Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
WARISAN BERDARAH DIPULAU HARTA KARUN

WARISAN BERDARAH DIPULAU HARTA KARUN

dwoney | Bersambung
Jumlah kata
64.7K
Popular
209
Subscribe
49
Novel / WARISAN BERDARAH DIPULAU HARTA KARUN
WARISAN BERDARAH DIPULAU HARTA KARUN

WARISAN BERDARAH DIPULAU HARTA KARUN

dwoney| Bersambung
Jumlah Kata
64.7K
Popular
209
Subscribe
49
Sinopsis
FantasiIsekaiPewarisKriminalPertualangan
Satu Peta Berlumur Darah. Satu Kapal Penuh Muslihat. Dan Tujuh Ratus Ribu Keping Emas yang Menanti di Neraka Tropis. Jaka hanyalah seorang remaja pelayan kedai biasa sebelum kedatangan pelaut tua misterius bernama Baskoro mengubah hidupnya selamanya. Di dasar peti kayu milik sang pelaut, Jaka menemukan sebuah rahasia yang paling diburu di seluruh samudra: Peta Harta Karun Kapten Brama. Bersama Juragan Tirta yang ambisius dan Dokter Lesmana yang bijak, Jaka berangkat melintasi lautan luas menuju sebuah pulau tak berpenghuni menggunakan kapal sekunar megah, Dewi Samudra. Namun, mereka melakukan kesalahan fatal—mereka merekrut kru kapal yang salah. Di bawah kepemimpinan koki kapal yang karismatik namun licik, Karta si Jangkung, sebuah rencana pemberontakan berdarah sedang digodok dalam gelap. Jaka yang tak sengaja menguping rencana tersebut dari dalam sebuah tong apel, kini harus bertaruh nyawa di tengah konspirasi besar para perompak yang menginginkan emas tersebut... dan kepala para majikannya. Saat jangkar dijatuhkan di Pulau Tengkorak, perang pun pecah. Di antara lebatnya hutan pinus dan ancaman demam kuning, Jaka harus memilih: tetap setia pada kehormatan atau hanyut dalam godaan harta karun yang sudah merenggut tujuh belas nyawa. Akankah Jaka kembali ke Surabaya membawa kekayaan, atau namanya hanya akan menjadi gema di antara pekikan burung beo yang terus berteriak: "Ringgit Emas! Ringgit Emas!"?
BAB 1 PELAUT TUA

Juragan Tirta, Dokter Lesmana, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya telah memintaku untuk menuliskan seluruh detail mengenai insiden Pulau Harta Karun. Mereka memintaku untuk menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, tanpa menyembunyikan satu fakta pun, kecuali tentu saja titik koordinat persis pulau tersebut—dan itu semata-mata karena sampai detik ini, masih ada tumpukan harta karun yang belum sempat diangkat dari perut bumi. Maka, dengan segenap ingatan yang tersisa, aku mengambil penaku di tahun 199- ini, dan memutar balik waktu menuju masa-masa kelam ketika mendiang bapakku masih mengelola kedai dan penginapan "Laksamana Bima". Ke masa ketika seorang pelaut tua yang kulitnya segelap kayu jati, dengan bekas luka bacok yang mengerikan di wajahnya, untuk pertama kalinya menginjakkan kaki dan menyewa kamar di bawah atap rumah kami.

Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas, detail demi detailnya seolah baru terjadi kemarin sore. Pria itu datang terseok-seok menuju pintu kedai dengan napas berat. Di belakangnya, seorang kuli angkut tampak mandi peluh, kepayahan mendorong sebuah gerobak kayu yang memuat sebuah peti pelaut berukuran raksasa. Pelaut itu adalah pria yang tinggi besar, kekar, dengan postur tubuh sekeras karang laut. Kulitnya gosong terbakar terik matahari. Rambutnya yang gimbal dan kaku karena campuran garam laut dan kotoran dibiarkan menjuntai melewati bahu jaket kulit birunya yang sudah kumal dan penuh noda. Tangannya kasar, penuh kapalan dan bekas luka, dengan kuku-kuku hitam yang patah di ujungnya. Dan tentu saja, bekas luka bacokan di salah satu pipinya; sebuah garis putih pucat yang terlihat seperti daging mati. Aku ingat bagaimana dia memicingkan mata, menyapu pandangannya ke sekeliling teluk kami yang sepi, bersiul pelan menembus sela-sela giginya, dan tiba-tiba menyenandungkan sebuah lagu laut kuno yang nantinya akan sangat sering dia nyanyikan hingga membuat telinga kami muak:

"Lima belas bajingan di atas peti mayat kawan— Yo-ho-ho, dan sebotol arak merah!"

