Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Liar Kakak Tiri Yang Menggoda

Gairah Liar Kakak Tiri Yang Menggoda

Apple Cherry | Bersambung
Jumlah kata
38.3K
Popular
611
Subscribe
127
Novel / Gairah Liar Kakak Tiri Yang Menggoda
Gairah Liar Kakak Tiri Yang Menggoda

Gairah Liar Kakak Tiri Yang Menggoda

Apple Cherry| Bersambung
Jumlah Kata
38.3K
Popular
611
Subscribe
127
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Harem
(21+) Tanah makam Ibu belum kering saat Bapak membawa ibu tiri dan anak perempuannya, Melati, ke rumah. Sakti tak dapat menahan amarah dan kecewa, namun ia justru memergoki rahasia kotor Melati dari balik celah pintu kamar kakak tirinya itu. Melati yang tampak santun dan lembut, namun menyimpan badai gairah yang lapar di balik daster tipisnya. Sakti mulai menyentuh titik-titik rawan hingga pertahanan malu Melati runtuh menjadi desahan parau yang memohon pelepasan. Ketika gairah dan benci menyatu jadi satu, siapa yang sebenarnya jadi mangsa? Dan rahasia apa yang akan meledak saat Bapak mulai curiga?
Bab 1 Desahan Dari Balik Pintu Kamar Kakak Tiri

Pernikahan Bapak semalam terasa seperti ludah yang tepat mengenai mukaku. Pernikahan ini bahkan terasa begitu mendadak, hingga membuatku tak sempat untuk menyatakan keberatan.

Bapak menikah saat aku sedang melangsungkan wisuda pendidikanku. Ya, bahkan bapak tidak hadir saat itu. Ternyata demi menikah lagi.

Bapak benar-benar sudah kehilangan urat malunya.

Dia membangun panggung suka cita tepat di atas puing-puing duka yang bahkan belum genap seratus hari.

Aku berdiri di ambang pintu ruang kerja Bapak. Barusan istri baru bapak pergi keluar, berlagak jadi nyonya rumah saja!

"Bapak sudah tidak waras? Tanah makam Ibu saja masih basah, dan Bapak sudah membawa perempuan itu masuk ke rumah ini?" suaraku berat, mengandung kekesalan yang tak dapat kubendung lagi.

Bapak tidak bergeming. Dia masih sibuk mematut diri di depan cermin jati, membetulkan simpul dasinya dengan wajah sedatar tembok.

"Jaga bicaramu, Sakti."

"Kenapa? Apa aku salah?"

"Sakti! Bapak butuh orang untuk mengurus rumah. Dan kamu juga butuh ibu baru untuk menyisir perangaimu yang seperti kerbau liar itu."

"Aku lebih baik hidup tanpa ibu daripada harus melihat perempuan itu duduk di kursi Ibu!" tanganku mengepal sampai buku jariku memutih.

Bapak menoleh, matanya berkilat seperti parang yang baru diasah.

Namun, sebelum mulutnya menyalak, pintu diketuk pelan. Sesosok wanita masuk membawa baki dengan dua cangkir kopi hitam.

Dia berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan asing yang dipenuhi kecanggungan.

Kami baru pertama kali bertemu semalam. Wanita yang lebih tua 5 tahun dariku itu adalah anak dari perempuan yang baru saja dinikahi oleh ayah.

"Kopinya, Pak," ucapnya pelan, lalu matanya beralih padaku dengan ragu.

"Silakan," ucapnya memberikan secangkir minuman untukku dengan sopan.

Bapak berdehem, mencoba mencairkan suasana yang kaku seperti es.

"Sakti, ini Melati. Anak istriku. Dia lebih tua darimu, jadi panggil dia Kakak."

Aku tidak menyahut. Aku justru menelanjangi penampilannya dengan tatapan menyelidik.

Melati mengenakan kebaya hijau zamrud yang seolah menjahit lekuk tubuhnya dengan paksa. Kain itu mendekap tubuh matangnya dengan sangat ketat.

