ke kelas saja. Nikmati pelajaran terakhirmu, atau kalau kamu mau pulang cepat juga tidak masalah," Pak Satria mendengus dan memutar kursinya menjauh. Pengusiran itu terasa begitu dingin.

Arlan bangkit dengan perlahan, matanya merah menahan beban yang tak sanggup dipikul remaja seusianya. Dia kemudian keluar dari ruangan kepala sekolah dengan langkah gontai, merasa seolah jiwanya sudah tertinggal di dalam ruangan tadi.

Arlan berjalan menyusuri koridor sekolah yang megah, namun kemegahan itu kini terasa seperti menertawakan kemiskinannya.

Beberapa siswa-siswi meliriknya dengan tawa yang tertahan, ada juga yang menatapnya iba.

Berita tentang dirinya sepertinya sudah menyebar di sekolah dengan kecepatan kilat. Ia bisa mendengar bisik-bisik yang menyebutnya sebagai "pencuri beasiswa" atau "si miskin yang serakah."

BRAAKK!

Arlan seketika tersungkur ke lantai. Karena tidak fokus dengan jalan di depannya, Dion sengaja menyengkat kaki Arlan. Seketika para siswa semakin menertawakan Arlan.

"Rasain sampah! Siapa suruh lo ikut campur urusan gue? Sekarang gak bisa sekolah lagi kan lo," suara bariton yang kasar milik Dion seakan bergema di telinga Arlan. Dion berdiri di atasnya, menatap dengan pandangan merendahkan seolah Arlan adalah serangga yang patut diinjak.

Arlan mencoba kembali berdiri tanpa menghiraukan Dion. Ingatannya berputar ke kejadian beberapa hari yang lalu.

Saat itu, Arlan sedang bertugas piket tanpa sengaja lewat gudang belakang sekolah, di situ dia mendengar rintihan seorang wanita. Rupanya, Citra teman sekelasnya yang cantik dan juga merupakan pemegang beasiswa sepertinya sedang dilecehkan oleh Dion.

Tentu saja Arlan tidak tinggal diam, dia mencoba menolong Citra.

Rupanya keberanian itu justru membuat Dion murka. Dion membalas dendam dengan cara yang paling licik menaruh uang di tas Arlan kemudian menuduhnya telah mencuri. Fitnah itu berhasil. Bahkan kini membuat beasiswanya dihentikan dan ia terancam berhenti sekolah.

Tanpa peringatan, sebuah pukulan mentah menghantam ulu hati Arlan dengan kekuatan penuh.

BUGH!

Arlan kembali tersungkur seketika. Napasnya terputus, paru-parunya seolah menolak untuk menghirup udara. "Dasar pecundang!" Dion menyeringai puas, begitu pula dengan keempat anggota gengnya.

Di tengah rasa sakit yang menjalar di perutnya, mata Arlan menangkap sosok Citra yang menatapnya iba, meski demikian Arlan paham bahwa gadis itu tidak mungkin menolongnya dan mempertaruhkan beasiswanya juga. Ketakutan telah membungkam semua orang.

Bel sekolah yang berbunyi seakan menyelamatkan Arlan dari siksaan fisik Dion. Karena kerumunan siswa mulai kembali masuk ke kelas, Dion dan anggota gengnya pun memutuskan untuk pergi.

Arlan kembali mencoba berdiri dengan napas yang terasa berat, lalu ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

Arlan berjalan keluar gerbang sekolah dengan pikiran yang kacau. Bayangan wajah ibunya yang kecewa terus menghantuinya. Dunianya gelap.

Ia berjalan menyusuri trotoar tanpa arah, matanya kosong menatap aspal. Karena kehilangan fokus dan tenggelam dalam keputusasaan, Arlan tidak menyadari sebuah kendaraan melaju kencang ke arahnya.

BRAK!!

Kecelakaan itu terjadi begitu cepat. Suara decit rem dan dentuman keras menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum tubuhnya terhempas. Saat ia tergeletak di antara ambang hidup dan mati, di tengah kesadarannya yang mulai menipis, Arlan melihat sebuah cahaya terang.

Cahaya itu begitu indah, menembus kegelapan yang menyelimuti matanya. Dan dalam momen yang ajaib, cahaya itu menyentuh jemarinya.

Begitu jemari Arlan bersentuhan dengan cahaya itu, sebuah suara mekanis yang jernih, berat, dan tanpa emosi mendadak bergema secara misterius, bukan melalui telinganya, melainkan langsung di dalam pusat kesadarannya.

Energi Kehidupan Inang Terdeteksi di Bawah 10 Persen. Kondisi Kritis.

Memulai Protokol Penyelamatan Darurat: Proses Pencocokan Inang Ditemukan...

Analisis Struktur DNA... Selesai

"Apa... ini?" bisik Arlan dengan suara parau yang nyaris menghilang.

Cahaya yang tadinya tenang kini mulai berdenyut liar. Arlan terpaksa memejamkan mata erat-erat, merasakan sensasi panas yang membakar menjalar dari telapak tangannya ke seluruh nadinya, sebelum akhirnya kesadarannya menghilang sepenuhnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca