

Matahari di atas langit desa seolah sedang mengamuk. Cahayanya yang benderang membakar kulit siapa saja yang berani menantangnya di ruang terbuka. Di sebuah lahan luas yang sedang dipersiapkan menjadi stasiun pengisian bahan bakar, suara hantaman linggis dengan tanah berbatu dan deru mesin molen pengaduk semen menjadi musik harian yang memekakkan telinga.
Aryo menyeka keringat yang bercucuran dari dahi dengan punggung tangannya yang kasar dan penuh noda semen. Kaos singlet yang ia kenakan sudah basah kuyup, menempel ketat pada tubuhnya yang kekar—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar di bawah terik matahari. Otot-otot lengannya menegang setiap kali ia mengangkat ember berisi adukan semen yang berat.
"Yo! Istirahat dulu! Sebentar lagi adzan Dzuhur, nyawa juga butuh didinginkan!" seru Mang Jaka, mandor sekaligus tetangga Aryo, sambil meletakkan sekopnya.
Aryo menoleh, memamerkan senyum tulus di wajahnya yang jelaga. "Iya, Mang! Tanggung ini, sedikit lagi adukannya habis. Mubazir kalau kering di dalam molen," jawabnya dengan suara agak berteriak guna mengalahkan bising sekitar.
"Dasar anak rajin! Ya sudah, kami duluan ke mushola ya!" Mang Jaka dan pekerja lainnya melangkah pergi, meninggalkan Aryo yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
Setelah memastikan area kerjanya bersih, Aryo menyusul. Ia membasuh wajah, tangan, dan kakinya di pancuran mushola sederhana yang airnya terasa sangat sejuk di kulit yang terbakar. Saat air wudhu menyentuh wajahnya, Aryo merasa beban hidupnya sedikit terangkat. Di dalam sujudnya, ia berdoa sederhana: *Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk bapak dan ibu, dan lancarkanlah rezekiku hari ini.*
Usai sholat, perut yang keroncongan menuntun langkah para pekerja itu ke warung Bu Warsih, satu-satunya tempat makan yang menyajikan masakan Sunda otentik di dekat lokasi proyek. Bau harum sambal dadak dan ikan asin goreng langsung menyambut indra penciuman mereka.
Namun, langkah Aryo terhenti tepat di ambang pintu warung. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Di sana, di dekat etalase kaca berisi jejeran gorengan, berdiri seorang gadis yang seolah membawa musim semi di tengah kegarangan musim panas.
Tiara.
Gadis itu mengenakan tunik bunga-bunga sederhana, namun di mata Aryo, ia tampak seperti bidadari yang tersesat di bumi. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda, memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih. Saat ia berbicara dengan Bu Warsih, lesung pipinya muncul, menambah daya tarik yang membuat Aryo tak bisa memalingkan wajah.
Dengan mengumpulkan sisa keberanian yang sering kali ciut di depan kelas sosial, Aryo mendekat.
"Neng Tiara... lagi apa di sini?" tanya Aryo ramah, berusaha menutupi kegugupannya.
Tiara menoleh. Matanya yang indah menatap Aryo dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan sepatu bot penuh lumpur dan kaos kusam yang dikenakan pria itu. "Eh, Mas Aryo. Ini, lagi beli lauk. Bapak lagi malas makan di rumah, jadi disuruh beli sayur asem di sini," jawabnya datar. Nada suaranya netral, tidak hangat tapi juga belum menusuk.
Aryo tersenyum lebar, merasa mendapat lampu hijau. "Oh, buat Pak Kades ya? Kebetulan sayur asem Bu Warsih memang juara, Neng. Pas buat cuaca panas begini."
Tiara hanya mengangguk kecil, sibuk merapikan dompetnya.
"Eh, Neng... denger-denger Neng Tiara kuliah di kota ya? Di mana kalau boleh tahu?" Aryo mencoba memperpanjang percakapan.
Tiara menghela napas pendek, seolah pertanyaan itu adalah beban. "Di UPI, Mas. Bandung," jawabnya singkat, mulai terasa nada ketus dalam intonasinya.
"Wah, hebat ya. Guru ya nanti kalau lulus? UPI kan gudangnya calon guru," puji Aryo tulus.
Tiara tidak menyahut. Ia segera mengambil kantong plastik dari Bu Warsih, membayar, dan berbalik tanpa pamit yang layak. Bagi Aryo, itu adalah interaksi luar biasa. Ia merasa Tiara setidaknya mau menyahut ucapannya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi bahan lamunan sepanjang sisa jam kerjanya.
---
Sore harinya, saat semburat jingga mulai menghiasi langit, Aryo berjalan pulang dengan langkah ringan. Di pundaknya tersampir handuk kecil yang ia gunakan untuk mengusap sisa-sisa debu proyek. Nasib baik kembali berpihak padanya; ia melihat Tiara sedang berdiri di pinggir jalan desa, sepertinya sedang menunggu seseorang atau sekadar menikmati angin sore.
*Inilah saatnya,* pikir Aryo penuh percaya diri. Pertemuan tadi siang membuatnya merasa memiliki "hubungan" yang lebih dekat.
"Hai, Neng! Ketemu lagi," sapa Aryo dengan senyum paling manis yang ia miliki.
Tiara menoleh, tapi kali ini ekspresinya berbeda. Alisnya bertaut. "Hai," jawabnya sangat datar, hampir terdengar seperti gumaman tak ikhlas.
"Sendirian aja, Neng? Nunggu jemputan atau lagi cari angin?"
Tiara memutar bola matanya. "Emangnya situ lihat ada orang lain di sebelah saya? Ya sendirilah!"
Aryo terkekeh, menganggap ketus itu sebagai bentuk "jual mahal" yang biasa dilakukan gadis-gadis cantik. "Hehe, iya juga ya. Kan cuma ada Neng Tiara yang paling cantik di sini."
Bukannya tersanjung, wajah Tiara justru memerah karena kesal. "Ngapain sih kamu dari tadi dekati saya terus, Mas? Ada perlu apa sebenarnya?"
Aryo tertegun sejenak, namun kepolosannya mengalahkan logika. "Emang... emang gak boleh ya saya menyapa Neng Tiara?"
"Ya nggak boleh lah! Mas Aryo itu harusnya sadar diri. Kita itu beda level. Mas itu kuli, bau keringat, kotor. Saya risih tahu nggak kalau ada orang kayak Mas berdiri dekat-dekat saya!" Tiara meledak, suaranya cukup keras hingga beberapa warga yang lewat sempat menoleh.
Aryo terpaku. Kata "bau keringat" dan "beda level" menghantam dadanya seperti godam besar yang biasa ia gunakan menghancurkan beton. Namun, rasa sukanya yang terlalu besar membuat ia melakukan mekanisme pertahanan diri yang naif.
"Oh... kalau masalah bau keringat, nanti saya nyamperinnya kalau sudah mandi, Neng. Biar wangi, biar Neng Tiara betah ngobrol sama saya," ujar Aryo dengan nada bercanda yang dipaksakan, berusaha mencairkan suasana yang membeku.
Tiara menatap Aryo dengan tatapan jijik yang tak disembunyikan lagi. "Apaan sih? Nggak jelas banget! Mau mandi pakai parfum satu botol pun, Mas Aryo tetap saja kuli bangunan. Sudah ah, nggak level ngomong sama kamu!"
Gadis itu melangkah pergi dengan hentakan kaki yang kasar, meninggalkan Aryo yang masih berdiri mematung di pinggir jalan. Senyum tipis masih tertinggal di bibir Aryo, sebuah senyum yang getir. *Ah, mungkin dia lagi pusing kuliahnya,* batin Aryo menghibur diri sendiri. Di matanya, Tiara yang marah pun tetap terlihat menggemaskan.
---
Aryo sampai di rumahnya yang berdinding papan dan beralas semen kasar di beberapa bagian. Ibunya, Bu Siti, sedang duduk di teras kecil sambil memilah sayuran hasil kebun sendiri. Melihat anak semata wayangnya pulang dengan wajah yang cerah meski tubuhnya kotor, Bu Siti tersenyum.
"Sepertinya Ibu lihat kamu senang sekali hari ini, Yo. Ada apa? Borongan proyeknya cair?" tanya Bu Siti sambil berdiri, bergegas ke dapur untuk mengambilkan teh tawar hangat—minuman kemewahan harian mereka.
Aryo meletakkan tasnya dan duduk di kursi kayu tua yang sudah goyang. "Ibu tahu saja kalau Aryo lagi senang," jawabnya sebelum menerima gelas dari sang ibu. Ia menyeruput teh itu dengan nikmat.
"Kelihatan sekali, Yo. Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri. Padahal muka penuh debu begitu," sahut Bu Siti sambil duduk di sampingnya.
Aryo terdiam sejenak, memandangi uap teh yang mengepul. "Bu... menurut Ibu, Neng Tiara itu cantik nggak?"
Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Bu Siti yang sedang memetik bayam terhenti. Ia menatap anaknya dengan tatapan penuh selidik namun lembut. "Cantik lah, Yo. Neng Tiara itu anak tunggal Pak Kades. Sekolahnya tinggi di kota, kulitnya putih bersih karena perawatan, makannya enak. Ya jelas cantik."
Aryo menyandarkan punggungnya. "Kalau misalnya... suatu saat dia jadi menantu Ibu, Ibu bakal senang nggak?"
*Plak!*
Sebuah tepukan mendarat di lengan kekar Aryo. Bukan pukulan marah, melainkan pukulan penuh kasih sayang yang bercampur rasa khawatir.
"Aduh, Yo! Jangan aneh-aneh kamu ini. Kalau menghayal itu jangan ketinggian, nanti jatuhnya sakit sekali!" ucap Bu Siti dengan nada serius.
"Kan jodoh nggak ada yang tahu, Bu. Siapa tahu memang takdir Aryo begitu," bantah Aryo pelan.
Bu Siti menghela napas panjang. Ia meletakkan bayamnya dan memegang tangan Aryo yang kasar dan kapalan. Matanya menatap langsung ke mata anaknya, memberikan realitas yang pahit namun perlu.
"Yo, dengerin Ibu. Kita ini cuma petani miskin yang punya tanah secuil. Kamu cuma kuli bangunan yang kerja kalau ada proyek saja. Pak Kades itu orang terpandang di desa ini. Tiara itu ibarat langit, dan kita ini cuma tanah merah yang sering diinjak-injak orang. Sadar diri, Yo... Ibu nggak mau lihat kamu hancur karena mengharapkan sesuatu yang mustahil."
"Tapi Bu—"
"Sudah, sudah! Mandi sana! Bau semen kamu ini menyengat. Mandi, sholat, terus makan. Ibu sudah masakin ikan asin kesukaanmu," potong Bu Siti, mengakhiri pembicaraan yang menurutnya hanya akan membawa luka bagi anaknya.
Aryo bangkit berdiri. Ia melangkah menuju kamar mandi di belakang rumah dengan pikiran yang masih tertinggal pada wajah Tiara. Di bawah kucuran air sumur yang dingin, ia bergumam pelan, "Langit memang tinggi, tapi hujan dari langit selalu jatuh ke tanah, kan?"
Aryo tidak pernah tahu, bahwa beberapa hari ke depan, langit yang ia puja akan menjatuhkan badai yang menghancurkan harga dirinya, sebelum akhirnya sebuah rahasia besar akan mengangkatnya melampaui awan-awan tertinggi yang pernah ia bayangkan.