Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Di Khianati Anaknya Ku Kejar Mamanya

Di Khianati Anaknya Ku Kejar Mamanya

Dang Aldo | Bersambung
Jumlah kata
26.4K
Popular
244
Subscribe
66
Novel / Di Khianati Anaknya Ku Kejar Mamanya
Di Khianati Anaknya Ku Kejar Mamanya

Di Khianati Anaknya Ku Kejar Mamanya

Dang Aldo| Bersambung
Jumlah Kata
26.4K
Popular
244
Subscribe
66
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+UrbanHarem
Area 21+ Bijak dalam membaca. Diselingkuhi oleh anaknya, Feno nekat membalas dendam dengan menaklukkan mama dan tante-tante mantannya. Feno bertekad untuk membuat mereka menjadi budak pelampiasannya. Bagaimana kisahnya ikuti dalam novel ini
Bab 001. Selingkuh

"Septika pasti akan sangat terkejut ketika aku tiba-tiba melamarnya," gumam Feno pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum penuh harap.

Feno berlari kecil ke arah tukang bunga di pinggir jalan. Dengan napas sedikit memburu, ia memesan sebuket mawar merah merekah sebagai pelengkap kejutan malam ini untuk Septika, kekasih hatinya.

Di balik saku jasnya, sebuah kotak beludru merah kecil terasa berat, sebuah beban manis yang sudah ia persiapkan dengan cucuran keringat selama tiga tahun terakhir.

Di dalamnya melingkar sebuah cincin berlian murni yang ia siapkan dengan segala ketulusan untuk menjadikan Septika Nevia sebagai pendamping hidupnya selamanya.

Feno melangkah pelan, nyaris berjinjit menuju teras rumah Septika. Ia merogoh saku, mengeluarkan kunci cadangan yang diberikan Septika setahun lalu sebagai tanda kepercayaan tertinggi.

Rencananya sederhana namun romantis, masuk secara diam-diam, menghias ruang tamu dengan temaram lilin, dan berlutut tepat saat Septika pulang dari rapat lembur yang katanya sedang ia jalani dengan lelah.

Namun, saat tangan Feno menyentuh dinginnya gagang pintu jati itu, ia menyadari sesuatu yang janggal. Alisnya bertaut.

"Lah, kok nggak terkunci," batin Feno heran.

Pintu itu memang tidak terkunci. Bahkan sedikit renggang. Lebih dari itu, sepasang pantofel pria bermerek mahal tergeletak berantakan di dekat rak sepatu, seolah dilempar begitu saja oleh pemiliknya.

Bau parfum maskulin yang tajam dan asing langsung menyeruak, bercampur dengan aroma alkohol yang samar namun menusuk.

Mungkin kakaknya atau kerabatnya? pikir Feno cepat, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu tidak beraturan, memompa kecemasan ke seluruh tubuhnya.

Ia melangkah masuk tanpa suara, langkahnya seringan kapas. Lampu ruang tamu padam total, namun cahaya remang datang dari arah kamar utama yang pintunya sedikit terbuka. Dan saat itulah, dunia Feno seolah berhenti berputar. Oksigen di paru-parunya seakan tersedot keluar.

Suara desahan yang sangat ia kenal, suara yang biasanya terdengar lembut dan santun di telinganya, kini terdengar begitu liar dan penuh gairah yang meluap-luap.

Feno mendekat dengan tubuh yang gemetar hebat. Melalui celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter, ia menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh sisa hidupnya hingga berkeping-keping.

Septika Nevia, wanita yang ia puja bak dewi, sedang duduk di pangkuan seorang pria asing berjas hitam.

Septika hanya mengenakan pakaian dalam berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya yang mulus.

Septika terlihat begitu agresif, melumat bibir pria itu dengan panas, seolah-olah dunia akan berakhir malam ini.

Tangannya yang biasanya lembut saat membelai pipi Feno, kini dengan telaten dan sangat cekatan membuka satu per satu kancing kemeja pria itu, seolah jemarinya sudah ribuan kali melakukan gerakan itu tanpa cela.

Septika terus mengelus dada pria itu dengan gerakan menggoda, mengendusnya dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga membuat hasrat pria itu memuncak hingga ke ubun-ubun.

"Ah... kau benar-benar agresif dan tidak sabaran malam ini, Sayang," bisik pria itu dengan suara berat yang penuh nada kemenangan.

"Bukannya kau suka aku menjadi agresif? Kan kamu sendiri yang mengajariku menjadi agresif dan liar seperti ini," balas Septika dengan suara manja yang belum pernah Feno dengar sebelumnya.

Septika kemudian turun ke bawah, berlutut dengan patuh di antara selangkangan pria itu. Dengan gerakan yang sangat berani dan tanpa ragu, ia membuka celana pria itu.

Di mata Feno, Septika benar-benar terlihat seperti orang asing yang tak ia kenal. Wanita itu mulai menghisap milik pria itu dengan lahap, seolah itu adalah benda paling nikmat dan berharga yang pernah ia rasakan di dunia ini.

Tangan pria itu bergerak sangat aktif, satu tangan mengelus dan menjambak kepala Septika dengan kasar, sementara tangan lainnya bergerak liar meremas bukit kembar Septika yang sudah terbuka sepenuhnya dari branya.

Remasan itu begitu kuat, meninggalkan bekas merah yang kentara di kulit putihnya, namun Septika justru mendesah pelan, tampak sangat menikmati rasa sakit yang bercampur nikmat yang meledak-ledak itu.

"Akhh.... Uhhh, sayang kau sangat pintar memanjakan bukit kembarku..." rintih Septika dengan mata terpejam erat.

Feno terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa berat, seolah baru saja disemen ke lantai marmer itu. Ia ingin sekali berteriak sekencang mungkin, ingin mendobrak pintu itu dan menghajar pria tersebut hingga babak belur, namun seluruh tenaganya seolah menguap ke udara.

Septika menyudahi aktivitasnya sejenak. Ia menatap pria itu dengan mata sayu yang sudah tertutup kabut gairah yang pekat.

"Cukup sayang... aku ingin kamu di dalamku sekarang. Masukkan milikmu ke dalam lembahku, cepat... Lembahku sudah sangat rindu dengan milikmu..." mohonnya dengan suara serak yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Feno.

Pria itu tersenyum menyeringai, sebuah senyum meremehkan yang sangat menyakitkan. "Tunggu dulu, Septika. Tidakkah kau merasa jahat? Bukankah kekasihmu yang malang itu, si Feno, bekerja keras bagai kuda hanya untuk membiayai kuliahmu sampai kau bisa menjadi sekretaris di perusahaan ini?"

Mendengar namanya disebut dalam situasi sehina itu, jantung Feno berdenyut nyeri seolah disayat sembilu. Ia masih memiliki secercah harapan kecil agar Septika menunjukkan sedikit rasa bersalah, atau setidaknya keraguan di matanya.

Namun, harapan itu hancur seketika saat Septika menggelengkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun.

"Jangan sebut nama itu sekarang. Aku tidak menyesal sedikit pun. Feno itu pria yang membosankan dan sangat naif. Dasar dia saja yang bodoh sehingga mudah dimanfaatkan.

Dia pikir aku mencintainya? Tidak. Aku hanya butuh uang dan dukungannya untuk sampai di posisi ini. Sekarang, aku butuh pria sepertimu. Yang gagah, perkasa, dan bisa memuaskan hasratku."

Septika kembali memohon, tangannya menuntun tangan pria itu ke area sensitifnya yang paling dalam. "Cepat... aku sudah sangat basah. Masukkan sekarang."

Pria itu tertawa keras, tawa penuh ejekan yang menusuk harga diri Feno hingga ke dasar paling dalam. "Baiklah, karena kamu sudah memohon seperti itu."

Pria itu kemudian meminta Septika untuk kembali naik ke pangkuannya dengan posisi berhadapan. Ia menuntun miliknya yang sudah tegang sempurna menuju pusat kenikmatan Septika. Dan dalam satu gerakan tunggal yang kuat...

Blesh...

Timun super itu menghujam masuk sepenuhnya, mengisi kekosongan di dalam sana.

"AAHHH!" Septika memekik keras, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil mulai bergerak naik turun dengan ritme yang menggila.

Septika menggoyangkan bokongnya dengan liar, persis seperti kuda betina yang sedang haus birahi, seolah sedang mengulek sambal di atas pangkuan pria itu.

"Akhhh sayang, goyanganmu enak banget," puji pria itu dengan napas menderu sambil kembali melahap bukit kembar Septika yang besar itu.

"Ahhh punyamu nikmat sayang, kuat dan perkasa..." seru Septika sambil terus memacu gerakannya.

Mereka berdua terbawa arus hasrat yang membara, saling bertukar keringat dan desahan di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat suci bagi Septika.

Mereka sama sekali tidak sadar bahwa di balik celah pintu yang sempit, Feno menyaksikan setiap detail pengkhianatan menjijikkan itu dengan tubuh yang gemetar hebat.

Air mata panas jatuh membasahi pipi Feno, namun anehnya, rasa sedih itu perlahan menguap, digantikan oleh rasa dingin yang membeku di dalam dadanya.

Tenaganya hampir habis, lututnya lemas tak bertulang. Tanpa sengaja, pegangannya pada kotak beludru merah itu terlepas dari jemarinya yang dingin.

Ting.

Suara logam beradu dengan lantai marmer terdengar samar di tengah riuhnya suara desahan dari dalam kamar.

Cincin berlian yang ia beli dengan pertaruhan darah dan keringat itu terjatuh, menggelinding tak berdaya di lantai yang dingin. Cincin itu, yang seharusnya menjadi simbol pengabdian suci, kini hanya menjadi saksi bisu hancurnya hati seorang Feno Winata.

Lanjut membaca
Lanjut membaca