

Hujan turun tanpa ampun malam itu.
Aku berdiri di bawah halte yang lampunya hampir mati, memperhatikan pantulan wajahku di kaca retak. Wajah kusam. Rambut berantakan. Mata lelah seperti orang yang sudah kalah bahkan sebelum bertarung.
Namaku Riski.
Ironis.
Karena tidak ada satu pun risiko dalam hidupku yang pernah berujung manis. Semua berakhir dengan kegagalan.
Dipecat dari pekerjaan karena perusahaan bangkrut.
Pacar meninggalkanku demi pria yang lebih mapan.
Tabunganku habis karena investasi bodoh yang kuambil karena percaya teman.
Dan malam ini…
Aku baru saja ditolak kerja lagi.
"Aura kamu kurang meyakinkan."
Itu kata HRD tadi.
Aura.
Aku bahkan tak tahu seperti apa aura orang sukses itu.
Aku tertawa kecil, pahit.
Hujan semakin deras. Aku berjalan pulang melewati gang sempit yang gelap. Lampu jalan mati. Bau lembap menyengat.
Tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu.
"Ah sial—"
Aku hampir jatuh. Di bawah kakiku, sesuatu berkilau samar.
Sebuah cincin hitam.
Bentuknya sederhana, tapi di permukaannya ada ukiran simbol aneh seperti lingkaran dengan garis-garis memusat.
Aku menatapnya lama.
"Lumayan kalau dijual."
Tanpa berpikir panjang, aku memasukkannya ke jari.
Dan dunia… berhenti.
Seketika suara hujan menghilang.
Udara membeku.
Gelap.
Lalu suara berat terdengar di dalam kepalaku.
[SISTEM AURA TANPA BATAS AKTIF]
Aku terdiam.
"Apa…?"
[Host terdeteksi: pria dengan tingkat keberuntungan -87%]
[Status: gagal total]
[Potensi tersembunyi: 99%]
Aku menelan ludah.
Halusinasi?
Stres?
[Maukah kamu mengubah takdirmu?]
Jantungku berdetak keras.
"Ya…"
Jawabku hampir tanpa sadar.
[Kontrak dimulai]
Seketika panas menjalar dari cincin ke seluruh tubuhku. Seperti arus listrik, tapi tidak menyakitkan. Lebih seperti… diperbaiki.
Aku terjatuh berlutut.
Tubuhku terasa ringan. Napasku lebih dalam. Ototku menegang dengan cara yang berbeda.
Aku meraba wajahku.
Rahangku terasa lebih tegas.
Kulitku lebih halus.
Aku berdiri perlahan dan berjalan ke genangan air terdekat.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku melihat pria berbeda di pantulan itu.
Masih aku.
Tapi versi yang lebih tajam. Lebih hidup. Mata yang lebih dalam.
Lebih… tampan.
[Aura level 1 aktif]
[Efek: +30% daya tarik alami]
[Keberuntungan naik ke 0%]
"Ini… nyata?"
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Seorang wanita dengan payung transparan berhenti saat melewatiku.
Dia menatapku.
Terlalu lama.
"Maaf… kita pernah ketemu ya?" tanyanya pelan.
Aku menggeleng.
Tapi dia masih menatap, pipinya memerah tipis.
"Ah… mungkin saya salah orang…"
Namun sebelum pergi, dia tersenyum kecil. Senyum yang berbeda dari biasanya orang memandangku.
Aku berdiri diam.
Biasanya orang bahkan tidak melihatku.
[Respon pertama terdeteksi]
[Aura sinkronisasi berhasil]
Jantungku berdetak lebih cepat.
Ini bukan kebetulan.
Ini nyata.
Aku berjalan pulang dengan langkah berbeda. Untuk pertama kalinya, bahuku terasa tegak.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku berdiri di depan cermin kamar kos sempitku.
"Kalau ini benar…"
Aku mengepalkan tangan.
"Aku tidak akan hidup menyedihkan lagi."
[Misi Pertama: Ubah Nasibmu dalam 7 Hari]
Hadiah: Lonjakan Aura + Level Up
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku merasa dunia tidak menertawakanku.
Tapi menungguku.
Dan aku tidak tahu…
Bahwa malam ini hanyalah awal.
Karena suatu hari nanti…
Presiden, miliarder, dan penguasa dunia akan berdiri di hadapanku.
Dan aku…
Hanya perlu menjentikkan ibu jariku.
Aku menatap cincin hitam itu lama.
"Kalau ini mimpi… jangan bangunkan aku."
[Analisis Host Selesai]
[Sinkronisasi: 12%]
[Peringatan: Mental lemah dapat menghambat pertumbuhan aura]
"Apa maksudnya mental lemah?" gumamku kesal.
Suara itu tidak terdengar lagi, tapi sensasi hangat di jariku tetap ada. Seperti denyut nadi tambahan.
Aku duduk di ranjang tipis kamar kosku. Dindingnya lembap. Catnya mengelupas. Bau apek bercampur minyak kayu putih memenuhi ruangan.
Tempat ini saksi semua kegagalanku.
Tapi malam ini… rasanya berbeda.
Aku mengambil ponsel. Baterai 9%. Notifikasi email masuk.
Subjek: "Undangan Interview Tambahan"
Aku membeku.
Perusahaan itu yang tadi siang menolakku.
Tanganku gemetar saat membuka emailnya.
"Kami tertarik mempertimbangkan Anda kembali. Mohon hadir besok pukul 09.00."
Aku tertawa kecil.
Tidak mungkin secepat ini.
[Keberuntungan +5%]
[Probabilitas kejadian positif meningkat]
"Jadi ini efeknya…"
Aku berdiri dan kembali ke cermin.
