

Motornya melaju dengan kecepatan maksimal, membelah lalu lalang kota andromeda yang padat. Jaket kulit berwarna hitam yang dipadukan dengan jahitan emas menambah kharisma laki-laki itu.
Dia memarkirkan motornya tepat di depan Gedung utama Rumah Sakit Eden. Terdapat beberapa pengawal yang tampaknya telah menunggu kedatangan laki-laki itu.
“Selamat datang Tuan Muda!” hormat para pengawal
Laki-laki yang dipanggil sebagai tuan muda itu berjalan dengan tenang menelusuri lobi rumah sakit. Langkahnya yang tegap serta wajahnya yang tampan membuat beberapa pasien serta pengunjung takjub.
Kamar VVIP
Dua pengawal membuka pintu kamar tersebut, menyambut kedatangan sang tuan muda.
“Oma… maaf karena Alaska datang terlambat…” lirih Alaska
Alaska Pratama Eden—putra Tunggal sekaligus tuan muda dari keluarga Eden. Keberadaannya memberikan pengaruh besar di keluarga Eden. Pasalnya, dia adalah cucu pertama yang akan menjadi pewaris utama kekayaan keluarga Eden.
Meskipun umurnya saat ini masih tujuh belas tahun, dia sudah menjadi pemegang saham utama di rumah sakit Eden. Bahkan dia memiliki beberapa café yang sukses di Tengah kota.
“Cucu Oma tersayang… kenapa Mas lama sekali datangnya? Oma sudah merindukan Mas Aska” ucap Bianca
Bianca Kirana Eden—Nyonya besar di keluarga Eden yang sangat berpengaruh besar. Setiap ucapan yang dia lontarkan akan menjadi pedang untuk tiap orang.
Alaska duduk di kursi yang terletak di samping ranjang rumah sakit. Dia memeluk sang oma dengan hangat.
“Aska juga rindu dengan Oma…”
Bianca tertawa kecil, “Jika memang Mas rindu, kenapa lama banget ke sini? Mas ga sayang lagi ya sama oma?”
“Kenapa bilang kayak gitu sih, Oma? Aska baru pulang sekolah, tadi juga ada macet, mangkanya Aska telat datang ke sini”
Bianca membelai rambut cucunya, “Bagaimanapun juga, terima kasih ya sayangnya oma, karena sudah datang kemari.”
“Ya itu udah tugas Aska dong untuk menemani Oma. Kapanpun itu, kalau Oma kangen sama Aska, Aska bakal langsung datang dan peluk Oma dengan sangat eratt”
Bianca tertawa dengan ucapan cucunya. Sungguh, Alaska itu memang selalu bisa memenangkan hati Bianca, berbeda dengan keponakannya yang lain.
“Mas sudah makan belum?”
“Udah kok, tadi makan di kantin sekolah, enak banget! Oma tau ga menunya apa hari ini?”
Bianca tertawa kecil, “Apa coba?”
Alaska memegang dagunya seolah berpikir, “Tadi ada lobster, steak wagyu, kepiting Alaska, dan kerang abalon!”
Mereka berdua tertawa mendengar lelucon dari Alaska. Rasanya sangat indah saat melihat wajah Alaska yang tertawa, karena matanya akan ikut terbenam seperti bulan sabit.
“Dasar, nakal! Bilang aja kalau kamu mau request menu itu kan sama Oma!”
Alaska terkekeh, “Kalau Oma bersedia untuk melihat cucu kesayangannya gendut saat di sekolah, bolehlah!”
“Oma mau aja sih… tapi khusus buat Mas Aska aja. Oma ga mau orang lain merasakan ini, karena yang spesial hanya untuk Mas Aska saja.”
“HAHAHAHA, Oma benar-benar sayang banget ya sama Aska ternyata!”
“Mas mau minta apa aja, pasti bakal Oma kabulin!”
Alaska tersenyum manis, dia memberikan tatapan yang sangat tulus untuk sang oma. “Kalau begitu, kabulin satu permintaan Aska boleh?”
Bianca mengangguk
“Aska mau, Oma melakukan operasi itu, agar Oma cepat sembuh dan ga sakit lagi kayak gini… Aska ga sanggup ngelihat Oma menderita kayak gini…”
Tanpa Alaska sadari, air matanya perlahan jatuh. Dia tidak sanggup menahan rasa sakit saat melihat omanya kesakitan dan harus dirawat terus menerus di rumah sakit.