Suaranya melengking tinggi, gemetar dan parau, terdengar seperti pita suara yang sudah rusak akibat terlalu sering meneriakkan perintah di tengah badai laut. Setelah itu, dia menggedor pintu kedai kami menggunakan sepotong tongkat kayu tebal yang selalu dibawanya. Ketika Bapak muncul dari balik pintu, pria itu langsung membentak, meminta segelas arak lokal dengan nada memerintah. Saat minumannya dihidangkan, dia tidak langsung menenggaknya. Dia menyesapnya perlahan, membiarkan cairan keras itu membakar tenggorokannya seolah dia adalah seorang pencicip minuman profesional, sambil matanya terus liar mengamati tebing-tebing di sekitar kami dan papan nama kedai yang berderak ditiup angin laut.

"Teluk yang strategis," gumamnya setelah keheningan yang cukup lama. "Dan posisi kedai minuman yang sangat bagus. Banyak pelanggan yang mampir ke sini, Kawan?"

Bapak menggelengkan kepala, menjawab dengan nada sedih bahwa kedai kami sangat sepi, hampir tidak ada tamu yang sudi mampir.

"Baguslah kalau begitu," potong pria itu cepat. "Ini tempat yang pas buatku. Heh, kau, sobat," teriaknya pada si kuli angkut gerobak yang sedari tadi berdiri ketakutan. "Bawa gerobak itu ke mari dan bantu aku mengangkat peti bajingan ini. Aku akan menetap di sini untuk sementara waktu," lanjutnya kepada Bapak. "Aku ini pria yang simpel. Perutku cuma butuh nasi putih panas, rendang sapi, dan telur dadar. Hanya itu. Dan jendelaku harus menghadap ke laut, supaya aku bisa mengawasi kapal-kapal yang lewat. Kalian mau memanggilku apa? Kalian bisa memanggilku Kapten. Oh, aku tahu apa yang ada di otakmu—ini!" Pria itu merogoh saku jaketnya yang tebal dan melemparkan beberapa lembar uang seratus ribuan berwarna merah yang diikat karet gelang ke atas ambang pintu. "Beri tahu aku kalau jatah uang pelicin itu sudah habis terpakai," katanya dengan tatapan setajam elang, persis seperti seorang komandan militer bengis.

Dan memang benar, seburuk apa pun pakaiannya dan sekasar apa pun cara bicaranya, dia sama sekali tidak terlihat seperti kru kapal kelas teri. Dia memancarkan aura seorang mualim atau kapten kapal yang terbiasa dituruti perintahnya, atau terbiasa memukul siapa saja yang berani membantah. Kuli pendorong gerobak itu bercerita kepada kami bahwa si Kapten turun dari bus antarkota di depan Penginapan Garuda Mas pagi sebelumnya. Pria itu sempat bertanya tentang penginapan apa saja yang ada di sepanjang pesisir pantai ini. Dan ketika mendengar kedai kami disebut-sebut sebagai tempat yang paling terisolasi dan sepi, dia langsung memilihnya sebagai tempat persembunyian. Hanya itulah informasi secuil yang bisa kami gali tentang tamu misterius kami.

Pada dasarnya, dia adalah pria yang sangat irit bicara. Sepanjang hari, dari pagi buta hingga matahari terbenam, dia hanya akan berkeliaran di sekitar teluk atau berdiri mematung di atas tebing karang, menyapukan pandangannya ke lautan lepas melalui sebuah teleskop kuningan tua. Menjelang malam, dia akan mengambil tempat di sudut ruangan kedai, duduk menyendiri di sebelah perapian yang menyala, dan menenggak campuran arak dan air putih dalam takaran yang sangat keras. Seringnya, dia tidak akan menjawab jika diajak bicara. Dia hanya akan mendongak dengan gerakan menyentak yang buas, menatap tajam, lalu mendengus keras dari hidungnya—suaranya mirip sirine kabut kapal. Tak butuh waktu lama bagi kami, maupun segelintir pelanggan yang mampir, untuk belajar membiarkannya sendirian.