Tatapanku lebih tajam sekarang. Bahuku terlihat lebih lebar. Bahkan sorot mataku tidak lagi kosong.
Untuk pertama kalinya… aku terlihat seperti pria yang punya tujuan.
Aku mencoba sesuatu.
Aku menarik napas dalam dan membayangkan diriku berdiri di ruangan besar, semua orang memperhatikanku.
Tubuhku terasa hangat.
[Aura Minor Release]
Tiba-tiba bulu kudukku meremang.
Suasana kamar berubah terasa lebih berat. Seperti ada tekanan halus di udara.
Aku bahkan bisa merasakan detak jantungku sendiri lebih jelas.
"Ini… bisa dikendalikan?"
Aku mencoba menenangkan diri. Sensasi itu mereda.
Menarik.
Berarti aura ini bukan cuma pasif.
Ini bisa diarahkan.
Mataku menyipit.
Kalau begitu…
Aku bukan cuma beruntung.
Aku bisa mengendalikan keadaan.
Keesokan paginya.
Aku berdiri di depan gedung perusahaan itu lagi. Gedung tinggi kaca biru yang kemarin terasa seperti tembok mustahil.
Hari ini terasa seperti pintu yang bisa kubuka kapan saja.
Resepsionis yang kemarin hanya tersenyum formal kini terlihat gugup saat aku mendekat.
"I-ini untuk interview tambahan ya, Pak?"
Pak.
Biasanya aku cuma dipanggil "Mas".
Aku tersenyum tipis.
"Ya."
Tatapannya linger lebih lama dari normal.
[Respon sosial meningkat]
[Aura level 1 stabil]
Aku masuk ruang interview.
Tiga orang duduk di sana.
HRD wanita yang kemarin mengkritik auraku.
Seorang pria berkacamata.
Dan direktur divisi.
Tatapan mereka berubah begitu aku masuk.
Ada jeda.
Hening satu detik lebih lama dari normal.
Menarik.
"Silakan duduk," kata direktur itu.
Aku duduk dengan tenang.
Biasanya aku gugup. Berkeringat. Menunduk.
Tapi sekarang… aku merasa menguasai ruangan.
Aku menatap mereka satu per satu.
Bukan dengan arogan.
Tapi dengan keyakinan.
[Aura Dominasi – Pasif Aktif]
HRD itu terlihat sedikit salah tingkah.
"Kemarin kami merasa… mungkin Anda kurang percaya diri."
Aku tersenyum kecil.
"Saya hanya belum menemukan tempat yang tepat."
Pria berkacamata itu terdiam.
Direktur menyipitkan mata.
"Kalau kami bilang posisi ini cukup kompetitif?"
Aku menatapnya langsung.
"Kompetitif itu relatif, Pak. Yang penting hasil."
Suasana berubah.
Bukan tegang.
Tapi… condong.
Aku bisa merasakannya.
Mereka tidak lagi menilai aku.
Mereka sedang mempertimbangkan bagaimana aku bisa menguntungkan mereka.
[Probabilitas diterima: 82%]
82%?!
Aku hampir tersenyum lebar tapi menahan diri.
Interview berjalan lebih lancar dari yang pernah kualami.
Setiap jawabanku terasa tepat.
Setiap candaan kecil tepat timing-nya.
Setiap argumen terdengar meyakinkan.
Setelah 20 menit.
Direktur itu berdiri dan mengulurkan tangan.
"Kami akan mengirim kontrak sore ini."
Selesai.
Begitu saja.
Aku berjalan keluar gedung dengan langkah stabil.
Langit cerah.
Udara terasa ringan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku tidak merasa mengejar dunia.
Aku merasa dunia mulai bergerak ke arahku.
Tapi saat aku berjalan melewati parkiran…
Tiba-tiba terdengar suara decitan ban.
Sebuah mobil mewah berhenti terlalu cepat.
Seorang pria turun dengan wajah kesal.
"HEI! LIHAT JALAN DONG!"
Aku terdiam.
Biasanya, dalam situasi seperti ini, aku yang akan dimarahi tanpa alasan.
Tapi kali ini…
Aku menatapnya.
Tenang.
Tidak takut.
Hanya… diam.
[Aura Minor Pressure]
Pria itu membeku.
Alisnya bergetar sedikit.
Tatapannya berubah.
Seperti tiba-tiba ia sadar… ia sedang berdiri di hadapan seseorang yang tidak boleh diremehkan.
"Ah… ya sudah… hati-hati saja."
Dia kembali masuk mobilnya.
Aku berdiri beberapa detik.
Jantungku berdetak pelan.
Ini bukan kebetulan.
Ini pengaruh.
Dan itu baru level 1.
Tanganku mengepal pelan.
Kalau level 1 saja sudah seperti ini…
Bagaimana level 10?
Level 50?
Atau… tanpa batas?
Tiba-tiba suara sistem muncul lagi.
[Peringatan]
Energi besar menarik perhatian.
Aku berhenti berjalan.
"Apa maksudnya?"
Tidak ada jawaban.
Angin bertiup lebih dingin.
Dan entah kenapa…
Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kekuatan ini…
Aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan ketakutan.
Tapi… firasat.
Bahwa di luar sana…
Mungkin ada orang lain.
Yang juga tahu tentang Aura.
Dan mungkin…
Tidak semua dari mereka akan senang melihatku naik.
Aku tersenyum tipis.
Bagus.
Perjalanan tanpa musuh itu membosankan.
Aku menatap langit kota.
"Kalau dunia mau bermain…"
Suaraku rendah.
"Aku akan jadi pemain utamanya."
Dan tanpa kusadari…
Cincin hitam di jariku berkilau lebih terang dari sebelumnya.
[Sinkronisasi meningkat: 18%]
[Babak Awal Dimulai]