Bianca terharu dengan permintaan cucunya, dia tidak menyangka bahwa cinta sang cucu lebih besar dibandingan dirinya.
“Mas… maafin oma yang selalu membuat Mas khawatir ya..? Oma juga ga mau Mas terus menerus nangis saat melihat Oma dirawat.”
“Kalau begitu, lakukan operasi itu, Mas bakal selalu ada di sisi Oma.”
Bianca memeluk Alaska dengan erat, dia tidak teg ajika suatu saat harus meninggalkan Alaska sendirian menghadapi dunia yang selalu meghakimi laki-laki itu.
***
Asap rokok mengepul ke atas saat Alaska menghembuskan asap dari mulutnya. Dadanya sudah terasa sangat sakit saat ini, tapi dia tidak bisa menghentikan kebiasaan itu.
“Lo bakal mati kalau kayak gini terus, Ka.” Tegas Kaisar
Kaisar Daneswara—Putra bungsu dari keluarga Daneswara, pemilik hotel terbesar dan ternama di kota Andromeda.
Alaska terkekeh, “Lebih baik begitu bukan? Lagipula, jiwa gue sudah lama hancur, Sar!”
“Tapi bukan berarti lo harus nyerah sekarang kan? Lo mau mereka semua bahagia di atas penderitaan lo, hanya karena lo menyerah dengan keadaan?”
Untuk kesekian kalinya, Alaska menghembuskan asap rokok itu. “Gue bakal membuat mereka hancur! Lihat aja, mereka ga bakal bisa hidup tenang di dunia ini kalau gue masih ada.”
“Kalau begitu, jangan nyerah dengan keadaan, Ka! Dunia ga bakal berhenti saat lo nyerah.”
Alaska tidak menjawab ucapan Kaisar, dia memandangi langit malam yang kosong. Bahkan semesta mendukung dirinya untuk merasa kesepian.
“Bro! Daripada meratapi nasib kayak pecundang di sini, mending ikut gue aja lah!” ajak Ravin
Ravin Danuar—putra pertama di keluarga Danuar yang selalu membuat onar dan menjadi biang masalah. Dia selalu memiliki banyak ide nakal yang mengundang surat panggilan dan point dari sekolah.
Alaska menatap Ravin dengan tatapan tajam, “Siapa yang lo sebut pecundang?”
Ravin mengangkat kedua tangannya, “Santai, Ka! Maksud gue kan cuman mau ngajak lo pada healing doang. Daripada suntuk di sini yakan?”
Kaisar menghela napas berat, “Gue ga mau terlibat masalah sama lo lagi! Bisa-bisa kena amuk lagi gue sama bokap.”
Ravin merangkul pundak Kaisar, “Kali ini seratus persen aman kok! Gue udah rencanakan banyak cara dan kebetulan tempatnya punya teman gue, so chill bro!”
Alaska mematikan puntung rokoknya, dia meneguk air mineral yang dibawa oleh Kaisar.
“Kali ini ada berapa yang udah ready?”
Ravin tersenyum puas, “Aman, ketua! Lo mau minta berapa cewek malam ini? Dua? Tiga? Udah gue siapin semuanya, tinggal lo aja yang sanggup atau enggak sih”
“Percuma kalau banyak tapi ga mantap kayak kemarin, buang-buang waktu gue aja.”
Ravin memijat kedua pundak Alaska seolah meyakinkan dirinya. “Kali ini, semuanya udah sesuai dengan kriteria tuan muda kita! Lo mau yang mana aja, boleh kok. Soal minumannya juga, udah gue pesen yang premium khusus bua lo!”
Alaska tertawa mendengar ucapan Ravin. “Udah lama banget gue ga main, kira-kira masih enak ga ya?”
Ravin terkekeh, “Kamarnya mau yang mana? Udah gue siapin dua yang premium khusus buat lo!”
Kaisar menggelengkan kepala saat mendengar pembahasan kedua temannya. Mereka berdua memang sangat gila jika menyangkut urusan Perempuan dan minuman.
Kaisar tidak ingin kedua temannya terjerumus masalah, itulah sebabnya dia selalu menemani mereka berdua dan membersihkan tiap masalah yang mereka lakukan.