Pinggulnya yang lebar terlihat begitu penuh, sementara bagian dadanya yang menonjol seolah hendak menanggalkan kancing-kancing mungil yang sudah kepayahan menahan beban di baliknya.

Aku kemudian melangkah maju untuk mengambil kopi itu.

Saat tanganku terjulur, alih-alih menyentuh baki, lengan atasku tak sengaja menekan sisi dadanya yang membusung kencang.

Hanya sebuah gesekan singkat. Namun membuat Melati tersentak.

Napasnya terhenti di tenggorokan, dan aku melihat rona merah perlahan merayap di lehernya yang kuning langsat.

Dia segera mundur setengah langkah, matanya membelalak kaget.

"Maaf, Kak," ucapku datar, tapi mataku tetap tak lepas melihat wajahnya yang masih merona.

"Nggak apa-apa," jawabnya buru-buru, menghindari tatapanku.

Melati segera memalingkan muka, tangannya sibuk menata gelas di atas nampan dengan gerakan canggung. Dia seolah ingin segera menghilang dari hadapanku.

Tak lama kemudian Bapak berdeham pelan, emecah suasana canggung tadi. Sedangkan Melati sudah keluar dari ruang kerja. Mungkin kembali ke dapur atau entah kemana. 

"Bapak, harap kamu bisa akur dengan Melati dan Ibu barumu. Bagaimanapun sekarang ini adalah keluargamu." Mendengar ucapan Bapak, aku mengepalkan kedua tanganku. Tak sudi menggantikan sosok ibuku dengan seorang wanita lain. 

Melihatku yang diam saja, wajah Bapak menjadi masam, "Yasudah sana, keluar. Bapak mau istirahat dulu." 

Aku pun keluar, tadinya berniat untuk kembali langsung ke kamar. Namun, begitu mendengar suara di dapur, aku memutuskan untuk berbelok ke dapur. 

Rupanya kakak tiriku itu sedang sendirian di dapur, ia tampak sedang berjinjit mencoba menjangkau toples di rak paling atas.

Tubuhnya yang berisi itu merenggang, membuat setiap lekukan tubuhnya yang mematikan di bawah cahaya lampu redup.

"Butuh bantuan, Kak?" tanyaku sambil berdiri tepat di belakangnya, nyaris tanpa sela.

Melati terjingkat, hampir menjatuhkan toples di tangannya. Dia berbalik dengan cepat, membuat tubuhnya yang matang itu hampir menabrak dadaku.

Napasnya memburu, matanya menatapku dengan tatapan risi yang kentara.

"Sakti, kaget aku. Minggir sebentar," ucapnya mencoba bersikap tegas sebagai yang lebih tua, tapi suaranya yang gemetar mengkhianati dirinya sendiri.

Aku tidak beringsut.

Aku justru mencondongkan tubuh, mengulurkan tangan melewati kepalanya untuk mengambilkan toples itu.

Hal ini membuat dadaku menghimpit tubuhnya ke pinggiran meja dapur, dan lengan atasku kembali tak sengaja menekan puncak dadanya saat aku menurunkan toples tersebut.

"Ini," kataku pelan, suaraku berat tepat di depan wajahnya.

Namun, Kak Melati justru meletakkan tangannya di dadaku, mencoba mendorong pelan.

"Sakti, jauhan sedikit. Tidak enak jika ada yang melihat, aku ini kakakmu."

"Kita baru kenal semalam, Kak. Lagipula kita juga tidak ada hubungan darah," bisikku, sengaja membiarkan uap napasku menyapu bibirnya.

"Tetap saja tidak enak dilihat," dia memalingkan wajah, sebuah bentuk penolakan yang sia-sia karena dia tidak benar-benar menjauhkan tubuhnya dariku.

Aku menyeringai tipis, "Kalau Kak Melati merasa ada yang salah, mungkin hanya di pikiran Kakak sendiri. Kenapa sampai gemetar begini kalau memang tidak ada apa-apa?"

Aku kemudian menarik diri secara tiba-tiba, memberinya ruang napas lagi. 

Melati yang kini merasa terbebas, bergegas pergi dengan langkah cepat, seolah baru saja melihat setan di lorong.

Sepeninggal Melati, sebuah langkah kaki pelan terdengar mendekatinya.

"Butuh bantuan, Sakti?" teguran pelan dari Wanita, membuat Sakti menoleh ke belakang. Rupanya itu Lasmi. 

Wanita yang merampas posisi Ibu itu sedang membawa beberapa tumpukan kado pernikahan.

Aku bersedekap, bersandar di kusen pintu dengan wajah dingin. "Bukan urusanmu."

Lasmi menghela napas. "Maaf Sakti, ibu tau kamu pasti masih sedih karena kehilangan ibu kandungmu."

Aku menatapnya sekilas lalu berdecih pelan. "Tidak perlu dibahas, ibuku sudah tenang."

"Kamu benar," sahutnya, suaranya dibuat selembut mungkin. "Ibu juga berharap kamu bisa menerima kehadiran Melati."

Aku mendengus. "Menerima?"

"Iya, kata bapakmu kamu kesepian karna anak tunggal. Mungkin kehadiran Melati bisa membuatmu tidak kesepian lagi."

"Ah, agar aku tidak kesepian, ya. Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba akur dengan Kak Melati." Setelah mengucapkan itu dengan nada sarkastik, aku langsung berbalik meninggalkannya.

***

Tengah malam, aku terbangun dengan tenggorokan yang kering kerontang. Begitu melirik sekilas ke arah jam dinding, rupanya sudah menunjukan hampir pukul dua belas malam. 

Karena suara terasa begitu hening, aku membuka pintu kamar dengan pelan. Dengan langkah malas, aku melangkahkan kakiku menuju dapur yang ada di lantai bawah. 

Saat melewati lorong tengah, langkahku terhenti tepat di depan kamar Melati.

Pintu kayunya sedikit renggang.

Ada cahaya lampu kuning redup yang lolos dari celah sempit itu, menggaris di lantai lorong.

"Ahh, uhhh, emh."

Telingaku tiba-tiba menangkap suara napas yang memburu dan putus-putus. Suara aneh itu membuatku ingin mengintip sebentar.

"Ahh, enak, uhhh."

Aku membeku. Darahku berdesir panas sampai ke ubun-ubun. Mataku melebar menembus celah pintu yang renggang itu.

Di atas ranjang, Melati berbaring miring.

Daster tipisnya sudah tersingkap jauh tinggi, memamerkan sepasang kakinya yang seputih porselen dan begitu padat. Cahaya temaram itu jatuh menimpa tubuh matangnya secara brutal.

Tangan kanannya sibuk meremas kasar dua gundukan kenyal di dadanya, memilin tajam puncak ranumnya dari balik kain tipis yang sudah menjiplak basah oleh keringat.

Sementara tangan kirinya tenggelam jauh di antara belahan pahanya, mengobrak-abrik kelopak rahasianya yang sudah banjir oleh embun kenikmatan.

Dua jarinya memompa keluar masuk di liang sempit itu dengan rakus, menciptakan bunyi decak basah yang menggema membelah keheningan malam.

Dia sedang menikmati badai gairahnya sendiri di tengah malam buta.

Tubuhnya bergetar hebat, pinggul lebarnya menghentak sprei berulang kali, mencari pelepasan sambil terus melolongkan kenikmatan yang begitu binal.

Suara desahan lapar itu tidak berujung.

Sebuah seringai perlahan tercetak di bibirku.

Aku terpaku dan napasku mulai tidak teratur. Aku hendak memutar gagang pintu, namun suara derit pintu kamar bapak di seberang sana membuatku urung melakukannya.

Aku pun segera kembali ke kamarku. Aku duduk sambil mengusap wajahku dan tersenyum kecil. Jadi, apa yang dilakukan wanita itu, memuaskan diri sendiri dengan begitu liar.

Otakku mulai merekam setiap gerak binal yang Melati lakukan. Dan sialnya bagian bawah diriku pun ikut menegang panas dan keras membayangkan itu.

"Sebenarnya siapa di sini yang kesepian, hem? Apa aku harus mengatasi nafsumu juga, Kak?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca