

Subuh belum benar-benar berubah jadi pagi waktu suara teriakan itu pecah di gang sempit belakang pasar.
Gang itu nggak lebar. Kalau dua orang jalan berpapasan, salah satunya harus menepi. Rumah-rumah berdiri terlalu dekat, seolah kota ini memang sengaja memaksa manusia hidup berdempetan.
Bau selokan naik pelan setiap angin bergerak.
Lampu jalan berkedip pelan. Seperti orang yang sedang ragu antara tetap hidup atau menyerah pada gelap.
Di depan pintu rumah kontrakan kecil, seorang pemuda terbaring.
Tubuhnya kejang pelan. Tangannya kaku. Napasnya berat seperti orang yang sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat. Bibirnya berbusa putih.
“Ibu… Rian! Bangun, Nak… bangun…”
Suara perempuan itu pecah.
Tangannya mengguncang bahu anaknya yang makin lama makin diam.
Rambut perempuan itu acak-acakan. Daster yang dipakai terlihat belum sempat diganti sejak malam tadi.
Beberapa tetangga mulai keluar rumah.
Ada yang masih memakai sarung. Ada yang cuma berdiri di depan pintu sambil memperhatikan.
Wajah mereka bukan lagi kaget.
Lebih seperti… sudah pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya.
“Telepon ambulans!” teriak seseorang.
Sudah.
Tapi semua orang di gang ini tahu satu hal kecil yang pahit - ambulans di kota ini tidak selalu datang cepat kalau bukan kecelakaan besar atau orang penting.
Rian dua puluh dua tahun.
Baru lulus sekolah kejuruan.
Kerja serabutan.
Kadang membantu angkat barang di pasar.
Kadang menjadi ojek kalau motor temannya kosong.
Nggak ada yang pernah melihat dia berkelahi.
Nggak ada yang pernah mendengar dia membuat masalah.
Tapi dua bulan terakhir, Rian sering pulang malam.
Matanya merah.
Tangannya kadang gemetar ringan seperti orang kedinginan padahal udara panas.
Ibunya pernah bertanya pelan.
“Kerja apa, Nak?”
“Kerja, Bu,” jawab Rian pendek.
Tidak ada penjelasan lain.
Kejang itu berhenti perlahan.
Tubuhnya diam.
Terlalu diam.
“Ibu… Rian…” bisik perempuan itu lagi.
Suara itu hilang di antara suara tetangga yang mulai saling berbicara pelan.
Ambulans datang sepuluh menit kemudian.
Terlambat untuk sesuatu yang sudah selesai.
Petugas medis turun dengan wajah lelah.
Mereka sudah melihat pola seperti ini berkali-kali.
Tetap memeriksa nadi.
Tetap memasang oksigen.
Tetap mengangkat tubuh pemuda itu ke tandu.
Gerakan mereka profesional.
Tapi mata mereka tidak lagi terkejut.
Di rumah sakit, bau antiseptik menyambut dingin.
Ruangan terasa terlalu bersih untuk sesuatu yang baru saja kehilangan nyawa.
Ibu Rian duduk di kursi plastik.
Tangannya gemetar.
Seorang dokter muda berdiri di depannya membuka map pemeriksaan.
“Kami sudah lakukan pemeriksaan awal, Bu.”
“Anak saya kenapa, Dok? Dia cuma capek, kan?” suara perempuan itu hampir putus.
Dokter menarik napas kecil.
“Diduga overdosis.”
Satu kata itu jatuh seperti palu.
Ibunya mengerjap. “Apa?”
“Overdosis, Bu. Kemungkinan zat terlarang.”
Ruangan terasa makin sempit.
“Nggak mungkin…” bisik perempuan itu. “Anak saya nggak kayak gitu.”
Dokter tidak membantah.
Dia menutup map pelan.
“Kami turut berduka.”
Kalimat itu terdengar formal.
Terlalu formal untuk sesuatu yang begitu menyakitkan.
Di luar ruang pemeriksaan, dua polisi berdiri sambil mencatat sesuatu.
“Kasus kayak gini makin sering,” gumam salah satu pelan.
Yang lain hanya mengangguk.
Seolah kelelahan sudah menjadi bagian dari pekerjaan.
Berita tentang Rian muncul siang hari di salah satu portal lokal.
Judulnya kecil.
Pemuda Meninggal Diduga Overdosis di Belakang Pasar.
Tiga paragraf.
Tidak ada foto wajah.
Tidak ada investigasi.
Dua puluh detik di televisi lokal malamnya.
Lalu berpindah ke berita selebriti yang baru putus hubungan.
Kota ini punya memori pendek.
Dan orang-orang terbiasa lupa.
Siang menjelang sore ketika berkas kematian itu sampai di meja Miun Prasetyo.
Ruang kerja Miun sederhana.
Cat dinding mulai kusam.
Meja kayu terlihat sudah lama dipakai.
Di dinding tergantung kalender lama dan foto keluarga kecilnya.
Miun membaca laporan pelan.
Usia korban.
Alamat.
Waktu ditemukan.
Hasil pemeriksaan awal.
Overdosis.
Dia membuka map lain di tumpukan sebelah.
Kasus bulan lalu.
Overdosis.
Dua minggu sebelumnya.
Overdosis.
Lokasinya berbeda.
Tapi masih dalam wilayah kota yang sama.
Miun tidak berbicara.
Dia menandai sesuatu dengan pulpen hitam.
Stafnya berdiri di pintu.
“Pak, ini cuma kasus overdosis biasa, ya?”
Miun tidak langsung menjawab.
Dia membuka data transaksi bank yang baru saja dia dapatkan melalui prosedur resmi.
Ada transfer kecil.
Nominalnya tidak besar.
Tapi rutin.
Setiap minggu.
Pengirimnya adalah PT Sinar Jalur Nusantara.
Perusahaan logistik yang terlihat bersih di atas kertas.
Miun menutup laptop pelan.
“Kalau semua orang bilang ini biasa,” katanya pelan, “ya bakal terus dianggap biasa.”
Dia berdiri.
“Kita dalami.”
Di gedung tinggi yang jauh lebih bersih, seorang pria berdiri menghadap kota.
Jasnya gelap.
Rambutnya rapi.
Tatapannya tenang.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Hanya ketenangan yang terlalu dingin untuk dianggap manusiawi.
Di kota ini, orang mati pelan-pelan tanpa suara besar.
Dan di suatu tempat, seseorang memastikan aliran itu tetap berjalan.
Telepon di meja pria itu bergetar sebentar.
Satu pesan masuk.
Aman.
Dia meletakkan gelas airnya.
Jari-jarinya bersih.
Kukunya terawat.
Tidak ada yang bisa menebak bahwa keputusan kecil darinya bisa mengubah hidup seseorang di gang sempit yang bahkan tidak pernah dia kunjungi.
Di kejaksaan, Miun menatap papan kecil yang biasa dia gunakan untuk memetakan kasus.
Tiga nama korban sudah dia tulis.
Di bawahnya satu nama perusahaan.
Dia berdiri dan melangkah mundur sedikit.
Memperhatikan pola yang mulai terbentuk.
Pintu ruangannya diketuk.
“Atasan panggil,” kata stafnya singkat.
Miun mengangguk.
Dia tahu satu hal.
Kasus ini tidak berdiri sendiri.
Dan kota ini…
Nggak pernah benar-benar bersih.
Malam makin dalam, tapi kota nggak pernah benar-benar tidur.
Di sebuah ruangan berlampu redup di lantai tiga gedung tua dekat pelabuhan, Sumandri berdiri menghadap jendela. Tangannya masuk saku, wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti orang yang nggak pernah benar-benar percaya siapa pun.
Di meja belakangnya, layar laptop menyala. Grafik pengiriman bergerak perlahan. Angka-angka yang bagi orang biasa cuma statistik, tapi buatnya itu denyut nadi kekuasaan.
Pintu diketuk pelan.
“Mas, barang batch timur sudah aman lewat,” ujar seorang pria berbadan besar setelah masuk.
Sumandri nggak langsung menjawab. Ia memandang bayangan kota di kaca jendela. Lampu-lampu kecil terlihat seperti titik api yang rapuh.
“Yang belakang pasar?” tanyanya singkat.
“Sudah beres. Polisi anggap overdosis biasa.”
Sudut bibirnya naik tipis. Bukan senyum bahagia. Lebih ke puas karena sistem berjalan seperti yang seharusnya.
“Pastikan keluarga nggak ribut,” ucapnya pelan. “Kalau perlu, bantu biaya pemakaman.”
Pria itu mengangguk.
Itulah cara kerja mereka. Bukan cuma keras. Tapi rapi.
Di sisi lain kota, Miun baru saja menerima pesan anonim masuk ke ponselnya.
Satu kalimat pendek.
“Lo cuma lihat permukaan. Cari gudang pelabuhan lama.”
Miun menatap layar cukup lama. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan sekadar kematian remaja lagi. Ada sesuatu yang lebih besar.
Dan malam itu, tanpa dia sadari, langkahnya mulai masuk terlalu jauh ke wilayah orang yang nggak suka disentuh.
Permainan baru saja dimulai