Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Langit Baskara

Langit Baskara

melodi kelana⛅ | Bersambung
Jumlah kata
26.5K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Langit Baskara
Langit Baskara

Langit Baskara

melodi kelana⛅| Bersambung
Jumlah Kata
26.5K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratPerebutan TahtaPria Dominan
Langit tumbuh dari luka—meniti perjalanan tanpa adanya peran. Sebagai public figur, ia hidup dengan sorotan dan tuntutan yang selalu terlihat sempurna—setiap langkahnya dinilai. Ia mulai muak dengan hidupnya. Di balik wajahnya yang tenang menyimpan luka yang tak bisa disuarakan—hingga suatu hari tumpukan emosi itu meledak seketika. Langit memilih menyerah. Siapa sangka—malam yang seharusnya menjadi akhir dari segalanya justru akan menjadi titik balik hidup Langit.
Bab 1. Dialog luka

Langit Baskara. Nama yang selalu menjadi sorotan media dengan pesonannya yang wibawa, tegas, serta mengutamakan kejujuran membuat banyak para perempuan yang mengagumi—hanya saja tak ada yang berani mendekat sebab lelaki itu tak tersentuh.

Hidup yang ditakdirkan terlahir sebagai publik figur—penerus Baskara Group sayangnya tumbuh dari keluarga broken home, luka yang tak pernah bisa ia suarakan sebab tak ada tempat untuk mengadu. Langit sudah cukup lelah harus berpura- pura tersenyum di depan kamera, lelah selalu ditekan untuk menjadi ‘sempurna’ dan berulang kali bersandiwara seakan memiliki keluarga harmonis.

Langit muak!

Muak dengan kepalsuan.

Muak ditekan dari segala sisi.

Muak dengan alur hidupnya sendiri.

Jalan raya yang terlihat sunyi. Hanya beberapa kendaraan lalu lalang nampak tak peduli apa pun yang akan terjadi. Lampu kota berpendar redup, memantulkan cahaya pucat di aspal yang gelap. Suara katak yang saling bersahutan memecahkan kesunyian, angin malam berhembus dengan kencang tak membuat seorang lelaki yang berdiri di atas jembatan itu goyah. Malam ini timing yang pas untuk melakukan aksi bunuh diri.

Untuk pertama kalinya, Langit yang selalu mengutamakan penampilan tampak berantakan. Jas hitamnya terlihat lusuh tak serapi biasanya.

Ia tak berteriak. Hanya bergeming. Air mata yang jatuh tanpa suara membuat pandangannya kabur saat menatap aliran sungai yang cukup deras di bawah sana.

Isi pikiran yang terlampau kacau membawanya pada pilihan yang tak pernah Langit bayangkan, kini terasa begitu dekat. Berkali-kali ia mencoba untuk bertahan dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun malam ini Langit kalah.

Langit benar-benar menyerah atas alur hidupnya sendiri.

Jembatan ini akan menjadi saksi.

Sebentar lagi namanya akan terpampang pada media.

Satu langkah lagi.

Kakinya terangkat perlahan, ujung sepatu hitamnya bergesekan dengan besi. Ia memejamkan mata untuk siap menerjunkan diri di bawah sana.

Tetapi—

Greppp

Sebuah tarikan kuat mencengkeram lengannya.

Langit tersentak. Terhuyung ke belakang. Sepatu hitamnya kini kembali menapak aspal.

Gadis asing itu sama sekali belum melepaskan cengkeramnya.

“Jangan melakukannya lagi,” ucapnya pelan. “Jangan lari dari masalah dengan cara seperti ini.”

Suara lembut gadis asing memecahkan sunyi malam ini.

Langit tersadar. Alih-alih marah justru dirinya keheranan ada manusia asing yang peduli terhadapnya.

“Lepaskan!”

Langit melepaskan cengkeram itu dengan kasar.

“Siapa Anda? Jangan ikut campur!”

Gadis asing itu tersenyum tipis. Sama sekali tak merasa tersinggung. Seolah bukan pertama kali bertemu dengan manusia yang hampir menyerah.

“Jika Anda lelah, beristirahat bukan dengan cara lari,” ujar gadis itu.

Tatapannya lurus menembus netra hitam pekat yang menyisakan jejak air mata itu. Seolah tengah memberitahu bahwa lelaki itu tak sendiri.

Perasaan asing yang tiba-tiba menelusup ke hati langit. Hangat. Mengganggu. Namun Langit segera menepisnya.

Langit berusaha mempertahankan tatapan menusuk yang membuat gadis di hadapannya saat ini menunduk. “Anda hanya orang asing, jadi berhenti menjadi manusia yang sok tahu!”

Gadis itu meremas ujung baju. Menelan ludahnya susah payah. “Sa-saya hanya tidak ingin menyesal karena membiarkan sesuatu hal yang bisa dicegah,” ungkapnya dengan gugup.

Napasnya berat seolah menimbang sesuatu. “Mungkin cerita sama orang asing tidak ada salahnya,” ungkap Langit dalam hati.

Langit memalingkan wajah.

“Saya capek.” Suara serak, nyaris tak terdengar.

Ia terdiam cukup lama. Hanya terdengar suara kicau burung.

Langit menarik napas dalam-dalam. “Menjadi manusia yang selalu dituntut sempurna secapek ini, ya?”

Gadis itu kembali mengangkat wajahnya tak lagi menunduk. “Hidup ini tempatnya capek—tapi menyerah bukan pilihan yang baik. Beri diri Anda kesempatan untuk memenangkan pertarungan ini.”

Langit terdiam mencerna kata-kata bijak itu.

“Katanya hidup akan selalu ada pilihan, lantas bagaimana jika saya tidak memiliki pilihan?” tanya Langit. Tatapannya semakin berkaca-kaca, sesak kali ini tak lagi tertahan.

Tatapan gadis itu menerawang, memilih kata-kata yang tepat untuk dia sampaikan.

“Artinya pilihan Anda tidak baik untuk Anda—maka Tuhan sengaja tidak memberikan Anda pilihan, sebab Tuhan ingin menyelamatkan Anda dari perihal yang lebih buruk lainnya,” ungkapnya secara bijak.

Daun-daun bergoyang pelan mengikuti angin.

Tatapan Langit mulai tak lagi dingin. Gadis yang ada di hadapannya saat ini—berbeda.

“Terima kasih, ” kata Langit singkat.

“Mungkin rasanya aneh karena saya bercerita terhadap orang yang tidak saya kenal,” lanjutnya.

“Buat saya ini bukanlah hal yang aneh, terkadang bercerita terhadap orang asing adalah pilihan yang terbaik,” ucap gadis itu sembari tersenyum.

Langit mengangguk setuju. Kini hatinya tak lagi sesak.

“Mengapa Anda ada di jembatan ini malam-malam?” tanya Langit penasaran.

Gadis itu terdiam menatap ke sembarang arah merasa tak nyaman.

“Saya mempunyai alasan berada di sini, anggap saja bahwa ini adalah takdir.”

Langit menangkap gerakan tubuh gadis di sampingnya ini yang terlihat tak nyaman.

“Maaf... jika pertanyaan saya membuat Anda kurang nyaman,” ucap Langit.

“No problem, ”lirih gadis itu tanpa menatap Langit, tengah berusaha menenangkan sedikit gemuruh di dadanya.

Langit menoleh sekilas ke arah gadis yang ada disampingnya, netra yang sedikit kecoklatan itu seperti menyimpan luka.

Ia berusaha tak terlalu peduli. Tetapi entah mengapa sedikit mengusik hatinya. Ia menyingkirkan rasa penasarannya; sebab ini bukan ranahnya.

Suasana canggung mulai terasa.

Langit menatap sungai di bawah sana sekali lagi. Arus sungai yang begitu deras seolah menunggu jiwa yang memilih menerjunkan diri— salah satu dirinya yang hampir menjadi bagian dari mereka yang telah menjadi penghuni sungai. Tanpa sadar dingin menjalar hingga tulang-tulangnya.

Langit menelan penyesalan atas pilihan yang buruk, berhutang permintaan maaf untuk diri sendiri—bersyukur takdir masih memberikannya kesempatan untuk bernapas.

Jika saja gadis itu tak mencegahnya, mungkin saat ini ia hanya tinggal nama— sepotong cerita yang mudah usang dimakan waktu.

Keduanya tengah tenggelam dengan pemikiran masing-masing, namun Langit mulai terusik dengan hening yang terlalu lama ini. Ia memutar otak, sekadar mencari topik hanya untuk mencairkan suasana.

Langit menggaruk belakang kepala. “Bagaimana kalau... kita berpindah tempat saja? Rasanya sudah terlalu lama berdiri di sini.

Gadis itu tersenyum. “Boleh,” katanya.

Mereka berjalan bersama mencari tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol. Lalu tak jauh dari sana, ada sebuah pohon tua berdiri kokoh di tepi jalan, di bawahnya terdapat bangku kosong.

Langit melangkah lebih dulu, lalu duduk perlahan. Gadis itu menyusul tanpa banyak kata.

“Duduk di sini lebih nyaman daripada di jembatan itu,” ujar Langit membuka obrolan.

“Iya, saya setuju,” jawab gadis itu.

Langit menoleh ke sampingnya. Angin malam yang menerpa membuat helai rambut panjang gadis itu berantakan menambah kesan yang berbeda. Untuk beberapa detik tatapan Langit terpaku.

“Bintangnya indah,” ucap gadis itu, pandangannya ke atas menatap bintang penuh kagum.

Ucapan itu menyadarkan Langit dari lamunan. Ia ikut serta menengadah, tersenyum tipis. “Apa yang Anda suka dari bintang?” tanya Langit penasaran.

Gadis itu tersenyum. “Dia tetap memilih bersinar meskipun pada tempat yang gelap, itulah sebabnya saya amat menyukai bintang.”

Langit membisu. Lagi dan lagi ia kehilangan kata-kata.

Tiba-tiba dering telefon dari ponsel gadis itu memecahkan keheningan. Raut wajahnya berubah seketika.

Langit menduga terjadi sesuatu, namun ia memilih untuk diam.

“Saya duluan, ya. Terima kasih,” ujar gadis itu dengan suara yang bergetar.

Ia bergegas meninggalkan bangku itu.

Tatapan Langit tak lepas dari punggung yang sudah semakin jauh dengan di hantui berbagai pertanyaan.

Langit tak tahu siapa gadis itu.

Namun untuk pertama kalinya, ia berharap pertemuan malam ini bukanlah yang terakhir.

Lanjut membaca
Lanjut membaca