Setiap hari, sepulangnya dari patroli di tebing, pertanyaan pertamanya selalu sama: apakah ada pria pelaut yang lewat di jalan pesisir. Awalnya, kami mengira dia merindukan teman senasib yang bisa diajak mengobrol. Namun seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa dia justru sedang berusaha keras menghindari mereka. Jika sesekali ada seorang pelaut yang kebetulan mampir ke kedai Laksamana Bima (biasanya mereka yang sedang menempuh perjalanan darat menyusuri pesisir menuju Pelabuhan Surabaya), si Kapten akan mengintip dari balik tirai pintu dengan penuh kehati-hatian sebelum berani masuk ke ruang utama. Dan jika ada pelaut asing di dalam, dia pasti akan berubah menjadi pendiam bak tikus got.

Bagi diriku pribadi, tidak ada lagi rahasia mengenai gerak-geriknya, karena aku—entah bagaimana ceritanya—telah ditarik menjadi kaki tangannya. Suatu hari, dia menarikku ke sudut yang sepi dan menjanjikan selembar uang lima puluh ribuan biru pada tanggal satu setiap bulannya, dengan satu syarat mutlak: aku harus "membuka mata lebar-lebar untuk mencari seorang pelaut berkaki satu", dan segera melapor padanya detik itu juga jika bajingan buntung itu muncul. Sering kali, saat tanggal satu tiba dan aku menagih upahku, dia hanya akan mendengus keras ke arahku dan memelototiku sampai aku ciut. Namun sebelum minggu itu berakhir, dia biasanya akan sadar, memberikan selembar uang itu, dan mengulangi perintah mutlaknya untuk mewaspadai "si pelaut berkaki satu".

Bagaimana sosok pelaut buntung itu menghantui setiap malamku, rasanya tak perlu kujelaskan panjang lebar. Pada malam-malam badai yang mencekam, ketika angin topan menghantam empat sudut rumah kami dan suara deburan ombak meraung-raung menggilas karang teluk, bayangan pria itu muncul dalam ribuan bentuk dan ekspresi iblis di kepalaku. Kadang kakinya terpotong di lutut, kadang di pangkal paha; di mimpi yang lain, dia adalah monster cacat yang terlahir hanya dengan satu kaki di tengah-tengah tubuhnya. Melihatnya melompat-lompat menembus hujan, mengejarku melewati pagar dan selokan berlumpur, adalah mimpi buruk paling memuakkan dalam hidupku. Intinya, aku harus membayar mahal uang lima puluh ribuan sialan itu dengan kewarasan mentalku sendiri.

Namun, meskipun aku sangat ketakutan setengah mati pada sosok pelaut berkaki satu itu, aku justru jauh lebih tidak takut pada si Kapten dibandingkan orang-orang lain di sekitarku. Ada malam-malam tertentu ketika dia menenggak arak jauh melebihi batas toleransi otaknya. Saat itu terjadi, dia akan duduk bersandar dan menyanyikan lagu-lagu lautnya yang liar, mesum, dan penuh dosa, tanpa mempedulikan siapa pun. Kadang-kadang, gairah gilanya kumat; dia akan memesankan minuman keras untuk semua oang di kedai, lalu memaksa gerombolan orang-orang desa yang gemetar ketakutan itu untuk mendengarkan cerita-ceritanya atau ikut menjadi paduan suara untuk nyanyiannya. Tak jarang aku mendengar dinding kedai kami bergetar oleh nyanyian "Yo-ho-ho, dan sebotol arak merah," di mana semua tetangga terpaksa ikut bernyanyi demi menyelamatkan nyawa mereka. Masing-masing berteriak lebih keras dari yang lain agar tidak memancing amarah si Kapten. Karena saat dia sedang kesetanan seperti itu, dia adalah tiran paling dominan yang pernah ada. Dia akan menggebrak meja dengan tangannya yang sebesar batu untuk meminta semua orang diam; dia bisa tiba-tiba meledak dalam amarah yang brutal jika ada yang berani bertanya, atau sebaliknya, marah besar karena tidak ada yang bertanya—yang menurutnya berarti mereka tidak menyimak ceritanya. Dia juga melarang keras siapa pun meninggalkan kedai sampai dia sendiri mabuk berat, tertidur, dan terhuyung-huyung kembali ke kamarnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca